Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 117 Sebel


__ADS_3

Mukena belum kulepas, kubaringkan tubuh sejenak dan kutempelkan punggung di atas lantai. Rasanya adem, sepertinya pegal-pegal seketika hilang meskipun hanya sementara.. Aku enggan beranjak, saking menikmati dinginnya keramik tempatku berbaring.


" Ya ampun Aira, kok tiduran di lantai nanti masuk angin. Ini kan sudah malam nak," tegur ayah mengagetkanku, soalnya mataku sempat terpejam.


" Mmmmhh... ketiduran Yah, tadi cuma berbaring sejenak malah kebablasan saking enaknya." Aku berkata sambil menengok jam dinding. Sudah pukul 9 malam. Berapa menit aku ketiduran tadi.


" Kalau ngantuk pindah di kasur," ujar ayah lalu berbalik hendak masuk ke kamarnya.


Kulipat mukena lalu menengok ke ruang tengah, tumben mbak Nia sudah masuk kamar, mungkin tadi Arkana terbangun. Kalau ibu memang biasa tidur lebih awal. Pantas saja aku nggak mendengar suara apapun tadi.


Kuambil handphone di meja lalu aku berbaring di ranjang. Cuit cuit ! Baru mau membuka WhatsApp ternyata sudah ada pesan masuk. Dari mas Raka tentunya.


[ Assalamualaikum Aira cantik, sudah tidur kah ] [ Pasti capek ya habis bantu-bantu di rumah depan, pulang jam berapa tadi ]


[ Waalaikum salam, tadi sekitar jam 8 udah pulang. Tapi habis sholat malah ketiduran di lantai saking enaknya berbaring, wkwkwkk ]


[ Pindah di kasur dong sayang, nanti kedinginan jadi masuk angin ] [ Besuk aku temani di warung, kalau masih capek nggak usah ngerjain apa-apa biar aku aja oke ]


[ Makasih sayang, tapi besok aku masih diminta bantuin lagi. Katanya masih ada tamu temannya mbak Tatik yang belum bisa datang lalu mau ke sini besok ] [ Kamu nggak marah kan ]


[ Kok gitu sih, katanya cuma sehari kok masih diminta bantuin lagi. Memangnya nggak ada saudaranya yang membantu ]


[ Sudah pada pulang tadi malam, soalnya mereka udah sejak Jumat sore membantu di sini ]


[ Huuh.. ya sudah nggak pa pa, paling tamunya cuma sedikit jadi tidak terlalu capek nanti ]


[ Tapi kita nggak bisa ketemu lagi besok, kamu beneran nggak pa pa 😉 ]


[ Bener sayang, besok sorenya aku ke rumah deh. Kamu tidak perlu sampai malam di sana ☺ ]


[ Oke deh, makasih ya Mas ]


[ Ya sudah, sekarang kamu tidur istirahat. Mimpiin aku ya, bye 😊 😘 ]


[ Bye, selamat tidur 😍 ]


Beruntung mas Raka mau mengerti. Kutaruh lagi handphone lalu berdoa dan tidur


_________


" Selamat pagi Dik Aira, ini buat sarapan. Baru saja tak angetin ," sapa mbak Tatik seraya mengulurkan piring berisi sayur dan lauk. Aku baru saja keluar hendak menyapu lantai teras.


" Selamat pagi, wah mbak Tatik kok repot terus sih, nanti juga aku ke situ," ucapku sambil menerima piringnya.


" Nggak repot ini juga lauk tadi malam. Nanti menunya baru lagi dong, hehe." Mbak Tatik tertawa kecil.


" Makasih ya, aku bawa masuk dulu." Aku tersenyum lalu kubawa masuk lauk tadi. Mbak Tatik juga berbalik ke rumahnya.

__ADS_1


Setelah menaruh piring di meja makan kulanjutkan lagi pekerjaanku. Di pinggir teras sebenarnya ada beberapa pot tanaman hias, tapi itu mbak Nia yang menanam jadi biar dia yang menyirami. Aku hanya suka melihat bunga yang mekar tapi aku tidak suka menanam.


Seusai membersihkan teras kututup kembali pagar rumah. Aku mau sarapan dulu baru mandi.


" Ini dari mbak Tatik lagi? " tanya mbak Nia seraya menjumput ayam krispi di meja.


" Iya barusan dia kasih waktu aku mau menyapu teras," tukasku.


Aku menyendok nasi dan mengambil sayur dan lauk dari mbak Tatik tadi.


" Aku juga mau sarapan ah mumpung Arkana belum bangun. Lumayan dapat lauk gratis terus, hehehe !" ia terkekeh.


Ayah yang baru dari kamar mandi tersenyum menyaksikannya.


" Hmm, siapa yang sibuk siapa yang keenakan," Ayah pura-pura menyindir mbak Nia.


" Aji Mumpung lah," celetuk yang disindir. Ayah benar, aku yang capek mbak Nia yang seneng kebagian makanan gratis.


Usai makan, mandi dan merapikan diri aku berniat keluar. Namun kulihat Ernest dan Trias berboncengan memasuki teras rumahnya. Mungkin Ernest baru saja menjemputnya. Aku urung keluar rumah, biar kutunggu saja kalau nanti ada tamu datang. Mending aku duduk-duduk dulu di ruang tamu sambil bermain handphone.


Tengah asyik berselancar membuka internet nampak ada mobil berhenti di depan rumah bu Dirja. Mungkin mereka teman-teman mbak Tatik, kalau dilihat dari wajah mereka yang tampak seumuran.


" Selamat datang semuanya, ayo silakan masuk !" Mbak Tatik keluar menyambut teman-temannya. Dia melongok ke sini, sepertinya mencariku. Aku pun segera keluar.


" Dik Aira, ada tamu," serunya sambil tangannya menunjuk ke dalam karena tamunya sudah pada masuk.


" Ah, untung Mbak Aira datang. Ada tamu banyak Mbak," celetuk Trias begitu aku masuk.


" Ya tinggal keluarkan minum sama snacknya dong. Tuh udah disiapin dari tadi kan sama tante Yuni," sahutku seraya menunjuk ke meja kecil dekat dapur.


Di situ memang ada mbak Yuni dan ARTnya yang baru saja menyiapkan minuman dan menata kardus snack. Sepertinya mereka datang tadi pagi karena semalam juga ikut pulang. Karena tinggalnya di kota ini jadi mungkin diminta kemari lagi.


Nasi dan kawan-kawannya juga telah tersaji di meja prasmanan. Menu masakan yang disajikan juga berbeda dengan kemarin, tapi tetap pesan dari catering. Snacknya juga sudah ditata di meja kecil. Bisa kutebak pasti mereka berdua yang menyiapkan semuanya, dibantu mbak Tatik tentunya.


" Ernest, ini kamu yang bawa nampannya, Trias yang memberikan ke tamu," perintahku pada dua anak ini. Barusan aku yang menata minuman dan snacknya di atas nampan.


" Iya Mbak," sahut Ernest lalu diangkatnya nampan ke ruang tamu. Trias kusuruh keluar lebih dulu.


Sampai ada tamu berikutnya aku bergantian dengan Trias menyajikan minuman dan snack, Ernest yang mengangkat pakai nampan. Kalau kemarin memang ditata di meja depan sehingga tak perlu memakai nampan tinggal diulurkan langsung pada tamu.


" Bude, dari kemarin kok saya nggak melihat pak Dirja ya. Hanya bu Dirja yang sesekali ikut menyalami tamu," tanyaku pada bude Ratmi, ARTnya mbak Yuni. Kami mengobrol di dapur seusai aku menaruh piring dan gelas kotor.


" Bapak menemani mas Ronald di kamar, lagi kurang enak badan soalnya." Bude Ratmi memberitahu.


" Oh begitu," balasku. " Perlu saya bantuin nggak, Bude ? " lanjutku berniat membantunya mencuci piring., soalnya mbak Yuni lagi makan bersama bu Dirja.


" Jangan Mbak, nanti kotor. Kan Mbak Aira cuma melayani tamu di sini. " Bude mencegahku.

__ADS_1


" Ya sudah, saya keluar dulu Bude," ucapku lalu melangkah ke ruang tamu.


Maksud hati ingin mengecek ada tamu atau tidak. Tapi yang ada aku malah melihat Ernest dan Trias tengah bercanda. Lebih baik aku ke dapur saja lagi membantu bude Ratmi. Mbak Yuni juga sudah selesai makan sedangkan bu Dirja mungkin masuk ke kamar.


" Ada tamu ya Dik, kok masuk lagi ? " tanya dia sembari mencuci piring bekas dia makan bersama ibunya.


" Tidak ada Mbak Yuni, aku cuma mau ambil minum," sahutku seraya mengambil teh yang masih tersedia.


Mbak Tatik masuk ke dapur, ia baru keluar dari kamarnya Ronald. Dia menyuruhku makan sekalian mengajak Trias. Kemudian dia juga menyuruh bude Ratmi sekalian makan.


" Sudah ku suruh tadi tapi katanya nanti saja," celetuk mbak Yuni ngomongin bude Ratmi.


" Bareng saya yuk Bude, sebentar saya ajak Trias dulu." Kubujuk bude Ratmi.


" Trias, disuruh makan tuh sama mamanya Ernest. Aku juga mau makan sama bude Ratmi." Aku bilang sama Trias lalu aku kembali ke dapur. Bude Ratmi menungguku.


" Yuk Bude kita makan dulu, biar nanti Trias menyusul," ajakku.


Biar saja Trias mau makan atau tidak, paling nanti juga ditemani Ernest. Sebel banget menyaksikan tingkahnya yang nempel terus sama Ernest. Aku enjoy saja makan sama bude Ratmi.


Usai makan aku mengobrol sama mbak Yuni dan mbak Tatik di ruang tengah. Mereka bertanya tentang aku dan keluargaku. Kemudian Ernest dan Trias masuk, lalu mereka makan bersama. Sesekali Ernest menimpali obrolan kami.


Selesai makan mereka berdua keluar lagi ke ruang tamu. Sebenarnya aku juga hendak beranjak tapi sungkan sama mbak Tatik. Mbak Yuni sedang menemani ibunya di kamar. Dari sejam yang lalu memang sudah tidak ada tamu.


" Sebentar ya, aku tengok Ronald dulu." Mbak Tatik berdiri dan meninggalkanku sendirian.


" Silahkan Mbak," ucapku.


Aku masuk ke dapur. Kebetulan bude Ratmi lagi mengaduk nasi yang baru dimasak., ia tak melihatku. Aku menuju pintu belakang lalu keluar diam-diam.


Saat memasuki rumah mbak Nia heran. " Kok pulang Ra, ini belum Dzuhur lho," ucapnya setengah bertanya.


" Biarin aja, dari tadi sudah nggak ada tamu kok. Daripada lama-lama di sana cuma duduk bengong mending aku ke warung." Aku memberitahu alasanku pulang.


" Oh iya betul. Lagian aku tadi juga sempat melihat seperti ada teman dekatnya Ernest kan. Biar dia yang melayani kalau ada tamu lagi." Mbak Nia menambahkan.


Kuambil tas selempangku dan segera keluar lagi.


" Mbak panitia ke ayah aku langsung ke warung ya ! " pesanku sama kakakku.


" Oke siap ! " sahutnya.


______&&&&______


Sekian dulu ya. Author ngantuk nih hehe !.


Silahkan vote like dan komennya ya say.. ditunggu loh. Thanks very very much.

__ADS_1


__ADS_2