Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 74 Will You Marry Me


__ADS_3

Hari telah berganti bulan. Nggak ada pesan balasan dari yang namanya Ita. Nampaknya dia benar-benar ingin menghindari kami, atau bagaimana aku juga nggak tahu. Pernah iseng-iseng aku cek lagi kontak WA nya ternyata sudah nggak aktif. Mungkin dia ganti nomer. Dan aku juga tetap tak menceritakan pada Raka soal ini. Lama kelamaan kejadian itu sudah terlupakan.


Bulan-bulan berikutnya hubungan kami tetap seperti biasa. Suatu malam kembali ku ingatkan Raka soal nikah. Waktu itu sehabis nonton panggung hiburan di kampungnya dan kebetulan sudah jam 11 malam.


" Duuh capek banget, ngantuk, tapi masih harus ditahan sebelum sampai rumah. Coba kalau kita udah nikah, pasti aku udah merem di kamarmu. Nggak perlu mondar mandir lagi." Aku pun menggerutu.


" Yaelah kenapa dibikin pusing. Kalau mau tidur di kamarku ya ayok," ujar Raka sembari senyum menyeringai. Ia pun menaik turunkan alisnya.


" Nggak mau ! Kamu mau kita digerebek sama tetanggamu terus diarak ke balai desa," seruku seketika. Untung acara di panggung belum selesai hingga suaraku kalah dengan suara band nya.


" Bagus lah, terus nanti kita dinikahkan di balai desa. Itu kan mau kamu pingin cepat nikah, ha ha ha ! " seloroh nya sambil tertawa ngakak.


" Huuh dasar otak mesum ! " kulancarkan aksiku mencubit pinggangnya. Namun kali ini ia lari menghindar. Kita memang tengah berjalan kaki dari lapangan desa ke rumah Raka. Kukejar Raka yang sudah menjauh. Tapi akhirnya ia pun berhenti. Aku nggak jadi mencubitnya tapi kupukuli dadanya dengan dua tangan.


Hup ! Dengan sigap ia menangkap kedua tanganku lalu ditariknya tubuhku. Kami saling bertatapan. Ia pun mendekatkan wajahnya ke wajahku, saat kami sudah semakin dekat kupejamkan mataku.


" Cup ! hahahaha... ! " kurasakan ada sesuatu yang menyentuh bibirku. Tapi kok Raka malah tertawa. Saat kubuka mata ternyata ia menempelkan dua ujung jarinya ke bibirku. Sontak kuhujani cubitan bertubi-tubi di pinggang dan lengannya.


" Kamu ngerjain aku ya," ucapku tersipu. Aku merasa wajahku hangat. Jika ada cermin barangkali aku bisa melihat wajahku yang memerah karena malu.


" Siapa yang otak mesum hayo, disentuh pakai jari aja udah merem melek hahaha ! " Raka terus meledekku. Aku pura-pura ngambek saja ah. Lalu kutinggal dia di belakang, kupercepat langkahku menuju rumahnya. Sampai di depan rumah aku langsung duduk di teras dengan wajah cemberut.


" Ayo cepat antar aku pulang, nanti ayah marah kalau kemalaman." Aku memintanya segera mengantarku pulang.


" Siap tuan putri," ujarnya seraya menunduk di depanku layaknya pelayan kepada ratunya. Aku melengos tapi dia malah meringis.


Esoknya hari Minggu Raka mengajakku main ke Jogja. Pukul 9.00 pagi dia sudah menjemputku di warung. Aku kaget karena semalam dia nggak bilang apa-apa.


" Buk, saya mau mengajak Aira ke Jogja boleh nggak ? Sudah lama juga kami nggak jalan-jalan." Raka minta ijin pada ibu.

__ADS_1


" Ya boleh dong, asal pulangnya jangan terlalu malam. Bahaya kalau mengantuk di perjalanan." Ibu mengijinkan sekaligus berpesan.


" Baik Buk, InsyaAllah nanti nggak pulang malam," tukas Raka. Ia pun membantuku mengambil tas di bilik sholat, sementara aku sarapan dulu. Setelah selesai baru lah kita siap berangkat.


" Oleh-olehnya ya Mbak Aira," celetuk mbak Sri.


" Bereeess ! " cetus Raka langsung menjawabnya.


" Kamu kok nggak bilang tadi malam kalau mau mengajakku healing sih ! " protesku sama Raka saat hendak naik ke motornya.


" Gimana mau bilang, kamunya udah uring-uringan gitu sejak dari nonton band. Ya sudah aku tunda mendingan diam, lalu kubuat surprise saja." Raka menjawab sambil menyalakan motornya. Dan lima menit kemudian kita sudah di jalan raya menuju kota gudeg.


" Memang dalam rangka apa kamu tiba-tiba ngajak ke Jogja. Perasaan dari kemarin ngga ada rencana ke situ," ungkapku di perjalanan.


" Memang nggak ada rencana sebelumnya, tapi sebenarnya ada hubungannya sama permintaanmu yang kemarin belum bisa aku jawab. Nanti deh aku jelasin kalau kita sampai di tempat." Jawaban Raka masih menggantung dan membuatku penasaran.


" Kamu beneran nggak ingat, atau saking sibuknya sampai nggak kepikiran. Coba hari ini tanggal berapa ? " Raka malah balik bertanya. Aku coba mengingat tanggal hari ini.


" Astaga! aku sampai lupa hari ulang tahunku sendiri." Aku menepuk keningku. " Raka, beneran ini surprisenya. Kamu bikin acara buat ultahku ? " tanyaku kemudian.


" Gitu deh," jawabnya singkat. Aku pun terdiam karena posisi kita lagi di jalan raya dua jalur yang padat kendaraan. Maklum ini hari Minggu banyak yang lagi liburan week end.


Dari tadi memang Raka melajukan motornya dengan kecepatan sedang, biar bisa menikmati pemandangan katanya. Apalagi masih pagi udara belum banyak polusi. Satu jam kemudian Raka menghentikan motornya di sebuah taman wisata yang teduh. Setelah membeli tiket ia mengajakku masuk dan ternyata di dalam pemandangannya sungguh indah.


" Kamu mau makan apa, tuh di sana banyak pedagang makanan. Aku juga mau makan " Kami turun dari motor lalu memesan makanan. Raka memilih siomay sedangkan aku hanya beli cilok karena tadi baru saja sarapan.


" Setelah ini kita lanjut ke mana lagi ?" tanyaku di tengah-tengah menikmati cilok.


" Kita di sini saja menikmati keindahan taman ini. Nanti habis makan kita keliling. Kalau sudah puas kuajak kamu mampir ke tempat famili di dekat sini." Raka menjelaskan rencananya.

__ADS_1


" Kamu ada famili di sini, kok waktu nganter mbak Santi kita nggak mampir? " Aku mengerutkan dahi karena heran.. Kenapa baru sekarang dia bilang ada famili di sini, tepatnya di pinggiran kota Jogja. Memang belum sampai pusat kota.


" Ya nggak enak lah sama dia. Yang ini kan famili dari ibuku. Sedangkan Santi itu famili dari bapak. Lagian waktu itu tujuannya memang mengantar dia, nggak kepikiran sama yang lain." Raka pun menjelaskan alasan waktu itu.


Selesai makan dan minum dawet kita berdua ber jalan-jalan menikmati taman ini. Tiba di tempat yang nggak begitu ramai kebetulan ada batu besar di situ. Raka menyuruhku duduk, dan aku hanya menuruti saja. Namun tiba-tiba Raka bersimpuh di hadapanku.


" Aira Khairunisa, di hari ulang tahunmu, di taman ini aku ingin mewujudkan permintaanmu. Bunga-bunga dan pepohonan, aku ingin kalian menjadi saksi. Hari ini aku mau mengatakan sesuatu pada pujaan hatiku, bidadariku. Will you marry me ?


Maukah kau menikah denganku, mengarungi bahtera kehidupan bersamaku, dalam suka maupun duka ?" Dengan lantang Raka mengucapkan kalimat-kalimat indah itu di hadapanku. Aku amat sangat terkejut dibuatnya.


" Raka, benarkah yang kamu katakan barusan ? Aku nggak mimpi kan ? " kutanyakan lagi apa yang baru kudengar dari Raka.


" Kamu nggak mimpi, Sayang. Aku sungguh-sungguh, bukannya ini yang kamu inginkan dari kemarin-kemarin" Raka pun meyakinkanku. " Jadi gimana jawabannya ? " lanjutnya.


" Iya, aku mau menikah denganmu. " Hanya itu yang kukatakan, tapi cukup mewakili isi hatiku yang berbunga-bunga. Raka langsung berdiri dan memelukku. Tak peduli ada beberapa pasang mata yang menyaksikan adegan ini.


" Raka, malu dilihat orang. Nggak usah pakai peluk-pelukan kenapa. " Kuingatkan Raka supaya melepas pelukan. Tapi mana dia mau.


" Biarin, memangnya mereka nggak pernah pacaran . " Raka malah mempererat pelukannya. Mau tak mau aku juga memeluknya.


" Tapi maaf, cincinnya menyusul ya. Soalnya gajiku kutabung buat modal kita menikah nanti. Nggak papa kan, sementara cincinnya pakai ini dulu. " Raka mencabut rumput kecil yang agak keras batangnya, lalu ia ikatkan di jari manisku. Kemudian ia mengecup jemariku lama sambil memejamkan matanya.


" Aku nggak mengharap emas permata atau kemewahan lainnya. Yang kubutuhkan cintamu. Aku dan kamu sama-sama nggak punya apa-apa, tapi dengan ikatan cinta ini kita akan sama-sama mulai dari nol." Aku pun mengungkapkan perasaanku. Dan kami kembali berpelukan erat.


" Happy birthday Airaku sayang," ucap Raka di telingaku.


__________________


Bersambung gaess..

__ADS_1


__ADS_2