Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 32 Perjodohan (2)


__ADS_3

Acara televisi menampilkan sinetron bersambung. Mbak Nia dan ibu yang sedang menonton. Aku kurang suka sinetron bersambung ,ceritanya muter terus hanya mengulur waktu agar makin panjang episodenya. Masalah inti nggak selesai -selesai jadi bosen mengikutinya.


Mending rebahan di sofa saja sambil membaca novel di aplikasi Novel toon yang ada di HP. Sesekali ibu dan mbak Nia mengobrol, aku hanya menyimak tanpa menyambung obrolan.


" Kamu masih ingat nggak sama bu Sulastri , yang dulu suka bawa oleh-oleh hasil kebun itu ? " tanya ibu pada mbak Nia.


" Yang rumahnya di desa Bawang itu ya, masih ingat sih. Sudah lama nggak ke sini kan, memangnya kenapa Buk? " mbak Nia gantian bertanya.


" Kira-kira sebulan yang lalu bu Lastri itu datang ke warung, beliau menanyakan kamu. Ibu bilang saja kamu sudah nikah, sepertinya dia kecewa. Ternyata dulu bu Lastri pingin menjodohkan kamu sama putranya, tapi belum sempat mengutarakan pada ibu malah kena musibah. Sawahnya kebanjiran sehingga gagal panen, hanya mengandalkan hasil ladang dan kebun yang dijual di pasar kecamatan. Nggak pernah sampai pasar pusat, makanya nggak pernah mampir ke warung." Ibu bercerita tentang bu Sulastri.


" Lantas tempo hari dia ke sini ada urusan lain atau memang sengaja menanyakan aku ? jadi merasa tersanjung nih ." mbak Nia bicara sambil nyengir kesenangan.


" Ge Er ! " seruku seraya menjulurkan lidah meledeknya.


" Biarin ! tandanya aku masih laku ha ha ! " mbak Nia tertawa bangga. Huuh ! untung nggak ada mas Joni, kalau ada habis dia dipelototin sama diomelin. Mas Joni kan cemburuan.


" Sudah hampir setahun ini bu Sulastri mulai lagi menyetor hasil panen ke para pedagang di pasar pusat, tapi memang nggak pernah mampir ke warung karena sering kesorean. Terus sebulan yang lalu beliau mampir ke warung sendirian itu mau beli pupuk. Saat ibu bilang kalau kamu sudah menikah bu Lastri nampak kecewa." Ibu menghela nafas.


" Memangnya anaknya bu Lastri itu kerja di mana sih ? kok soal jodoh saja mesti dicarikan. Apa dia nggak punya teman cewek? " tanyaku menimpali.


" Justru itu. Si Yudha itu nggak punya teman perempuan, dia punya bisnis di rumah makanya jarang keluar. Dulu waktu mau dikenalkan sama Nia bisnisnya baru ternak ayam. Sekarang meningkat ada bebek, ikan lele sama nila, bahkan sudah mulai ternak kambing juga." Ibu bercerita dengan wajah berseri.


Sesaat kemudian ibu beranjak ke dapur membuat kopi untuk ayah yang tengah duduk di teras.


" Waduuh ! menyesal kamu Mbak, coba dari dulu kamu kenal sama Yudha , bakal kaya raya kamu hi hi ! " teriakku mengompori mbak Nia. Kuhentikan sejenak bacaanku.


" Yeee , terus mas Joni mau dikemanain ? itu namanya belum jodoh. Kamu aja tuh yang gantikan aku, sama-sama anaknya bu Wahyu juga. " mbak Nia gantian mengerjaiku.


" Ogaaah ! cowok pemalu kaya gitu nanti malah malu-maluin ! " sahutku seraya kembali menatap layar HP.


" Kaya gitu gimana, memang kamu sudah pernah ketemu sama Yudha itu ? " tanya mbak Nia heran.


" Sudah kemarin, dia ke sini sama ibunya. Terus ibunya pergi katanya ada keperluan, aku yang disuruh menemani ngobrol." Aku menggerutu.


Ibu yang baru keluar dari dapur langsung menyahut, " Ya nggak apa-apa kan, biar kamu bisa lebih dekat sama Yudha. Bu Lastri ingin kamu saja yang mendampingi Yudha, sepertinya lebih cocok."


What ? Aku jadi pendamping Yudha, alias jadi istrinya ? Oh my God ! Bu Sulastri terobsesi banget sih pingin besanan sama ibuku. Mau dibanggain kali di desanya, kalau anaknya yang peternak sukses punya istri gadis kota.


" Ha ha ha ! tuh kan bener? bu Lastri ingin kamu yang jadi menantunya. Nggak kebayang, nanti kamu tiap hari kasih makan ayam, bebek sama kambing." Mbak Nia makin menjadi-jadi meledekku.


" Terus aja ngeledek, puas ya? " gerutuku. Aku sudah nggak mood lagi meneruskan membaca novel. Ibu masuk lagi setelah memberikan secangkir kopi panas buat ayah di teras.


" Memang kenapa kalau kasih makan ayam sama bebek? itu kan memang mata pencahariannya. Lagi pula dia punya banyak pelanggan. Jangan melihat apa pekerjaannya, tapi lihat hasilnya."


" Iya Buk maaf, aku tadi kan cuma bercanda," sahut mbak Nia.


Aku masih diam, berusaha memahami perkataan ibu tentang Yudha. Apa salahnya aku mencoba mengenalnya lebih dekat.


Pekerjaannya lumayan, orangtua juga sudah kenal baik. Wajahnya juga lumayan kok nggak jelek. Lagipula status hubunganku dengan Arya nggak jelas. Aku ingin lihat bagaimana reaksinya jika tahu aku sudah punya cowok lain.


_________


Seminggu kemudian Yudha datang lagi tanpa ditemani ibunya. Betapa terkejutnya aku ketika dia menyodorkan kotak makanan yang dikemas rapi.

__ADS_1


" Apa ini Mas Yudha, kok repot-repot bawain aku makanan. Di sini kan banyak makanan."


" Tapi yang ini makanannya beda, buka saja !" pintanya.


Tanpa banyak kata kubuka saja kotak makanan dari Yudha. Astaga ! ternyata isinya satu ekor bebek bakar komplit sama sambel dan lalap.


Penampilannya menggugah selera, sepertinya bukan dari rumah makan yang biasa aku kunjungi. Sambalnya juga kelihatannya enak banget, beda sama sambel yang biasanya.


" Ya ampun, ini kayaknya enak banget ! kamu beli di mana sih? "


" Itu ibuku yang masak. Kemarin aku cerita kalau kamu suka bebek bakar. Daripada beli mending masak sendiri. Tapi maaf ya kalau rasanya kurang berkenan, soalnya baru kali ini ibu masak bebek bakar."


Ibu yang baru selesai sholat langsung keluar begitu mendengar suara Yudha.


" Eh ada nak Yudha, kok sendiri ibu mana ? " tanya ibu ketika Yudha menyalaminya.


" Ibu sedang arisan di rumah bu Kades, tapi tadi titip salam buat bu Wahyu katanya," jawab Yudha.


" Waalaikum salam, Aira buatkan minum buat nak Yudha ! " seru ibu lalu masuk ke dalam dan bicara berbisik pada mbak Sri.


" Di makan dong bebek bakarnya, biar tahu rasanya cocok nggak di lidah kamu. Nanti aku kan bisa jawab jika ditanya ibu." Yudha membuka percakapan.


" Tapi makannya sama kamu ya, aku nggak enak kalau makan sendiri," ucapku. Aku mengambil dua piring nasi putih.


" Kamu saja, aku sudah makan tadi di rumah." Yudha menolak halus. Tapi aku tetap mengambil potongan bebek dan ku taruh di piring kemudian kuletakkan di depan Yudha.


" Makan di rumah kan tadi, sekarang lapar lagi kan? ayo dong sedikit aja nggak pa pa. Masa aku makan sementara kamu cuma ngelihatin. "


Wow ! ternyata orang desa pintar masak. Bebek bakarnya rasanya beda dengan yang pernah kumakan. Dagingnya lebih empuk dan bumbunya merasuk sampai ke dalam. Sambalnya juga mantab, ada sambel terasi dan sambel tomat.


Benar-benar Top deh bu Sulastri.


Selesai makan segera kubereskan piring dan sisa lauk kubawa ke dalam. Ibu dan mbak Sri keluar karena ada pembeli yang datang.


" Ngobrol di dalam saja nak Yudha, biar nyaman. " Ibu menyuruh Yudha masuk ke dapur.


" Iya Buk ," sahut Yudha seraya bangkit dan masuk. Sebenarnya risih juga aku kalau mengobrol dengan cowok di ruangan sempit gini, apalagi yang baru kenal. Beda kalau di depan karena masih terlihat orang lain. Tapi apa boleh buat karena di luar sedang ada pembeli. Yudha juga pasti merasa nggak enak.


Di tengah obrolan kami Yudha pun mengeluarkan handphone.


" Aku minta nomer kontakmu ya Aira, boleh kan ?" ucapnya. Sesaat aku merasa ragu, haruskah dia meyimpan nomerku ? Sudah sedekat inikah ?


Tapi kemudian aku berucap," Boleh."


Aku menyebutkan 12 digit nomer HP ku padanya. Lantas Yudha pun mengirim pesan WA ke HP ku.


Setelah mengobrol banyak dan pengunjung warung juga sudah pada keluar Yudha pun pamit pulang.


________


Malam hari ketika aku beranjak tidur ada WA masuk dari Yudha.


[ Selamat malam Aira, sudah tidur kah ]

__ADS_1


Agak malas aku membacanya karena sudah mengantuk.


[ Ini baru mau tidur 🥱 ]


Sengaja kuberi emoji agar dia tahu aku memang sudah mengantuk.


[ Oya sudah, selamat tidur ya 🙏 ]


[ heem 😴 ]


Hanya itu yang kutulis. Handphone kutaruh di bawah bantal.


Kenapa sih Yudha mengirim pesan malam-malam begini ? Ini di luar ekspektasiku. Meskipun dia sudah punya kontakku, tak seharusnya malam-malam mengajak chating. Hello ! kita baru 2 kali ketemu.


Apa semua cowok seperti itu ya, kelihatannya pendiam tapi kalau sudah dekat dengan cewek main serang saja.


Dalam bayanganku Yudha nggak akan se berani itu. Paling sekedar menanyakan kabar itu pun siang hari. Secara dia juga jarang bergaul katanya. Tapi bisa saja dia sering menonton youtube.


Tuh kan aku malah nggak jadi ngantuk. Benar-benar kesal sama Yudha ! Kubuka saja aplikasi Noveltoon.


Biasanya kalau membaca novel lama-lama aku tertidur. Setengah jam kemudian baru mataku terpejam.


Saat Subuh tiba aku membuka mata tapi masih enggan turun dari ranjang.


Tok tok tok !


" Aira bangun sholat subuh ! " ayah mengetuk pintu membangunkanku. Dengan agak malas aku beranjak ke kamar mandi untuk wudhu.


" Tumben jam segini belum keluar kamar," ujar ayah sambil berlalu.


Bukannya aku malas sholat tapi karena masih kesal dengan WA dari Yudha semalam.


Selesai sholat kulipat kembali mukena dan sajadah, lalu aku duduk di kursi sembari menyalakan handphone. Kubuka lagi pesan WA dari Yudha, lalu kuhapus. Selalu seperti ini. Hanya karena suatu hal yang sepele bisa membuatku seketika berubah pikiran.


Aku jadi insecure sama Yudha, sudah nggak mood lagi. Entah mengapa aku enggan meneruskan hubungan lebih jauh. Tiba-tiba aku jadi ingat Arya. Meskipun kontaknya sudah kuhapus tapi aku belum bisa menghapus dia dari pikiranku.


Tapi mengapa dia juga tak menghubungiku ? Bukannya dia masih menyimpan nomerku.


Pukul 6 pagi aku bergegas mandi kemudian berangkat ke warung. Ketika sedang menunggu angkot mbak Tutik muncul sambil menyapu terasnya.


" Hai Aira ! tumben naik angkot, biasanya jalan kaki." Ia menegurku. Aku tersenyum .


" Lagi males jalan Mbak, tadi bangunnya kesiangan." jawabku lesu. Beberapa saat kemudian angkot datang dan aku langsung masuk setelah pamit sama mbak Tutik. Di dalam angkot timbul ide, gimana kalau nanti aku main ke tempat Arya ?


Sudah 3 bulan lebih aku nggak ke sana. Kira-kira dia kangen sama aku nggak ya. Aku tersenyum sendiri, tapi buru-buru kututup mulutku sebelum penumpang lain melihat.


Untung angkot belum penuh.


_____&&&_____


Dilanjut besok ya gaeees , author mau kerja dulu !


kasih like dan komentar dong biar tambah semangat nulisnya.

__ADS_1


__ADS_2