Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 93 Drakor Gagal


__ADS_3

Seusai sholat Magrib kita sempatkan untuk berfoto bersama buat kenang-kenangan. Masing -masing juga diberi kesempatan berfoto dengan menggendong baby Shaka.


Ayah berfoto dengan ibu yang menggendong baby Shaka. Lalu mbak Nia juga menggendong Shaka berfoto sama aku yang membopong Arkana. Begitu juga dengan saudara-saudaranya mas Toni.


" Raka mana Aira, kok nggak diajak foto?" tanya mbak Tika sembari menengok kanan kiri mencari mas Raka.


" Lagi merokok di teras Mbak, tadi sudah kuajak tapi menolak," jawabku.


Sudah kubilang mas Raka itu orangnya cuek jadi enggan diajak foto-foto, apalagi kalau kukenalkan pada mereka lalu menyalami satu persatu. Dia lebih suka yang santai apa adanya nggak dibuat-buat.


" Mas, dicariin mbak Tika tuh. Kita lagi foto-foto masa kamu nggak ikut." Aku ke teras dan mengajaknya masuk.


" Nggak ah, kamu aja sana. Aku kan bukan anggota keluarga, mas Joni aja nggak ikut kok." Mas Raka menjawab sekenanya.


" Kok gitu sih, kamu kan calon suamiku. Mas Joni nggak ikut karena memang nggak ada orangnya, gimana sih. Diajak foto malah ngomongin mas Joni." Aku menggerutu.


" Ya deh maaf. Tapi aku memang nggak pingin foto. Agak sungkan rasanya." Mas Raka masih ngeles.


" Ini kan buat dokumen keluarga, aku pingin foto berdua sama pasangan aku. Nanti dikiranya aku masih jomblo kalau foto sendirian," bujukku lagi.


" Kamu kan bisa sama mbak Nia," saran mas Raka, tapi sayang terlambat. Tadi aku sudah swa foto sama mbak Nia.


" Nggak usah disuruh, tadi sudah," jawabku ketus.


Aku langsung masuk ke dalam, kembali bergabung dengan yang lain. Saat aku menoleh ke belakang, rupanya mas Raka mengikutiku. Hemmh, kesempatan nih. Aku akan pura-pura ngambek.


" Tika, Toni, kita permisi mau pulang duluan ya. Kasihan ibu sama bapak cuma berdua di rumah." Kakaknya mas Toni mau pamit pulang. Dia memang tinggal serumah dengan orangtua mas Toni.


" Kita juga sekalian pamit ya, besok Fanny sekolah soalnya" ujar ibunya Fanny sepupu Stella.


Kakaknya yang lain juga ikut pamit. Mbak Tika pun tidak menahan mereka karena memang acara juga sudah selesai.


" Kalau begitu ini titip buat ayah sama ibu ya Mbak, terima kasih sudah meluangkan waktu hadir di acaranya baby Shaka," kata mbak Tika seraya menyerahkan dua kotak paket aqiqah yang sudah dimasukkan dalam kantong plastik besar.


Tak berapa lama mereka semua pergi dengan mobilnya. Mas Raka yang sedari tadi hendak masuk tapi tertahan di depan pintu. Sekarang dia duduk di karpet di ruang tamu. Aku sengaja membiarkannya, padahal dia berkali-kali menatapku dengan senyum manisnya.


" Aira, itu Raka kok didiemin aja. Suruh masuk sini dong ! " seru mbak Tika. Ia pun memanggil mas Raka supaya masuk.


" Iya nih Aira, kebiasaan membiarkan Raka sendirian begitu. Ambilkan minum gitu lho." Ibu menimpali.


Aku pun ke dapur mengambil minuman. Duuh, lagi mau drama Korea malah yang lain nggak mendukung. Yang paham dengan gelagatku biasanya mbak Sri. Tapi dari tadi dia nggak kelihatan. Ternyata dia di dapur membantu ART nya mbak Tika.


" Buk, sudah malam saya permisi dulu ya ! " celetuk mbak Sri yang mendekati ibu dan mbak Tika. Padahal aku baru mau curhat sama dia.

__ADS_1


" Makasih ya mbak Sri. Ini ada oleh-oleh buat anak-anak," ucap mbak Tika. Ia memasukkan beberapa kue yang masih sisa ke dalam kantong plastik lalu memberikannya ke mbak Sri.


Setelah bersalaman dengan semuanya Mbak Sri pun pamit.


" Buru-buru aja Mbak, aku baru mau cerita," bisikku saat dia melewatiku. Suaminya sudah menunggu di luar. Mungkin dishare lock sama mbak Sri sehingga tahu rumah mbak Tika.


" Besok saja di warung. Pasti soal mas Raka kan, " bisiknya pula seraya memyenggol bahuku. Aku mengantar sampai ke teras, mas Raka berdiri di belakangku.


" Makasih ya, sampai besok ! " seruku.


Mbak Sri keluar dari gerbang dan melambaikan tangan. Saat berbalik hendak masuk aku menubruk mas Raka. Uups ! Ia malah mendekapku.


" Aduuh ! Mas Raka ngapain berdiri di belakangku sih," seruku tertahan.


Aku berusaha melepaskan diri, tapi dia mempererat pelukannya. Kutatap tajam matanya, ia malah melototiku. Aku membuang muka.


" Kenapa, marah ya. Nggak mau dipeluk." Mas Raka melonggarkan tangannya. Ia menatapku lembut lalu tersenyum.


" Katanya mau foto, ayo ! " ajaknya. Aku menggeleng.


" Telaat, sudah nggak mood. Lagian baby Shaka sudah dibawa ke kamar." Aku mencebikkan bibir.


" Memang kenapa kalau Shaka sudah di kamar, foto berdua saja lah.. Kalau sama babynya malah nanti dikira kita sudah punya anak, hehe ! " guraunya.


" Huuuuh curang curang curang ! Ngajak selfi nggak bilang-bilang. Coba lihat, awas ya kalau aku kelihatan jelek," ujarku langsung sewot.


Kurebut handphone mas Raka, kubuka foto yang barusan dia ambil.


" Tuh kan, tetep cantik. Kamu mau gaya apapun pasti bagus sayang, wajah kamu kan imut. Babyface, lucu, hihi ! " ucapnya ketika aku mengamati hasil jepretannya tadi.


" Hehehe, lagi dong." Aku pun mengajaknya selfi lagi.


Mas Raka tersenyum lega, ia mendekatkan tubuhku ke pelukannya. Beginilah, ia paling bisa membujukku hingga aku nggak bisa lama-lama ngambek dengannya.


" Mendekat sini dong, biar kelihatan mesra," ucapnya. Klik klik klik ! Entah berapa kali kita berganti-ganti pose.


" Sudah ya, sudah jam setengah delapan. Besok aku masuk pagi lagi, mau istirahat. Ini juga dari tadi belum ganti baju." Mas Raka mengibaskan kemejanya.


" Belum mandi juga kan," gurauku.


" Sembarangan, sudah mandi tadi di tempat kerja tapi lupa nggak bawa baju ganti. Mau pulang nggak keburu, habis kamu sudah menelpon terus. Jadi langsung ke rumahmu menjemput ayah." Mas Raka menceritakan dirinya saat hendak berangkat kemari.


" Sorry sayang, habisnya aku khawatir kamu kesorean jemput ayah. Kasihan kalau nggak bisa menyaksikan acara penting cucunya." Aku pun minta maaf padanya.

__ADS_1


" It's oke, apa sih yang enggak buat kamu. Untungnya tadi aku berinisiatif untuk minta ijin pulang lebih awal. Kebetulan memang pekerjaan sudah selesai jadi langsung di acc sama kepala bagian." Mas Raka melanjutkan ceritanya.


" Hemmh , ternyata calon suamiku bukan hanya ganteng tapi juga cerdas. Thanks ya say, kamu selalu bisa nyenengin aku," ungkapku lalu ku kecup kedua pipinya. Cup cup !


" Kok cuma pipi sih, yang ini nggak ? " pintanya sambil menunjuk bibirnya.


Aku mengambil kue soes lalu kumasukkan ke mulutnya sambil menahan tawa. Mas Raka langsung mengunyahnya, tapi sepertinya tenggorokannya seret. Buru-buru kuambilkan air mineral yang ada di kardus, untung masih sisa.


" Nih minum dulu, maaf ya," ucapku seraya mengelus-elus dadanya. Ia langsung menenggak habis.


" Duh, kalau udah sama kamu jadi lupa waktu. Tadi udah mau pulang malah bergurau terus. Aku pulang sekarang ya, nanti sholat Isya di rumah aja. Sekalian mau ganti baju terus istirahat." Mas Raka berkata memohon padaku.


" Iya deh, pamit dulu sama mbak Tika dan mas Toni," pintaku. Mas Raka masuk menemui keluargaku lalu berpamitan.


" Aira mau ikut pulang sama Raka atau nanti bareng kita ? " tanya ibu padaku.


" Nanti lah, kalau sekarang aku sama siapa di rumah," sahutku.


" Kirain mau ikut mas Raka, hehe ! " gurau ibu. Ternyata aku dikerjain. Buktinya yang lain langsung pada tertawa. Aku mencerucutkan bibirku.


Kuantar mas Raka sampai teras. " Aku pulang ya," pamitnya. Ia mengecup keningku lalu menepuk pelan pipiku.


" Hati-hati, jangan ngebut," pesanku. Ia mengangguk lalu menuntun motornya sampai keluar gerbang. Sampai di luar gerbang baru ia menyalakannya dan langsung melesat pergi.


" Tante Aira, Oom Raka udah pulang ? " tanya Stella yang muncul tiba-tiba. Ia berdiri di pintu sambil makan kue soes.


" Sudah sayang. Aduh kok anak cantik makan sambil berdiri sih ! " jawabku sekalian menegurnya.


" Tadi sih aku makan sambil duduk, tapi karena aku dengar suara motor aku keluar. Ternyata Oom Raka. Kok tante nggak ikut sama dia ? " tanya Stella dengan polosnya.


" Oom Raka mau pulang ke rumahnya, mau istirahat karena besok harus kerja. Stella juga lekas tidur ya, kan besok mesti sekolah." Kuberitahu sekaligus kunasehati ponakanku yang banyak tanya ini.


Rasa ingin tahunya selalu ada. Apa yang sekiranya dia penasaran pasti langsung ditanyakan.


" Oh gitu. Kirain mau pergi nonton, hehe hehe ! " Ia pun tertawa lalu masuk lagi. Aku mengikuti di belakangnya.


_________&&_______


Sudah dulu ya gaes, masih bersambung. Tetap kasih vote like dan komen ya.


Kalian adalah semangatku. Lope lope buat kalian.


Makaciiih !

__ADS_1


__ADS_2