Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 51 Dikerjai Mbak Nia


__ADS_3

Segera kukunci pintu dan aku langsung ke kamar mandi sekalian berwudhu karena tadi belum sholat Isya'. Seusai sholat dan berganti baju tidur kurebahkan tubuhku di ranjang.


Ini kedua kalinya Raka mengajakku keluar. Apa ini yang namanya ngedate alias kencan. Tapi sampai saat ini belum ada ungkapan perasaannya padaku. Memang kuakui perlakuannya menunjukkan jika ia sayang sama aku. Ia begitu perhatian dan peduli.


Kriik kriik kriik ! Handphone ku berbunyi. Ada pesan WA masuk dari Eva. Astaga ! Aku sampai lupa kalau mau cerita tentang Raka padanya.


[ Bestie ! Aku tadi nyariin kamu. Kata mbak Nia kamu pergi sama Raka. Kamu udah jadian ya, kok nggak cerita sama aku sih ! ]


[ Woi ! Nanya satu-satu dong, main serbu aja. Kok belum tidur sih ? ]


[ Gimana bisa tidur orang lagi kesel. Nungguin kamu pulang dari tadi. Kalau kukirim WA juga pasti nggak dibaca karena lagi asyik pacaran ]


[ Iya sorry. Besok aku ke rumahmu. Tadi sore Raka sudah menjemput dari warung, mana sempat aku WA kamu. Dia langsung mengajak keluar sehabis magrib. ]


[ Awas lho ya kalau diam-diam lagi. Oleh-olehnya aku kasih ke mbak Nia 😜 ]


[ Ciyee ngancam nih. Udah sekarang tidur aku ngantuk , capek ! ]


Kuletakkan kembali handphone di sampingku berbaring. Kupejamkan mataku untuk beristirahat tidur.


Esok hari aku nggak melihat Eva menyapu teras. Mungkin sedang membersihkan kamarnya. Aku berjalan cepat sebelum dia keluar dan menghadang ku. Sorry bestie, hihihi.


Sampai warung mbak Sri sudah menodongku dengan pertanyaan. " Mbak Aira, tadi malam diapelin nggak ? "


" Mbak Sri apaan sih, pagi-pagi udah mau ngegosip aja. Sebentar lagi banyak orang mau sarapan, tahu ? " tegurku. Mbak Sri cuma nyengir kuda.


" Iya deh, sekarang kerja dulu. Tapi nanti cerita lho ya ! " pintanya setengah memaksa.


" Nggak ada yang harus diceritakan. Cepetan digoreng itu tempe sama bakwannya, keburu banyak yang datang. Nanti ibu marah." Aku kembali mengingatkannya.


Beberapa menit kemudian pelanggan mulai berdatangan. Tak ada waktu buat mengobrol karena ini hari Minggu maka pengunjung warung lebih banyak dari hari biasa.


Sehabis sarapan aku belanja seperti biasa. Saat melewati depan kiosnya bu Harti kusapa beliau.


" Selamat pagi Bu Harti." Aku tersenyum dan menganggukkan kepala.


" Oh iya Mbak, mau belanja ? " Bu Harti menjawab sekaligus bertanya, sambil melayani pembeli.


" Iya, Bu," sahutku dan segera berlalu. Untung lagi ada pembeli sehingga aku nggak dipanggil. Bisa lama nanti, hehehe.


Bukan apa-apa tapi aku sudah kesiangan karena tadi di warung ramai pengunjung.


" Aira ! " sapa seseorang di belakangku. Aku menoleh, ternyata Arya. Tumben dia muncul padahal ini hari libur.


" Apa kabar, lama nggak pernah bertemu ya. Kemana aja ? " lanjutnya. Bukannya dia yang nggak pernah lagi mampir ke warung, kok malah bertanya.


" Kabarku baik, tiap hari juga lewat sini. Kamu yang nggak pernah kelihatan." jawabku seraya meneruskan langkah. Arya berjalan di sampingku.


" Hehehe, iya juga. Akhir-akhir ini aku sering makan di rumah kalau jam makan siang. Nggak tahu tuh ibu lagi sering di rumah dan mau memasak." Ia pun menjelaskan.


" Oh gitu, maaf ya aku mau belanja dulu." Aku langsung berbelok menuju kios mbak Sumi tanpa menunggu jawabannya.

__ADS_1


Ngapain libur kerja kok malah jalan-jalan sendirian di dalam pasar? Paling-paling mau cari mangsa baru, pedagang pasar yang masih lugu. Info yang kudengar dari temanku di pasar seperti itu. Beruntung aku bisa lepas darinya, meskipun prosesnya sulit dan lama.


Sehabis belanja ternyata cucian piring sudah menumpuk. Ibu baru istirahat karena capek dari tadi melayani pembeli.


" Biar Aira yang nyuci, Mbak Sri sarapan aja dulu ini sudah siang." Ibu menegur mbak Sri yang hendak mencuci piring. "Baik Bu," sahut mbak Sri.


Setelah menaruh belanjaan dan minum air putih kulakukan tugas yang diminta ibu.


" Mbak Aira tadi belum menjawab pertanyaanku lho." Mbak Sri membuka percakapan.


" Kalau makan jangan sambil bicara nanti keselek." Kuingatkan dia supaya diam. Pasti mau bertanya soal tadi malam. Aku tertawa kecil mengejeknya yang langsung melotot.


Dan seharian ini kami memang sibuk dengan pekerjaan. Mbak Sri nggak menagih cerita lagi. Begitu pun saat mau pulang kami nggak banyak berbincang karena sudah letih.


Sampai di rumah Eva sudah menungguku di teras bersama mbak Nia dan baby Arkana. Saat melihatku ia langsung berdiri dan mengikutiku ke kamar. Di tangannya ada bungkusan plastik putih.


" Aku mau mandi dulu biar seger. Capek banget dari tadi udah lengket badanku." Kutaruh tas selempangku dan menyambar handuk. Eva tiduran di ranjang sambil membuka HPnya.


Lekas kuguyur tubuhku saat sudah di kamar mandi. Byuuurrrr ! Aaaah, segar sekali. Seketika rasa letih dan pegal serasa hilang.


Selesai membersihkan diri dan berganti baju aku duduk disamping Eva yg masih berbaring. Ia bangkit lalu duduk.


" Buruan dong cerita, pasti udah tambah banyak kan bahan ceritanya. Soalnya tahu-tahu udah jadian, " celetuknya.


" Brem pesenanku mana ? " Aku menagih dulu oleh-oleh yang dia janjikan.


" Tuh udah kutaruh di meja. Enak aja pesen kok nggak ngasih uang. " Eva mencibirkan mulutnya.


" Harus dong, pokoknya harus dirayakan hari jadian kamu ! " serunya.


Beberapa saat kemudian kita berdua sudah larut dalam obrolan yang tak berujung. Eva terus menginterogasiku layaknya seorang tersangka.


" Aku udah mulai liburan semester lho, jadi aku bakalan kemari tiap hari. Soalnya ada baby Arkana, wow senangnya ! " serunya kemudian. Eva memang suka sama anak kecil., soalnya dia nggak punya adik.


Dan nyatanya memang jika aku pulang dari warung, Eva sudah duduk di teras bersama mbak Nia. Sambil bercengkerama dengan baby Arkana, mulutnya tak henti bicara. Mbak Nia cuma mengangguk-angguk mendengarkan cerita Eva.


______________


Hari terus berganti, tak terasa sudah tiba hari Sabtu lagi. Sore ini kita tengah menyelesaikan pekerjaan dan bersiap pulang.


" Ada yang dag dig dug nih, soalnya mau ketemu sama Ayang beb , " celetuk mbak Sri.


Kebetulan mbak Wiwit pas masuk ke warung, mengembalikan gelas teh yang di minumnya tadi. Sontak saja dia langsung berkomentar begitu mendengar ucapan mbak Sri.


" Memangnya Aira udah punya pacar lagi ? Duh akhirnya kamu mendapatkan pengganti , setelah sekian lama." Mbak Wiwit nggak tahu aku pernah dekat dengan Niko dan Arya.


" Nggak kok Mbak, itu mbak Sri ngaco ngomongnya. Kalau pacar pasti tiap hari ketemu nggak cuma Malam Minggu." Aku menyangkal pertanyaan mbak Wiwit. Aku masih belum berani menyatakan bahwa Raka pacarku.


" Namanya juga baru jadian, masih malu kalau ketemu tiap hari, hihihi." Mbak Sri tertawa nyengir menggodaku. Tak ayal kucubit lengannya, tapi ia mengelak.


" Siapa pun dia pokoknya mbak do'ain semoga kalian berjodoh. Kamu berhak bahagia, Aira." ungkap mbak Wiwit.

__ADS_1


" Ya, Mbak terima kasih." Aku terharu mendengar kata-katanya. Mbak Wiwit juga bersiap hendak menutup tokonya.


Setelah mengunci pintu warung kita pun beranjak pulang. Kali ini Raka tidak menjemput ke warung seperti Sabtu kemarin. Di jalan juga tidak bertemu. "Tumben Raka nggak menjemput," ujar ibu. Rupanya pikiran ibu sama denganku.


" Iya, mungkin ada tugas kuliah atau urusan lain," sahutku. Mungkin saja Raka sudah masuk kuliah, karena tiap kampus tentu berbeda jadwalnya.


" Nah itu tante Aira sama nenek pulang !" teriak Eva saat kami tiba di depan rumah. Ia tengah menggendong Arkana , di sebelahnya ada mbak Nia yang mengawasi. Mereka duduk di teras.


" Heh ! kondisikan suara ya, kalau lagi gendong bayi. Bisa kaget dia dengar suara geledeg," tegurku sambil melotot padanya.


" Biarin, Arkana sudah kebal sama suaraku. Dia baby yang pintar bisa beradaptasi, nggak kaya tantenya. Weeekk ! " sahut Eva seraya menjulurkan lidahnya mengejekku.


Aku hanya membalas dengan mencibir lalu masuk ke dalam rumah. Eva mengikuti di belakangku. Baby Arkana sudah digendong sama ibunya.


" Tumben pulangnya nggak diantar Raka, biasanya kalau Sabtu dia ke sini." Eva bertanya padaku.


" Nggak tahu, lagian dia juga baru 2 kali kemari. Kenapa kamu bilang biasanya, kaya yang tahu aja." Aku meralat kalimat Eva barusan.


" Jelas tahu dong, aku kan punya informan," balasnya sambil nyengir. Pasti mbak Nia yang suka cerita sama dia.


Suara azan Magrib terdengar, Eva beringsut dari duduknya lalu keluar dari kamarku. " Pulang ah, sebentar lagi ada yang mau datang. Takut mengganggu," serunya sambil berlari kecil. Dasar bawel ! Aku bersungut-sungut karenanya.


Selepas mandi dan sholat Magrib aku duduk di ruang tengah bersama ibu dan mbak Nia. Mereka tengah menikmati sinetron kesayangan. Aku memilih bermain dengan Arkana di atas karpet. Sekarang dia nggak bisa ditidurkan di sofa karena sudah bisa tengkurap. Makanya di karpet yang lebih luas.


" Raka nggak ke sini, Aira ? " tanya mbak Nia padaku. Ia berpindah dari sofa ke karpet mendekati Arkana yang mulai lelah membolak balikkan tubuhnya.


" Nggak tahu lah, mungkin lagi ada urusan," jawabku santai sambil sesekali menonton televisi.


" Memangnya dia nggak kirim pesan WA ? " lanjut mbak Nia bertanya lagi.


" Raka jarang ngechat aku kalau lagi di warung, karena dia paham kalau aku nggak pernah buka HP kecuali di rumah," balasku seraya masuk ke kamar.


Beberapa menit kemudian ada suara ketukan pintu dari ruang tamu. Tok tok tok ! Kudengar mbak Nia yang membuka pintunya.


" Permisi, Mbak. Aira ada ? " sapa seseorang dari luar. Sepertinya itu suara Raka.


" Oh, Aira lagi keluar." Tanpa kuduga Mbak Nia berkata seperti itu . Aku yang mau keluar berhenti sebentar di pintu kamar.


" Keluar sama siapa, Mbak? " tanya Raka lagi. " Sama cowoknya dong ! " sahut mbak Nia lantang.


" Oh sama cowoknya, kalau gitu saya permisi." Raka berniat pamit.


Tapi ibu yang sedang menjaga Arkana di ruang tengah langsung keluar dan berseru, " Nggak, nggak, Aira ada di dalam. Ayo masuk ! " Ibu mempersilakan Raka. Mbak Nia tertawa-tawa.


Aku pun keluar. Kulihat Raka yang nampak salah tingkah karena dikerjai sama mbak Nia. Namun ia berusaha untuk tersenyum. Mbak Nia menggendong Arkana dan masuk ke kamar, ia masih tertawa saja.


" Maaf ya udah dikerjai kakakku. Tadi sebenarnya aku udah mau keluar, tapi aku ingin tahu reaksi kamu jika aku beneran pergi sama cowok. Makanya aku diam dulu." Aku tertawa kecil.


" Tadi kupikir memang kamu beneran pergi. Dalam hati aku berkata, tamatlah riwayatku, ternyata Aira sudah punya pacar." Raka berkata sambil tersipu-sipu. Wajahnya memerah, mungkin dia beneran khawatir jika ternyata aku punya pacar.


***************""""***********

__ADS_1


Masih bersambung. Bagaimanakah kisah cinta Aira dan Raka selanjutnya ? ikuti terus ya gaes !


__ADS_2