
Kotak-kotak maharan sudah selesai dibuat oleh mbak Nia. Beberapa makanan untuk seserahan juga sudah kukemas cantik. Tak ketinggalan juga parcel buah.
" Pokoknya mas Bayu nggak akan kecewa dengan hasil karya 2 adiknya, he he he ! " aku memuji diri sendiri.
" Idih, ngaku-ngaku. Memang siapa yang bikin ?" Mbak Nia pun protes. Aku menjulurkan lidah ke arahnya.
" Aku kan juga ikut bantuin kemarin." Aku nggak mau kalah.
Mbak Tika dan mas Toni sudah datang bersama Stella. Mbak Rina nggak bisa ikut karena di luar kota apalagi suaminya nggak libur Dia hanya menitip salam semoga acaranya lancar.
Jam 7 malam kami berangkat ke rumah mbak Risma. Tak lupa ayah mengajak pak Fauzan papanya Eva untuk mewakili sebagai juru bicara saat acara lamaran nanti. Sekalian meminjam mobil milik beliau.
" Maaf lho, pak Fauzan. Kita merepotkan lagi ," ucap ibu ketika akan masuk ke mobil.
" Nggak apa-apa, Bu ,namanya juga tetangga." pak Fauzan berkata seraya tersenyum.
Mas Bayu yang menyetir mobil. Biasanya kita memakai mobil milik mbak Rina, tapi karena dia nggak bisa ikut akhirnya ayah minta tolong pak Fauzan. Untung pak Fauzan nggak ada acara keluar dan mobilnya juga sedang tidak dipakai.
Tiba di rumah mbak Risma kita disambut dengan baik oleh keluarganya. Pak Fauzan mulai dengan sambutan selanjutnya acara lamaran dimulai.
" Alhamdulillaaah ! " Ucapan syukur dari semua yang hadir setelah acara selesai. Mas Bayu bisa bernafas lega setelah tadi sempat deg degan.
Demikian pula ayah dan ibu merasa lega dan puas.
Pernikahan akan dilaksanakan bulan depan karena mas Bayu dan mbak Risma sama-sama sudah dewasa dan tak ingin menunggu lama.
________
Pernikahan mas Bayu berjalan dengan lancar. Akad nikah dan resepsi dilaksanakan di tempat mbak Risma. Di rumah kami hanya mengadakan syukuran saja karena mas Bayu nggak mau mengeluarkan banyak biaya.
Apalagi setelah menikah mas Bayu akan segera pindah ke rumah baru mereka yang masih tahap penyelesaian. Rumah yang mereka beli berdua.
Ibu juga hanya libur 3 hari dan sekarang akan ke warung mulai memasak untuk besok pagi.
" Aira, kamu nggak usah ke warung biar ibu sama mbak Sri saja. Mbak Nia lagi nggak enak badan jadi kamu temani dia di rumah ya ! " perintah ibu.
"Mbak Nia kenapa, Bu ? sepertinya kemarin sehat-sehat saja tuh ! " celetukku.
Kuhampiri mbak Nia di kamarnya, mas Joni sudah berangkat ke toko tadi pagi. Mbak Nia berbaring di ranjang, badannya terlihat lemas.
" Kenapa, Mbak ? " tanyaku. Ia menatapku sayu.
" Nggak tahu nih, bawaannya pingin tiduran terus. Sebenarnya sudah seminggu yang lalu tapi nggak kurasain karena sibuk mengurusi pernikahan mas Bayu. Sekarang baru kerasa lemesnya." Mbak Nia bicara lirih.
" Sarapan dulu terus minum vitamin supaya nggak lemes. Jangan jangan kamu hamil. Istirahat saja nggak usah mikir toko dulu, biar diurus Joni." Ibu mengingatkan mbak Nia.
Kemudian ibu berangkat ke pasar.
__ADS_1
Aku menemani mbak Nia di rumah sambil membaca novel di HP. Akhir-akhir ini aku jarang membuka aplikasi lain selain novel.
" Apa iya aku hamil ? sebenarnya aku juga udah telat sih." Mbak Nia bergumam.
Tapi tiba-tiba, " wueeeekkk ! wueeekk ! " Ia berlari ke kamar mandi.
Aku mengikutinya ke kamar mandi. Usai menumpahkan isi perutnya mbak Nia kupapah masuk dan kutuangkan air putih. Ia minum sembari duduk di sofa. Ayah yang baru mengangkat jemuran buru-buru masuk. Diambilnya minyak kayu putih dari kotak obat lalu menyuruhku membalurkannya di perut dan dada mbak Nia.
Sore hari mas Joni pulang awal karena mbak Nia mual dan muntah terus.
" Periksa ke dokter saja biar tahu sakitnya apa. Kalau minum sembarang obat takutnya ternyata hamil kan bahaya buat janinnya." Ayah memberi saran pada mas Joni.
Jam 4 sore mereka pergi ke dokter yang terdekat dari rumah.
. " Hati hati, pelan saja bawa motornya," pesan ayah.
Beberapa saat setelah mbak Nia pergi, ibu juga pulang dari warung. Beliau menanyakan kabar mbak Nia dan ayah bilang kalau mereka sedang ke dokter.
Sehabis sholat Ashar aku duduk di teras karena di dalam rumah terasa gerah. Iseng-iseng kubuka Facebook yang sudah lama tak kubuka. Ada postingan dari teman-teman SMA yang meng ' up date ' kegiatan mereka di kampus. Melihat ini aku malah jadi sedih.
" Andai aku juga kuliah tentu aku juga akan mengabadikan setiap kegiatan yang kuikuti di kampus dan aku posting di Facebook." Aku berkata pada diri sendiri.
" Ada apa, Aira ? kok ngomong sendiri ? " Ternyata ayah sudah berdiri di pintu tanpa kutahu.
" Nggak ada apa-apa kok, Yah." Aku berbohong. Jangan sampai ayah tahu kalau aku sedih karena nggak bisa kuliah. Ujung-ujungnya nanti ayah merasa bersalah.
" Kalau itu sih, aku sudah tiap hari promosi di status WA, Yah. " Aku menyahut perkataan ayah.
" Tapi kalau di Facebook kan yang melihat lebih banyak dan tidak hanya orang terdekat. Malah bisa jadi peluang bisnis lho ! " Ayah menerangkan lagi.
Benar juga kata ayah. Sudah lama aku nggak membuka Facebook karena enggan melihat postingan teman-teman yang kebanyakan pamer. Sedangkan aku merasa nggak ada yang harus aku pamerkan. Padahal ternyata banyak juga yang menggunakan Facebook sebagai sarana mempromosikan bisnis.
" Assalamualaikum ! " Terdengar suara mas Joni.
Rupanya mereka baru saja pulang , hari sudah menjelang magrib.
" Waalaikum salam," jawabku dan ayah serentak. Kami juga hendak beranjak masuk. Aku menuntun mbak Nia masuk ke dalam.
Mendengar suara kami ibu pun keluar dengan tergopoh-gopoh.
" Gimana hasilnya, Nia ? kamu beneran hamil nggak , atau cuma masuk angin ? " tanya ibu sambil menuntun mbak Nia menuju sofa ruang tengah.
Mbak Nia masih terlihat lemas, masih enggan menjawab pertanyaan ibu.
" Biar Nia minum obat dulu, Bu." Mas Joni yang menjawab. Ia mengambil tas tangan yang dibawa mbak Nia dan memasukkan ke dalam kamar. Kemudian menyerahkan kantong plastik kecil yang dibawanya pada mbak Nia, mungkin berisi obat dan vitamin.
" Biar aku ambilkan air putih, Mas." Aku beranjak ke meja makan menuangkan air putih lalu kuberikan pada mbak Nia.
__ADS_1
Setelah menelan obatnya mbak Nia menghela nafas sesaat, kemudian membuka suara.
" Alhamdulillah, kata dokter aku positif hamil. Usia kandunganku sudah 10 minggu." Ia tersenyum dan matanya pun berkaca-kaca.
" Alhamdulillaaah ," ucap kami serentak.. Ibu memeluk mbak Nia.
" Mulai sekarang kamu harus selalu hati-hati. Nggak boleh terlalu capek, nggak boleh telat makan dan nggak boleh begadang. Pulang dari toko jangan malam- malam dan vitaminnya harus diminum. Jangan lupa juga minum susu hamil biar bayinya sehat." Ibu menasehati panjang lebar kali tinggi.
Bahagianya keluarga kami mendapat dua anugerah secara bersamaan. Yang pertama dengan menikahnya mas Bayu yang tiba-tiba. Yang kedua berita hamilnya mbak Nia yang sangat dinanti-nanti setelah hampir setahun menikah.
*************
Kehamilan mbak Nia sudah memasuki bulan ke empat. Ia ingin mengadakan acara 4 bulanan. Ayah dan ibunya mas Joni juga diundang. Mereka sangat antusias dengan kehamilan mbak Nia karena ini cucu pertama.
" Iya, Buk. Acaranya 2 hari lagi. Ibu sama bapak jangan lupa datang ya ! " Mbak Nia menelepon ibu mertuanya.
Dua hari kemudian acara 4 bulanan kehamilan mbak Nia. Sebenarnya hanya acara kecil tapi karena saking bahagianya mertua mbak Nia sampai membawa beberapa makanan untuk dibagikan kepada para tetangga sekitar.
Seusai acara orang tua mas Joni pun hendak pulang. Ibu juga memberikan buah tangan untuk mereka.
" Terima kasih atas kedatangannya, Bu, Pak. Doakan supaya kandungan Nia sehat." Ibu mengucapkan terima kasih sebelum mereka pamit.
" Sama-sama, Bu. Kalau begitu kita pamit. Assalamualaikum. "
" Waalaikum salam." Kami membalas salam bersamaan lalu masuk kembali .
Mas Joni mengantar orang tuanya sampai depan gapura karena sudah memesan taxi online.
Aku membereskan sisa makanan yang masih ada di meja makan. Setelah semua beres aku mandi dan beristirahat sejenak sambil menunggu waktu magrib.
Malam harinya aku berniat membeli wedang ronde di warung mbak Yah. Seharian bekerja kalau minum wedang jahe hangat pasti badan kembali segar. Apalagi sudah lama juga aku nggak jajan di sana.
" Hallo mbak Yah," sapaku. Mbak Yah sampai kaget dengan kedatanganku.
" Hallo juga, wah mbak Aira sekarang sombong ya, nggak pernah ke sini." Mbak Yah membalas sapaanku.
" Maaf deh, aku kan sekarang sibuk di warung seharian. Pulang sudah capek jadi langsung mandi, makan, sholat terus tidur. Kadang malah lupa makan malam saking ngantuknya." Aku memberikan alasan pada mbak Yah.
" Oh iya, Mbak, gimana kabar Niko ? masih sering ke sini kah ? " tanyaku iseng. Aku pesan 2 bungkus wedang ronde karena ingin kuminum di rumah saja.
" Kadang-kadang sih, tapi akhir-akhir ini nggak pernah. Katanya sih sedang persiapan ujian kelulusan, " kata mbak Yah.
Aku jadi ingat kalau Niko sekarang kelas 3 SMA. Kalau tidak salah sekarang sedang ujian kelulusan. Sudah hampir setahun aku nggak pernah berkomunikasi dengannya. Hanya sesekali ketemu di jalan itu pun kami hanya ' say hello '.
_____&&&_______
Sudah dulu ya. Akan ada kejutan di bab selanjutnya. Tetap ikuti terus pokoknya.
__ADS_1
See you !