Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 80 Kabar Baik


__ADS_3

Beberapa hari setelah pembicaraanku dengan Raka ia tak menemuiku, namun kita tetap saling berhubungan lewat WhatsApp. Dia mengatakan sedang mempersiapkan segala sesuatu untuk acara lamaran nanti. Dia juga bilang kalau ayahnya sudah menyetujui.


[ Syukurlah kalau akhirnya ayahmu menyetujui rencanamu ]


[ Iya, soalnya ibu dan kakek nenek sudah setuju makanya bapak terpaksa menuruti. Satu lawan tiga, sudah pasti yang satu kalah 😀 ]


[ Berarti ayahmu setuju tapi terpaksa dong, aku khawatir jika kita menikah dia akan membenciku ] Aku mengungkapkan kekhawatiranku.


[ Ya enggak lah, bapak nggak punya alasan buat membencimu. Kamu kan nggak salah apa-apa ]


[ Tapi bisa saja kan, karena menurutnya aku yang memaksamu melamar dan menikahiku ]


[ Kata siapa aku dipaksa, ini kan sudah kesepakatan kita berdua. Udah deh, nggak akan ada yang menyakiti kamu selama ada aku ]


[ Widiih kaya sinetron aja 😊 ]


[ Bukannya hidup memang panggung sandiwara, haha. Pokoknya kamu tunggu kabar dariku, sementara ini aku nggak bisa menemuimu karena harus persiapan dulu jelang lamaran nanti. ]


[ Memang serepot apa sih, nggak usah bawa macam-macam deh. Sederhana saja ]


[ Nggak macam-macam kok. Tapi kan memang harus bawa seserahan dan maharan, begitu kata ibu dan nenek. Aku hanya menuruti saja. Sementara mereka yang menyiapkan aku menghubungi paman dan saudara yang lain untuk mendampingiku besok. Pokoknya aku akan memberi kejutan buat kamu ]


[ Kamu bikin aku penasaran. Ya sudah aku tunggu kabar dari kamu ]


Setelah itu Raka nggak membalas chatku lagi. Mungkin dia langsung mengurusi ini itu. Tapi memang waktu dulu mbak Nia lamaran mas Joni membawa seserahan juga. Waktu mas Bayu melamar mbak Risma juga begitu. Malahan mbak Nia yang membuatnya dan aku ikut membantu. Aku kok bisa lupa ya, apa saking antusiasnya hingga nggak memikirkan hal lain.


Tapi memang dasarnya aku nggak suka yang berlebihan, yang penting sakralnya. Dan seserahan itu sepertinya sudah jadi lagu wajib. Masa iya datang melamar nggak bawa apa-apa. Kira-kira Raka mau kasih kejutan apa ya, soalnya dia sama sekali nggak melibatkan aku dalam menyiapkan seserahan dan maharan.


Dua minggu kemudian Raka muncul di rumah. Aku tengah berbaring santai di sofa depan televisi. Mendengar suaranya saat mbak Nia membuka pintu aku segera keluar menemuinya.


" Hai, lagi ngapain ? " sapanya dengan menyunggingkan senyum manisnya. " Hai juga, kangen niih. Kamu lama nggak ke sini." Aku langsung merajuk. Kutarik tangannya supaya masuk lalu kita pun duduk berdampingan di kursi panjang.


" Kan sudah kubilang aku lagi menyiapkan semuanya buat lamaran besok. Untuk kamu aku nggak mau asal-asalan memilih barang. Apalagi ukuran tubuhmu kan mungil jadi aku harus jeli memilih ukuran yang sesuai." Raka menjelaskan tapi malah bikin penasaran.

__ADS_1


" Memangnya barang apa yang kamu beli, sampai harus ada ukuran khusus. Kamu bikin penasaran terus sih," tukasku.


Aku mencoba mengingat dulu waktu mas Bayu lamaran apa saja yang dibeli ya. Kalau mbak Nia aku nggak sempat melihat karena langsung dibawa masuk ke kamarnya.


" Tunggu saja tanggal mainnya. Oh iya, ibu sama ayah mana, aku mau bicara penting sama mereka." Raka berkata serius. " Sebentar kupanggil dulu." Aku berdiri dan masuk ke dalam memanggil ayah dan ibu yang baru selesai makan malam.


" Ayah, Ibu, itu Raka mau bicara penting katanya." Aku menyampaikan maksud Raka pada orang tuaku. Mereka berdua berjalan beriringan menuju ruang tamu. Raka pindah tempat duduk di kursi tunggal, biar ibu dan ayah yang duduk di kursi panjang.


" Bagaimana nak Raka, apa sudah ditentukan harinya kapan kamu melamar resmi Aira ? " tanya ayah tanpa basa-basi sama Raka.


" Sudah Pak, hari Sabtu besok saya bersama keluarga akan datang kemari untuk melamar Aira." Raka memberitahu ayah dan ibu. Seketika aku merasa mendapat angin segar. Hari Sabtu berarti 3 hari lagi, sekarang hari Rabu.


" Kira-kira nanti yang datang berapa orang, tolong dipastikan ya Raka." Ibu nggak lupa menanyakan ini, biasalah urusan dapur. Raka pun menyebut siapa-siapa yang sekiranya datang besok.


" Kalau ada perubahan besok saya kabari lagi Bu, barangkali ada tambahan atau ada yang berhalangan hadir."


" Ya sudah kalau begitu kami masuk ya, silahkan dilanjut lagi ngobrolnya sama Aira." Ayah beranjak dari kursi diikuti ibu. Mereka langsung masuk ke kamar hendak beristirahat.


" Sama-sama, aku juga makasih karena kamu sudah memilihku untuk jadi pendamping hidupmu. Semoga tidak ada halangan, tiga hari lagi kamu resmi terikat denganku. Nggak boleh tergoda sama cowok lain." Raka nengedipkan matanya menggodaku.


" Kamu tuh yang harusnya jangan tergoda cewek lain. Kalau aku sih memang nggak pernah melirik cowok. Tiap hari cuma di warung." Aku membela diri.


" Eeh tapi justru di warung banyak bertemu sama orang lho. Malah kebanyakan laki-laki, iya kan ? " celetuknya.


" Yeee, itu kan kebanyakan bapak- bapak pedagang kaki lima. Pedagang bakso, nasgor, mie ayam dll. Kalau pun ada cowok ganteng yang nyasar ke sini aku juga lagi di dapur, paling buatin minum terus masuk lagi. Tapi bisa juga tuh ngintip dari dalam hahaha ! " Aku berkelakar menggoda Raka. Dua langsung cemberut.


" Tuh kan bener, pasti kamu kenalan sama cowok itu. Pokoknya besok nggak boleh lho, kalau ada pembeli cowok biar mbak Sri yang buatin minum." Raka mulai posesif.


" Ciyee segitu khawatirnya, enggak lah Raka. Aku tadi cuma bercanda, ngetest kamu aja bakalan cemburu apa nggak." Aku menutup mulut menahan tawa, melihat ekspresi Raka yang lucu jika sedang ngambeg.


" Oh iya, satu lagi. Mulai sekarang kamu jangan panggil Raka dong, panggil mas Raka biar aku kelihatan berwibawa gitu loh." Ia mencetuskan satu permintaan yang menurutku lucu.


" Gimana ya, sudah terbiasa langsung panggil nama sih. Malahan dulu aku panggil kamu Dik Raka, karena aku lebih tua dari kamu. Kalau panggil Mas Raka kok terasa kaku ya, hehehe ! "

__ADS_1


" Harus dibiasakan dong, jangan bawa- bawa umur. Nyatanya kamu masih sering bersikap kaya anak kecil, hayo ngaku. Justru aku yang banyak bersabar menghadapi kamu yang kekanakan."


" Iya deh besok aku coba. Kalau sekarang ngga pa pa ya, kan belum dilamar hahaha, hahaha !" Aku tergelak- gelak karena Raka menggelitiki perutku.


" Gemes, gemes, gemeeessh ! " Ia merengkuh tubuhku dari belakang dengan kedua tangannya, lalu dibawa ke pangkuannya. Aku jadi tak bisa bergerak karena tangannya begitu kuat. Ia memutar bahuku dan sekarang wajahku berhadapan dengan wajahnya.


Mata teduh itu, aku selalu kalah jika harus melawannya. Aku menunduk namun Raka langsung mengangkat daguku. Ia mendekatkan wajahnya, kupejamkan mataku. Ada sesuatu yang hangat menyentuh bibirku, aku merasakannya. Raka ******* bibirku dengan lembut. Namun aku buru- buru mendorongnya, Raka terkejut.


" Kenapa dilepas, nggak mau kucium? " tanya dia. Aku menempelkan jari telunjuk di bibirku, memberi isyarat karena aku takut jika ada yang melihat. Aku melongok ke dalam, nggak ada yang menonton TV. Mungkin mbak Nia sedang menidurkan Arkana. Tapi biasanya dia keluar lagi kalau suaminya belum pulang.


" Nggak ada siapa-siapa kan, sudah pada tidur," ucap Raka sembari mengusap pipiku perlahan.


" Mas Joni belum pulang, mbak Nia nggak mungkin tidur duluan. Ia pasti menunggu sampai suaminya pulang." Aku berkata lirih, lalu turun dari pangkuannya.


" Astaga, ternyata dari tadi aku belum kasih kamu minum. Sebentar aku buatin teh panas ya," seruku tertahan, menyadari jika sedari tadi Raka belum minum. Soalnya tadi langsung ada ayah dan ibu jadi lupa.


" Aku ingat tapi sengaja diam biar kamu nyadar sendiri. Untung aku nggak haus, apalagi barusan dapat vitamin jadi makin semangat," Celetuk Raka seraya mengerlingkan mata lalu mengedipkannya. Ia menyeringai nakal.


" Maksudnya vitamin apa ya," tanyaku polos karena nggak paham apa yang dikatakannya.


" Vitamin ini, cup ! " Ia langsung mengecup bibirku. Aku kaget dan langsung berdiri hendak ke dapur. " Nakal iih, sebentar aku buatin teh dulu."


Aku buru-buru ke dapur sebelum ia meneruskan aksinya. Bukan apa-apa, tapi ini sudah jam 21.00 lebih biasanya mas Joni sudah pulang. Aku nggak mau nanti dia memergoki kami berdua.


" Nih minum dulu mumpung masih panas, biar otaknya nggak ngeres," ucapku dengan menyodorkan cangkir pada Raka.


" Kok masih panas disuruh minum, nanti bibirku jonor dong," sahutnya tersenyum


" Ya nggak panas banget lah, ini kan teh manis bukan teh seduh." Raka pun menyeruput tehnya.


_________&&&&&________


bersambung ya gaees..

__ADS_1


__ADS_2