
Minggu pagi. Aku tengah menikmati nasi goreng buatanku sendiri. Sekali-sekali iseng masak, ternyata hasilnya tak mengecewakan.
" Permisi ! Raka ada Kek ? " Kudengar suara lebih dari satu orang menanyakanku pada kakek yang sedang duduk di teras depan. Mana keras lagi suaranya. Siapa yang mencariku di hari libur begini ?
Aku beranjak sambil membawa sarapanku yang masih setengah.
" Ada apa nih, mengganggu kenikmatan saja kalian ! " seruku menegur mereka. Ternyata pemuda di kampungku yang datang kemari. Termasuk Doyok.
" Mau kerja bakti di lapangan, bulan depan kan ada turnamen. Kita mesti persiapan dulu, minimal membersihkan lapangan."
Bang Medi memberitahu tujuan mereka kemari. Dia ketua tim sepakbola di kampungku.
" Yaelah lapangan dibersihkan, mau sampai berapa hari ? " tanyaku berkelakar. Aku duduk di kursi sembari melanjutkan sarapanku.
" Ah Raka banyak alasan ! Dari dulu juga kita sering mengadakan turnamen, pakai nanya lagi. Mentang-mentang punya pacar, paling mau ke tempat ceweknya tuh ! " seru Doyok.
" Enak saja, masa aku nggak mau kerja bakti. Tapi kenapa dadakan, biasanya kan diumumkan dulu." Aku setengah protes.
" Kemarin sore sudah diumumkan, kamu saja yang nggak dengar kali ! " celetuk Doyok lagi.
Aku pun diam, mungkin kemarin aku belum pulang kerja. Dari pada banyak berdebat mending ikuti saja instruksinya.
" Oke,oke. Sebentar aku taruh piring dulu ke dalam." Aku berniat masuk sekalian mengambil handphone di kamar.
" Sudah taruh saja di sini, nanti biar kakek bawa ke dalam," ujar kakek sembari menyeruput kopinya. Kutaruh piring di depan kakek.
" Iya cepetan, keburu panas nanti." Doyok menimpali. Sebagian sudah berjalan lebih dulu ke lapangan.
" Lagian kalau aku nyusul aja kenapa sih ? Pakai disamperin segala, mana baru sarapan tadi. Sekarang disuruh cepet-cepet."
" Kan kita searah, sekalian aja nyamperin kamu. Daripada ngasih tahu lewat WA." Doyok beralasan.
Kita berjalan beriringan menuju lapangan yang berjarak 300 m dari rumahku. Memang sudah kebiasaan kami, jika ada kegiatan sosial selalu berangkat bareng-bareng. Biar pada semangat, yang malas-malasan jadi sungkan menolak jika sudah disamperi ke rumahnya.
" Duh jadi lupa, hapeku ketinggalan nih !" Aku baru ingat handphoneku masih di meja makan tadi.
" Halah nggak usah bawa hape, nanti malah kotor," cetus Doyok.
" Iya sih, tapi aku belum ngasih tahu Aira kalau mau kerja bakti. Pasti dia bertanya-tanya kalau aku nggak ada kabar."
" Aira lagi, Aira lagi. Memang ya kalau sudah tunangan bawaannya pingin berdua teruuuuss, hahaha !" Doyok tertawa meledekku. Aku ikut tertawa.
" Biarin, makanya kamu jangan kelamaan jomblo. Jones, Jomblo ngeNes , hahaha !" Gantian aku meledeknya.
__ADS_1
" Sialan kamu ! " teriaknya sambil menendang pahaku. Tentunya cuma bercanda.
Selama di lapangan aku jadi bulan-bulanan teman-teman. Si Doyok bilang kalau aku sudah bertunangan. Sebagian dari mereka memang belum mengenal Aira, karena belum pernah ketemu. Kalau kuajak ke rumah biasanya malam hari sehingga nggak banyak yang tahu kecuali tetangga dekat.
" Nggak nyangka, si Raka baru lulus kuliah kemarin langsung pingin nikah. Aku aja sampai sekarang belum dapat cewek ! " celetuk bang Medi sambil memotong rumput.
" Maklumlah Bang , dia sudah kebelet. Pacaran saja sudah setahun lebih, tapi ketemunya seminggu sekali. Makanya pingin cepet-cepet diresmikan biar nggak disambar orang." Doyok mulai sok tahu. Bang Medi dan yang lain pada tertawa.
" Pacaran setahun , jangan-jangan Raka sudah dikasih DP makanya pingin cepetan dilunasi. Wakakaakk ! " teriak Somad si jomblo abadi.
" Sialan kamu Mad, bilang saja sirik , kalau jomblo ya jomblo aja nggak usah ngeledek. Apa mau kucarikan jodoh kalian semua ha? " sanggahku tak mau kalah.
" Kita bukannya jomblo, cuma lagi menikmati masa muda. Ngapain buru-buru nikah, ujung-ujungnya jadi DKI. Di bawah Ketiak Istri, haha haha ! " celetuk Somad lagi. Dia sih bertahun-tahun belum pernah punya pacar.
" Yang bilang seperti itu tandanya nggak pernah laku, pakai alasan menikmati masa muda.Sudah kadaluwarsa umur kamu ! " Aku tetap pantang menyerah. Sekalipun ini hanya gurauan tapi aku tidak pernah mau kalah.
Teman-teman di kampungku ini memang kebanyakan nggak punya pacar. Ada yang karena lebih mementingkan karir namun ada pula yang justru belum punya pekerjaan tetap sehingga nggak berani berkomitmen.
Beginilah kami, sekalipun masing-masing punya kesibukan tapi jika sedang berkumpul pasti bergurau saling meledek. Sementara tangan dan kaki bergerak ke sana kemari mulut tak henti berdebat dan saling melempar candaan.
Sampai tiba waktu Dzuhur barulah kami selesai dan istirahat di bawah pohon mangga yang teduh. Lapangan sudah bersih dari sampah yang kebanyakan bungkus rokok dan makanan kecil. Rumputnya juga sudah dipotong rapi.
" Oke untuk hari ini kita sudahi saja karena sudah waktunya istirahat. Minggu depan kita lanjutkan tahap berikutnya." Bang Edi menyudahi kegiatan kerja bakti hari ini. Aku pulang bersama Doyok.
Saking capeknya aku tertidur di atas sajadah. Ketika bangun tahu-tahu sudah jam 3 sore. Aku ingat aku belum menghubungi Aira. Namun sayang handphoneku nggak ada saat kucari di meja makan.
" Siapa yang mengambil hapenya mas Raka ? " tanyaku pada kedua adikku.
" Tadi dibawa Rama buat main game. Itu dia di kamar." Winda menjawab sambil menunjuk adiknya yang masih asyik bermain game memakai handphoneku.
" Rama, bawa sini hapenya mas Raka ! " seruku. Rama terlihat cemberut sambil menyerahkan handphone padaku.
" Loh, kok baterainya tinggal 10 persen. Wah payah deh Rama ! " Aku agak kesal juga tapi nggak tega memarahi adikku. Akhirnya kuisi daya dulu dan kuurungkan mengechat Aira.
Sambil menunggu daya penuh aku memutuskan untuk makan siang yang sempat tertunda. Selesai makan aku keluar lalu duduk di teras bersama kakek dan nenek Bapak sedang berkebun di belakang rumah.
" Aira kok nggak diajak ke sini, sudah lama kita nggak ketemu dia." Tumben kakek sama nenek menanyakan Aira.
" Aira lagi sibuk Kek, warungnya ramai jadi sampai rumah sudah capek. Besok deh kuajak ke sini kalau pas aku libur." Aku memberi jawaban yang membuat mereka lega.
Tengah mengobrol dengan kakek ada motor berhenti di depan pagar. Pengendaranya turun lalu melepas helm, ternyata Oom Sono, adiknya bapak yang tinggal di perumahan pinggir kota. Dia memilih menetap di sana karena dekat dengan tempatnya bekerja.
" Sore Oom, tumben sendirian biasanya sama Erin ," sapaku lalu menyalaminya. Sebenarnya usianya nggak terpaut jauh denganku karena dia adik bungsu bapak.
__ADS_1
" Erin lagi les Matematika, ini Oom baru saja mengantarnya." Oom Sono menjawab seraya menyalami kakek dan nenek.
Dari sorot mata pamanku ini, sepertinya dia ingin mengutarakan sesuatu padaku.
" Bapakmu mana Ka ? " tanyanya kemudian.
" Lagi berkebun di belakang. Paling juga hampir selesai, sudah dari tadi soalnya." Nenek yang menjawabnya seraya beranjak masuk. Kakek menyusul di belakangnya.
" Bapak sama emak masuk dulu ya Son, mau sholat Ashar," ujar kakek pada Oom Sono, dan dibalas anggukan oleh pamanku ini. Ia pun duduk di hadapanku.
" Dengar-dengar katanya kamu mau menikah ya ? " tanya Oom Sono.
" Masih agak lama Oom, lagi nabung buat biaya pernikahan. Kemarin baru tunangan dulu."
" Kalau bisa jangan buru-buru. Paling nggak tunggu setahun. Kamu kan baru berapa bulan lulus kuliah, dapat pekerjaan juga belum lama. Masa sudah mau menikah." Betul juga perkiraanku tadi, Oom Sono mau bicara denganku.
" Kalau setahun kelamaan Oom, paling 4-6 bulan lagi." Aku menjelaskan. Oom Sono nampak kecewa.
" Harusnya kamu jangan tunangan dulu kemarin. Semestinya kamu membantu keuangan orangtuamu dulu. Apalagi kamu masih muda, masa depan masih panjang." Kata-kata yang sok bijak.
" Tapi ini sudah komitmen kami, aku nggak mau mengecewakan Aira," cetusku meyakinkan pamanku.
" Tapi kamu sudah mengecewakan orangtuamu. Kamu sudah dikuliahkan, dengan harapan jika punya ijasah diploma bisa mendapat pekerjaan yang lebih baik. Tapi baru berapa bulan bekerja, ibaratnya keluargamu belum menikmati hasilnya, kamu malah memutuskan ingin menikah secepatnya.
Mana janji kamu ingin membahagiakan orang tua serta adik-adikmu ? " Oom Sono mencecarku dengan kalimat-kalimatnya.
Ternyata benar kata Aira, mungkin bapak nggak sepenuhnya menyetujui pertunangan kami. Mungkin dia kecewa lalu menceritakan pada Oom Sono.
Buktinya Oom Sono yang jauh dari kami bisa tahu dan menyempatkan datang kemari. Alasannya habis mengantar les anaknya.
" Kalau aku nikah bukan berarti aku mengabaikan keluargaku. Saat ini aku memang belum bisa membalas budi pada orangtuaku, tapi suatu saat jika pekerjaanku lebih baik aku pasti membantu mereka. Aku tahu tanpa mereka aku bukan apa-apa."
Dengan hati-hati kubalas perkataan pamanku yang seolah menyudutkanku. Dia boleh saja mengemukakan pendapat, tapi bukan berarti mengatur apalagi melarang.
" Maaf Oom aku mau sholat dulu." Aku berlalu dari hadapan pamanku. Terus terang aku agak kecewa.
_______&&&&_______
Sekian dulu ya gaees. Sudah malam besok disambung lagi.
Jangan lupa kasih like dan komen yang banyak.
Lope segunung buat kalian.
__ADS_1