Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 18 Aku Nggak Sakit


__ADS_3

Keesokan hari aku memutuskan untuk tetap masuk kerja meskipun mbak Murni sudah memintakan ijin ke bu Diyah. Aku ingin melupakan kesedihanku dengan tetap beraktifitas seperti biasa. Walaupun tetap saja sulit, buktinya kemaren di pasar aku terus saja teringat Widi.


" Assalamualaikum Bu Aira ! Kemaren kok Bu Aira ngga datang, Adit kangen sama Bu Aira."


Baru saja aku masuk gerbang si gendut Adit sudah menghadangku dan melontarkan pertanyaannya.


":Waalaikum salam Adit anak sholeh," jawabku dan menyambut tangannya. " Kemaren Bu Aira nggak enak badan Sayang," lanjut ku lagi.


Bu Riris dan Bu Heni yang berada di dalam kelas pun keluar menyambutku.


Kemaren mereka sudah mengucapkan bela sungkawa via WA. Mbak Murni yang mengabarinya.


" Bu Aira, kok sudah masuk kerja. Memangnya sudah baikan ?" tanya Bu Riris seraya memegang pundakku.


" Aku baik-baik saja Bu Riris.Terima kasih atas perhatiannya," jawabku sambil melempar senyum.


Aku harus terlihat ceria. Nggak boleh kelihatan sedih di depan murid-murid.


Satu persatu wali murid yang mengantar anaknya mengucapkan bela sungkawa padaku. Mereka juga memberi suport agar aku tetap kuat dan tabah.


Aku sangat terharu karena banyak yang peduli padaku. Meskipun Widi masih sebatas teman dekat.


Kata Bu Murni, hari ini bu Diyah berhalangan hadir. Namun beliau sempat mengirim pesan WA padaku ucapan bela sungkawa.


" Bu Aira, tolong dicek lagi semua perlengkapan untuk praktek hari ini," pinta Bu Murni.


" Baik Bu Murni," jawabku seraya masuk ke dalam.


Aku juga mengecek air di kamar mandi.


" Lihatlah Wid, seperti ini pekerjaanku. Sekarang kamu bisa lihat kan ? Aku tahu saat ini kamu pasti


sedang mengikutiku, memperhatikanku dan menjagaku." Aku bergumam.


Tiba-tiba Bu Murni masuk. Ia melihatku .


" Aira, kamu bicara sama siapa ?" tanyanya.


" Sama Widi Mbak," jawabku yakin. Karena kami hanya berdua jadi kami saling menyebut nama tanpa kata ' Bu '


"Astaga Aira. Widi sudah meninggal, mana mungkin dia ada di sini." Mbak Murni menyangkal ucapanku.


" Tapi aku merasa Widi ada di sini Mbak," kataku.


" Kata orang kalau ada yang meninggal maka arwah orang tadi masih ada di sekitar kita selama 40 hari.


Aku yakin Widi pasti berada di sini. Dia kan pernah bilang ingin selalu melihatku dan mendengar suaraku." Aku melanjutkan perkataanku.


" Tapi bukan seperti itu Sayang. Ya sudah ayo kita keluar, pelajaran kita mulai," ajak mbak Murni.


Kami pun keluar menuju kelas B. Bu Heni dan Bu Riris sudah mengawali doa pembuka di kelas A.


Kulihat mbak Murni menelfon seseorang. Sementara aku mengajak murid-murid untuk mengawali dengan membaca doa.


[ Ya Rin, tolong ya. Aku ngga tega sama dia. ]


• • •


[ Kalau bisa kamu pulang dong, sekalian kita melepas kangen. Udah lama nggak ketemu juga ]


•• • •


[ Oke, see you ]


Hanya itu percakapan yang kudengar dari Mbak Murni. Apa mungkin dia menelfon mbak Rina ?


Mbak Murni pun segera melanjutkan pelajaran.


______

__ADS_1


Selesai semua tugas hari ini. Bu Heni dan bu Riris sudah melajukan motornya. Aku melangkahkan kakiku menuju halte. Mbak Murni yang sedang berbicara dengan pak Yanto memanggilku.


" Aira ! tunggu sebentar." Kuhentikan langkahku dan menoleh ke mbak Murni.


" Ada apa Mbak ? " tanyaku. Mbak Murni berjalan


mendekatiku.


" Kita makan dulu yuk ! Mbak traktir deh," ajaknya.


Aku menggeleng. "Makasih Mbak, tapi aku ngga lapar." Aku menolaknya halus.


" Ayolah Aira, mbak tahu dari pagi kamu belum makan apa-apa. Cuma minum teh tadi kan ?" Mbak Murni masih membujukku.


" Maaf Mbak, aku benar-benar ngga pingin. Mau menelan aja rasanya sulit. Ngga ada nafsu makan. "


Aku menyampaikan alasanku, takut mbak Murni tersinggung. " Ya sudah, kalau gitu Mbak antar kamu pulang aja ya? " Mbak Murni menawarkan tumpangan.


" Aku naik angkot aja Mbak. Tadi pagi juga kok. "


Sekali lagi kutolak tawarannya. Entah kenapa rasanya aku pingin sendirian.


" Nggak... nggak.. Mbak nggak mau nanti kamu melamun di dalam angkot, terus nggak turun- turun malah kebablasan." Mbak Murni melarangku.


Ia pun mengambil motor maticnya dan segera menstarter. "Ayo naik ! kali ini nggak boleh nolak !"


Aku pun naik ke motornya. Sesaat kami sudah berada di jalan raya menuju rumah.


Setelah sampai aku pun turun dan mengucapkan terima kasih. Mbak Murni melajukan motornya.


" Pulang sama siapa Aira ?" Ayah yang sedang makan siang bertanya padaku.


" Sama mbak Murni, Yah, " jawabku seraya masuk ke kamar. Pintu kubiarkan terbuka karena Ayah sedang mengajakku bicara.


Aku duduk di kursi 'meja belajar' . Kuambil kertas dan pena. Lalu mulai mencoret -coret kertas. Kebiasaan ku jika sedang galau. Ayah hendak membawa piring kotornya ke dapur lalu berhenti di pintu kamarku.


"Makan dulu Nak,Ayah lihat sepertinya dari kemaren kamu nggak makan," kata ayah.


Tahu-tahu kertas yang tadi kosong sudah penuh dengan bait-bait puisi yang secara spontan kutulis. Dan semua tentang Widi.


Ah Widi... sedang apa kamu di sana ?


Aku bangkit dan menuju kamar mandi untuk wudhu kemudian sholat. Ketika sedang melipat mukena kudengar suara motor berhenti di depan rumah. Ayah keluar dari dapur.


" Assalamualaikum Ayah " sepertinya itu suara mbak Tika.


" Waalaikum salam, sama siapa Tik ? " Ayah membalas salam dan bertanya.


" Sendiri, kebetulan pulang kerja agak awal jadi langsung mampir ke sini, " jawab mbak Tika.


" Aira mana Yah ? " tanya mbak Tika lagi. Tumben dia mencariku. Aku pun keluar dari kamar.


Mbak Tika menghampiriku, dan menanyakan kabar.


" Aira, kamu baik- baik saja kan ? " Ia memelukku.


" Baik Mbak, tumben mampir ke sini," ucapku heran.


" Kemaren ibu telfon, katanya teman dekatmu meninggal.. Mbak ikut berduka ya," kata mbak Tika. Aku mengangguk. Mbak Tika meletakkan bungkusan yang dibawanya di meja makan.


" Tadi Mbak beli bakso , ini makan dulu.." Mbak Tika mengambil mangkok di dapur dan menuangkan bakso ke dalamnya. Kemudian ia keluar duduk bersama ayah di teras. Melihat ada bakso aku jadi lapar. " Kayaknya enak nih. !" seruku.


Kuambil sendok dan mulai menyantapnya. Saat baru makan separo aku jadi ingat waktu makan bakso bareng Widi. Seketika dadaku merasa sesak.


Aku nggak melanjutkan makan lagi.


Kudengar ayah dan mbak Tika sedang mengobrol. Aku masuk kamar dan bersiap - siap pergi.


" Kok baksonya nggak dihabiskan, Aira ?" tanya mbak Tika yang sudah masuk ke ruang makan.

__ADS_1


" Malas ah, tapi aku udah makan kok tadi sedikit."


Aku menjawab sambil memasang jilbab. Tak lama aku pun sudah siap berangkat ke pasar.


" Mau ke pasar Ra? yuk aku antar ! " Mbak Tika menawarkan diri. Heran deh, semua mendadak lebay padaku. Nggak di sekolah nggak di rumah.


Aku merasa baik- baik saja tapi mereka berpikir seolah aku lagi sakit.


Yang diambilin makan, yang mau disuapin, yang mau ditraktir, sampai pulang pergi juga diantar.


" Memangnya Mbak Tika nggak capek? biar aku naik angkot saja. " Aku berjalan ke teras.


"Nggak kok, kan aku juga mau ketemu ibu. Sekalian aja kamu bareng Mbak," ajaknya lagi.


" Ya udah, ayo berangkat ! " Mbak Tika berpamitan pada ayah yang sedang mengangkat jemuran di depan. Kemudian ia pun menyalakan motornya. Aku membonceng di belakang.


Mbak Tika melajukan motornya.


Sampai di warung makan ternyata ada mbak Rina lagi ngobrol sama mbak Nia di dapur. Ibu dan mbak Sri sedang melayani pembeli. Aku dan mbak Tika langsung masuk ke dapur.


" Aira, gimana keadaan kamu ? " Mbak Rina berdiri dan menghampiriku. Ia menangis dan memelukku.


Mbak Rina orangnya ngga tega an dan mudah menangis. Apalagi kalau terjadi sesuatu pada saudaranya.


" Aku baik Mbak, kenapa sih semua pada bertanya tentang keadaanku. Orang aku nggak apa-apa."


Aku berkata dengan agak kesal. Mbak Rina jauh - jauh datang cuma menanyakan kabarku. Kan bisa lewat telefon.


":Tapi kata ibu kamu ngga mau makan. Terus tadi Murni telefon katanya kamu ngomong sendiri di kamar mandi." Mbak Rina menceritakan apa yang didengarnya dari ibu dan mbak Murni.


" Mbak Rina khawatir sama kamu, Aira," lanjutnya lagi.


" Aku ngga mau makan karena memang ngga pingin makan. Aku merasa kasihan sama Widi kalau aku makan tapi dia nggak," kataku.


" Terus tadi pagi di sekolahan aku nggak ngomong sendiri. Aku yakin Widi ada di dekatku makanya aku ngobrol sama dia." Aku mengungkapkan apa yang kurasakan pada kakak2 ku. Mereka semua terkejut mendengar pernyataan ku.


" Widi sudah meninggal Aira. Orang mati ngga bisa makan apalagi bicara dengan kita. Alam mereka sudah lain." Mbak Rina menerangkan sementara matanya berkaca-kaca.


Ibu yang dari tadi sibuk melayani pembeli ikut bergabung dengan kami. Di depan ada mbak Sri dan pembeli juga sudah pada keluar.


" Ya itu aku tahu. Ini kan hanya perasaanku. Mbak Rina bilang begitu karena nggak merasakan sendiri apa yang kualami , hiks.... " Aku mulai terisak.


"Sudah....sudah. Sekarang kamu makan dulu, sedikit juga nggak apa-apa. Terus minum ini. " Ibu mengangsurkan plastik kecil berisi kapsul padaku.


" Aku nggak sakit Bu, masa minum obat," cetusku.


" Ini bukan obat. Cuma vitamin biar badanmu ngga lemes. Dari kemaren perut kamu belum terisi kan? "


Ibu meletakkan kapsul itu di meja.


Labih baik aku minum saja, siapa tahu memang vitamin. Aku mengambil bakwan jagung dan kumakan untuk mengisi perut karena hendak minum obat yang katanya vitamin itu.


Akhirnya mereka bernafas lega setelah aku minum obat. Ibu pun tersenyum.


" Kok ngga makan dulu," tanya ibu. Aku menggeleng.


." Ngga apa-apa Bu, tadi di rumah Aira sudah makan bakso." Mbak Tika memberi tahu ibu.


Kemudian ia pamit hendak pulang ke rumahnya.


Sedangkan mbak Rina masih menunggu suaminya. Dia bilang tadi dia diantar kemudian ditinggal sebentar karena mas Krisna sedang menemui teman-teman lamanya.


" Setelah dari sini aku sama mas Krisna akan menemui ayah dulu di rumah." Begitu katanya.


" Nanti kalau Krisna datang ajak makan ya Rin, " pesan ibu. " Ya Bu, ' jawab mbak Rina.


Setelah ada kejadian seperti ini baru mereka peduli sama aku. Kemaren aja pada bilang sibuk kalau aku lagi butuh mereka.


______$$$________

__ADS_1


ada kelanjutannya ya.. maaf lama up date penulisnya lagi meriang hehe..


please vote like dan komentar agar penulis semangat buat up date.


__ADS_2