Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 131 Mengajak Bestie


__ADS_3

Minggu pagi, kulihat Eva tengah menyapu halaman rumahnya. Aku sendiri sedang menyapu teras.


" Hai bestie, pulang kapan ? Katanya mau KKN, " sapaku ketika dia menengok ke arahku.


" Minggu depan aku berangkat. Kamu sendiri tumben masih nyantai, nggak ke warung? " tanya dia balik.


" Ya ke warung lah, ini bentar lagi mau mandi terus berangkat. Tapi nanti jam 10 an aku mau bagikan undangan," sahutku.


" Kirain hari ini nggak ke warung, bisa nganterin aku ke CFD. Aku pingin beli jilbab segi 4 yang murah-murah, buat ganti-ganti di tempat KKN besok. Kalau pakai yang bagus sayang, kan tiap hari di lapangan kena panas." Eva mengutarakan keinginannya.


" Kalau mau murah di pasar kan ada. Malah santai milihnya ngga kepanasan juga," saranku.


" Tapi kamu bisa nganterin nggak, aku tidak tahu tempatnya kalau sendirian," pintanya. Sudah kuduga pasti minta diantar.


" Bisa aja, kalau gitu nanti kamu juga nganterin aku bagiin undangan ya. Yang dekat sini aja kok, kalau yang jauh-jauh nanti aku sama mas Raka."


" Berarti nanti aku jemput kamu di warung ya, mau jam berapa? " tanya Eva lagi.


" Oke, jam 10 an ya. Kalau nggak nanti aku kabarin dulu," sahutku.


" Siap kalau gitu, udah sana mandi dulu! " cetusnya.


" Nggak usah disuruh !" celetukku sembari masuk rumah. Kudengar Eva tertawa ngakak.


Seusai merapikan diri aku segera berangkat ke warung dengan membawa beberapa lembar surat undangan. Seperti biasa langsung kulakukan tugasku.


" Mbak Sri, ini aku sudah bawa surat undangannya. Tolong bagikan yang sekitaran warung kita. Di pasar ada beberapa teman biar aku saja yang ngasih. Terus nanti aku juga mau keluar membagikan ke teman-teman sekolah. Maaf ya, kutinggal lagi," pesanku padanya.


" Siap Mbak, nanti aku bagikan. Tenang saja aku nggak masalah kok ditinggal, memang ini pekerjaanku. Sudah beruntung selama ini mbak Aira membantuku." Mbak Sri menenangkanku.


" Makasih ya, sekarang aku mau sarapan dulu. Nanti jam 10 an Eva mau ke sini, minta diantar beli kerudung. Sekalian saja aku membagi undangan buat teman di pasar," terangku.


Selesai sarapan kuambil surat undangan yang kuletakkan di bilik sholat tadi.


" Mbak, ini buat mbak Wiwit dan yang lain kutaruh di dalam lagi ya. Ada berapa nih, tolong dicek lagi mana tahu ada yang terlewat." Kutunjukkan pada mbak Sri dan kuingatkan lagi.


" Siap tuan putri, nanti habis sarapan tak bagikan sekalian belanja di mbak Sumi," sahutnya.


" Oh iya, buat mbak Sumi sekalian saja kamu yang ngasih ya," cetusku. Kucari undangan atas nama mbak Sumi lalu kujadikan satu di bilik.


Tak berapa lama Eva muncul dengan motor maticnya. " Assalamualaikum, hihi !" ucapnya seraya tersenyum meringis.

__ADS_1


" Waalaikum salam, eh mbak Eva tumben mampir kemari ," balas ibu agak terkejut. Aku memang belum bilang kalau Eva mau ke sini.


" Mau jemput Aira Buk, katanya mau membagikan undangan. Sekalian saya minta diantar beli kerudung, hehe ! " sahut Eva dengan berdiri.


" Oh begitu, sini masuk. Mau minum dulu apa makan gorengan tuh, ambil saja ! " Ibu menawarinya.


" Makasih Bu, mau langsung saja Tuh Aira sudah siap ! " ucap Eva sambil memperhatikanku.


Aku keluar lalu pamit sama ibu dan mbak Sri. Surat undangan kumasukkan dalam tas plastik besar lalu kugantungkan di motornya Eva.


" Ke mana dulu kita ? " tanya dia setelah menghiduokan motor.


" Ke pasar dulu lah, katanya mau beli kerudung. Sekalian ada beberapa undangan yang kubagikan di situ. Habis itu kita ke rumah teman-temanku. " Aku memberi instruksi biar Eva tudak bertanya-tanya lagi.


" Siap bestie, let's go ! " Kami pun meluncur ke pasar yang jaraknya hanya seratus meter dari warung ibuku. Namun karena tujuan kami ke kios pakaian sehingga harus memutar lewat pintu bagian lain.


Usai mendapatkan kerudung yang disukainya kuajak Eva membagikan undangan ke beberapa kenalanku di pasar.


" Ke mana lagi kita ? " tanya Eva saat kita keluar dari pasar.


" Kita makan bakso dulu yuk, habis itu sholat di rumah aja. Terus lanjut membagi undangan ke teman-temanku di kampung sebelah." Aku mengajaknya istirahat dulu.


" Hayuk atuh, kalau diajak makan mah oke-oke saja, haha ! " celoteh Eva girang.


" Ayo cepat masuk ! " kudorong Eva agar segera masuk ke depot lalu kita mengambil tempat di pojokan.


" Ada apa sih main dorong aja, udah kelaparan banget ya ! " celetuk Eva setengah bingung menatapku tak berkedip.


" Nggak ada apa-apa, keburu laper memang., iya keburu laper," jawabku agak gugup.


Aku nggak mungkin terus terang sama Eva kalau ada Arya di luar, pasti dia akan menanyakan siapa Arya. Bisa-bisa dia malah memanggil itu cowok, lalu bilang, ini dicari Aira. Gawat kan !


" Ya udah cepetan pesen, katanya lapar malah ngelamun." Eva menyenggol bahuku.


" Aduh mau pesen aja nunggu aku, heran deh. Mas ! Bakso komplit 2 , es dawet 2 ya ! " seruku pada karyawan depot yang berdiri dekat kami.


Setengah jam kami makan dan minum sambil mengobrol. Sesekali Eva juga " curcol " padaku tentang cowok yang naksir dia. Hanya saja ia tidak berani pacaran sebelum selesai kuliah. Itu ultimatum dari papanya.


" Sudah yuk, sebentar aku bayar dulu," ajakku kemudian menuju kasir.


" Biar aku yang bayar, kan kamu sudah nganterin aku beli kerudung ! " celetuk Eva menyusulku.

__ADS_1


" Apaan sih, biar aku saja. Kan aku yang minta tolong kamu nganterin bagikan undangan," cegahku . " Sudah kamu keluar dulu," lanjutku menyuruhnya keluar.


" Huuh ya sudah, mending uangnya kumasukin dompet lagi." Ia pun menggerutu.


Setelah membayar aku keluar mendekati Eva yang sudah duduk di motornya. Kami langsung pulang untuk sholat Dzuhur dulu.


" Nggak sholat di rumahku aja, sudah lama kita nggak ngobrol di kamar, hehe ! " pinta Eva saat menghentikan motor di depan rumahnya.


" Enggak ah, kan aku sekalian mengambil surat undangan di rumah. Nanti kalau sudah selesai baru kita ngobrol sambil tiduran di kamarmu. Oke ! " janjiku agar dia tak kecewa.


" Oke, bener lho ya," pesannya sebelum masuk ke rumah. Aku pun pulang dan segera sholat.


Sebelum keluar kusempatkan membenahi make up wajahku kemudian kupakai jilbab segi empat supaya nggak gerah.


" Aira, ayo dong. Nanti kalau kesorean kamu nggak jadi ke rumahku lagi ! " seru Eva memanggilku dari luar pagar.


" Ya sebentar ini lagi benerin jilbab," seruku juga dari kamar.


Untung Arkana lagi nggak ada di rumah. Tadi pagi mbak Nia mengajaknya ke rumah kakek neneknya. Sekalian menitipkan undangan pernikahanku buat keluarganya mas Joni.


" Selalu teriak-teriak, nggak bisa apa kecilin volumenya ! " tegurku saat keluar menghampirinua.


" Maklum kebiasaan, hehe. Nggak ada Arkana juga," kilahnya.


" Iya Arkana nggak ada, tapi ayah sedang tidur siang," ucapku mengingatkannya.


" Salah sendiri dandan aja lama," balasnya nggak mau kalah.


" Yuk ah berangkat ! Kita jalan kaki aja, cuma ke kampung sebelah kok." Aku berkata sembari berjalan mendahului Eva.


" Ah nggak mau kalau jalan kaki., pakai motor saja. Kampung sebelah juga jauh kali," celetuknya. Setengah berlari ia mengambil motor lalu menyuruhku naik. Aku pun menurutinya.


Di kampung sebelah ada beberapa teman SD ku yang kuberi undangan. Setelah semua dibagikan barulah kusempatkan mampir di rumah Eva. Kita pun mengobrol tentang altifitas masing-masing,


" Aira, pernikahanmu tinggal 2 minggu lagi. Tapi aku minggu depan sudah harus berangkat KKN. Maaf ya aku nggak bisa menemani kamu nikah. Tapi aku janji akan kasih kamu kado spesial," Eva mengutarakan penyesalannya.


" Nggak pa pa Va, yang penting kita saling mendoakan. Kamu harus fokus dengan kuliahmu. Doamu itu adalah kado spesial buatku."


Saking asyik mengobrol kami berdua sampai tertidur, dan terbangun ketika terdengar azan Ashar. Tante Fina mengetuk pintu kamar Eva namun kita berdua masih enggan untuk beranjak dari tempat tidur.


____&&&______

__ADS_1


Sekian dulu gaes.. bersambung ya.


__ADS_2