Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 116 Lancar


__ADS_3

Mbak Nia masih mau mengatakan sesuatu, tapi aku sudah selesai memakai bedak dan segera keluar dari kamar. Dia pun ikut keluar.


" Sudah ya aku ke sana lagi, nggak enak kalau kelamaan," ucapku lalu melangkah keluar rumah.


Saat memasuki ruang tamunya mbak Tatik, ternyata ada tante Fina mamanya Eva dan budenya, bude Fara.


" Eeh tante, bude, sudah dari tadi kah? " sapaku basa basi seraya menyalami mereka.


" Baru saja Aira, kamu habis sholat ya? " tanya bude Fara.


Kulihat di meja mereka sudah ada minuman sama snack, berarti sudah ada yang mengambilkan tadi.


" Iya bude, silahkan dicicipi ya," ucapku menawarkan dan hendak berlalu ke dalam.


" Sebentar Aira, memangnya cuma kamu yang diminta jadi panitia di sini ? " bisik tante Fina yang memang suka kepo.


" Iya Tante, kenapa memangnya," tanyaku balik.


Bude Fara menyenggol lengan tante Fina. " Nggak apa-apa kok, mau tahu saja," jawabnya sambil melirik ke bude Fara. Bude Fara pun melengos. Aku hanya tersenyum kemudian masuk.


" Sudah selesai Mbak Aira," sapa Inge dan Rika yang menoleh ke arahku.


" Iya, kalian sudah sholat semua kan. Sudah makan belum? " tanyaku juga.


" Sudah sholat, tapi belum makan nunggu mbak Aira," kata Rika.


" Kok belum, harusnya duluan aja tadi. Kalau barengan nanti ada tamu nggak ada yang mengambilkan minum sama snack."


" Barusan juga ada tamu Mbak, makanya kita layani dulu soalnya tadi Trias lagi makan sama Ernest." Inge memberitahu.


" Iya Mbak, sekarang kita makan aja biar kalau ada tamu mereka berdua yang melayani," cetus Rika dengan menyebikkan bibir.


Kulihat Ernest dan Trias baru keluar dari dapur lalu berjalan ke teras. Mungkin baru selesai makan. Kemudian tante Fina dan bude Fara masuk hendak mengambil nasi setelah Mbak Tatik mempersilakan.


Setelahnya mereka membawa nasinya ke ruang tamu.


" Ayo kalian makan sekalian, itu Trias sama Ernest juga sudah makan," kata mbak Tatik pada kami. Aku mengajak Inge dan Rika makan.


" Katanya sahabat kok nempel terus, kayaknya pacarnya deh. Tuh lihat si Trias duduknya mepet ke Ernest aja," kata Rika di sela-sela makan, sambil melongok ke teras.


Aku juga sempat melihat ke sana, mereka tengah mengobrol sambil sesekali tertawa. Memang terlihat seperti pacaran, bukan sahabat lagi.


" Tadi aku sempat mendengar tante Tatik bicara dengan ibuku. Katanya Trias itu dulu sahabatnya Ernest tapi lama-lama jadi suka lalu sekarang pacaran." Inge memberitahu.

__ADS_1


" Oh pantesan, benar dugaanku," celetuk Rika lagi.


Aku tak berkomentar, seusai makan kutaruh piring di dapur. Sudah ada kerabat mbak Tatik yang bertugas mencuci piring dan gelas.


" Tolong sayur dan lauknya dicek ya, jangan sampai kehabisan." Mbak Sri mengingatkan.


Aku dan yang lain mengisi wadah sayur dan lauk hingga semua terisi. Kupastikan semua makanan tidak ada yang kurang.


Sehabis sholat Ashar para tetangga mulai berdatangan. Kami pun mulai sibuk melayani tamu. Mengambilkan minuman dan snack, mengisi sayur dan lauk yang hampir habis supaya penuh lagi.


Menjelang Magrib tamu mulai surut. Nampak mbak Hartati sedang menemui seorang wanita. Tapi kok ada Ernest dan Trias juga di situ. Beberapa saudaranya seperti berbisik-bisik.


" Jadi itu ibunya si Trias, oh ceritanya lagi pertemuan para calon besan," ucap salah satu tantenya Ernest.


" Iya kali, kayak mau awet sampai menikah aja. Padahal kan baru cinta monyet," yang lain menimpali.


" Padahal cantikan mbak Aira daripada Trias, ya nggak," ujar Rika sambil menoleh padaku.


" Kok jadi aku sih yang dibandingin, aku kan sudah tua, hehe. Ada-ada saja dik Rika." Aku menyanggah ucapan Rika.


Dari mana ia dapat ide, tiba-tiba membandingkan Trias denganku. Memangnya aku masih terlihat seperti gadis SMA ya, hihihi. Aku tersenyum dalam hati.


" Aku pulang dulu ya, mau mandi sekalian sholat Magrib. Paling nanti malam tamunya nggak sebanyak sore tadi." Aku pamit pada Inge dan Rika. Aku juga pamit sama mbak Tatik.


" Iya Mbak," balasku seraya melangkah ke ruang tamu lalu keluar.


Ternyata ibu sudah pulang saat aku masuk rumah. Beliau baru selesai mandi.


" Sudah nggak ada tamu ya, kok sudah pulang? " tanya ibu.


" Mau mandi dulu Buk, sekalian sholat Magrib," jawabku seraya masuk ke kamar.


Kulepas jilbab kemudian menyambar handuk ingin mandi. Mbak Nia dan ibu sudah rapi , mereka mau ke tempat mbak Tatik juga menjenguk Ronald.


Usai berganti baju dan sholat aku kembali ke tempat mbak Tatik. Ibu dan mbak Nia masih di sana, mereka sedang makan. Inge, Rika dan Ernest baru saja memindahkan snack yang ada di teras ke dalam karena tamu hanya tinggal tetangga saja. Itu pun sebagian sudah tadi sore.


" Trias mana kok nggak kelihatan ? " tanyaku pada Ernest saat dia muncul dari dapur., usai mengangkat piring dan gelas kotor dari ruang tamu.


" Sudah pulang dari tadi, kita makan yuk Mbak ! Yang lain sudah tadi, Mbak Aira yang belum." Ia menjawab sekaligus mengajakku makan.


" Kamu sendiri sudah makan belum? " tanyaku lagi.


" Tadi sore sudah sama Trias sekarang mau menemani Mbak Aira, hehe." Ia pun mengambikan piring buatku dan buatnya sendiri.

__ADS_1


Kalau nggak ada Trias dia bisa baik dan lembut seperti biasanya. Tapi tadi ketika ceweknya di sini seolah tak peduli dengan semuanya.


"Duduk di luar yuk Mbak." Ia mengajakku makan di ruang tamu. Mbak Nia sama ibu sudah pulang ternyata.


Aku menurut saja karena di ruang tengah saudara-saudaranya nampak pada asyik mengobrol sendiri-sendiri.


" Besok ke sini lagi ya Dik Aira, soalnya masih ada beberapa temanku yang belum datang. Mereka nggak libur hari Sabtu jadi bisanya hari Minggu." Mbak Tatik menghampiriku saat makan lalu memintaku membantu lagi besok.


" Iya Mbak, Trias juga mau ke sini lagi kok. Kalau mbak Rika dan yang lain mau pulang malam ini," Ernest menambahkan.


Trias lagi, Trias lagi. Kalau ada dia pasti Ernest nyuekin aku lagi. Tapi, hey..... memangnya kenapa kalau Ernest cuek. Aku saja suka cuek sama dia jika sedang ada mas Raka.


Segera kuselesaikan makan malamku, piringnya kucuci sekalian karena yang lain sudah bersih semua.


" Alhamdulilah untuk hari ini semua berjalan lancar. Tidak kusangka tetangga banyak yang berkunjung, padahal aku sudah bukan warga di sini." Mbak Tatik mengucap syukur.


" Mbak Tatik, aku pulang dulu ya," ucapku setelahnya. Saudara-saudaranya juga tengah bersiap-siap pulang.


" Oh ya Dik, istirahat dulu biar nggak kecapekan. Besok ke sini lagi soalnya, makasih banget ya," tukas mbak Tatik. Ia memberiku beberapa makanan kecil, untuk yang di rumah katanya.


Aku juga pamit sama Inge dan Rika, juga yang lain. Mereka pun ikut keluar karena mas Basuki telah siap mengantar.


" Sampai jumpa lagi kapan-kapan ya," ucap mereka bersahutan. Tak lupa cipika cipiki juga.


Begitu mobil mas Basuki berjalan aku pun segera masuk ke rumah. Ayah di ruang tamu sedang ngopi sambil makan kue kering.


" Ini Yah, buat teman ngopi." Kusodorkan beberapa kue dari mbak Tatik tadi ke hadapan ayah. Beliau mengambil beberapa lalu menaruhnya di piring.


" Sudah pada pulang itu saudaranya mbak Tatik? " tanya beliau.


" Iya sudah," jawabku lalu masuk ke ruang tengah.


Ibu dan mbak Nia masih nonton sinetron. Kuberikan pada ibu sisa kue yang kubawa. Aku masuk melepas jilbab dan membuka handphone. Seharian tadi memang sengaja kutinggal di kamar, hanya kubuka ketika mau sholat barangkali ada pesan masuk.


Ternyata tidak ada pesan, aku baru sadar kalau tadi pagi ku bikin status ' sedang sibuk seharian '. Makanya tidak ada yang mengechat aku. Hihihi !


" Sholat Isya dulu Aira, belum sholat kan tadi." Ayah tiba-tiba menyusulku ke kamar, di tangannya ada cangkir kopi yang telah kosong.


" Iya Yah, sini biar kubawa ke belakang," ucapku lalu mengambil alih cangkirnya, kubawa ke dapur sekalian aku ke kamar mandi.


______________


Bersambung gaes. Vote like dan komennya ya !

__ADS_1


Lope lope sekebun buat readers. thanks .


__ADS_2