
Flash back .
Setelah menikah mas Bayu dan mbak Risma sempat tinggal di rumah kami beberapa waktu. Akan tetapi mbak Risma ingin segera menempati rumah baru mereka karena letaknya juga lebih dekat dengan cafenya. Sore ini ibu dan aku pulang lebih awal agar bisa membantu mereka berkemas.
" Kok buru-buru pindah sih, Mbak. Aku kan masih pingin kita semua berkumpul di sini, bisa mengobrol bareng cerita-cerita." Aku membujuk mbak Risma.
" Mbak Risma juga maunya seperti itu, tapi kan Mbak harus mengurus cafe. Memang ada mbak Wanti juga tapi kan Mbak Risma juga punya tanggung jawab. Cafe itu kan milik kami berdua." Mbak Risma memaparkan alasannya.
" Sering-sering main kemari ya, Nak Risma." Ibu berpesan sebelum mereka pergi. Aku dan mbak Nia berdiri di samping ibu.
" Insya Allah, Bu. Jika mas Bayu libur kami akan main ke sini. Aira juga kapan- kapan main ke cafe dong ! " Mbak Risma menawariku.
" Beres ,Mbak. Kapan-kapan aku ajak mbak Nia ke sana. Kalau soal makan gratis nggak usah disuruh juga kita pasti siaaaap ha ha ha ! " sahutku girang.
" Sudah tahu itu mah ! memang siapa yang bilang gratis, bayar tahu !" celetuk mas Bayu sambil ketawa ringan.
" Yeee ! orang mbak Risma yang nawarin, weeekk ! " Aku menjulurkan lidah meledek mas Bayu. Dia pun tertawa melihat tingkahku yang terkadang kekanakan.
Kemudian ia dan mbak Risma menyalami ayah dan ibu. Aku juga menyalami mereka berdua, tak lupa cipika cipiki. Mereka pun berangkat menggunakan mobil pick up karena mas Bayu juga membawa semua barang miliknya yang ada di kamar. Termasuk ranjang, almari serta meja dan kursi.
Karena kamar mas Bayu kosong maka aku yang akan menempatinya. Semula aku menempati kamar depan bersebelahan dengan kamar ayah dan ibu. Besok bisa di tengah bersebelahan dengan kamar mbak Nia. Tentunya lebih luas dari kamarku sebelumnya.
" Besok aku pindah ke kamar mas Bayu ya, Buk." Aku minta ijin pada ibu.
" Boleh, tapi sekarang dibersihkan dulu kalau mau ditempati. Itu masih ada kertas-kertas sama plastik berserakan, " jawab ibu seraya membuka kamar mas Bayu yang tadi ditutup.
" Ya, Bu. Aku sapu aja dulu sekalian dipel, besok baru aku pindahin ranjangku sama barang-barang lain. " Aku berlalu ke belakang mengambil sapu dan alat pel.
" Iya, besok ayah bantu mengangkatnya. Kalau kamu sendiri tentu nggak kuat." Ayah menimpali.
Ketika sedang memungut kertas dan plastik yang berserakan, mataku melihat selembar foto yang sudah kotor. Mungkin terjatuh cukup lama dan mas Bayu ngga tahu. Kuambil foto itu, ternyata foto ketika mas Bayu pentas musik kolintang bersama rekan Karang Taruna. Ada mas Bayu, kak Vicky, kak Agus, mas Sono dan ada Widi juga.
Aku jadi ingat waktu itu aku masih kelas 3 SMP.
" Lagi ngelihatin apa sih ? kok malah diam di pojokan kaya bocah hilang ! " tegur mbak Nia mengagetkanku. Ia ikut masuk kamar.
" Eeh ini, Mbak. Aku nemuin foto waktu mas Bayu ikut main kolintang, ada Widi juga kan ? Ini yang grup cowoknya. Kalau grup ceweknya kan aku, Eva, Veronika, Nuri sama mbak Neni. Ingat nggak ? " tanyaku mengingatkan mbak Nia.
Ia malah menggeleng.
" Kok nggak ingat sih ! itu lho yang buat lomba di kelurahan. Aku pegang melodi sama seperti Widi. Tapi dulu aku belum kenal ya, sama dia. He he he ! " Aku tertawa kecil.
Mbak Nia tak menjawab malah langsung keluar dari kamar lalu bilang," Sudah lupa tuh ! " Huuh dasar pelupa !
Ah , aku jadi teringat Widi. Ternyata sudah satu setengah tahun ia pergi. Selama itu sudah ada 2 cowok yang menggantikan posisinya di hatiku. Niko dan Arya. Tetapi sayang keduanya telah menyakitiku.
Apa kabar Niko ? Sebentar lagi dia bakal lulus SMA, dan pasti akan melanjutkan kuliah. Dia kan anak tunggal, pasti orang tuanya akan menuruti jika ia pingin kuliah.
__ADS_1
" Kok malah melamun, cepat selesaikan kerjaannya sebentar lagi Magrib ! " Ibu juga menegurku.
Bergegas kuselesaikan menyapu kamar kemudian sekalian mengepelnya. Setelah semuanya bersih aku ke kamar mandi dan mengguyur tubuhku. Brrrr... dingin tapi segar.
Esok paginya dengan dibantu ayah kupindahkan isi kamarku ke kamar bekas mas Bayu. Tak lupa kubersihkan juga kamar lamaku.
Sebulan setelah mas Bayu pindah, kak Vicky juga menikah. Aku diundang jadi panitia, hanya saja aku kurang antusias karena nggak ada teman dekat. Eva masih kuliah, Rio sudah berada di Jakarta. Sedangkan Niko ada di sini tapi aku merasa jauh dengannya, meskipun sesekali dia menyapaku.
Mira dan Dewi juga sudah kuliah. Banyak yang datang tapi rata -rata mereka berusia di bawahku. Aku merasa jadi paling tua. Di situ aku tidak sendiri tapi aku merasa sepi.
Flash back off.
______________
Usia kandungan mbak Nia saat ini sudah memasuki bulan ke tujuh. Seperti halnya ketika 4 bulan kali ini juga akan diadakan selamatan 7 bulanan. Acaranya nanti akan mengundang bapak-bapak tetangga sekitar untuk tahlilan dan berdoa bersama supaya kelahiran bayinya nanti lancar.
Selesai acara doa bersama ,ibu mengisi rantang susun dengan nasi dan beberapa masakan serta lauk pauk.
" Aira, ini antarkan ke bu Tiya, bilang dari mbak Nia. " Ibu menyuruhku Ke rumah bu Tiya.
Sebenarnya aku malas ke sana, tapi karena ibu yang menyuruh tentu aku nggak bisa menolak. Dari dulu ibu memang akrab sama bu Tiya, tapi mengapa bu Tiya nggak suka sama aku ya ?
Aku menerima rantang dari ibu. " Baik, Buk," kataku seraya berlalu menuju rumah bu Tiya.
" Assalamualaikum, bu Tiya ! " Aku mengucap salam di depan pintu.
" Ini saya disuruh ibu mengantarkan makanan, syukuran 7 bulanan hamilnya mbak Nia." jawabku. Kuserahkan rantang susun yang kubawa pada bu Tiya.
" Aduuh, kok repot-repot sih bu Wahyu. Sebentar ibu ganti dulu rantangnya ya. " Bu Tiya menerima rantangnya dan membawanya ke dalam.
Giliran dikirimi makanan aja baru baik, tadi waktu aku datang jawabnya ketus, kataku dalam hati. Beberapa saat kemudian bu Tiya muncul dengan membawa rantang yang sudah kosong dan mengangsurkan padaku.
" Sampaikan terima kasih pada ibu, ya Aira." kata bu Tiya kemudian.
" Baik Bu, kalau begitu saya permisi. Assalamualaikum ! " ucapku.
" Waalaikum salam." balas bu Tiya.
Sebelum pulang aku mampir dulu ke warung mbak Yah. Kupesan semangkuk wedang ronde, mbak Yah pun segera membuatkan untukku.
" Aira , kamu sudah tau belum kabar tentang Niko ? " tanya mbak Yah seusai menaruh mangkuk wedang ronde di hadapanku.
" Belum, memang ada apa? " tanyaku balik .
" Kabarnya dia menghamili pacarnya, ssstt ! " Mbak Yah meletakkan telunjuknya di bibir, isyarat agar aku tidak mengatakan pada siapapun.
" What ? Niko menghamili pacarnya ? Ini beneran apa lelucon ? " tanyaku bertubi-tubi pada mbak Yah. Tentunya dengan suara yang kutahan agar tak terdengar orang lain.
__ADS_1
" Beneran. Bu Tiya yang bilang, katanya ibunya Niko sendiri yang cerita sama dia. Heran deh, anaknya bikin aib kok ibunya malah bangga diceritakan pada orang lain." Mbak Yah malah bicara sambil mengumpat.
" Sssstt.... sudah jangan emosi. Aku juga heran kenapa Niko bisa melakukan itu, padahal waktu sama aku dia nggak pernah macam-macam." Uups ! Aku keceplosan.
" Waktu sama kamu, maksudnya kalian pernah pacaran ? " tanya mbak Yah heran.
" Eng.. enggak.. maksudku waktu dia cerita sama aku katanya dia kalau pacaran nggak pernah macam-macam, gitu. ! " Aku mengalihkan pembicaraan.
" Ooh, kirain." Akhirnya mbak Yah nggak bertanya lagi.
" Sudah ah, aku mau pulang. Nih mbak uangnya." ? Kusodorkan lembaran 20 ribu pada mbak Yah. Setelah menerima uang kembalian aku segera pulang karena khawatir nanti ibu marah kalau aku kelamaan.
Sampai di rumah kutaruh rantang di atas meja makan. Aku masuk kamar lalu rebahan di ranjang.
Rasanya tak percaya , Niko bisa, berbuat hal yang tak seharusnya dia lakukan.
Dulu dia pernah bilang padaku, " Kita jangan sampai berbuat kaya gitu ya, belum saatnya.." Begitu katanya.
Waktu itu kita lagi keluar bersama Rio juga. Aku ingat setelah itu Rio menraktir bakso di tempat langganan nya.
Sekarang tiba-tiba saja dapat kabar kalau Niko telah menghamili pacarnya. Lelucon macam apa ini ?
Benar-benar nggak menyangka, Niko yang awalnya pendiam ternyata........
Aku bangkit dari ranjang dan masuk ke kamar mbak Nia. Untung mas Joni belum pulang.
" Mbak, ada gosip nih ! tapi beneran bukan bohongan. " Aku berniat cerita sama mbak Nia.
" Gosip apaan ? " tanya mbak Nia malas menanggapi.
" Kata mbak Yah, pacarnya Niko hamil. " kataku lirih supaya nggak terdengar dari luar kamar.
" Apa ? yang bener aja Niko kan masih kecil.." Mbak Nia sampai kaget mendengarnya.
" Iya, padahal kan Niko baru saja lulus sekolah, sayang kan kalau nggak ngelanjutin kuliah. Dulu ibunya berlagak melarang hubunganku sama Niko. Dia pikir aku mau ngajari Niko macam macam. Eeh sekarang nggak diajari aja tahu-tahu mbuntingi anak orang. " Aku berkata mencibir Niko dan ibunya.
" Sudah nggak usah mengurusi mereka. Sekarang keluar, sana ! aku mau tidur. " Mbak Nia mengusir ku dari kamarnya.
" Huuu kamu nggak asyik kalau diajak ngobrol. " Aku menggerutu seraya keluar dan masuk ke kamarku sendiri.
Kalau pacarnya Niko hamil berarti dia pasti akan segera menikah. Kemudian dia juga akan punya anak. Nggak kebayang seorang Niko tiba-tiba akan menjadi ayah.
******** &&&*******
Besok disambung lagi gaees... penasaran kan kelanjutannya bagaimana ?
ikuti terus kisah Aira.
__ADS_1