
Setelah perbincangan kami dengan mbak Hartati sore tadi, malam ini mas Basuki suaminya akan kembali ke Surabaya, tempat dinasnya sekarang. Kebetulan ibu dan ayah sedang mengobrol di teras sambil minum kopi.
" Pak Wahyu, Bu Wahyu, saya permisi mau balik ke Surabaya. Nitip istri sama anak-anak hehe." Ia berpamitan sama ayah dan ibu. Mbak Hartati mengikuti di belakangnya. Aku sama mbak Nia ikut keluar dan berdiri di pintu.
" Lho mau balik to, tak kira mau menunggu sampai khitanan besok." Ibu mengomentari.
" Enggak Bu, saya cuma mengantar istri dan anak. Soalnya belum bisa cuti. Besok pas mau khitanan baru ke sini lagi sekalian ambil cuti." Mas Basuki memberitahu alasannya.
" Kok nggak tadi siang pulangnya, apa besok nggak capek begitu sampai rumah langsung berangkat kerja." Ayah menimpali.
" Sekarang kalau lewat tol bisa lebih cepat kok Pak, InsyaAllah sebelum jam 3 pagi sudah sampai. Masih ada waktu buat istirahat." Mas Basuki menjelaskan lagi.
" Hati-hati kalau begitu nak Basuki," pesan ayah.
" Iya Pak terima kasih" sahutnya lalu bersalaman dengan ibu dan ayah.
Mereka pun kembali dan menuju ke mobil. Tak lama bu Dirja dan Pak Dirja keluar diikuti dua cucunya. Mas Basuki menyalami dan mencium tangan mereka. Kemudian ia juga mencium Ernest, Ronald dan terahir mbak Tatik.
" Hati-hati ya Pah," pesannya pada suaminya. Mas Basuki mengangguk lalu masuk ke mobil. Perlahan ia meninggalkan halaman rumah bu Dirja.
Aku dan mbak Nia masuk dan meneruskan menonton televisi. Kugeser channel ke acara komedi favoritku. Mbak Nia memilih masuk kamar. Ayah dan ibu masih di teras, sepertinya sedang berbincang dengan bu Dirja. Tapi tak kudengar suara pak Dirja. Mungkin benar kata ibu orangnya sedikit kaku, hihi.
Saat jeda iklan kuambil hape di kamar. Aku mau chating sama mas Raka, mungkin belum tidur karena jam di handphone menunjuk angka 20.15. Kubuka WhatsApp, pas banget mas Raka lagi online.
[ Mas Raka, kok belum tidur ] Send. Beberapa detik langsung terbaca.
[ Belum, lagi main game. Kamu sendiri juga belum tidur ]
[ Aku mau cerita sama mas Raka . Tadi lihat nggak, waktu mengantarku pulang ada perempuan yang- lagi nyiram tanaman di halaman rumah bu Dirja. Itu ibunya Ernest ]
[ Oh itu, iya tadi lihat. Dia yang bawa mobil putih itu ya, yang kita lihat semalam. Terus kenapa ]
[ Tadi sore dia ke sini Mas, mencariku. Katanya minggu depan adiknya Ernest mau sunat. Aku diminta membantunya menyiapkan makanan dan minuman buat tamu ] [ Menurut kamu gimana Mas, boleh nggak aku bantuin mereka ]
[ Kok nanya ke aku, kamu sendiri gimana. Kalau aku tentu boleh, masa membantu tetangga dekat aku larang . Dosa dong aku 😊 ]
[ Bener nih, tapi malam Minggu besok kita nggak bisa ketemuan loh 😉 ]
[ Iya bener cantiiik, kan sudah sering kita tidak ketemuan pas malam Minggu. Paling juga besoknya aku seharian nemenin kamu di warung, seperti tadi ]
[ Oke deh, makasih ya Mas atas pengertiannya. Maaaakiiin cinta sama kamyu 😍 ]
__ADS_1
[ Widiih udah berani gombalin aku ya hmmm ]
[ Wkwkwkk siapa dong gurunya 😄 ]
[ Ya sudah sekarang aku mau tidur ya, biar besok badan segar saat berangkat kerja ]
[ Okey, bye 😘 ]
[ 😘🥰😍 ] Aku tersenyum melihat chat terakhirnya, selalu penuh emoji.
Sebelum beranjak tidur kutengok ayah dan ibu yang masih di teras. Ternyata sudah tidak ada bu Dirja.
" Ayah, ibu, kok masih di luar sih. Sudah malam loh jaga kesehatan." Kutegur mereka supaya segera masuk.
" Iya ini juga baru mau masuk. Tadi ada bu Dirja kan nggak enak kalau ditinggal," ujar ibu lalu mengambil cangkir dan piring di atas meja dan dibawanya masuk.
Ayah menutup pintu pagar lebih dulu kemudian masuk. Tak lupa mengunci pintu dan menutup korden-korden.
" Tidak usah dikunci dulu Joni belum pulang," ujar ibu yang kembali dari dapur seusai menaruh piring dan cangkir kotor.
" Nanti kan dibukain sama Nia. Bahaya kalau nggak dikunci, sudah malam." Ayah berkata seraya masuk ke kamar tidur, ibu juga ikut masuk.
Televisi kumatikan, lalu kuambil handphone yang kutaruh di sofa tadi dan beranjak tidur. Mbak Nia masih di kamar menidurkan Arkana, mungkin kebablasan ikut merem.
_____________
" Wah mbak Tatik kok repot ngasih makanan terus. Kemarin baru saja ngasih oleh-oleh," ucapku. Kuletakkan dulu sapu yang kupegang baru kemudian menerimanya.
" Nggak repot kok, kebetulan kemarin ibu beli saat belanja ke pasar. Lumayan buat ngeteh pagi-pagi hehe," kata mbak Tati lalu berbalik.
" Ya udah makasih ya Mbak," seruku sebelum dia masuk rumah. " Sama-sama," balasnya.
Beberapa hari kemudian, Jumat pagi saat sarapan di dapur aku berbincang dengan mbak Sri yang tengah mencuci peralatan makan.
" Besok aku tidak bisa ke warung lho Mbak Sri. Tetangga depan rumah mau khitanan, aku dimintai tolong bantu-bantu jika ada tamu." Kuutarakan rencana hari Sabtu padanya.
" Tetangga depan rumah bukannya bu Dirja sama cucunya yang SMA itu ? Memangnya dia belum disunat ? " tanya mbak Sri sedikit bingung. Aku jadi tertawa geli.
" Hihi bukan Ernest tapi adiknya. Kemarin malam dia datang bersama orangtuanya. Sekarang kan lagi pada libur sekolah. Rencananya mau khitan di sini, padahal sudah kelas 7 mau naik kelas 8 hehehe."
" Sudah alot dong, haha ! Dulu masih takut mungkin, kalau sudah SMP baru malu kalau temannya pada bertanya, sudah sunat belum ? Akhirnya minta disunat." Mbak Sri menanggapi ceritaku.
__ADS_1
" Kata ibunya juga begitu." Aku membenarkan.
Warung makan tak begitu ramai jika hari Jumat. Kita bisa agak santai karena cucian piring juga tak begitu banyak seperti biasanya.
Siang hari usai sholat Jumat mas Raka mengirim pesan padaku.
[ Aira, nanti sepulang kerja aku mampir ke warung ya ] Langsung aku jawab saja.
[ Oke Mas, aku tunggu ya ]
[ Oke sayang, aku makan siang dulu ya. Ini baru selesai sholat Jumat ]
[ Selamat makan Mas Raka ]
Aku tersenyum sendiri. Pasti karena besok aku seharian membantu mbak Hartati jadi hari ini ia mau menemuiku. Mas Raka... mas Raka, tidak bisa sehari saja nggak ketemu aku, hehe.
Mbak Sri hendak mencuci piring sementara aku baru selesai berwudhu.
" Sudah mulai sholat Mbak? " tanya dia.
" Iya, mbak Sri makan saja dulu, nanti gantian sholat habis itu aku bantuin mencuci seperti biasanya." Aku memberi usulan.
" Mbak Aira saja yang makan biar aku sholat duluan," pintanya.
" Tapi aku sudah wudhu nanti malah batal. Sudah ah aku mau masuk," cetusku dan bergegas masuk ke bilik tempat sholat. Segera kupakai mukena dan mulai sembahyang.
Seusai sholat, makan siang dan membantu mbak Sri mencuci piring kusempatkan merebahkan tubuh dalam bilik sembari membuka handphone. Kebetulan warung sedang tidak ada pembeli. Ibu tengah mengobrol dengan mbak Wiwit sedangkan mbak Sri lagi menyiapkan bumbu untuk gorengan besok pagi.
Aku membuka WhatsApp dan iseng melihat status dari teman-teman. Sudah lama juga tak mengintip aktifitas mereka. Ada yang bikin aku tertawa tapi tak sedikit yang membuatku iri. Lama-lama mataku terasa berat dan akhirnya tertidur.
Entah sudah berapa menit aku terpejam, tiba-tiba kudengar seseorang membangunkanku dengan lembut.
" Aira, bangun sayang. Aira, sudah sore ini aku beliin bakso." Kubuka mataku perlahan, masih belum sadar siapa yang mendekatiku.
Perlahan mataku mulai jelas, kuamati lagi seseorang yang masih mengguncang tubuhku.
" Mas Raka, kok sudah di sini. Jam berapa sih? " Langsung kuraih handphone dan kulihat di layar. Ternyata jam 16.10 .
" Sudah jam 4 sore, kamu belum sholat kan. Sana sholat dulu habis itu kita makan bakso bareng." Mas Raka membantuku berdiri karena aku masih agak limbung. Tidak biasanya aku tidur lama di warung. Mungkin karena kekenyangan saat makan siang tadi.
Seusai sholat ternyata mas Raka telah menyiapkan bakso di mangkok. Ia juga mengambilkan sendok dan garpu. Aku tinggal duduk dan makan. Hmm, so sweet banget jangan-jangan ada sesuatu nih.
__ADS_1
_____________
Sudah dulu ya gaes. Nanti disambung lagi.