Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 90 Sama-sama Kecewa


__ADS_3

Senin sore sepulang kerja Raka mampir ke warung. Aku masih menunggu ibu selesai memasak ayam. Sementara mbak Sri sudah pulang setengah jam yang lalu.


" Capek ya, nih aku buatkan teh panas. " Kuletakkan minuman di depan Raka.


" Makasih sayang," ucapnya berbisik. Aku mengambil kletikan untuk menemani teh panasnya.


Raka menyeruput tehnya setelah menunggu panasnya agak berkurang, lalu mencicipi emping melinjo yang aku suguhkan.


" Nanti aku mau cerita sama kamu." Ia berkata sambil mengunyah empingnya.


" Cerita bahagia apa cerita sedih? " tanyaku menanggapinya.


" Bukan sedih bukan senang, tapi bikin kesal ! " cetusnya dengan bersungut-sungut.


" Kenapa memangnya," tanyaku lagi seraya mengusap punggungnya.


" Nanti saja aku cerita di rumah," ujarnya.


Ia mengambil tehnya lalu menyeruput sedikit, kemudian disodorkannya padaku. Aku minum beberapa teguk lalu sisanya ia habiskan.


" Sudah selesai Buk ? " tanyaku saat kulihat ibu keluar dari dapur.


" Sudah. Yang lain sudah dimasukkan ke keranjang kan ? " Ibu balik bertanya.


" Sudah selesai semua, tinggal angkat," sahutku.


Keranjang yang selalu kubawa pulang ini berisi lauk, sayur dan makanan kecil buat makan malam dan sarapan besok pagi. Ibu nggak pernah masak di rumah, tinggal mengambil dari warung.


" Ibu pulang duluan sama Raka, biar aku yang mengunci pintu," cetusku.


Ibu membonceng Raka. Aku mengecek ulang kompor, kran air, semua kupastikan aman. Setelah mengunci pintu aku duduk di bangku teras warung menunggu Raka.


Tak lama dia pun muncul. Aku langsung duduk di jok belakang dan memeluk pinggang Raka.


" Mau langsung pulang atau ke mana dulu nih," ucapnya menawariku.


" Langsung ke rumah aja, katanya mau cerita sesuatu. Kamu juga capek kan habis kerja." Aku memilih langsung pulang.


Sampai di rumah kita duduk berdua di teras. Waktu Magrib masih setengah jam lagi.


" Kamu nggak mandi dulu ? " tanya Raka sembari menyalakan rokoknya.


" Nanti saja sekalian sholat," sahutku. Kuselonjorkan kakiku biar peredaran darahnya lancar. Seharian mondar mandir tentu otot kaki juga menegang.


" Capek ya. Maaf ya kemarin aku tidak bisa menemani di warung. Anak-anak tuh ngajak kerja bakti dadakan." Raka berkata sambil menggaruk kepalanya.

__ADS_1


" Kan tadi malam sudah minta maaf, nggak pa pa kok. Oh ya tadi mau cerita apa ? " tanyaku mengingatkan.


" Oh iya. Kemarin habis dari lapangan kan aku mandi terus sholat, eeh ketiduran. Tahu-tahu bangun udah mau Ashar. Aku ingat belum ngabarin kamu, ternyata malah hapeku lowbat dipakai Rama mainan game. Sementara kuisi daya kutinggal makan dulu. Habis itu aku duduk-duduk di teras depan.


Datang lah Oom Sono, adiknya bapak yang tinggal di pinggir kota,yang dekat terminal itu. Dia mengajakku mengobrol, eeh nggak tahunya dia menyinggung soal pertunangan kita. Alasannya sama dengan yang diutarakan bapak.


Aku menduga pasti bapak mengadu sama dia dan cerita macam-macam. Makanya Oom Sono menyempatkan datang ke rumah. Alasannya sih habis mengantar anaknya les.


Huuh kesel banget ! " Raka mendengus kasar.


" Masih dibahas juga rupanya, pasti alasannya karena kamu belum membalas budi orang tua tapi malah mau menikah. Khawatir nanti uang kamu aku minta semua, gitu ? " Aku agak kecewa juga.


Belum hilang rasa kecewaku pada kedua kakakku, sekarang malah mendengar cerita dari Raka soal pamannya yang juga kurang setuju dengan keinginannya menikah.


Kenapa sih maksud baik kok ditentang. Memangnya mereka mau membiarkan kita berbuat dosa ? Bukan nggak mungkin suatu saat kita bisa kehilangan kontrol, terutama Raka. Makanya aku minta dia segera meresmikan hubungan.


" Tahu lah, sudah terlaksana juga, masih diungkit-ungkit. Kalau mau ngasih pendapat itu sebelumnya. Tapi belum tentu kutanggapi juga, memang dia siapa mau mengatur hidupku. Heeh ! " Raka mencibikkan bibirnya.


" Yang jelas aku kecewa sama bapak, kenapa nggak bisa mendukung niat baikku. Alasannya itu tabu kalau sampai kedengaran orang lain. Terlalu berharap aku bisa membantu membiayai kedua adikku. Seolah apa yang dia lakukan untukku selama ini nggak ikhlas. Padahal aku anak kandungnya loh ! " Raka meninggikan suaranya.


" Ssstt jangan keras-keras, nanti dikiranya kita lagi berantem." Aku mengingatkannya supaya memelankan suaranya.


" Maksud ayahmu itu sebenarnya baik kok. Mungkin penyampaiannya juga yang kurang pas. Orangtua mana yang ingin anaknya menikah muda. Pasti mereka berharap anaknya sukses dulu baru menikah." Aku memberi pendapat.


Raka diam sejenak. Ternyata kita berdua sama-sama merasa kecewa dengan perlakuan keluarga. Tapi aku tidak akan menceritakan pada Raka soal mbak Tika dan mbak Nia yang menggunjing kita. Aku nggak mau nanti Raka jadi nggak respek lagi sama mereka.


" Terang aja gerah, orang habis bicara berapi-api kayak lagi demo gitu, hehehe ! " Aku berkelakar untuk mencairkan suasana. Dia menyunggingkan senyum.


" Nggak mau mandi di sini aja," saranku.


" Aku kan nggak bawa baju, percuma juga mandi tapi masih pakai baju kotor," jawabnya.


" Ya sudah," ucapku datar. Raka menangkap perubahan wajahku.


" Boleh kan, yang penting sudah ketemu meskipun sebentar. Senyum dong jangan cemberut gitu," pintanya. Aku pun tersenyum tipis.


Raka benar, dia juga pasti capek. Aku nggak boleh egois dengan menahannya tetap di sini. Apalagi dia juga sedang kesal, tentu dia butuh hiburan. Paling tidak sekedar nongkrong dengan teman-temannya.


Setelah aku mandi lalu kita sholat bareng di kamar. Raka engan sholat di masjid karena nggak pede dengan bajunya yang belum ganti dari tadi pagi. Selesai sholat dia pamit sama ibu.


Aku mengantarnya ke teras. Cup ! Raka mengecup pipiku tiba-tiba. Tentu saja aku terkejut.


" Raka iiih , sukanya curi-curi kesempatan," umpatku lalu kucubit perutnya. Ia pun tergelak.


" Yang mencuri-curi itu malah asyik, penuh tantangan hahaha ! " celetuknya asal.

__ADS_1


" Eh tapi tunggu dulu. Kamu ternyata juga bandel ya, nggak mau menuruti permintaanku" Raka berucap lagi. Kali ini sambil menjiwel kedua pipiku dengan kedua tangannya.


" Aww Raka apaan sih, lepasin sakit ! Kayak Arkana saja pipiku dijiwel." Aku bersungut-sungut.


" Tuh kan, Raka Raka. Aku pernah bilang apa hayo ? Kalau sudah tunangan kamu harus panggil aku Mas Raka. Ini dari kemarin masih manggil Raka terus, heeh ! " ujarnya.


Ia melepaskan cubitan di pipiku. Namun ia pura-pura cemberut bentuk dari protesnya barusan.


" Oh iya lupa, maaf ya. Oke deh mulai sekarang aku panggil Mas Raka. Gimana Mas, apa kurang mesra panggilanku heemm? "


Aku mengedip-ngedipkan mataku sambil memelengkan kepala ke kanan ke kiri. Seolah aku sedang menimang anak kecil.


" Iiihh gemes akuuuu ! " Raka hendak mencubit pipiku lagi tapi aku menghindar. Sebagai gantinya ia malah menarik tanganku hingga aku jatuh ke pelukannya. Kami bertatapan.


Raka mendekatkan wajahnya. Cup ! Ia mencium bibirku sekilas. Kali ini aku diam karena sudah siap. Kalau yang tadi aku protes karena Raka mencuri-curi.


" Aku pulang ya, pingin lekas mandi biar segar." Ia pun beranjak dan menaiki motornya.


" Iya tuh dari tadi udah bau ! " celetukku meledeknya.


" Bau tapi pingin deket-deket terus tuh. Buktinya tadi aku nggak boleh pulang." Ia masih saja menggodaku.


" Sudah sudah sana pulang ! Tuh lalernya pada mendekat hehehe ! " kuledek lagi dia biar cepat pulang.


Ia pun menyalakan motornya dan berlalu setelah melambaikan tangannya. Aku berbalik lalu masuk ke dalam rumah.


" Kok Raka cuma sebentar Ra? " tanya mbak Nia yang berada di ruang tengah. Ia sedang menyuapi Arkana. Akhirnya dia menyapaku duluan.


" Besok kerja. Lagian kalau lama-lama di sini nanti ada yang protes." Aku menyindirnya sembari masuk ke kamar.


Mbak Nia tidak membalas ucapanku. Aku tahu dia bukannya takut denganku. Mungkin ia hanya enggan berdebat karena khawatir ibu mendengar dan menegur kami. Bisa juga dia takut aku akan mengatainya dan mempermalukannya di depan ibu dan ayah.


Selama ini aku memang selalu mengalah dalam hal apapun. Tapi kalau aku betul-betul tersinggung apalagi menyangkut privacyku, aku akan marah habis-habisan tanpa peduli apapun.


" Memangnya Raka sudah pulang." Ibu yang mendengar ucapanku langsung keluar dari kamarnya.


" Sudah katanya," sahut mbak Nia. Aku enggan menjawab pertanyaan ibu.


Mungkin beliau bermaksud mencegahku ribut dengan mbak Nia. Dikiranya aku masih di situ, padahal aku sudah masuk ke kamarku. Coba kalau aku di pihak yang salah, pasti ibu membiarkan mbak Nia memarahiku. Bahkan ikut menyalahkanku.


Biasanya ayah yang kemudian melerai kami.


_______&&&__________


Bersambung ya.. mohon maaf telat up nya.

__ADS_1


Tetep vote like dan komen ya gaes. Suara kalian jadi semangatku loh .


Thanks ya !


__ADS_2