Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 110 Bertemu


__ADS_3

Aku melihat ada mobil terparkir di halaman rumah bu Dirja, ketika baru pulang dari rumah mas Raka. Kelihatannya di ruang tamunya juga masih ada suara orang berbincang-bincang.


" Kok ada mobil di situ Ra, mungkin lagi ada tamu." Kata mas Raka sambil mengamati rumah bu Dirja.


" Tapi masa tamu kok malam-malam begini. Parkir mobilnya juga tidak di jalan tapi di halaman. Kalau menurutku mungkin itu anaknya bu Dirja yang sedang menjenguk kemari, memang pada punya mobil soalnya." Aku punya pendapat lain.


" Ya sudah sana masuk, langsung tidur nggak usah mikir tamunya bu Dirja siapa," ujar mas Raka sambil tersenyum.


" Ya iyalah, ngapain ngurusin tamu tetangga," sahutku dengan menjulurkan lidah.


Mas Raka hanya nyengir. Ia menghidupkan motornya lalu pamit.


" Makasih ya Mas, hati-hati ! " ucapku lalu bergegas masuk rumah.


Di ruang tengah ternyata mbak Nia masih menonton TV


" Tumben belum tidur," tegurku sembari masuk kamar.


Bungkusan oleh-oleh kutaruh di meja. Tas selempang kulepas dan kukaitkan di sandaran kursi. Lalu kubuka jilbab kemudian berganti pakaian santai.


" Barusan menemani mas Joni makan malam. Tadi belum sempat soalnya malam Minggu toko agak ramai katanya." Mbak Nia menjawab pertanyaanku.


" Bu Dirja lagi ada tamu siapa Mbak, kok mobilnya masuk halaman? " tanyaku iseng.


" Mbak Hartati sama suaminya, sama adiknya Ernest juga. Tadi sih sempat berbasa basi sama ibu dan bapak, waktu datang kan bapak sama ibu lagi ngopi di teras.


" Ooh gitu," ucapku singkat lalu berjalan ke kamar mandi. Mas Joni muncul dari dapur.


" Dari mana Ra ? " sapanya basa basi.


" Dari rumah calon mertua ! " celetuk mbak Nia meledekku.


" Biarin, memang bener." Aku tak menggubris ledekannya .


Seusai dari kamar mandi kuambil oleh-oleh jajanan yang kubawa tadi. Masih ada sebagian yang belum kubuka, akan kubagi sama mbak Nia. Yang buat ibu besok saja karena sudah tidur.


" Mbak, ini ada oleh-oleh dari Raka," kataku seraya menyodorkan sebungkus keripik kentang.


Mbak Nia yang hendak masuk kamar berbalik dan menerimanya.


" Jadi orang tua Ernest sedang kemari ya, mungkin karena anaknya lagi libur sekolah." Aku membicarakan anaknya bu Dirja. Kami berdua sambil makan keripik.


" Bisa jadi, apalagi sudah lama nggak ketemu Ernest pasti kangen." Mbak Nia menambahkan.


" Bu Dirja sama ibu sepertinya seumuran tapi kok cucunya bu Dirja sudah hampir kuliah ya," ujarku.

__ADS_1


" Sok tahu kamu, ya lebih tua bu Dirja lah. Mbak Tatik itu juga umurnya di atasnya mbak Rina. Dulu Mbak Tika pernah cerita waktu dia kelas 3 SD, mbak Rina kelas 1 SMP, lalu mbak Tatik itu kelas 1 SMA. Dulu nggak ada kelas 7,8,9 atau kelas 10,11,12." Mbak Nia menerangkan.


" Berarti selisih umur mbak Hartati sama mbak Rina hanya 3 th. Tapi kok anaknya mbak Tatik sudah segede Ernest gitu, Daffa anaknya mbak Rina baru kelas 6 SD. " Aku masih bertanya-tanya.


" Katanya sih dulu dia baru kuliah semester satu tapi sudah dilamar anaknya teman Pak Dirja. Orangnya ganteng kerjanya mapan. Terus mereka menikah, habis itu mbak Tatik tetap lanjut kuliah, suaminya yang membiayai. Aku ingat waktu itu aku masih TK kayaknya, soalnya aku kan sekolahnya telat," kenang mbak Nia.


" Ooh gitu. Aku nggak begitu hafal sama mbak Tatik sih, tahunya sama mbak Yuni adiknya," timpalku.


Beberapa saat tiba-tiba Arkana terbangun dan menangis. Mbak Nia bergegas masuk kamar untuk menidurkannya lagi. Aku pun beringsut ke kamar. Sudah hampir jam 11 malam.


Kurebahkan tubuh di ranjang, tapi belum bisa tidur meski kupejamkan mataku. Aku malah terbayang waktu di rumah mas Raka tadi. Aku jadi senyum sendiri mengingat apa yang kita lakukan tadi. Berlarian dalam kamar dan, aah...kuraba bibirku. Mengingatnya tanpa terasa mataku terpejam.


____________


Pagi ini seperti biasa sebelum mandi aku merapikan kamar dan menyapu lantainya serta ruangan lain juga kubersihkan. Usai bersih semua ruangan, ketika hendak menyapu teras kulihat Ernest bersama adik dan ayahnya tengah mencuci mobil. Sementara ibunya menyiram tanaman. Mereka sambil bercengkerama hingga tak menyadari aku ada di teras.


" Mbak Aira, sini dong ! " teriak Ernest tiba-tiba memanggilku. Aku menoleh ke arahnya, yang lain ikut menatapku.


" Lagi nyapu Dek, ada apa? " tanyaku agak meninggikan suaraku. Ernest mendekati pagar rumahku lalu berkata," Itu ada papa sama mama juga adikku, kenalan yuk ! " ajaknya.


" Sudah kenal dong Dek, kan kita tetanggaan dari dulu." Aku meralat kata-katanya.


Karena semua memandangku maka terpaksa aku mengikutinya. Ernest menggandeng tanganku.


" Aah Ernest berlebihan Mbak, Mas. Aku cuma menemaninya jika ia sedang berolah raga di depan rumah." Kujelaskan yang sebenarnya supaya papa mamanya tidak salah paham.


" Tidak apa-apa kalau Dik Aira mau berteman sama Ernest. Kita berterima kasih lho, soalnya anaknya sulit berteman dengan siapapun. Bisa dihitung teman akrabnya ada berapa." Mbak Tatik menceritakan tentang Ernest.


" Maklum Mbak dia di sini kan baru berapa bulan, jarang keluar juga. Jadi wajar kalau belum punya teman. Tapi sekarang sudah mulai kuajak kegiatan remaja kok." Aku menimpali.


" Iya tolong ya Dik, Ernest kan sebentar lagi lulus SMA dan mau kuliah. Dia harus belajar bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Apalagi di kampus nanti kawannya lebih banyak lagi." Papanya minta tolong padaku.


" Jangan khawatir Mas, Ernest sudah seperti adik buatku," sahutku.


" Kok seperti adik sih ," celetuk Ernest tiba-tiba. Padahal dari tadi dia hanya mendengarkan kami mengobrol, sambil matanya terus memandangku.


" Ya adik dong, masa kakak hehehe ! " Mbak Tati dan suaminya tertawa.


" Mbak, Mas, aku permisi dulu ya mau mandi. Mau ke warung makan bantuin ibu." Aku pamit masuk ke rumah karena merasa sudah lama mengobrol.


" Oya silakan, duuh Dik Aira rajin ya mau bantuin orangtua. Jarang-jarang lho remaja putri yang seperti kamu," kata mbak Hartati.


Aku hanya tersenyum dan bergegas meninggalkan mereka. Adiknya Ernest asyik menyemprotkan air ke mobil hingga tidak begitu memperhatikan obrolan orangtuanya.


" Aira kamu dari mana sih, nyapu kok lama banget. Lihat tuh jam berapa ! " tegur mbak Nia yang lagi masak di dapur.

__ADS_1


" Itu tadi diajak ngobrol sama mbak Tatik dan suaminya. Maksudku nggak apalah sekedar basa basi kutanggapi mereka. Tapi malah ada saja yang dibahas mereka. Akhirnya terpaksa ku bilang mau mandi dan berangkat ke warung membantu ibu."


" Awalnya mengobrol ujung-ujungnya paling pamer." Mbak Nia mencibir.


" Memang dia sombong ya Mbak? " tanyaku penasaran.


" Ya begitu lah, dulu aku yang masih kecil saja suka dipameri jika dia punya sesuatu. Apalagi setelah menikah dengan orang kaya makin menjadi kebiasaan pamernya.


" Untung aku cepet pulang," sahutku lalu beranjak ke kamar mandi.


Usai mandi dan berganti pakaian kuambil tas selempang yang tergantung di kursi. Tak lupa membawa sisa oleh-oleh buat ibu dan mbak Sri. Setelah pamit sama ayah lalu berjalan cepat menuju gapura menunggu angkot.


Sampai di warung langsung masuk ke dapur. Ibu sempat melirikku.


" Mbak Aira, kok agak siang datangnya ? " tanya Mbak Sri agak heran.


" Iya tadi malam nggak bisa tidur," sahutku dan langsung mengerjakan tugasku.


Sembari menggoreng pisang mbak Sri terus saja menanyaiku.


" Kok malah nggak bisa tidur, kan tadi malam bisa kencan lama karena mas Raka paginya nggak kerja, hihihi ! " ia meledek ku.


" Justru karena puas berkencan jadi terbayang-bayang terus, sampai nggak bisa tidur hihihi ! " jawabku nyengir.


" Huuuh dasar genit, sudah mulai berani ya pacarannya. Memang semalam diapain sama mas Raka? " bisiknya.


" Mau tau aja apa mau tau bangeet ? " balasku menggodanya. Biar mbak Sri penasaran.


" Begitu ya sekarang, sama aku mau main rahasia-rahasiaan. " Ia puta-pura cemberut.


" Jangan cemberut nanti gosong pisang goreng nya hahaha ! " Aku tertawa ngakak meledek mbak Sri.


" Awas kalau nggak cerita," ucapnya berlagak mengancam.


" Cerita apa, orang aku nggak ngapa-ngapain kok." Akhirnya aku bicara serius.


" Nggak percaya ! " serunya tertahan.


______&&&___


Sekian dulu gaes, maaf kalau ada typo2 ya.


Author ga sempat cek.. sudah ngantuk.


Jgn lupa vote like dan komennya ya, thanks !

__ADS_1


__ADS_2