Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 59 Bertemu Keluarganya


__ADS_3

Setelah puas bercengkerama aku mengajak Raka kembali ke warung makan. Kasihan ibu dan mbak Sri karena pekerjaan juga belum selesai.


" Buk, saya balik ke warung ya. Masih banyak pekerjaan soalnya," pamitku pada bu Harti.


"Oh iya ya, ini ibu juga sebentar lagi akan siap-siap tutup. Mau arisan PKK jadi pulang agak awal," balas bu Harti.


Aku menarik tangan Raka dan kita berjalan menuju warung makan ibuku. Bergegas kulakukan tugasku dibantu oleh Raka.


" Sudah nak Raka duduk saja nanti kotor loh. Ini sudah kerjaan Aira sama mbak Sri." Ibu menegur Raka agar menghentikan kegiatannya.


" Nggak apa-apa Bu biar cepat selesai, kan saya tadi yang mengajak Aira keluar." Raka memberikan alasan. Ternyata dia cowok yang pengertian dan bertanggung jawab.


Pukul 5 sore kami bersiap pulang Seperti biasa mbak Sri sudah pamit lebih dulu. " Ibu saya antar pulang dulu biar Aira menunggu di sini." Raka menawarkan mengantar ibu.


" Nggak usah biar ibu jalan kaki kalian naik motor." Ibu menolak tawarannya.


" Biar diantar Raka saja Buk, aku jalan kaki pelan-pelan. Paling 10 menit Raka sudah balik ke sini lagi."


Akhirnya ibu bersedia diantar Raka. Sementara menunggu aku berjalan kaki menyusuri pertokoan sambil melihat-lihat barang yang dipajang. Tak berapa lama Raka sudah kembali.


" Kita muter ke alun-alun dulu ya ! " ajaknya. Aku menyetujui dan langsung membonceng di motornya. Raka menjalankan motornya pelan, karena cuaca Mnggu sore ini amat cerah. Di taman kota juga banyak anak kecil yang tengah bermain.


" Mau duduk di taman dulu apa langsung pulang ? Raka menawariku. Aku menggeleng, tapi tentu saja ia tak melihatnya karena dia menghadap ke depan.


" Langsung pulang saja, sebentar lagi Magrib. Lagian tadi kan bilangnya cuma muter." Aku menggerutu.


" Iya Tuan Putri, saya kan hanya menawari saja. Mana tahu berkenan ingin duduk-duduk dulu sekalian beli jajanan kesukaan Tuan Putri." Ia malah menggodaku.


" Ya sudah, kita beli pempek sama bakso goreng dulu terus pulang." cetusku. Raka mengarahkan motornya ke gerobak jajanan yang kumaksud.


" Pakai ini saja ! " ucapku tatkala dia mau membayar jajananku. Kukeluarkan 2 lembar uang 10 ribuan dari saku celana panjangku dan kubayarkan pada abang penjual masing-masing satu.


" Kenapa sih nggak mau kubayari ?" tanya Raka. " Kan sudah kubilang aku juga punya penghasilan. Tiap hari Sabtu dan Minggu tuh aku jualan loh." lanjutnya.


" Iya tahu, tapi itu kan buat keperluan kuliahmu. Sudah ah, yuk pulang ! " ajakku sebelum kami berdebat lagi soal ini.


Raka menghidupkan motornya, aku segera membonceng dan kita pun pulang. Sampai rumah Raka kuajak masuk tapi dia memilih duduk di teras


Kutaruh keranjang bawaan di ruang tengah kemudian aku keluar dan duduk di teras bersama Raka.

__ADS_1


" Kamu mandi dulu sana, habis itu kita ke rumahku. Mau kan ? " Raka mengajakku ke rumahnya.


" Kamu kan besok harus balik ke Jogja, kok malah mengajakku ke rumah. Nanti kamu bolak balik mengantarku malah tidurnya kemalaman. Besoknya jadi bangun kesiangan." Aku memberi alasan untuk menolak ajakannya.


" Ya enggak lah, kan tiap Subuh tetap harus bangun nggak mungkin kesiangan." Ia masih berdalih.


" Tapi kan masih mengantuk kalau tidurnya kemalaman. Nanti habis Subuh malah ketiduran lagi terus jadi kesiangan." Aku menjelaskan lagi.


" Ya sudah lah, kalau gitu aku pulang ya sekarang. Mau menyiapkan barang- barang yang mau kubawa besok." Raka beranjak dari duduknya.


" Oke, tapi nggak usah keluar lagi ya. Istirahat saja di rumah terus tidurnya jangan kemalaman. Biar besok pagi badan segar dan semangat untuk kuliah, " pesanku padanya.


" Siaap Bu Guru ! " jawabnya seraya memberi hormat padaku. Kami pun tertawa bersama.


" Sampaikan pada ibu dan bapak aku langsung pamit ya ! " ucap Raka lalu menaiki motornya dan langsung melesat pergi.


" Raka sudah pulang ? " tanya ibu yang baru keluar dari dapur. Ayah pun keluar dari kamar hendak ke masjid.


" Sudah baru saja, tadi minta dipamitin ke Ibu sama Ayah," jawabku sekaligus menyampaikan pesan Raka. Aku langsung masuk kamar.


Kuletakkan tas dan handphone di atas meja kamar lalu bergegas mandi. Rasanya sudah gerah sejak tadi. Selesai berpakaian sekaligus sholat Magrib aku duduk di sofa depan televisi sembari makan jajanan yang tadi kubeli.


" Mampir ke mana tadi Ra, kok lama baru pulang ? " tanya mbak Nia. Ia keluar dari kamar dengan membopong dede Arkana. Kucubit pipinya karena gemas,, sampai ia menangis. " Huwaa huwaaa ! "


" Kamu belum jawab pertanyaanku , tadi mampir ke mana sama Raka ? " Mbak Nia mengulang pertanyaannya .


" Cuma muter ke alun-alun terus beli jajanan ini. Mau minta nggak ? " kutawari dia jajananku.


" Mau dong bakso gorengnya," Mbak Nia mencomot pakai garpu bakso goreng yang tengah kunikmati di atas meja. Arkana mengecap- ecap bibirnya memandangi ibunya yang tengah asyik makan basreng.


___________


.Seminggu berlalu. Sabtu sore Raka menjemputku dari pasar. Dan seperti biasa karena dia bawa motor maka ia mengantar ibu pulang lebih dulu baru kemudian menjemputku.


" Nanti sampai rumah langsung mandi terus ke rumahku ya," ucap Raka. Ternyata dia menagih janji mau mengajakku bertemu keluarganya.


" Ya deh ! " kuikuti saja ajakan Raka. Takutnya dia tersinggung kalau aku nggak mau.


Sampai di rumah kutaruh keranjang lalu aku bergegas ke kamar mandi. Ibu yang baru selesai mandi menegurku.

__ADS_1


" Kok buru- buru mandi mau ke mana ?" tanya beliau. " Mau diajak ke rumah Raka, " sahutku seraya menutup pintu kamar mandi. Kuguyur badanku dengan air dingin. Berrr .. segarnya.


Selesai mandi aku berpakaian. Kupilih blouse dan celana kulot agar terlihat lebih sopan.. Kupoles wajah dengan make up tipis. Setelah siap aku keluar. Raka sedang mengobrol dengan ayah di teras.


" Pak, kami permisi dulu." Ia berpamitan sama ayah.


" Oh iya, silahkan. Pulangnya jangan malam-malam ya," pesan ayah kemudian.


Raka menghidupkan motornya lalu aku duduk di jok belakang. Kita pun berangkat ke rumah Raka.


" Assalamualaikum ! " ucapku ketika tiba di rumah Raka. " Waalaikum salaam ! " sahut seseorang dari dalam. Raka membuka pintu, ternyata adiknya yang barusan menjawab salam.


Ibu dan neneknya keluar menyambutku. " Eeh ada Aira, yuk sini yuk ! " Bu Harti menarik tanganku pelan dan mengajakku masuk ke ruang tengah. Di situ sedang pada berkumpul dan menonton TV.


" Winda, buatin minum buat kak Aira ! " perintah bu Harti pada adiknya Raka yang bernama Winda. Gadis kecil itu beranjak ke dapur.


" Duduk Aira, kenalkan ini keluargaku." Raka mengenalkan keluarganya padaku. Satu persatu aku menyalami mereka. Dari ayah, ibu, kakek dan neneknya, juga kedua adiknya. Kemudian kita pun mengobrol banyak.


Setelah cukup lama mengobrol Raka mengajak ke teras. Dia mengambil gitar di kamarnya dan memainkannya sambil melantunkan lagu. Ternyata seleranya sama denganku, dia suka lagu Malaysia.


" Nyanyi dong, katanya sering nyanyi di acara RW." Raka memintaku menyanyi. Tapi tentu saja aku naku. Baru juga sekali main ke sini.


" Malu ah, aku kalau menyanyi suka nggak nyadar tahu-tahu makin keras aja suaranya. Nanti apa kata keluargamu. " Raka pun meletakkan gitarnya di kursi di sampingnya.


" Kita ngobrol aja deh," ucapnya. Ia pun bercerita tentang masa- masa dia sekolah. Tentang teman-teman gengnya, tentang pacarnya, tentang orang tuanya, tentang kuliahnya.


Dan ternyata Raka kuliah hanya mengambil D2. " Ayahku ngga sanggup membiayai sampai sarjana karena masih punya 2 adik yang masih duduk di bangku SD dan SMP. Aku menurut saja dari pada nggak kuliah."


" Berarti tinggal satu semester lagi. Mending sambil mencari pekerjaan saja besok kalau selesai kuliah kan tinggal nerusin." Aku memberi saran, padahal nggak tahu juga saranku ini benar apa tidak. Setidaknya aku respek mendengarkan ceritanya.


Menjelang jam 10 malam aku meminta Raka mengantarku pulang. " Tehnya belum diminum kan tadi ." Raka mengingatkanku.


Kita pun masuk dan duduk di ruang tamu. Kuteguk setengah teh yang sudah hampir dingin kemudian kutaruh lagi di meja. Tanpa kuduga Raka mengambil nya dan menghabiskan sisa tehku.


" Yuk kuantar pulang ! " Ia pun berdiri. Aku juga ikut berdiri, tapi kutengok ke dalam kok nggak terlihat orang tuanya atau kakek neneknya.


" Nggak usah pamit, mereka lagi ke rumah tanteku di sebelah." Raka tahu kalau aku berniat pamit sama orang tuanya.


" Ya sudah tolong nanti sampaikan salamku," ucapku kemudian.

__ADS_1


___________________


Bersambung


__ADS_2