
Minggu pagi aku berangkat ke warung lebih awal. Eva belum pulang dari Jogja sehingga tidak ada yang merengek padaku minta ditemani ke CFD. Aku langsung menyibukkan diri dengan aktifitas di warung makan.
Sehabis jam makan siang setelah warung agak lengang aku sholat Dzuhur lalu makan siang di dapur.
" Assalamualaikum." Terdengar seseorang mengucapkan salam.
" Waalaikum salam, eeh Raka sini masuk ! Tuh Aira lagi makan di dalam." Ibu membalas salamnya. Dan ternyata Raka yang datang.
" Sudah bener-bener pacaran nampaknya ya," celetuk mbak Sri yang tengah mencuci piring. Dia tersenyum memandangku.
" Doakan saja Mbak, mudah-mudahan yang sekarang serius sama aku," ucapku.
" Aamiin, semoga Mbak Aira nggak sedih-sedih lagi. Jangan sampai mas Raka menyakiti Mbak Aira." Mbak Sri langsung terdiam karena Raka sudah masuk ke dapur. Kuselesaikan makan siangku segera.
" Hai, sepertinya lagi serius nih ngobrolnya," sapa Raka pada kami. Di tangannya ada bungkusan tas plastik warna hitam.
" Enggak kok, cuma ngobrol biasa," balasku. Raka menyodorkan plastik hitam itu padaku.
" Ini ada buah kelengkeng dari nenek sisa panen tempo hari." Aku menaruh piring yang kupegang lalu menerimanya. Ibu yang baru selesai makan siang meletakkan piring di wastafel.
" Buk, ini ada buah kelengkeng dari neneknya Raka, katanya sih panenan sendiri." Kubuka plastiknya lalu kuserahkan pada ibu.
" Aduh kok repot pakai dibawain segala, bilang terima kasih sama nenek ya," kata ibu seraya mengeluarkannya sebagian dan menaruhnya di nampan. Beliau langsung mencicipinya. Aku juga mengambil beberapa buah untukku dan mbak Sri.
" Enggak kok Buk, kata nenek itu juga tinggal sisa karena kemarin sebagian dikirim ke tempat pakde di Surabaya, sebagian dibagi- bagi keluarga dan tetangga. Maaf hanya sedikit." Raka menangkup kan kedua tangannya meminta maaf.
" Nggak apa-apa, justru kami berterima kasih karena sudah ikut dapat bagian." Ibu membalas ucapan Raka.
" Buahnya besar-besar dan manis ya ! " timpalku. " Iya kayak yang lagi makan," seloroh Raka berbisik menggodaku. Kucubit pinggangnya, ia menggelinjang kaget. " Sakit," ucapnya lirih.
Aku pun mengambil beberapa buah lagi. Mbak Sri kusodori lagi namun ia menggeleng karena sedang makan siang.
" Kalau mau lagi ambil saja nggak papa," cetusku.
Mbak Sri mengangguk sembari meneruskan makan.
Ibu menyimpan kelengkeng yang masih ada di plastik ke dalam keranjang belanjaan, untuk dibawa pulang nanti sore.
" Makan dulu Raka, ini ibu buatin tahu campur.Ini menu baru di warung ini lho. Silahkan dicicipi kira-kira gimana rasanya." Ibu menyodorkan sepiring tahu campur buat Raka. Baru beberapa hari yang lalu ibu menambah menu tersebut di warungnya.
__ADS_1
" Wah, jadi nggak enak nih. Ibu kok nggak menyuruh Aira saja yang mengambilkan." Raka menerima dengan tersipu. Ia menyenggol bahuku.
" Aira belum bisa meracik, ini kan menu baru," jawab ibu asal saja. " Ah ibu bisa aja, masa cuma meracik tahu campur aku nggak bisa. " sahutku cemberut. Ibu tertawa seraya berjalan keluar.
" Mari makan Mbak." Raka berbasa-basi menawari Mbak Sri.
" Oh ya silahkan, saya juga baru saja makan siang nih," sahut mbak Sri sembari keluar membawa piring-piring bersih. Lalu ia pun mengobrol dengan ibu di situ.
" Mau minta nggak, sini aku suapin." Raka menyendok makanannya lalu mendekatkannya ke mulutku. Aku membuka mulutku lalu melahapnya.
" Lagi ? " tawarnya lagi. Aku menggeleng. " Gantian dong, habis aku terus kamu." Aku menelan sambil memejamkan mata.
" Pedes ya? " tanya dia. " Iya, ibu kasih cabe berapa sih tadi." celetukku . Aku berdiri mengambil air putih untukku dan Raka.
Tak berapa lama sepiring tahu campur ludes." Kamu nggak kenyang dong, mau nambah nggak ? " tawarku. " Kenyang kok, tadi di rumah sudah makan." Ia menolak tawaranku.
" Oh iya, katanya kamu tiap Sabtu Minggu jualan. Tapi beberapa kali kamu malah menemuiku. Terus kiosnya tutup ? " Aku menanyakan tentang bisnis yang pernah dibicarakannya.
" Sekarang kan pamanku yang berjualan, aku titip dagangan di sana. Jadi aku cuma sesekali aja ke sana. Kalau ada waktu luang baru ikut berjualan." Raka pun menerangkannya padaku. Sedikitnya aku mulai paham.
___________
" Ingat lho ya, meskipun kamu sudah punya pacar kamu nggak boleh melewatkan sholat tarawih dan tadarus. Pokoknya tiap hari kita ke masjid, kecuali sedang halangan." Ia berucap seenaknya sendiri.
Kebetulan Sabtu sore ini dia pulang dan sudah menungguku di teras. Raka belum datang karena sedang mengantar ibunya ke tempat famili.
Setelah mandi kutemani Eva mengobrol di teras. "Iiih, kok maksa sih ! " seruku sambil melotot ke arahnya. Tapi omongannya ada benarnya juga, meskipun caranya selalu dengan memaksaku.
" Lah iya dong, bulan puasa tuh kita nggak boleh pacaran, nanti puasanya batal." Ia berkata mengguruiku.
" Baik lah bu Ustadzah, besok saya nggak akan pacaran. Huuuh dasar ! Memangnya kamu pikir aku ngapain kalau lagi sama Raka." Aku pun membela diri.
" Mana tahu kamu nananina sama Raka." Eva mencibir. Kucubit lengannya sampai ia menjerit kesakitan. " Auww sakiit Aira !" teriaknya sembari mengelus lengannya.
" Biarin, salah sendiri ngomong seenak perut," balasku sambil mencerucutkan bibirku. Eva pun beringsut dari duduknya.
" Pulang aah ! Daripada dicakar sama harimau betina. Mana sebentar lagi yang jantan datang pula, hahaha ! " serunya seraya berlari kecil. Ia menoleh sambil mengejekku.
" Dasar reseh lo ! " teriakku membalasnya. Aku pun masuk rumah karena sebentar lagi adzan Magrib. Kubuka HP ku sembari duduk di depan TV. Ada pesan WA dari Raka.
__ADS_1
[ Aira cantik , aku masih menunggu ibuku. Maaf belum bisa menemuimu. Mungkin nanti setelah jam 7 malam aku ke rumah 🙏 😊 ]
[ Ngga apa-apa Raka ganteng , aku juga nggak ke mana-mana kok ]
[ Terima kasih atas pengertiannya, bener ya jangan ke mana-mana sebelum aku datang. Ini juga sebentar lagi pulang, tahu tuh ibu lagi ngapain aja dari tadi nggak kelar-kelar ]
[ Nggak boleh begitu sama ibu, beneran aku nggak apa-apa. Ini juga lagi mau sholat. Kamu nanti juga sholat dulu sebelum ke sini ya ]
[ Oke deh kalau begitu, tunggu aku ya. See you, 😘 ]
Aku nggak membalasnya lagi. Kututup HP ku lalu bergegas mengambil wudhu ke kamar mandi dan melaksanakan ibadah.
Selepas Magrib baru Raka muncul. Mbak Nia yang membukakan pintu karena aku masih di dalam kamar.
"Aira, tuh ada Raka ! " serunya memanggilku di depan pintu kamarku. "Oke sebentar, " ucapku seraya memakai jilbab terlebih dahulu. Setelah rapi aku keluar menemui Raka.
" Hai, sudah selesai tugasnya ? " sapaku seraya bertanya. " Tugas apa ya ! " Ia balik bertanya. " Mengantar ibumu tadi, itu kan tugas namanya." cetusku.
" Oh itu, sudah dong. Kalau belum mana bisa aku kemari, hehehe." Ia pun membalas ucapanku. Kita pun mengobrol sejenak.
"Mau keluar nggak ? " tanya Raka menawariku. " Boleh, tapi sehabis sholat Isya aja deh. Kita nggak akan pergi nonton kan, " usulku.
" Terserah kamu saja, kalau nggak pingin nonton ya main ke mana kek. " Ia pun menuruti saranku. Sekitar jam setengah delapan baru ia mengajakku keluar setelah terlebih dulu sholat di masjid bersama ayah.
" Yuk berangkat ! " Aku membonceng dan Raka pun melajukan motornya perlahan. Ia menghentikannya di taman kota dan kita duduk di bangku panjang di bawah lampu taman. Tak lupa membeli jajanan yang ada di sekitar taman.
" Raka, aku boleh ngomongin sesuatu nggak ? " tanyaku pelan sembari menikmati batagor. Ia menoleh, "Ngomong apa ? " tanya dia kemudian. Ia juga tengah menyuapkan batagor ke mulutnya.
" Sebentar lagi kan bulan puasa, gimana kalau kita break dulu. Untuk sementara kita nggak usah ketemu, biar konsentrasi dalam ibadah. Gimana, setuju nggak ? " ungkapku.
" Kamu serius ? " tanya Raka. Aku menganggukkan kepala. " Yach kalau kamu ingin kita break dulu aku sih setuju saja. Yang jelas aku nggak mau membebani kamu, mengekangmu. Apa yang menurutmu baik aku akan menurutinya. Asal jangan suruh aku ninggalin kamu, aku nggak akan pernah mau." Raka berkata seraya tersenyum .
" Enggak lah, kita hanya nggak ketemu selama bulan puasa saja kok. Biar lebih fokus beribadah. Terima kasih ya kamu mau menuruti saranku, tapi jangan lupa selalu hubungi aku. Kita tetap chatingan ya ! " pintaku.
" Iya sayangkuuu, terserah kamu saja deh ! " Raka mencubit pipiku. " Auw sakiit ! " seruku. Ku elus pipiku. " Habis gemes sih ! " ucapnya.
Tapi aku lega karena Raka bersedia untuk tidak bertemu jika kita puasa nanti. Keputusanku ini bukan semata karena permintaan Eva tadi sore, tapi karena aku sempat menyadari sesuatu. Bagaimana komentar tetangga jika Raka tetap datang ke rumah malam hari sementara yang lain tengah menjalankan sholat tarawih. Tentunya aku juga nggak mau melewatkan momen yang hanya setahun sekali itu.
_________________
__ADS_1
Bersambung