Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 53 Curhatan Aira


__ADS_3

Sebenarnya aku kasihan sama Eva. Sudah berapa minggu dia nggak pulang, dan saat liburan aku malah nggak bisa menemaninya ke CFD. Tapi selama libur dia tiap sore ke rumah. Kadang keluar sekedar makan bakso atau jajan di kios Babah Hong Liem.


" Lekas berangkat Aira, hari Minggu ramai lho." Mbak Nia mengingatkanku saat aku baru menyapu teras. Ia baru saja memandikan Arkana.


" Iya ini sebentar lagi selesai, udah tak bersihin semuanya. Kamu tinggal duduk manis," sahutku meledeknya.


" Duduk manis pala lu peyang ! Memang aku nggak ngurusin anak apa ? " protesnya. Aku tertawa cekikikan. Kutaruh kembali sapu di dapur lalu segera mandi.


Selesai berkemas kuambil handphone di meja dan kumasukkan dalam tas selempang. Bergegas aku keluar rumah, tak lupa kucium dulu dedek Arkana dengan wangi minyak telonnya.


" Aira payah, diajak ke CFD nggak mau !" seru Eva saat aku melewatinya yang sedang menyapu teras. " Sorriiii banget, minggu depan deh aku usahain. Lagian kamu juga masih libur kan, tiap sore juga bisa jalan-jalan." Aku menghiburnya karena mukanya cemberut.


" Beda dong, di CFD kan jajanannya komplit," sahut Eva lagi. " Iya, iya, minggu depan kita ke sana. Sekarang aku mau berangkat, daah ! " Aku setengah berlari menuju gapura. Beruntung langsung dapat angkot.


" Hai Aira, tumben jam segini udah datang. Memangnya nggak jalan-jalan di CFD ?" tanya mbak Wiwit ketika aku sampai di warung. Dia tengah membuka tokonya.


" Iya Mbak, kebetulan tadi udah selesai pekerjaan rumah jadi sekalian aja berangkat," jawabku ringan seraya masuk ke warung.


" Seger nih hari Minggu, soalnya tadi malam ketemu Ayang. Hihihi... " celetuk mbak Sri begitu aku ke dapur dan menaruh tas di bilik tempat sholat.


" Ssst,, pagi-pagi udah berisik. Kerja dulu ngobrolnya nanti," sahutku. Mbak Sri memonyongkan bibirnya.


" Sekarang udah punya pacar malah jadi galak, harusnya kan murah senyum. Secara hatinya sudah terisi, selalu berbunga-bunga." Mbak Sri menggerutu, mulutnya komat kamit nggak jelas.


Aku tertawa geli melihatnya. " Maaf deh, habisnya baru masuk sudah diledek." Aku pun membela diri.


Tak lama pengunjung mulai berdatangan, aku keluar ikut melayani. Mbak Sri di dapur meneruskan menggoreng ayam dan beberapa lauk tambahan.


" Aira cantik, bikinkan kopi susu ya !" seru mas Harun yang baru datang sudah langsung memanggilku.


" Iya Mas," ucapku lalu menyiapkan pesanannya. Selanjutnya aku membikin teh manis beberapa gelas dan kutaruh di meja depan. Pelanggan yang mau sarapan akan mengambilnya sendiri.


Seusai jam sarapan pengunjung sudah mulai berkurang. Kami baru bisa sarapan bergantian. Aku makan di dapur sambil menemani mbak Sri yang sedang mencuci .


" Jalan-jalan ke mana semalam Mbak Aira ? " tanya mbak Sri kepo. " Tempat biasa lah, ke mana lagi. " jawabku sambil terus mengunyah.


" Eeh tau nggak, ternyata kemarin hari ulang tahun Raka. Semalam dia bilang sama aku." Aku mulai bercerita setelah selesai sarapan.


Ibu yang sedang menikmati kopi panas dan camilan pun masuk dan ikut mendengarkan. Akhir-akhir ini ibu selalu bersikap baik sama aku, sepertinya sejak Raka sering ke rumah. Bahkan ibu selalu antisias menanyakan apa saja yang kulakukan bersama Raka.


" Oh ya, kok bisa kebetulan sih. Terus kamu kasih hadiah apa buat Raka ? " tanya ibu.

__ADS_1


" Ya nggak ngasih apa-apa. Orang tahunya juga tadi malam. Cuma kuucapkan selamat dan mendoakan yang baik-baik," jawabku.


" Terus dicium nggak ? " celetuk mbak Sri sambil nyengir. " Huush ! nggak usah ngajari macam-macam ya Mbak Sri ! " Ibu langsung menegurnya lalu pura-pura mengacungkan kepalan tangan pada mbak Sri.


" Nggak apa-apa lah Buk sekali -sekali., sudah besar ini. Hehehe ! " Mbak Sri tertawa kecil. Ibu keluar tak menyahut ucapannya.


" Rasain dimarahin ibu. Salahnya sendiri bicara ngaco, huuu ! " cetusku gantian meledek mbak Sri. Ia malah tertawa mengejekku.


" Kalau aku kasih sesuatu buat Raka, berlebihan nggak ya." Aku bergumam sendiri. Mbak Sri menolehku.


" Menurutku enggak, wajar jika Mbak Aira ngasih kado buat dia. Kan dia sendiri yang ngasih tau kalau lagi ultah, mungkin dia merasa sudah dekat sama kamu." Mbak Sri memberi komentar.


" Kira-kira mau ngasih apa ya sama Raka ? Ah iya, mending aku belikan cokelat aja. Sepertinya yang pas cokelat yang ada medenya. Terkesan simple tapi elegan. Gimana Mbak Sri, pantas nggak ?" tanyaku minta pendapatnya.


" Bagus itu, cokelat kan tanda cinta. Kesannya romantis, syahdu hehehe ! " Mbak Sri berkelakar.


" Huuu , sok puitis ! " seruku meledeknya.


" Tapi nunggu hari Sabtu lagi baru bisa diberikan. Mungkin ia sudah mulai kuliah dan pulang seminggu sekali, " kataku kemudian.


Memang aku nggak pernah menanyakannya karena merasa tidak berhak untuk tahu setiap kegiatannya.


" Sok-sok an pakai bahasa gaul," celetukku. " Tapi aku malu, meskipun punya nomer kontaknya tapi kita jarang chatingan kalau bukan dia duluan yang WA aku." Aku jadi ragu mengikuti saran mbak Sri.


" Yaelah jaman sekarang punya HP tapi nggak dimanfaatkan. Terus buat apa menyimpan nomernya. Mending kembali ke jaman purba saja, hahaha ! " Mbak Sri malah bercanda. Ia telah selesai mencuci piring.


" Dia yang minta nomerku, bukan aku." kataku kemudian.


" Aira ini jam berapa, lekas belanja kalau kesiangan nanti masaknya jadi telat ! " tegur ibu. Beliau baru selesai sarapan.


" Oke Bos ! " Aku mengambil keranjang belanja lalu keluar. Ibu mengulurkan selembar uang ratusan.


Langsung saja aku meluncur ke kios mbak Sumi.


Saran dari mbak Sri belum bisa aku lakukan. Aku nggak mau menghubungi Raka duluan, selain sungkan aku juga khawatir kalau ternyata dia sudah mulai kuliah. Bisa-bisa malah dia bolos.


__________


" Va ! Aku mau ke Babah Hong Liem., mau ikut nggak ? " tawarku pada Eva yang tengah duduk memangku Arkana di teras bersama mbak Nia. Aku baru selesai mandi dan sholat Ashar.


Sore ini kita pulang lebih cepat karena ada acara 7 bulanan kehamilan mbak Risma, istri mas Bayu. Sehabis menikah mbak Risma memang sengaja menunda kehamilannya karena tengah sibuk-sibuknya mengurus cafe. Makanya sekarang usia kandungannya baru 7 bulan.

__ADS_1


" Mau dong ! Eh tapi kok tumben kamu sama ibu pulang cepat? " tanya Eva heran.


" Ibu mau ke rumah mas Bayu, ada acara di sana." Kujawab seperlunya.


Mbak Nia mengambil dede Arkana dari pangkuan Eva. Tak berapa lama ibu dan ayah sudah siap hendak pergi. Mereka akan naik angkot lalu nanti pulangnya diantar mas Bayu.


" Kamu sama mbak Nia nggak ikut ? " tanya Eva. Mbak Nia langsung menyahut, " Aku kan ada Arkana, nanti nggak bisa bantu-bantu malah ngerepotin di sana." terangnya.


Aku sendiri malas ikut karena agak sungkan juga, di sana pasti ada orang tua dan keluarganya mbak Risma. Beda kalau acaranya di rumah ini, lebih bebas.


" Ibu sama ayah berangkat ya, baik-baik kalian di rumah." pesan ibu sebelum pergi. Kami bertiga menyalami mereka.


" Jadi nggak ke Bah Hong Liem ?" seru Eva mengingatkanku. " Tunggu sebentar !" sahutku lalu masuk mengambil dompet sama handphone.


" Kita jalan kaki aja ya, masih sore kok," cetusku kemudian. Eva mengangguk seraya membetulkan jilbabnya di depan kaca jendela. Mbak Nia beringsut masuk ke rumah.


Sampai di toko Bah Hong Liem aku membeli 2 batang cokelat mede yang ukuran besar. Tak lupa plastik kado ukuran kecil dan juga pita berwarna merah. Eva nampak heran.


" Bestie, kamu beli apa aja sih. Kok kayak mau bikin prakarya." Ia bertanya gusar.


" Nanti aku ceritain, kamu mau jajan apa sekalian kubayar ! " ucapku kemudian. Eva mengambil sebungkus wafer dan permen bening favorit kami sejak kecil.


Sepanjang perjalanan pulang Eva sudah nggak sabar bertanya. Aku bercerita apa adanya karena di antara kami nggak pernah ada rahasia.


" Romantis banget sih kamu, pacar ulang tahun dikasih kado cokelat. Nanti aku bantu bungkusin cokelatnya deh ! " Ia pun antusias menawarkan jasanya.


" Tapi sejujurnya aku bingung, Raka itu menganggapku pacar atau teman dekat atau adik. Soalnya udah berapa kali kita jalan berdua dia belum pernah nembak aku." Aku mengungkapkan pada Eva tentang sikap Raka.


" Belum pernah sekalipun dia mengucapkan kata-kata romantis, apalagi sampai bilang suka padaku. Tapi perlakuannya menunjukkan kalau dia sayang padaku. Ia nggak mau aku sedih, terluka, bahkan disakiti orang lain." Kulanjutkan ceritaku.


" Mungkin memang sifat dia seperti itu. Nggak perlu mengumbar kata-kata atau rayuan, yang penting tindakan atau bukti." Eva menebaknya.


" Ya oke lah kalau dia nggak suka mengobral rayuan. Tapi kalau kalimat formal, ' Aku suka kamu Aira' masa nggak bisa." Aku menggerutu.


" Ya udah nggak usah mengharap dia mengucapkan kata-kata romantis. Yang penting perlakuannya menunjukkan kalau dia sayang sama kamu. " Eva berusaha meyakinkan ku.


Langkah kami terhenti saat tiba di depan rumahnya. Eva mengajakku duduk di teras sembari menikmati cemilan yang diambilnya dari dalam rumah. Kita pun melanjutkan obrolan sampai akhirnya terdengar azan Magrib.


**************************


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2