
Sebenarnya aku tak perlu kaget jika bertemu Arya. Toh memang sengaja aku dan Raka nonton acara di kampungnya. Hanya saja aku tak menduga jika Raka akan bertemu Arya. Aku belum siap Raka tahu masa laluku, sebab hubungan kita juga belum lama. Belum saatnya aku menceritakan masalah pribadiku.
Keesokan hari seusai sarapan aku bergegas pergi belanja. " Tumben belum disuruh sudah buru-buru mau pergi." Mbak Sri menegurku.
" Ada deh," sahutku lalu keluar. Ibu sedang sarapan hingga tak begitu memperhatikanku. Sengaja aku menghindari bu Harti ketika lewat depan kiosnya karena aku buru-buru. Jika dia melihatku pasti memanggil dan mengajak ngobrol.
" Mbak Sum, ini catatan belanjanya. Aku ada urusan sebentar nanti balik lagi ke sini," pesanku pada mbak Sumi pedagang sayur langgananku.
" Mau ke mana hayo ? katanya sekarang sudah punya pacar baru ya." Mbak Sumi malah menggodaku.
" Kata siapa, sudah aku buru-buru nih. Lanjut nanti ngobrolnya." Setengah berlari kutinggalkan mbak Sumi yang masih terheran-heran.
Aku mau ke rumah Arya. Yach.. semalam sudah kupikirkan matang, dan kuputuskan untuk menemuinya pagi ini.
Tok tok tok. ! Kuketuk pintu rumahnya yang selalu sepi. Tak lama wajah Arya muncul setelah pintu dibuka dari dalam.
" Aira, tumben kamu kemari. Sudah lama sekali," sapanya dengan wajah berseri-seri. " Duduk Ra, mau minum apa? " tanyanya lagi.
" Makasih, aku cuma sebentar kok." Aku masih berdiri. Arya nggak jadi mengambil minum, ia berbalik dan memandangku.
" Emm... maaf sebelumnya. Kamu tadi malam lihat kan cowok yang bersamaku ? Aku sekarang jalan sama dia. Jadi kumohon kamu jangan cerita apapun tentang kita, jika suatu saat bertemu dia. Biar aku sendiri yang akan mengatakannya. Please ya, kumohon." Aku mengatakan maksud kedatanganku.
Terpaksa ini kulakukan, karena aku khawatir suatu hari Raka akan bertemu lagi dengan Arya dan akhirnya tahu. Apalagi dulu aku yang sering nyamperin Arya, pasti Raka akan berpikir yang bukan-bukan.
Arya terus memperhatikanku bicara, kemudian mengangguk. " Yang tadi malam itu pacar kamu, selamat ya," ucapnya datar.
Tuh kan, ia sama sekali nggak ada rasa cemburu atau apa lah. Padahal berapa lama kita dekat, dan berapa kali aku menemuinya lalu mengobrol berdua. Susah menebak isi hatinya. Beruntung akhirnya aku bisa menjauhinya.
" Iya, maaf ya. Kuharap kamu mengerti." Hanya itu yang kuucapkan, lalu kujabat tangannya. " Aku pamit," cetusku lagi.
Tiba-tiba Arya memelukku, aku sempat kaget tapi kubiarkan. Biarlah ini sebagai pelukan perpisahan. Saat dia melonggarkan dekapannya kemudian memegang kedua pipiku aku buru-buru melepasnya.
" Sudah ya, aku pulang. Bye.. " Kulambaikan tangan dan segera keluar dari rumah Arya. Kembali setengah berlari menuju kios mbak Sumi. Aku duduk sejenak supaya nggak ngos-ngosan.
__ADS_1
" Dari mana sih kok kaya habis lari-lari ? " tanya mbak Sumi seraya menyodorkan kertas catatan belanja. Aku membacanya lalu menyodorkan uangnya.
" Habis ketemu teman, buru-buru tadi takutnya ngelantur terus jadi lama ngobrolnya." Aku menjawab asal pertanyaan mbak Sumi.
" Oh iya, katanya sudah punya cowok sekarang. Kok ngga dikenalin ke sini ? " Mbak Sumi mengulang pertanyaan yang tadi.
" Besok aku kenalin, kalau sudah waktunya." Kujawab sambil berkelakar saja. Mbak Sumi mencibir, " Waktu nikah maksudnya," celetuknya lagi.
" Masih lama, sudah ah aku mau balik. Lama- lama ngelantur kalau ngobrol sama mbak Sumi." Aku beranjak dan bergegas kembali ke warung. Mbak Sumi tertawa.
" Dari mana Mbak Aira ? " tanya mbak Sri begitu aku masuk ke dapur dan minum air putih. Glek glek glek , aah segar !
" Dari belanja lah, pakai nanya dari mana," sahutku sembari duduk dan meluruskan kakiku.
" Iya tahu dari belanja, tapi pasti habis menemui seseorang kan ? Kelihatan tadi buru-buru keluar." Mbak Sri berkata setengah berbisik. Kok dia bisa tahu sih ?
Aku menengok ke depan, ibu sedang melayani pembeli. Berarti aman. " Aku dari rumah Arya," ucapku pelan. Akhirnya aku memberi tahu mbak Sri. Kuceritakan tentang tadi malam saat ketemu Arya, kemudian saat aku menemuinya barusan.
" Mbak Aira nekat, gimana kalau tiba-tiba Raka datang lalu dia melihat kamu berada di sekitar kampungnya Arya. Bisa-bisa curiga dia." Mbak Sri juga berkata pelan. Ia menggelengkan kepalanya mendengar ceritaku.
" Sebaiknya kamu memberitahu Raka tentang siapa saja cowok yang pernah dekat denganmu, Mbak. Dengan begitu nggak ada lagi yang perlu dikhawatirkan." Mbak Sri memberi saran untukku.
" Maksudku memang begitu, tapi nanti bukan sekarang. Belum saatnya kuceritakan masalah pribadi sama Raka. Aku belum mengenal dia sepenuhnya, apakah dia benar- benar serius denganku atau hanya sekedar berteman. Meskipun perlakuannya amat sangat perhatian, lembut dan sayang padaku. Namun sampai detik ini dia belum pernah mengucapkan kata sayang atau cinta." Aku pun curhat sama mbak Sri.
" Mungkin Raka itu type cowok yang nggak suka mengobral kata-kata rayuan. Dia lebih suka membuktikan dengan tindakan, bukan hanya ucapan di mulut. Intinya dia lebih suka memberi yang pasti bukan gombalan yang nggak bermutu."
" Eva juga pernah bilang seperti itu. Tapi sebagai cewek tentu pingin dong sekedar mendengar kata ' aku sayang kamu ' atau ' aku cinta kamu '. Aku berkata dengan mencerucutkan bibirku.
" Karakter orang kan beda-beda Mbak. Sudah jangan cemberut gitu, yuk keluar itu piring kotornya diambil mumpung ibu lagi ngobrol sama pembeli." Mbak Sri menyudahi obrolan kami. Aku keluar untuk mengambil cucian piring dan gelas sekaligus membersihkan mejanya.
Sehabis makan siang dan sholat Dzuhur Raka datang. " Tumben kemari, padahal baru tadi malam kita ketemuan, hehehe ! " sapaku sembari menggodanya.
" Disuruh bapak membawakan barangnya ibu yang ketinggalan. Soalnya mau diambil sama yang pesan." Ia pun menjelaskan alasan dia ke sini. Ternyata disuruh ayahnya, hi hi hi ! Aku tertawa dalam hati. Kirain kangen sama aku.
__ADS_1
" Yuk ke dalam saja, kubuatkan teh manis hangat." Aku mengajak Raka masuk ke dapur. Setelah kubuatkan teh dia duduk di dalam bilik tempat sholat.
Mbak Sri yang sedang membuat bumbu ayam goreng mengedipkan mata ke arahku. Aku mendekatinya. " Apa kubilang tadi, untung mbak Aira sudah kembali ke warung." Ia membisikiku.
" Ssttt.. " Aku memberi isyarat supaya diam. Kudekati Raka dan duduk di sebelahnya. Kemudian ibu pun masuk ke dapur, kebetulan warung sudah agak lengang karena sudah lewat jam makan siang.
" Makan dulu nak Raka, biar diambilkan sama Aira." Ibu menawari Raka dan menyuruhku mengambilkannya.
" Mau makan nggak ? " kutanyai dulu Raka. " Aku sudah makan tadi di rumah. Tapi ya sudah makan sedikit saja." Aku beranjak mengambilkan makan siang buat Raka. Mbak Sri keluar menemani ibu di depan seusai mencuci piring.
Setelah menghabiskan nasinya Raka mengajakku keluar. " Main ke kios ibuku yuk, kan aku sudah sering ke sini, sekarang gantian kamu yang ke sana. Sekali- sekali lah," pintanya.
" Kok sekali-sekali sih, aku tuh hampir tiap hari mampir di kios ibumu. Tiap mau belanja asal melihatku pasti ibu memanggilku." Aku menyangkal perkataan Raka. Ia pun tertawa.
" Tapi kan cuma mampir, sekarang mumpung ada aku kita ngobrol-ngobrol di sana. Yuk, biar aku yang bilang sama ibu." Raka masih membujukku. Ia beranjak dari bilik lalu menarik pelan tanganku.
" Buk, saya mau mengajak Aira ke kios ibu saya. Sekali-sekali boleh kan ! " Raka meminta ijin pada ibuku. Tangannya masih menggenggam tanganku.
" Ya, nggak apa-apa silakan. Sekali-sekali Aira main ke tempat ibumu biar tambah akrab " ujar ibu.
" Tapi aku juga sering mampir kok Buk, kalau mau belanja pasti melewati kiosnya bu Harti." Aku memberi tahu ibu.
Kita berdua keluar dari warung dan berjalan kaki menuju kios bu Harti. Raka terus menggandeng tanganku.
Sampai di kios bu Harti beliau terkejut melihatku bersama Raka. Namun wajahnya nampak senang.
" Aduh tumben main kemari berdua. Sebenarnya ibu sering juga menyuruh Raka mengajak mbak Aira ke rumah, tapi dia selalu bilang besok.. besok terus. Sekarang baru mau mengajak ke kios." Bu Harti langsung bicara banyak.
" Aira masih malu Buk, kalau kuajak ke rumah." Raka asal saja menjawab. Aku hanya tersenyum.
" Kenapa malu, kan sudah kenal lama sama ibuk. Tempo hari waktu pulang dari Joga juga mampir ke rumah kan." Bu Harti berkata lagi.
" Enggak kok Buk, cuma belum sempat saja. Lain kali deh saya ikut Raka ke rumah." Aku pun menengahi pembicaraan mereka. Sebenarnya aku memang belum siap bertemu dengan keluarga Raka yang lain. Waktu kemarin mampir itu karena ia bilang hanya ingin mengambil motor.
__ADS_1
***************"""****************
Bersambung