
Satu bulan setelah kepergian Widi. Aku berusaha untuk bisa melupakannya walaupun kadang masih sulit. Kadang ada saja hal yang mengingatkanku padanya. Bukan aku mau melupakan dia, tapi aku mau melupakan kesedihanku. Melupakan dukaku.
Sepulang dari pasar aku mandi dan sholat. Ayah mendekatiku dan mengangsurkan selembar kertas.
" Ini ada undangan rapat remaja. Tadi si Mira yang mengantar ke sini." Aku menerima kertas itu.
" Rapat persiapan resepsi Yah, di rumah kak Vicky. Kakaknya mau nikah." Aku memberi tahu ayah setelah membacanya.
Tapi sebenarnya aku ragu untuk ikut rapat remaja.
Kalau aku datang pasti aku jadi teringat Widi.
Aku kenal dia juga berawal dari acara pertemuan seperti ini. Tapi kalau nggak datang, masa iya aku ngga mau bergaul di masyarakat ?
Di saat masih berpikir mau berangkat apa enggak tahu-tahu ada yang mengetuk pintu.
Tok tok tok !
Aku keluar dari kamar menuju ruang tamu.
" Biar Aira yang buka pintu Yah," ucapku pada ayah yang tengah menonton TV.
Pintu terbuka, ternyata Mira dan Dewi.
" Eh Mira, Dewi, tumben kalian jemput. Rumah kalian kan nggak searah dari sini." Aku bertanya heran. Mira dan Dewi itu satu RT sama kak Vicky, di wilayah barat. Jadi mereka ngga mungkin melewati rumahku karena rumahku di wilayah timur.
" Kak Vicky yang menyuruh kita jemput kamu, khawatir kamu ngga bakal datang," kata Mira mengungkapkan alasan. Ternyata kak Vicky sudah menduga kalau aku pasti ragu untuk ikut acara di rumahnya. Apalagi Eva sudah di Jogja jadi aku ngga ada teman buat berangkat bareng.
" Ya nggak lah, masa aku jadi menutup diri dari kalian. Nanti aku malah ngga punya teman."
Aku membalas ucapan Mira sembari tersenyum.
" Yuk kita berangkat sekarang! " ajakku. Kami bertiga berjalan beriringan menuju rumah kak Vicky.
Sampai di tempat ternyata sudah banyak yang datang. Kak Vicky yang sedang mengobrol di dalam rumah segera keluar begitu melihatku.
" Hai, Aira ! kupikir kamu nggak akan ke sini makanya kusuruh Dewi dan Mira menjemputmu." Ia pun berseru menyambutku.
" Aku pasti datang Kak, aku ngga mau mengecewakan Kakak " ucapku.
Kak Vicky itu sudah seperti saudara buatku. Aku sudah kenal dia jauh sebelum aku mengenal Widi. Kak Vicky teman main Mas Bayu sejak kecil, jadi dia sudah menganggapku sebagai adek. Waktu masih sekolah sering main ke rumah. Tapi setelah mereka kuliah jadi jarang main bareng.
" Oke teman-teman ! berhubung sudah hadir semua maka acara saya mulai," seru kak Agus sebagai wakil kak Vicky.
" Untuk acara H-1 dan hari H nya kita akan buat 2 shift ya. Kelompok 1 jam 11.00 sampai jam 16.00.
Kelompok 2 jam 16.00 sampai jam 21.00." Kak Agus mulai menjelaskan.
" Tiap kelompok terdiri dari 4 cewek dan 6 cowok," lanjutnya lagi.
Akhirnya rapat pun usai sekitar jam 10.00. Seperti biasa yang cewek-cewek pulang diantar cowok- cowok. Aku sengaja keluar belakangan.
Aah ! aku jadi ingat Widi. Seandainya dia masih ada tentu dia yang menjemput dan mengantarku.
" Aira, aku antar ya. Biasanya Widi tapi karena dia nggak ada sekarang sama aku aja." Rio menawarkan diri mengantarku..
" Atau sama aku aja Aira, dijamin aman sampai rumah, hahaha ." sahut Niko, yang masih kelas 2 SMA tapi memanggilku tanpa kata 'Mbak'.
__ADS_1
" Iya, kalau kamu macam-macam nanti arwah Widi akan mendatangimu ha ha ha.." timpal yang lain.
Aku hanya tersenyum menanggapi gurauan mereka.
Bagaimana pun aku ngga boleh sedih terus. Semakin aku berusaha melupakan, nama Widi tetap akan selalu disebut. Karena ia juga milik warga kampung ini.
________
Seminggu kemudian acara resepsi pernikahan kakaknya kak Vicky digelar. Aku diminta untuk menyumbang lagu oleh kak Vicky. Dulu waktu masih sering main ke rumah, kak Vicky suka main gitar dan aku disuruh menyanyi. Dan keterusan sampai sekarang kalau ada acara RW pasti aku diminta tampil.
" Aira, nanti kamu maju menyanyi ya !" pintanya ketika aku baru selesai menata snack dan minuman.
" Sudah lama nggak nyanyi kan ?" ia pun menebak.
Tebakan kak Vicky memang benar, aku jarang bersenandung di rumah semenjak Widi pergi. Bahkan sekedar nyanyi di kamar mandi juga enggak. Banyak lagu yang mengingatkanku sama Widi hingga aku jadi enggan mendengar atau melantunkannya. Padahal itu hobiku. Tiada hari tanpa menyanyi.
" Kak Vicky sok tahu.Siapa yang jarang nyanyi?itu kan hobiku ,ngga pakai modal tinggal mangap aja hahaha ." Aku mencoba bercanda.
" Jelas aku tahu, aku kan paham sama kamu sejak kamu masih SD. Kamu belum bisa melupakan Widi kan ?" kak Vicky menebak. Mau ngga mau aku pun mengakuinya.
" Iya Kak,masih belum bisa sepenuhnya melupakan. Di depan orang banyak aku bisa bercanda dan tertawa, tapi ketika aku sendiri langsung teringat lagi sama dia." ungkapku.
" Pelan-pelan pasti bisa." Kak Vicky memberiku semangat.
" Tapi sebenarnya mudah sih, kalau kamu punya pacar lagi pasti kamu bakal lupa sama Widi, ha ha ha... " Kak Vicky malah menggodaku. Aku mencubit lengannya sambil mencerucutkan bibir.
" Aduuuh, sakiiiiitt , " ia meringis dan lari menghindar. Aku masih menghujaninya cubitan.
" Rasain siapa suruh ngeledek aku." Aku hentikan serangan tanganku.
Aku bangkit dan bergabung dengan teman-teman. Nggak enak juga dari tadi malah mengobrol. Meskipun mereka maklum karena aku ngobrolnya sama kak Vicky yang nota bene yang punya hajat.
Para remaja yang sudah membantu berkumpul di samping rumah sambil menikmati makanan dan minuman. Tentunya juga sambil bercengkerama melepas kepenatan.
" Aira, mau es krim nggak ? " sapa seorang cowok yang mendekatiku. Ia mengambil kursi dan meletakkannya di depanku. Di tangannya ada 2 cup es krim. Aku menerima salah satunya. "Makasih ya," kataku seraya melempar senyuman.
Cowok ini namanya Niko, tetangga dekat kak Vicky. Dia yang ikut menggodaku ketika selesai rapat minggu lalu. Waktu acara Agustusan ia juga ikut tampil. Aku hanya sekedar tahu dia tapi nggak kenal baik. Selain karena rumah berjauhan, dia juga masih sekolah. Jadi aku menganggap dia masih kecil.
" Kok yang diambilin es krim cuma Aira sih,Nik. buat kita mana ?" protes Mira dan Dewi yang duduk di sebelahku.
" Ambil sendiri dong, tanganku hanya dua." Niko menjawab dan tertawa.
" Huuuh... bilang aja nggak mau." seru Dewi seraya bangkit dan mau mengambil es krim juga.
Ternyata Niko anaknya asyik. Ia pandai menyesuaikan diri. Meskipun usianya 2 th lebih muda tapi cara bicaranya terlihat dewasa. Obrolan kita pun nyambung serasa sedang bersama teman sebaya.
Setelah puas menyantap beberapa menu hidangan kita pun pamit. Sebelum pulang kita menyalami kedua mempelai. Kak Vicky juga mengucapkan terima kasih pada kami remaja- remaja yang telah membantu di acara hajatan ini.
_______
Sejak acara hajatan di rumah kak Vicky aku sudah jarang ketemu dengan teman-teman tetangga , kecuali yang dekat rumah. Aktifitas kujalankan seperti biasa. Perlahan aku mulai move on dari Widi.
Berangkat ke tempat kerja juga lebih semangat.
Anak-anak ada saja yang sering minta perhatian khusus dariku, terutama si gendut Adit. Seperti pagi ini ketika aku berdiri depan pintu kelas.
" Bu Aira, lihat siapa yang mengantar aku ke sekolah ! " teriaknya ketika melihatku. Dia baru sampai di gerbang dan segera berlari mendekatiku. Setelah bersalaman ia menggandeng tanganku dan menuntunku ke tempat Oomnya berdiri.
__ADS_1
Rupanya hari ini Adit diantar Oomnya ke sekolah.
" Bu Aira ! kemaren Oom Rafi bilang dia pingin ketemu sama Bu Aira. Katanya kangen sudah lama nggak ketemu. hi... hi.... hi.... " Adit tertawa cekikikan seraya menutup mulutnya.
Aku terkejut mendengar perkataan anak kecil itu.
Sedangkan Rafi agak tersipu dan hanya tersenyum menatapku.
" Maaf Bu Aira, jangan percaya sama omongan Adit. Dia memang selalu jahil sama saya." Rafi menyangkal omongan ponakannya sambil geleng- geleng kepala.
"Nggak apa-apa, namanya juga anak kecil. Saya juga punya keponakan yang lucu dan suka jahil seperti Adit." Aku juga menceritakan kedua ponakanku, Daffa anaknya mbak Rina dan Stella putrinya mbak Tika.
"Adit ! Oom pulang dulu ya." Rafi memanggil Adit sekaligus pamit pada ponakannya. Adit mengangguk dan melambaikan tangannya. Bocah itu sedang asyik bermain dengan teman-teman nya.
" Dadah Oom ! Nanti jemput Adit ya, biar ketemu sama Bu Aira lagi ! " serunya seraya menjulurkan lidahnya.. Rafi juga menjulurkan lidahnya membalas Adit. Aku hanya tersenyum menyaksikan tingkah paman dan keponakan itu.
____
Hari-hari selanjutnya ada saja pemuda di sekitar sekolahan yang mondar mandir di depan gerbang. Kadang ada yang pura-pura mengobrol dengan pak Yanto, tapi matanya melirik ke arahku yang tengah berdiri mengawasi anak-anak bermain.
Herannya lagi, waktu aku masih diantar jemput sama Widi mereka itu nggak ada yang sering ke sini. Apa mungkin mereka tahu kalau sekarang aku jomblo? Bisa saja mereka bertanya-tanya sama pak Yanto.
" Selamat pagi Bu Guru," sapa seorang cowok yang paling sering datang ke sekolah ini. Yang kutahu namanya Dodi, rumahnya persis di sebelah sekolah.
Kebetulan dia keponakan bu Diyah. Tiap pagi mengajak ponakan balitanya bermain di TK. Acap kali dia menegurku dan aku hanya menjawab seperlunya.
" Selamat pagi juga," balasku seraya masuk ke dalam kelas. Hari masih pagi jadi belum ada murid yang datang. Guru lain juga belum datang. Hanya ada aku dan pak Yanto yang sedang mengisi air di belakang.
" Kapan-kapan kita jalan yuk! " Dodi mengikutiku dan bicara di belakangku. Aku melotot.
Mentang-mentang keponakan KepSek terus main nyelonong aja di sini.
Dan apa yang dia bilang tadi? Dia pikir aku cewek apaan, seenaknya mengajak jalan.
" Kamu mau apa kok ikut masuk, maaf ya saya lagi sendirian jadi tolong keluar." Aku mengusirnya halus. Bagaimanapun aku harus bersikap sopan.
" Nggak usah munafik, aku tahu kamu baru saja ditinggal pacar. Pasti kamu kesepian kan? " Dia bicara sambil mengedipkan mata padaku.
Kurang ajar juga dia, batinku.
" Tapi maaf saya bukan seperti yang ada di pikiran kamu. Saya minta kamu keluar supaya nggak ada fitnah jika ada yang datang." Aku masih bersabar bicara dengan halus.
" Jawab dulu dong, mau nggak kita jalan malam Minggu besok?"
Sepertinya dia masih belum menyerah dengan ajakannya.
" Maaf ya, tapi saya nggak biasa pergi dengan orang yang baru kenal," sahutku dan kemudian aku berjalan keluar kelas. Takut ada yang datang dan melihat kami berdua dikiranya ada apa-apa.
Dodi membopong ponakannya yang masih asyik bermain dan mengikutiku keluar. Ketika ia mau bicara lagi terdengar suara dari luar gerbang. Rupanya sudah ada murid- murid yang datang.
Syukurlah, aku selamat dari gangguan si Dodi.
Huuft !
_____&&&&&&_______
Bersambung ya gaees . Ikuti terus ceritanya yang makin seru.
__ADS_1
Jangan lupa vote like dan komen.