
Semenjak tunangan Raka tiap hari menemuiku meskipun hanya sebentar. Jika kerjanya shift malam, siang dia ke warung. Apabila dapat shift pagi, malam dia ke rumah namun hanya sampai jam 21.00. " Yang penting tiap hari ketemu." Begitu katanya. Sore ini dia menelponku.
" Hallo Airaku, nanti malam nonton yuk ! Sudah lama kan kita nggak ke bioskop."
" Hallo juga, tumben telpon. Biasanya cuma kirim WA."
" Lagi pingin dengar suara kamu, hehe. Kebetulan hari ini shift pagi jadi kita nanti bisa malam mingguan sepuasnya."
" Kalau filmnya bagus aku mau. Tapi kalau jelek mending nongkrong di taman kota sambil makan pempek."
" Nggak bosen apa makan pempek melulu. Bagus kok filmnya, sudah lihat iklannya kan di televisi ? Film nasional lho, pemerannya lagi naik daun."
" Aku kan jarang nonton televisi. Acaranya kesukaan ibu sama mbak Nia, sinetron striping. "
" Hahaha, ya sudah nanti aku jemput ya. Ini baru pulang kerja mau mandi dulu."
" Pantesan bau hahaha. Aku juga mau mandi nih ! "
" Kalau gitu kita mandi bareng yuk ! " Mulai lagi tuh, ujung-ujungnya pasti ke situ.
" Dasar pikiran ngeres ! " umpatku.
" Kok ngeres sih, kita mandi bareng di rumah masing-masing. Katamu tadi juga mau mandi kan ? Ketahuan tuh, siapa yang pikirannya ngeres heheheh ! " Raka terkekeh. Sialan, dia menjebakku.
" Sudah ah aku mandi dulu," tukasku. Handphone kumatikan sepihak. Pasti dia lagi menertawakanku.
Saat hendak ke kamar mandi, kudengar suara motor berhenti di depan pagar. Masa iya Raka sudah sampai di sini, tadi katanya baru mau mandi. Tapi suara motornya lain.
Sepertinya dia tengah berbincang dengan mbak Nia. Aku melongok lewat jendela, ternyata mas Toni yang datang. Aku baru ingat, dua hari yang lalu mbak Tika melahirkan.
" Sore Mas, kok sendirian. Stella nggak ikut ? " tanyaku basa-basi.
" Stella nggak mau beranjak dari kamar. Nungguin adiknya terus," jawab mas Toni.
" Memangnya sudah pulang dari Rumah Sakit? " tanyaku lagi.
" Sudah, makanya mas Toni mau mengajak ibu ke sana." Mbak Nia yang menjawab pertanyaanku.
Mas Toni hanya tersenyum lalu masuk ke ruang tamu. Aku bergegas ke kamar mandi sekaligus memberitahu ibu.
" Buk, itu ada mas Toni. Katanya mau menjemput ibu, mbak Tika sudah pulang dari Rumah Sakit." Ibu yang baru saja mandi dan berganti pakaian bergegas keluar. Aku berlalu ke kamar mandi membersihkan diri.
Beberapa menit kemudian ibu sudah siap berangkat ke rumah mbak Tika.
" Nanti aku menyusul ya Buk, mas Joni kusuruh pulang lebih awal," kata mbak Nia pada ibu.
" Kamu besok siang saja, kasihan Arkana kalau keluar malam-malam." Ibu menasehatinya. Mbak Nia pun menuruti meskipun nampak kecewa..
Raka tiba seusai aku sholat Magrib. Setelah berpamitan sama ayah kami berdua meluncur ke gedung bioskop.
__ADS_1
" Kamu tunggu di sini, aku beli tiket dulu." Raka berpesan sebelum pergi ke loket.
" Aku beli minuman sama snack aja," ujarku. Raka menarik tanganku. " Enggak boleh. Tunggu aku dapat tiket habis itu baru beli minuman." Ia menggelengkan kepalanya kemudian berlalu ke loket.
Kuurungkan niatku dan menunggunya kembali dari loket.
" Sekarang ayo kalau beli minum sama snack." Raka menggandeng tanganku menuju kantin. Aku memesan hot coffee sedangkan Raka memilih ice coffee. Tak lupa popcorn sama biskuit.
" Di sini nggak ada pempek sama batagor ya," tanyaku iseng sambil nyengir.
" Ya ampun Aira, pempek melulu yang dicari. Nanti di bawah kalau mau beli makanan kayak gitu. Di sini adanya makanan kering, sayang." Ia mengusap kepalaku. Kami pun masuk ke gedung bioskop di kelas 1.
" Duduk di pojok saja ya, biar nanti kalau keluar nggak berdesakan." Raka mengajakku duduk di bangku dekat pintu keluar. Kusodorkan es kopi dan pop corn padanya, aku sendiri membawa kopiku.
" Buka dong," pintaku. Raka menoleh seraya tersenyum.
" Belum apa-apa sudah minta dibuka. Nanti dong sayang." Ia mengerling nakal. Kupukul bahunya.
"Apaan sih, popcornnya tuh dibuka. Memang kamu mikirnya apa sih. Dasar otak ngeres ! " umpatku dengan melototinya.
" Ooh , yang jelas dong kalau ngomong. Nih udah kubuka." Raka menaruh popcorn di pangkuanku.
Film belum mulai, aku minum kopi panasku sambil makan popcorn sama kue kering. Raka juga minum es kopinya sembari menatap layar. Lima menit kemudian film dimulai.
Aku menyimak adegan demi adegan dari film yang kita tonton. Saat ada adegan sedih tak sadar aku ikut menangis. Raka menoleh lalu merangkulku, meletakkan kepalaku di bahunya.
" Adegannya bikin terharu, seperti beneran terjadi, hiks ! " ungkapku seraya mengusap airmata di pipi.
" Mas, ceweknya diapain sih kok sampai nangis gitu !" celetuk seseorang dari arah belakang. Aku menoleh ke arah suara, orang itu tersenyum-senyum melihat kami. Yang di sebelahnya juga ikutan melihat ke arahku.
" Maksudnya apa sih tuh orang." Aku berbisik bertanya sama Raka.
" Sstt biarin aja, dia cuma bercanda. Seolah aku ngapa-ngapain kamu." Raka menyuruhku tak menggubris mereka. Orang-orang yang bercandanya nggak lucu. Aku mengalihkan pandanganku kembali ke layar.
Film berakhir dengan happy ending. Lampu gedung dinyalakan, kami bersiap keluar. Untung tadi kita duduk dekat pintu.
" Mau langsung pulang apa mau makan dulu ? " Raka menawariku saat sudah berada di luar. Aku memang lapar karena tadi belum makan waktu berangkat.
" Makan dulu deh, aku lapar. Tadi belum makan apa-apa langsung pergi," ungkapku.
" Sama, aku juga lapar. Kita makan sate ayam aja yuk, tuh di depan ada." Raka menunjuk beberapa gerobak sate Madura yang berjajar di seberang jalan depan bioskop ini. Pangkalan mereka memang di tempat itu.
Kami pun menyeberangi jalan mendekati salah satunya. Setelah memesan 2 porsi sate ayam plus lontong dan 2 gelas teh manis hangat Raka mengajakku duduk di dalam. Sepuluh menit pesanan kami sudah diantar.
" Sudah kenyang, apa mau nambah ? " tanya Raka. Aku menggeleng. Kuhabiskan teh hangat yang tersisa setengah tadi.
" Sudah kenyang, yuk pulang ! " Aku berdiri hendak keluar.
Raka mengambil tissue di meja lalu mengelap mulutku. " Habis makan tuh mulut dibersihkan dulu. Masa masih belepotan udah mau pergi saja, hehe!" Ia pun terkekeh. Aku jadi malu, untung nggak ada yang memperhatikan kami.
__ADS_1
Setelah membayar kami meninggalkan tempat ini. " Ke alun- alun dulu ya. Baru jam setengah sepuluh." Raka melajukan motornya ke arah alun-alun.
" Tapi muter aja ya nggak usah turun. Biasa lah kalau perut kenyang bawaannya mengantuk, hihihi ! "
" Kalau ngantuk tidur saja. Pegangan yang erat, aku akan jalankan motornya pelan-pelan. " Raka mengarahkan aku.
Aku memeluk tubuh Raka, kusandarkan kepala di punggungnya yang lebar. Semilir angin membuat mataku terpejam. Ia juga melambatkan laju motornya. Benar-benar PW nih. Posisi Weenak.
" Beneran tidur rupanya," gumam Raka.
Meskipun mata terpejam aku nggak sepenuhnya tidur. Kupikir-pikir Raka seperti sedang menidurkan anak kecil. Ia juga memegang erat tanganku biar nggak lepas. Aku jadi tertawa dalam hati. Aah sudahlah, sudah ' pewe ' ini.
Sampai depan rumah barulah kubuka mataku. Lebih cerah dari tadi. Kami pun masuk, ibu sudah pulang rupanya. Beliau masih duduk di ruang tengah dengan mbak Nia.
" Ibu sudah pulang, kok belum tidur ? " tanyaku
" Belum, ini baru saja masuk rumah," jawab ibu lalu beranjak masuk ke kamar. Mbak Nia juga masuk ke kamarnya.
" Aku numpang sholat Isya dulu ya," cetus Raka. Aku mengangguk lalu mengajaknya ke kamar mandi. Sekalian aku juga mau wudhu.
Kami sholat berjamaah di dalam kamarku. Setelahnya Raka keluar dan duduk di ruang tamu. Kami mengobrol sebentar lalu ia pamit.
_____________
" Mbak Tika sama babynya sehat kan Buk ? " tanyaku pada ibu. Kami sedang sarapan bareng sementara mbak Sri mencuci piring di dapur.
" Sehat, bayinya gemuk. Lebih besar dari bayinya Stella dulu. Maklum ini laki-laki." Ibu menceritakan cucu barunya. Kemudian ibu berkata lagi.
" Tadi malam mbak Tika menanyai ibu, apa Raka sering masuk ke kamarmu. Ibu jawab saja iya, memang kenapa ? Dia bilang kok boleh sih, Raka sama Aira kan belum nikah. Ibu bilang dia di kamar mau sholat, Aira juga di luar kalau Raka sedang di kamarnya. Terus mbak Tika bicara panjang lebar. Ibu biarkan saja dia ngomong apa." Ibu memberi tahu kalau mbak Tika membicarakan aku dan Raka.
" Kok mbak Tika bisa tahu kalau Raka sering masuk kamarku," ucapku.
" Nia yang bilang, dia mengirim WA ke mbak Tika ngomongin kamu sama Raka, " ujar ibu lagi. Rupanya kakakku pada kurang kerjaan mencampuri urusanku.
" Ibu sudah jelaskan sama Tika, Raka itu memang pernah berkata sama Aira. Setelah bertunangan dia nggak akan sungkan lagi keluar masuk rumah. Mungkin dia merasa sudah jadi bagian keluarga kita. Tapi Tika tetap khawatir." Ibu menjelaskan lagi.
" Pokoknya Buk, kalau sampai ada yang berpikiran negatif sama aku akan kuungkit juga masa lalu mereka. Memangnya aku nggak tahu, mereka dulu kalau pacaran bagaimana. Aku nggak ngapa-ngapain kok dicurigai." Aku berkata tegas pada ibu.
Biar ibu menyampaikan pada kakak-kakakku yang mulai mengurusi kehidupanku. Aku juga nggak pernah mencampuri urusan mereka.
Jangan dikira mentang-mentang aku paling kecil aku nggak berani menghadapi mereka.
_________&&&&&______
Bersambung ya. Tetap like dan komen supaya author lebih semangat lagi.
Love sekebun buat kalian pecinta novelku.
Muaach muach !
__ADS_1