
Beberapa waktu berlalu mas Sidik sudah jarang mampir ke warung. Hanya sesekali aku ketemu jika sedang berbelanja, dari kejauhan ia cengar cengir melihatku. Setelah itu sama sekali nggak pernah kelihatan lagi. Aku merasa lega sekalipun pelanggan warung berkurang satu.
Tapi ibaratnya jerawat, satu hilang muncul lagi yang lain. Mas Sidik pergi, eh mas Rifan yang nongol. Nggak tahu juga mengapa adiknya mbak Wiwit itu jadi sering mampir ke toko kakaknya.
" Selamat siang Dik Aira ! " sapanya ketika aku makan siang. Kebetulan aku lagi makan di depan, biasanya sih di dapur.
" Selamat siang juga," jawabku singkat. Ia lalu memesan nasi dan lauk pada ibu.
Setelah menerima nasinya ia mendekatiku dan makan di sebelahku. Aku nggak mungkin beranjak karena khawatir dia tersinggung.
" Nggak usah buru-buru Dik, nanti keselek." Ia menegurku saat melihatku makan dengat cepat.
" Perasaan biasa saja kok, Mas." Aku menyangkal perkataannya. Padahal aku sengaja mempercepat makan siangku supaya bisa lekas beranjak meninggalkannya.
" Biasa buru-buru gitu. Oh iya saya tahu, pasti Dik Aira lagi ditunggu seseorang jadi makan tergesa-gesa. Iya kan, hehe ! " Mas Rifan malah menggodaku.
Ternyata jawabanku justru menjadi topik pembicaraannya. Sebenarnya aku enggan mengobrol dengannya. Bukan apa-apa, hanya saja khawatir jika mbak Wiwit melihatku mengobrol dengan mas Rifan. Apalagi dia sudah beristri.
" Iya ditunggu mbak Sri, disuruh mencuci piring." Kujawab asal saja. Kusudahi makan siangku dan segera masuk ke dapur. Kutaruh piring bekas makanku di tempat cuci.
Aku menuang air putih dalam gelas. Saat meneguk nya. aku merasa ada yang memperhatikanku. Ku lirik dengan ekor mataku mas Rifan sedang menatapku tak bergeming.
" Mbak Sri, tuh lihat ! Mas Rifan memandangiku terus, dari kemarin malah. Aku jadi risih, Mbak. Aku juga takut nanti mbak Wiwit salah paham." Aku mengungkapkan kekhawatiranku sama mbak Sri.
" Kalau menurutku sebaiknya Mbak Aira bersikap biasa saja, nggak usah menghindar. Soalnya makin kita menghindar dia makin mengejar. Sudah lah santai saja, nggak perlu segan sama mbak Wiwit. Mbak Aira kan nggak salah.. " Mbak Sri menghiburku. Ia melanjutkan pekerjaannya mengiris bawang.
Aku melongok ke depan lagi, mas Rifan sedang membayar makanannya pada ibu. Merasa diperhatikan ia pun menoleh ke arahku dan mengedipkan sebelah matanya. Cepat-cepat aku berbalik dan memanggil mbak Sri.
" Mbak itu piringnya diambil dulu ! " seruku.
Mbak Sri yang masih memegang pisau terkejut. " Kenapa buru-buru sih, kan masih ada yang belum selesai makan. Itu mas Rifan juga masih di situ. Nanti sekalian saja." Mbak Sri meletakkan pisaunya lalu melongok ke depan.
" Mbak, itu dia masih melihat ke sini. Lihat ke depan, dia melempar senyum." Mbak Sri memberi tahuku.
Aku melihat mas Rifan yang tersenyum padaku. Mbak Sri menyenggol lenganku, aku pun melempar senyum. Mas Rifan keluar dan masuk ke toko kakaknya.
" Tuh kan, dia baru keluar setelah mbak Aira membalas senyumnya. Coba kalau menghindar bisa-bisa dia masih berdiri di situ kaya patung, hahaha ! " tawa mbak Sri tergelak.
" Iya juga, sebenarnya dia tadi juga mengedipkan matanya ke aku. Tapi aku langsung berpaling dan pura-pura menyuruh mbak Sri mengambil piring. Maksudnya buat mengalihkan perhatiannya. Eh ternyata masih anteng aja ! " seruku agak kesal.
" Pokoknya besok- besok kalau dia ke sini mbak Aira santai saja. Ngobrol seperti biasa nanti dia juga bosan sendiri. Mungkin dia cuma penasaran sama Mbak Aira. Laki-laki memang kebanyakan seperti itu, sudah punya istri tapi masih ijo kalau melihat yang bening.
Terus iseng mendekati mengajak kenalan. Kalau ceweknya meladeni ya terjadi hubungan gelap. Tapi kalau si cewek bersikap wajar pasti dia mundur. Orang cuma iseng. " Mbak Sri berkata panjang lebar kali tinggi.
" Ciyee , kayak yang sudah pernah diselingkuhi. " Aku menggodanya. "Dibilangi nggak percaya ! " sahutnya lagi.
__ADS_1
" Lah aku tadi nggak mau meladeni, malah disuruh membalas senyumnya. Gimana sih ? " tanyaku bingung.
" Senyum kan masih wajar. Coba kalau menghindar terus dia pasti mikirnya mbak Aira malu tapi mau. Dia malah makin penasaran dan terus mengejar. Cowok itu suka tantangan, makin kita sembunyi dia makin terobsesi." Mbak Sri berceramah. Ha ha !
" Iya Mamah Dedeh, saya mengerti , hahaha ! " tawa kami meledak.
" Kok malah berguarau ya, ini piringnya diambil mejanya dibersihkan ! " teriak ibu dari depan.
Mbak Sri menutup mulut menahan tawanya. Lalu ia keluar mengambil piring-piring kotor. Aku mengambil serbet buat membersihkan meja.
" Mbak Sri makan siang dulu, nanti biar Aira yang mencuci piring," kata ibu.
" Nggak apa-apa Bu, nanti saja makan siangnya." Mbak Sri menjawab dan hendak mulai mencuci.
" Mbak Sri makan saja dulu, aku mau sholat Dzuhur. Nanti aku bantuin mencuci piring." Aku meminta Mbak Sri meninggalkan pekerjaannya. Ia pun beranjak untuk makan siang.
Pedagang ayam datang mengantarkan beberapa ekor ayam kampung yang sudah disembelih dan dibersihkan bulunya. Selanjutnya aku atau mbak Sri yang akan memotong tiap bagian-bagiannya.
" Kalau dulu ibu menyembelih sendiri, lalu mbak Rina atau mbak Tika yang membersihkan bulu dan memotongnya. Tapi sekarang kita terima bersih saja, karena memakan waktu lama kalau menyembelih dan membersihkan sendiri.." Aku bercerita sama Mbak Sri ketika tengah memotong ayamnya.
" Mending begitu, sekarang semua serba praktis, " kata mbak Sri.
____________
Mas Rifan juga hanya waktu itu mampir. Kabarnya dia juga buka toko kelontong seperti mbak Wiwit di pertokoan sebelah barat pasar. Dan ternyata masih satu komplek dengan toko mas Joni.
Tapi hari ini ada yang lain dari biasanya. Sepulang dari belanja kulihat mas Rifan datang ke toko dengan menggandeng Cyntia, putrinya mbak Wiwit yang sebaya dengan Stella. Mungkin baru pulang sekolah karena masih memakai seragam TK nya. Ia duduk di TK kecil.
" Hallo Kak Aira ! " sapa Cyntia padaku. Ia mengibaskan rambutnya yang dikuncir dua.
" Hallo juga Cantik, baru pulang sekolah ya ! " jawabku seraya mencubit pelan pipinya yang chubi. Persis Stella keponakanku.
" Iya, dijemput sama Oom Rifan ! " sahutnya lagi. Mas Rifan mengangguk dan melempar senyum padaku. Kubalas sekilas lalu aku kembali bertanya pada Cyntia, " Kok nggak dijemput papa ? "
" Papa kan lagi kerja, jadi Cyntia pulang sama Oom Rifan ajaah," jawabnya lugu.
" Oh gitu, kakak masuk dulu ya," ucapku kemudian. Aku segera masuk ke warung sebelum mas Rifan membuka suara.
" Mbak Sri, tuh lihat Cyntia pulang sekolah dijemput sama Rifan. Padahal biasanya kan sama papanya." Aku memberitahu mbak Sri. Ia sedang mencuci piring.
Ibu yang baru selesai sarapan juga heran. "Tumben itu Cyntia kok nggak sama papanya." Ibu berkata dan menaruh piringnya di bak cuci. " Mungkin mas Heri berhalangan." Lanjut ibu menerka-nerka.
" Paling juga itu kemauannya Rifan. Lihat saja, sebentar lagi pasti dia ke sini minta minuman atau makanan." Mbak Sri menimpali.
" Aku tadi juga berpikir ke situ. Soalnya saat kutanya Cyntia bilang kalau papanya lagi kerja. Bukannya tiap hari juga mas Heri selalu meninggalkan pekerjaannya untuk menjemput Cyntia, kan dia bossnya." Aku menambahkan juga.
__ADS_1
Memang mbak Wiwit pernah cerita kalau suaminya punya usaha meubel. Walaupun kecil-kecilan tapi dia juga punya beberapa karyawan.
" Kak Airaaa, aku mau makan sama ayam goreng ! " teriak Si kecil Cyntia. Ia langsung masuk dan di belakangnya mas Rifan mengikuti.
" Ya Sayang, biar bude ambilin ya !" sahut ibu seraya keluar untuk melayani mereka. Aku sedang meneguk teh yang baru saja kubuat hingga tak sempat menyahut.
" Apa saya bilang, benar kan dia ke sini ?" Mbak Sri mencibir. " Rifan memakai jurus baru. Keponakannya yang disuruh makan terus dia yang menyuapi. Jadi dia bisa lebih lama berada di sini. " Mbak Sri pun menebak.
Kulihat Rifan tengah membisikkan sesuatu ke telinga Cyntia.
" Aku mau minum teh yang anget, tapi Kak Aira yang buatin." Cyntia berkata dan menatapku.
Kubuatkan teh hangat untuknya. Saat kuletakkan gelas di meja mereka tiba-tiba mas Rifan meraba tanganku. Aku tersentak dan tak sempat mengelak. " Makasih, Kak Aira ! " ucap Cyntia.
" Maaf nggak sengaja," kata mas Rifan. Jelas- jelas tangannya memegang kok nggak sengaja. Untung nggak ada yang melihat.
Dia terlihat tersenyum puas, aku hanya diam karena di sini ada Cyntia. Nggak mungkin aku teriak atau berkata kasar di depan anak kecil.
" Mas Rifan kok nggak sama istrinya ? " tanyaku. Sengaja meingatkannya. biar dia sadar kalau sudah beristri.
" Enggak, dia kan lagi mengurus toko," jawabnya santai dengan menyuapi Cyntia.
" Oh gitu, sambil mengurus anak tentunya ya." Aku pura-pura nggak tahu kalau dia belum punya anak.
" Belum ada Dik. Harusnya sama Di Aira, baru bisa. "
What ? Maksudnya apa nih. Tak kusangka ternyata pertanyaanku malah dijadikannya bahan untuk merayuku.
Aku nggak menjawab lagi dan berbalik masuk ke dapur.
" Sialan," umpatku tapi lirih. Mbak Sri langsung menoleh ke arahku.
" Kenapa lagi, Mbak Aira ? " tanya dia.
" Itu Rifan, tadi waktu aku membawakan teh buat Cyntia , eh tiba-tiba dia mengelus tanganku. " Kemudian aku menceritakan apa yang dikatakan mas Rifan tadi.
" Mungkin dia stres karena istrinya ngga kunjung hamil, jadi omongannya ngaco hehe ! " Mbak Sri tertawa mencibir.
Aku ikut tertawa. Ya sudahlah aku nggak mau mikirin juga. Yang penting aku bersikap wajar saja.. Benar kata mbak Sri. Laki-laki memang selalu kurang dan suka iseng.
*************************
Masih berlanjut ya gaees ! ikuti terus pokoknya dan please vote like dan komen.. Biar penulis semangat dan punya ide baru untuk menulis.
Thanks.
__ADS_1