
Mataku masih belum terbuka ketika kudengar suara HP ku berbunyi. Kulihat di notifikasi sepertinya ada pesan WA masuk. Kubiarkan dulu karena masih berat membuka mata.
Saat azan Subuh berkumandang barulah kubuka mataku perlahan. Kuambil HP di sampingku dan kubaca siapa yang mengirim pesan WA. Ternyata Eva. Aku bangkit dan duduk di ranjang.
[ Sorry bestie, tadi malam ngerjain tugas sampai malam. Pesan WA mu nggak sempat kubaca 🙏 ] [ Mau curhat apaan sih ? sekarang aja deh tapi aku mau sholat Subuh dulu ]
[ Wooy ! aku baru aja membuka mata, masih lengket nih mata. Malah disuruh curhat 🤦♀️ Pokoknya besok kalau kamu pulang baru aku cerita ]
[ Astaga ini baru hari Kamis pagi, masih 2 hari lagi ] [ Lagian kayaknya aku nggak bisa pulang deh Sabtu besok. Ada tugas kelompok yang mau kita kerjakan hari Sabtu dan sudah disepakati, jadi harus ikut ]
[ Yaa udah deh, curhatnya diundur juga Sabtu depan 😄 ]
[ Kenapa mesti nunggu aku pulang sih, biasanya juga tinggal kirim WA 🙄 ]
[ Kali ini lain Va, aku pinginnya kita ketemu lalu ngobrol lama. Ngga asyik kalau lewat WA ]
[ Yach, malah aku yang penasaran nih ! ]
[ Udah ah sholat dulu yuk ]
Kututup WA dan kutaruh handphone di meja. Aku segera ke kamar mandi untuk wudhu kemudian sholat Subuh.
" Kok jam segini baru sholat ? " tanya ayah saat aku keluar dari kamar.
" Kesiangan Yah, maaf," jawabku singkat. Nggak mungkin aku bilang kalau habis chating sama Eva.
Pukul 6.00 pagi ibu berangkat bersama mas Joni yang sekalian ke toko. Aku masih membereskan kamar tidur dan membersihkan semua ruangan.
" Aira cepetan mandinya, aku mau ambil air buat Arkana ! " seru mbak Nia dari luar saat aku membersihkan diri.
" Sebentar, nanti kalau selesai aku juga keluar nggak mungkin di sini terus." Aku menjawab setengah menggerutu. Kuraih handuk lalu keluar.
" Nggak sabaran banget sih, nggak mau ke mana-mana juga," ucapku bersungut-sungut.
" Arkana puup soalnya, sekalian aja aku mandiin. " Mbak Nia memberikan alasan.
Aku segera berganti pakaian, pukul 6.30 berangkat ke warung. Sengaja agak pagi karena aku ingin berjalan kaki.
" Tumben nggak naik angkot Aira ? " tanya mbak Tutik yang baru pulang joging.
" Lagi pingin jalan kaki, Mbak Tutik. Biar kakinya nggak kaku hehe.. " sahutku dengan berkelakar.
Sampai di warung kulakukan tugas rutin seperti biasanya. Menjelang makan siang Raka muncul bersama temannya yang kemarin dan seorang lagi. Mereka bertiga memesan makan siang pada ibu.
" Mau minum apa nih? " tanyaku. " Es teh Mbak," jawab temannya.
__ADS_1
Segera kubuatkan 3 gelas es teh dan kuletakkan di meja mereka. Lalu aku masuk ke dapur. Temannya Raka masih seperti kemarin, memandangiku sambil senyum-senyum. Yang satunya juga ikutan. Setelah itu mereka juga berbisik-bisik. Apa mereka membicarakanku ?
" Ehem.. ehem..kok malah sembunyi di sini, Mbak Aira ? " Suara mbak Sri mengagetkanku,sebab aku sedang mengintip Raka dan dua temannya dari pintu kamar sholat.
" Duuh, mbak Sri ngagetin aja. Memang aku lagi ngumpet, soalnya itu temannya Raka mandangin aku terus. Sambil senyum-senyum lagi. Aku kan jadi risih. Memangnya ada yang aneh sama aku ? " ungkapku.
" Oh gitu. Fix, sudah jelas sekarang. Mas Raka itu beneran suka sama kamu, Mbak Aira." Mbak Sri menyatakan pendapatnya.
Aku menempelkan jari telunjuk di bibirku, saat dia mau melanjutkan ucapannya. Kuberi kode supaya diam dulu atau mengecilkan suara. Mbak Sri menutup mulutnya sembari meringis.
" Mbak Sri kalau ngomong nggak pakai disaring dulu deh. Orangnya masih di sini kok dibicarain, mana keras lagi." Aku mengomel tapi dengan suara lirih.
" Maaf deh, maaf.. habisnya gemes banget sama Mbak Aira yang nggak peka," sahutnya dengan suara berbisik. Tetap saja kularang, kucubit dia agar diam.
Tapi tak urung aku keluar juga karena banyak pengunjung warung yang mau makan siang. Raka dan temannya pun berpindah tempat duduk di pojokan, dekat dengan dapur. Ia dengan leluasa memandangiku yang keluar masuk menyajikan minuman.
" Wah ternyata Mbaknya rajin ya," celetuk temannya yang badannya tinggi. Aku pura-pura nggak mendengar.
" Ya iyalah ! Sudah cantik, solehah, rajin pula." Raka juga menimpali.
Duuh, ucapan Raka membuatku tersipu malu. Mana lagi ramai pengunjung. Untung ngga ada mas Harun yang paling suka menggodaku. Aku langsung ke dapur untuk minum karena mendadak jadi haus.
Mbak Sri malah tertawa mendengar celotehan mereka berdua.
" Mbak aku sholat dulu ya," kataku kemudian. "Oke ! " sahut mbak Sri.
" Saya pulang dulu ya, Mbak Aira." ucapnya lalu menyusul temannya keluar.
" Oh iya Terima kasih ! " jawabku cepat.
Setelah berwudhu kupakai mukena dan segera kulaksanakan kewajibanku. Seusai sholat kubuka dulu handphone kalau-kalau ada pesan masuk. Ada WA dari Yana menanyakan kabar. Kubalas singkat lalu kutaruh lagi handphone di atas mukena yang telah kulipat.
" Aira, bantu mbak Sri membereskan meja ! " perintah ibu saat aku keluar. " Ibu mau makan siang dulu," lanjutnya.
Warung sudah lengang karena pengunjung sudah pada keluar. Aku dan mbak Sri langsung membersihkan meja dan mengambil piring-piring serta gelas kotor.
" Mbak Sri tadi mau bilang apa, lanjutin dong! " pintaku saat dia mencuci piring.
" Ternyata ada yang mulai kesengsem sama seseorang nih ! " Bukannya menjawab malah meledek.
" Apaan sih, sok tahu," gerutuku. Mbak Sri tertawa mengikik.
" Jangan ngambek dong. Iya tak lanjutin. Jadi mas Raka itu sudah jelas suka banget sama kamu. Buktinya, sejak awal ketemu terus ngikutin ke sini. Besoknya pura-pura lewat padahal mau barengan pulang. Berikutnya ngajak nonton band, Mbak Aira nggak mau tapi dia nggak marah.
Terus kemarin sore bawain keranjang belanja. Sekarang bela-belain mengajak temannya makan ke sini. Itu karena dia ingin menunjukkan cewek yang ditaksirnya pada temannya. Supaya mereka percaya." Mbak Sri bicara panjang lebar layaknya pidato di mimbar.
__ADS_1
" Mbak Sri mendingan buka konsultasi jodoh deh," selorohku. " Eh tapi tunggu dulu, Mbak Sri kok tahu kalau kemarin sore Raka bawain keranjang belanja ? " tanyaku heran.
" Kemarin kebetulan angkot yang saya tumpangi pas lewat perempatan itu. Lalu nggak sengaja melihat kamu mengulurkan keranjang pada Raka. Hehehe... " Mbak Sri tertawa kecil.
Aku merasa kecolongan sama mbak Sri.
" Aku nggak terlalu berharap Mbak. Bisa jadi ia cuma iseng. Atau mungkin dia baru putus sama pacarnya lalu nyari hiburan." Aku menebak- nebak.
" Kurang bukti apalagi coba, dibilangin kok ngga percaya. Saya ini sudah pengalaman kalau mengamati tingkah laku cowok yang lagi bucin. Nggak dulu nggak sekarang jurus pedekate nya hampir sama." Mbak Sri sok sokan memberi nasehat.
" Kalaupun beneran suka aku bisa apa. Memangnya aku mesti nanya duluan, kamu suka sama aku ya ? Nggak mungkin lah. Cewek itu bisanya nunggu ditembak. Makanya mending aku cuek dan nggak perlu mikir terlalu jauh. " Kujelaskan lagi pada mbak Sri agar dia nggak menyimpulkan sendiri.
__________
Beberapa hari berlalu , ketika aku dan ibu berjalan pulang dari warung. Saat hendak melewati depan pintu pasar ada Raka yang seperti tengah menunggu seseorang.
" Lihat itu Raka, senyumnya langsung mengembang kalau ketemu kamu," ujar ibu.
" Ibu bisa aja, dia kan menghormati orang yang lebih tua makanya tersenyum." Aku menepis pernyataan ibu.
Raka pun mendekati kami, dan mensejajarkan posisinya di sebelahku.
" Hai, baru pulang ? " sapanya padaku.
" Iya, lagi nunggu siapa ? " tanyaku pula.
" Nungguin kamu, eh.. maksud saya nunggu yang mau diajak pulang bareng, hehe." Ia meralat ucapannya dengan berkelakar. Kami berjalan sembari mengobrol.
" Mbak Aira rumahnya mana sih ? " tanya dia lagi.
" Bukannya kemarin Raka sudah mengantar saya sampai depan gapura." Aku mengingatkan kembali waktu itu.
" Oh di situ ya, kirain masih jauh lagi." Ternyata dia sudah lupa atau pura-pura lupa.
" Enggak, dari gapura itu masuk sekitar 50 mtr lagi. Kalau ada waktu mainlah ke rumah saya." Aku berbasa basi menawarinya main ke rumah.
" Tapi ada yang marah nggak kalau saya main ke rumahmu ? " Ia bermaksud menggodaku atau memancing ya.
" Nggak ada lah, memang siapa yang mau marah," sahutku.
" Kalau nggak ada yang marah, ya kapan-kapan deh saya mampir ke rumah." lanjutnya
Raka mengantarku sampai gapura seperti kemarin. " Saya pulang dulu ya, besok ketemu lagi. " Ia mengangsurkan keranjang belanjaan padaku.
" Terima kasih ! " ucapku kemudian. Ia pun berlalu, kuamati punggungnya yang kekar.
__ADS_1
____________
Sudah dulu ya, to be continued gaees