Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 106 Nonton Dengannya


__ADS_3

Sehabis makan siang dan sholat handphoneku berbunyi. Mas Raka mengirim pesan WA. Kubaca sambil tiduran dalam bilik tempat sholat.


[ Sayang , nanti sore aku nggak ke rumah ya. Mau kondangan ke rumah teman, acara khitanan anaknya ]


[ Teman kamu ada yang sudah punya anak gede ya Mas ]


[ Ada dong, namanya juga pabrik bukan sekolahan. Teman tidak harus seumuran, ada-ada saja kamu 😄 ]


[ Hehe iya juga sih. Maksudku paling tidak temanmu itu anaknya masih balita atau TK gitu. Ini kok sudah khitan berarti dia tua banget ya Mas🤭 ]


[ Jangan ngarang, usianya 32 th. Anaknya baru berumur 10 th tapi sudah minta dikhitan ]


[ Kirain umurnya sudah 35 th lebih. Teman-teman kamu kan kebanyakan orang desa, biasanya nikahnya telat, hehehe ]


[ Huuu sok tahu. Orang desa itu malah nikahnya muda-muda ]


[ Berarti sama dong. Besok kalau kita nikah usia kamu paling juga jalan 22 thn hehe ]


[ Iya karena kamu nggak sabaran pingin cepet dinikahin 😝 ]


[ Lagian siapa suruh pacaran sama cewek yang lebih tua, udah gitu pacarannya lama. Tetangga pada nyindir kapan nikah- kapan nikah ]


[ Sudah ah, nggak usah bahas itu. Aku kan cuma bercanda. Aku juga senang kalau kita cepet nikah, udah gemes banget 😘😍 ]


[ Tuh kan ketahuan siapa yang udah kebelet 😝 ]


[ Iya ngaku, udah ya aku makan siang dulu. Ini tadi baru selesai sholat, jam istirahat udah mau habis ]


[ Ia Mas, oh iya. Aku nanti mau ke salon mau potong rambut ]


[ Nggak besok saja biar aku antar ]


[ Nggak usah, dekat kok cuma di sekitar tokonya mas Joni ]


[ Ya sudah, hati-hati ya 😘 ]


[ Oke bye 😍 ]


Aku baru ingat kalau kemarin ada rencana pingin potong rambut. Rambutku gampang rontok jadi mending selalu kupotong biar mudah menyisir dan rontoknya berkurang.


" Sudah belum sholatnya, gantian aku." Mbak Sri masuk membawa piring-piring kotor dari luar.


" Sudah dari tadi, ini barusan chat sama mas Raka. Biar aku yang nyuci, mbak Sri sholat aja," tukasku saat dia hendak mencucinya.


Mbak Sri mengurungkan niatnya lalu masuk ke toilet. Aku melanjutkan pekerjaannya.


Ketika semua pekerjaan sudah selesai sore harinya aku meminta ibu agar pulang lebih dulu.


" Ibu duluan aja, aku mau potong rambut dulu," ucapku.


" Ya sudah, tapi keranjangnya kamu yang bawa. Ibu berat bawanya kalau jalan kaki."


" Masa aku ke salon bawa keranjang sih. Nanti kalau kemalaman kasihan ayah juga, kan ada lauk sama sayur di situ. Ibu naik ojek online aja, biar kupesan dulu."

__ADS_1


Aku mengambil handphone lalu memesan ojol buat ibu. Setelah menunggu sekitar lima menit Kang ojol muncul.


" Hati-hati ya Pak," pesanku usai memastikan ibu sudah duduk di motor dengan nyaman.


" Siap Mbak ! " sahut kang ojol seraya menyalakan motornya dan berlalu dari hadapanku.


Kulangkahkan kaki menuju salon langgananku. Aku senang potong rambut di situ karena pemiliknya baik hati dan enak diajak ngobrol. Saat melewati tokonya mas Joni aku berhenti sejenak.


" Mas aku nggak mampir ya, mau potong rambut soalnya," ucapku sembari meneruskan langkah.


" Ya hati-hati ! " balasnya.


Di tengah jalan aku bertemu dengan Arya. Salon yang kutuju memang melewati depan rumahnya. Ia tengah berjalan sendirian.


" Aira, mau ke mana ? " sapanya dengan melempar senyum.


" Mau ke salon Mbak Atun, kamu sendiri mau ke mana?"


" Aku antar ya, tapi aku mau beli rokok dulu di tempat kakakmu." Dia menawarkan diri mengantarku, padahal jarak salon hanya sekitar 200 m dari tokonya mas Joni.


" Tidak usah, aku bisa sendiri kok. Sudah niat dari rumah, hehe." Kutolak halus tawarannya.


Aku terus berjalan tanpa menoleh lagi. Arya nampak mempercepat langkahnya menuju toko mas Joni. Aku juga bergegas biar cepat sampai.


" Eh Aira, sudah lama nggak ke sini." sapa mbak Atun begitu aku tiba di salonnya.


" Iya nih Mbak, belakangan ini lagi sibuk terus. Ini rambut sudah panjang banget rasanya gerah terus." Aku menjawab lalu duduk di kursi tunggu.


" Ke sini sendiri ya, kok nggak sama Arya ? " tanya mbak Atun sekedar menebak. Dia belum tahu hubunganku sama mas Raka karena memang sudah lama banget aku tidak ke salon.


" Lho, kalian bukannya pacaran. Soalnya aku pernah beberapa kali melihat kamu lagi main di rumahnya. Kadang juga di kantornya depan pasar itu." Mbak Atun malah mengingatkan aku.


" Ah itu kan dulu, lagian waktu itu juga cuma main kok. Aku nggak ada hubungan spesial sama dia." Aku menyangkalnya. Mbak Atun malah tertawa.


" Yuk kupotong rambutmu, buka dulu jilbabnya," pintanya. Kulepas jilbab segi empat serta ciput yang kupakai. Lalu aku duduk di depan cermin. Mbak Atun dengan cekatan mulai menggerakkan jari jemarinya.


" Terus sekarang kamu sudah punya pacar belum? " tanya mbak Atun sembari menggunting rambutku.


" Ada sih Mbak, sudah setahun lebih malah," tukasku.


" Oh ya, kok tadi nggak diajak ke sini sih ? " tanyanya lagi.


" Lagi kondangan di tempat rekan kerjanya, tadi siang dia mengabariku."


" Sudah tunangan belum, kalau bisa jangan lama-lama pacaran. Omongan tetangga lebih pedas dari cabe, hihihi ! "


" Itu sih jelas Mbak. Sebulan yang lalu kita tunangan, InsyaAllah tahun ini menikah." Kuberitahu mbak Atun soal rencana pernikahanku.


" Beneran nih Aira ! Jangan lupa undangannya loh ya ! " pesannya. Aku mengiyakan dengan mengacungkan jempol.


Jam 18.15 mbak Atun telah selesai. Kuambil dompet dari tas selempangku lalu membayarnya.


" Aku langsung aja ya Mbak, terimakasih ya ! " Kupakai kembali ciput dan jilbabku.

__ADS_1


" Nggak sholat barengan di sini ? Nanti kita lanjut lagi ngobrolnya," pinta Mbak Atun.


" Aku lagi nggak sholat. Tapi maaf aku nggak bisa lama-lama takut kemalaman."


" Ya sudah, terima kasih ya. Hati -hati di jalan !" pesan mbak Atun.


" Oke Mbak ! " Aku pun pamit dan langsung pulang. Untung aku tidak ketemu Arya lagi saat melewati rumahnya.


***************


" Hai Dek, mau ke mana ? " tanyaku pada Ernest ketika baru sampai rumah dan melihatnya sudah rapi dan wangi.


" Sebenarnya aku pingin nonton. Tapi barusan temanku mengirim chat kalau dia tidak jadi ikut. Ibunya sakit katanya." Dia nampak kecewa.


" Terus nggak jadi nonton dong. Nggak pa pa lah, besok masih bisa."


" Hari ini udah terakhir Mbak. Padahal filmnya box office, bagus banget. Kemarin aku lihat cuplikannya di yutub."


" Jadi gimana, mau nonton sama aku ? " iseng kutawarkan menemaninya


" Boleh, ayo berangkat sekarang ! " ajaknya langsung bersemangat


Ernest mengambil motornya di teras, lalu menstaternya. Tanpa masuk rumah lebih dulu aku pun membonceng Ernest dan segera pergi ke bioskop karena waktunya sudah mepet.


Sampai di bioskop Ernest hendak membeli tiket, kita sepakat bayar sendiri-sendiri karena dia juga masih minta orangtua.


" Yuk Mbak masuk ! " ajaknya.


Ternyata filmnya memang bagus. Pemerannya aktor laga dari Amerika yang sedang tenar saat ini. Pantas Ernest begitu antusias menontonnya.


" Seru kan Mbak,filmnya.Temanku pasti kecewa nggak jadi nonton. Mana besok sudah nggak diputar.


Namun di tengah-tengah menikmati film, Ernest meraih tanganku dan mengusap jemariku. Aku tersentak, namun kubiarkan. Pandanganku tetap ke arah layar bioskop. Ia terus saja memainkan tangannya, sampai film selesai. &


" Langsung pulang aja ya, " saranku ketika kita- baru keluar dari gedung bioskop.


" Nggak jajan dulu Mbak, aku traktir deh. "'


" Pulang aja, aku tadi nggak pamit pasti semua memcariku. "


Tiba di rumah ibu menghadangku di ruang tamu.


" Dari mana saja sih kamu, ditunggu dari tadi kok baru pulang sekarang." Ibu menanyaiiku


" Habis nonton sama Ernest," jawabku mantap.


" Apa ? Kamu gimana sih Ra. Kamu kan sudah punya calon suami kok malah jalan sama laki-laki lain." Ibu terlihat begitu murka.


Apa, salahku jika menonton sama tetangga ? Hari ini kan Raka juga ngga datang. Daripada bengong di rumah sekali-sekali nonton tanpa mas Raka.


*****************


Sudah dulu ya say, penulis sudah ngantuk nih.

__ADS_1


Tetep ditunggu terus ceritanya ya,jangan lupa vote like dan komentar. makasih


maaf bila ada typo-typo.


__ADS_2