Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 104 Tergoda


__ADS_3

Acara resepsi telah usai. Semua berjalan lancar, stok makanan juga mencukupi tidak ada yang kurang.


Setelah sebagian tamu undangan meninggalkan gedung masih ada famili dan teman-teman dekat yang berfoto bersama pengantin. Ada pula yang bernyanyi ria di atas panggung.


" Ra, ayo nyanyi ! " panggil kak Vicky.


" Enggak ah, malu tuh sama yang punya hajat. Aku kan panitia bagian dapur masa nyelonong ke panggung."


" Halaah acara resminya kan sudah selesai. Tuh tamunya tinggal saudara sama teman-teman dekat. Mereka juga lagi foto-foto. Ayok naik ! " seru kak Vicky lagi. Pembawa acaranya juga ikut memanggilku.


" Ayo Dik Aira, jangan malu-malu ! "


Aku pun naik ke panggung dan menyanyikan lagu yang lagi viral.


Wong kongene


kok dibanding-bandingke


saing-saingke, yo mesti kalah


Tak oyak'o yo aku ora mampu


mung sak kuatku, mencintaimu


Kuberharap engkau mengerti


di hati ini hanya ada kamu


Rekan-rekan panitia langsung bertepuk tangan. Padahal kami tengah bertugas membereskan peralatan makan dan membersihkan ruangan. Mas Yadi dan Yoyok naik ke panggung ikut berjoget. Sementara yang lain melanjutkan pekerjaan sambil sesekali berjoget dan ikut bernyanyi.


" Ternyata suara dik Aira bagus, kenapa nggak nyanyi dari tadi. " Mas MC memujiku.


" Biasa saja Mas, saya kan panitia bagian belakang masa ikut nimbrung sama penyanyi asli. Nanti dikira mau bersaing, hehehe ! " balasku dengan bercanda.


Setelah semua tugas beres semua panitia berkumpul dan makan bersama. Semua tamu sudah pulang, begitu juga dengan pengantin sudah meninggalkan gedung. Hanya tinggal para sinoman serta kru gedung dan catering.


" Kak, kita langsung pulang atau balik dulu ke rumah kak Agus ? " tanyaku pada kak Vicky.


" Langsung pulang saja, memang mau apa balik ke sana. Kesenengan yang punya hajat, kamu mau disuruh bersih-bersih dapur, haha ! " jawab kak Vicky dengan bergurau.


Aku juga ikut tertawa diikuti yang lain. Di sepanjang perjalanan pulang tak henti kita bergurau dan tertawa. Gedung Serba Guna letaknya hanya sekitar 400 m dari kampung kami sehingga cukup berjalan kaki saja.


Sampai depan gapura ada yang berjalan terus ada yang belok ke kiri.


" Kita duluan ya," Novi dan Erna melambaikan tangan. Diikuti Dani, mas Hari, Andre dan Jerri.


Aku dan Ernest berbelok ke kiri. Di belakang ada beberapa teman tapi jaraknya beberapa meter dari kami.


Saat hendak berbelok ke gang arah rumah kami, tiba-tiba kudengar suara dari arah belakang.


" Sekarang masuk ke gang, terus nanti langsung masuk kamar ! " teriak Ninik. Astaga !

__ADS_1


Entah ditujukan pada siapa teriakan Ninik barusan. Tapi kenapa bertepatan ketika aku dan Ernest masuk gang kecil yang menuju rumah kami. Apa dia menyindirku, seperti ucapan Novi tempo hari. Adakah yang salah jika aku akrab dengan Ernest, sedangkan dia tinggal di depan rumahku ?


Lagipula aku hanya menganggapnya adik, terlepas dari sikapnya yang ingin selalu di dekatku dan merasa tak senang jika ada cowok bersamaku, termasuk mas Raka.


" Siapa sih Mbak yang teriak-teriak, nggak sopan banget cewek kok nggak punya malu," gerutu Ernest. Nampaknya dia tak memperhatikan kata-kata Ninik, hanya teriakannya saja.


" Itu Ninik, memang gitu orangnya. Suka julid sama teman, suka cari masalah." Kuberitahu Ernest tentang Ninik.


Dari dulu aku memang kurang respek padanya. Dia adiknya Koko teman sebayaku. Sejak kecil perangainya kurang baik, suka mengolok-olok teman. Sekarang sudah remaja ternyata belum berubah.


" Orangnya yang mana sih. Aku tahunya sama Mbak Erna dan Mbak Novi aja."


" Itu tadi yang rambutnya keriting, matanya gede."


" Oh yang wajahnya galak itu ya, wah pantesan. Suaranya juga keras, tidak punya sopan santun. Wajah dan sifat sama-sama buruk." Ernest terus mengatai Ninik.


" Biarkan saja, suatu saat dia juga kena batunya. Aku sih nggak pernah mau berurusan sama dia."


Tak berapa lama kita berdua sampai di depan rumah. " Yuk Mbak, aku masuk duluan ya," ucap Ernest seraya membuka pintu pagar.


" Oke aku juga sudah gerah nih," sahutku seraya masuk rumah.


" Assalamualaikum," ucapku pada ayah yang tengah menonton televisi. Arkana tidur sama Mbak Nia di kamarnya.


" Waalaikum salam, sudah selesai acaranya ?" Ayah membalas salamku dan bertanya.


" Sudah Yah,"jawabku singkat. " Ayah sudah makan ?" tanyaku seraya masuk kamar.


" Baru saja selesai, mau tidur siang tapi nanti dulu." Ayah mengusap perutnya.


" Nggak ke warung makan Ra, katanya kalau hari Minggu ramai. Kasihan ibumu." Ayah mengingatkanku.


" Aira istirahat dulu Yah, masih capek," jawabku lirih.


" Ya nanti kalau sudah enakan. Ayah cuma mengingatkan, takutnya kamu lupa."


" Enggak lupa kok Yah, tapi sebentar lagi." Aku menjawab dengan halus karena ayah juga bicara dengan lembut.


Kulihat Ernest keluar dan duduk di teras rumah. Ia telah berganti kaos singlet dan celana kolor pendek. Wajahnya kelihatan segar dan rambutnya sedikit basah, mungkin habis wudhu dan sholat juga. Ia mengacak rambutnya yang jatuh tak beraturan di keningnya. Wow, cool banget !


Aku jadi tergoda nih ! Diam-diam kuamati Ernest, ia tak tahu karena aku duduk di lantai sehingga tak kelihatan dari teras rumahnya. Ia memandang ke teras rumahku, matanya menyapu sekeliling. Apa dia mencariku ?


" Hai, habis sholat ya," Aku berdiri dan menyapanya.


" Eeh iya, Mbak Aira kok tiba-tiba nongol ! " Ia nampak terkejut namun dengan wajah berseri-seri.


" Sudah dari tadi di sini, tapi aku duduk di bawah jadi nggak kelihatan, hehe ! " jawabku sambil terkekeh.


Ernest bangkit dari duduknya dan keluar. Tapi ia hanya berdiri di pintu pagar rumahnya.


" Masuk yuk Mbak, sekali-sekali gantian. Aku kan udah sering main ke situ, sekarang Mbak Aira ke sini ! " ajaknya.

__ADS_1


Entah ada dorongan apa aku pun masuk pagar lalu duduk di teras rumahnya.


" Kakek sama nenek lagi ke rumah tante, adik sepupuku ulang tahun katanya." Dia berkata seakan tahu aku hendak menanyakannya.


Aku mengangguk-angguk sambil mengamati tanaman hias milik bu Dirja. Beliau masih telaten merawat tanaman meskipun usianya sudah senja.


Aku bangkit lalu mendekati satu tanaman yang bunganya tengah mekar. Ernest berdiri di belakangku.


" Mbak," ucap Ernest pelan sambil memegang tanganku.


Aku terkesiap, sama sekali tak menyangka. Tapi aku diam dan membiarkan ia meremas jemariku.


" Ernest, apa yang kamu lakukan ? " tanyaku kemudian sembari kutatap wajahnya.


" Eh eh, maaf Mbak." Ernest melepaskan tanganku.


Tapi entah kenapa aku juga nggak marah. Aku diam sesaat, lalu aku beranjak dari tempat ini.


" Sudah ya, aku mau ke warung. Tadi ayah sudah mengingatkan."


Kutinggalkan Ernest yang masih menatapku dengan wajah heran. Mungkin dia bertanya-tanya kenapa aku tidak memarahinya karena ulahnya tadi.


Aku bergegas berganti pakaian lalu keluar. Ayah sudah tertidur di sofa jadi aku tak pamit padanya.


Sampai di gapura langsung dapat angkot. Aku segera naik dan duduk di pojok dengan kedua tangan menempel di atas paha. Aku menunduk, kuusap perlahan tangan kiriku, Beberapa menit yang lalu Ernest meremasnya. Aku menaikkan sudut bibirku. Maafkan aku mas Raka.


***********


" Hai sayang ! " sapa mas Raka saat aku membuka pintu. Ia langsung memeluk dan mengecup keningku. " Kangeeen bangeet ! " lanjutnya.


" Baru juga dua hari nggak ketemu. Masuk dulu yuk !" ajakku seraya melirik ke teras rumah depan , kalau-kalau ada Ernest yang suka memperhatikan diam-diam.


Ternyata tak ada, aku menghela nafas.


" Aku buatin minum dulu ya," ucapku lalu masuk ke dapur.


Beberapa menit kemudian aku keluar dengan membawa teh panas dan makanan kecil yang kubawa dari warung tadi.


" Masih capek ? " tanya mas Raka begitu aku duduk di dekatnya.


" Masih lah, habis dari resepsi aja aku mesti nyusul ke warung makan." Aku bersungut-sungut.


" Sabar, besok kalau sudah menikah baru kamu bebas tugas." Ia mengusap lembut kepalaku.


Kusandarkan kepala di bahunya, ia pun merengkuh bahuku. Mas Raka begitu melindungiku, kenapa aku malah main-main dengan ' berondong '.


Eits, aku nggak main-main. Tadi siang itu bukan aku yang mulai, tapi Ernest.


_______________


Penasaran kan, gimana kelanjutannya. Tungguin ya.

__ADS_1


Author minta maaf jika tak bisa up tiap hari. Karena ada pekerjaan rutin dan hanya bisa menulis di waktu senggang.


Lope segudang buat readers, thanks !


__ADS_2