Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 64 Ngambek


__ADS_3

Satu jam menunggu Raka belum muncul juga. Aku berniat makan sendiri saja. Ngapain juga aku menahan lapar hanya karena menanti seseorang. Belum tentu dia juga mikirin aku.


" Assalamualaikum ! " terdengar suara Stella dari luar. Di belakangnya ada mama dan papanya.


" Wa'alaikum salaam ," sahut kami semua. Aku pun keluar menyalami mbak Tika dan keluarga kecilnya


" Stella, temani tante Aira makan yuk ;" ajakku pada keponakan cantikku ini. Dari pada makan sendiri sambil mengingat Raka malah bikin nafsu makan hilang.


" Nanti saja, Stella mau makan bareng mama," sahutnya sembari berlari menemui kakek dan neneknya.


" Mbak Rina belum datang ya, Bu." Mbak Tika menanyakan mbak Rina. Bersama suaminya ia pun sungkem sama ayah dan ibu, tak lupa Stella juga mereka ajari untuk sungkem sama kakek dan neneknya.


" Belum, katanya ada acara dari keluarganya Krisna. Kalau nggak nanti sore paling besok pagi sampai sini. Tapi dia sudah mengucapkan selamat lebaran lewat telepon tadi pagi." Ibu memberi tahu mbak Tika.


" Bayu kok juga belum datang , padahal rumahnya dekat." Mbak Tika menggerutu.


" Tadi Bayu juga sudah menelpon, katanya tadi pas mau ke sini Risma sakit perut .Kandungan Risma kan tinggal menghitung hari, Bayu nggak mau meninggalkan Risma barang sebentar. Ia khawatir kalau pas kontraksi lalu dia nggak ada di samping istrinya." Ayah menimpali ucapan mbak Tika.


" Tapi kan sudah tahu HPL nya, asal Risma baik-baik saja kan bisa mereka kemari. Memangnya dia nggak mau didoakan orangtua biar persalinan nya lancar." Mbak Tika masih belum puas dengan jawaban ayah.


" Huush, jangan berkata seperti itu. Tadi juga dia bilang kalau sudah agak mendingan mau ke sini." Ibu pun menjelaskan lagi. Mbak Tika menghela nafas, lalu beranjak ke meja makan.


" Aira jadi makan nggak, yuk aku temani ! " serunya memanggilku. Ya ampun, aku sampai lupa kalau belum makan. Aku mendekati mbak Tika lalu kita makan bersama.


" Stella, makan dulu sayang ;" teriak Mbak Tika. Stella sedang bermain dengan Arkana di kamar. Ia pun keluar setelah dipanggil mamanya.


" Cowokmu nggak ke sini, Ra ? " tanya mbak Tika sembari menyuapi Stella. Aku menggeleng. " Kenapa, lagi marahan ya ? " tanyanya lagi.


" Enggak, mungkin lagi ada acara keluarga. Tadi malam dia bilang begitu." Aku menjawab asal supaya mbak Tika nggak bertanya lagi.


Selesai makan aku masuk ke kamar dan membuka handphpne, barangkali ada WA masuk. Ternyata banyak ucapan Idul Fitri dari teman-teman SMA maupun teman di pasar. Kubalas satu persatu chat mereka. Sejauh ini teman-teman sekolah masih menghubungiku sekalipun mereka sudah pada sibuk kuliah.


" Kok Raka belum menghubungiku ya," gumamku. Terlintas ide ingin mengirim pesan padanya, tapi ku urungkan. Biarin aja, mau sampai kapan dia melupakanku. Mungkin dia lagi senang-senang bersama keluarga atau teman-teman nya hingga sama sekali ngga ingat padaku.


Malam hari baru lah Raka mengirim pesan WA. Aku sudah mengantuk dan hendak tidur.


[ Aira cantik, maaf aku baru bisa menghubungi kamu 🙏 . Seharian ini aku ada acara terus. Tadi pagi halal bihalal di masjid terus lanjut silaturahmi di tempat famili-familinya ibu. ]

__ADS_1


Aku enggan membalas pesannya. Di samping kesal aku juga sudah letih karena seharian tadi bercengkerama dengan dua keponakanku, Stella dan Daffa. Si kecil Arkana juga sudah pingin nimbrung bersama kakak-kakaknya.


[ Aira kok ngga balas sih, sudah ngantuk ya. Oke deh selamat tidur, besok aku ke rumah kamu. Sekali lagi ma aaaf banget, please jangan marah ya. 🙏😘 ]


Raka nggak mengirim pesan lagi. Mungkin dia mengira aku sudah tidur. Biar saja, baru kali ini aku benar-benar kesal sama dia.


__________________


" Tante Airaaa, ada yang nyari tuh ! " teriak Stella dari pintu dapur saat aku tengah mencuci piring bekas sarapan kami sekeluarga.


" Nggak usah teriak dong, memang siapa yang nyari tante Aira ? " tanyaku. Paling juga Eva, atau Raka.


" Kata mama pacarnya Tante Aira," sahut Stella sambil berlari keluar. Dasar mbak Tika, anak kecil dikasih tahu soal pacar. Segera kuselesaikan pekerjaanku lalu keluar menemui Raka.


" Hai, lagi apa." Raka berdiri dan menyapaku saat aku tiba di depannya.


" Nggak lagi apa-apa," sahutku ketus lalu duduk di seberangnya. Raka juga duduk.


" Kata mbak Nia tadi kamu lagi nyuci piring." Ia bertanya lagi sembari tersenyum menatapku. "Sudah tahu pakai nanya." Aku menjawab singkat. Kuhindari tatapannya.


" Tapi kan bisa kabari aku, bukannya malah keasyikan," celetukku. Kulepaskan tanganku yang digenggamnya, malu kalau ada yang melihat. Untung keluargaku sedang bercengkerama di teras depan sehingga tak menghiraukan kami.


" Handphoneku dibawa adik sepupuku yang masih SD. Dia senang main game yang ada di aplikasi HP ku. Setiap kuminta sebentar diambil lagi. Kalau nggak kukasih dia nangis, aku nggak enak sama pamanku." Entah benar atau tidak alasan Raka kali ini.


" Ada saja alasannya ya," ucapku sambil menghela nafas. Raka menarik tanganku dan membawaku duduk di sebelahnya di sofa panjang.


" Aku nggak mengada-ada. Mana mungkin aku bohong, kalau boleh memilih aku mending mengobrol berjam-jam sama kamu daripada kumpul sama teman-teman sekalipun banyak makanan." Raka mencoba meyakinkanku. Aku mulai percaya tapi masih mendongkol saja.


" Ya sudah, buat menebus kesalahanku kemarin sekarang kita jalan yuk. Kamu pasti bosan kan di rumah terus." Ia pun mengajakku keluar.


" Malas ah," ucapku tak bersemangat. Sebenarnya pingin keluar juga dari pada nanti disuruh menemani 2 ponakanku bermain. Tapi aku masih sedikit kesal sama Raka.


" Malas apa marah, ayolah jangan ngambek terus dong. Kalau nggak mau ya sudah kita ngobrol aja di rumah." Raka nggak memaksaku lagi.


" Ya deh, aku mau. Sebentar aku ambil handphone dulu." Akhirnya aku menuruti ajakannya. Kuambil HP ku di kamar lalu kuajak Raka berangkat sekarang. Kami pun pamit sama ayah dan ibu serta yang lain.


" Pak, Buk, kami mau keluar dulu," ucap Raka sembari menggandeng tanganku. Mbak Tika dan mbak Rina melirik tangan kami.

__ADS_1


" Ehem.. ehem.. " Mbak Tika berdehem sambil mengedipkan mata menggodaku.


" Oya nak Raka, hati-hati pulangnya jangan sore-sore ya." Ibu berpesan pada kami.


" Baik Bu, Assalamu'alaikum ! " Kami berdua keluar. " Waalaikum salaam ," jawab mereka serempak. Raka menghidupkan motornya dan kami pun berlalu.


" Kita ke rumah temanku dulu, kemarin sudah janjian mau ketemuan," ujar Raka. Aku hanya mengangguk, masih enggan buat bicara karena kesalku belum hilang.


Kita pun sampai di depan rumah yang terasnya agak luas. Di situ ada beberapa cowok seusia Raka.


" Hai Bro, kok baru datang. Kita sudah dari tadi nungguin sampai habis minuman yang disuguhin hehehe. " Celetuk salah satu dari mereka.


" Sori deh, soalnya, aku kan harus menjemput dia dulu," sahut Raka sambil menunjukku dengan dagunya.


" Dia siapa, kenalin dong Ka. Kamu punya cewek ngga bilang-bilang, khawatir kita rebut apa," seloroh teman satunya lagi. Serentak mereka semua tertawa.


" Boleh saja kalau mau kutampol pakai sendal. " Raka pun menjawab dengan bercanda juga. "Kenalin ini cewekku, namanya Aira." Raka mengenalkanku pada teman-teman nya. Satu persatu temannya menjabat tanganku.


" Silahkan dinikmati , Mbak." Tuan rumah menawari ku minum dan beberapa makanan kecil yang tersaji di atas meja. Aku mengangguk, lalu keempat cowok di sekelilingku ini mulai asyik mengobrol. Sesekali Raka mengambil makanan untukku.


" Kok dari tadi wajahnya cemberut aja, kenapa tuh cewekmu ? " bisik salah satu temannya.


" Biasa lah cewek kalau lagi dapet bawaannya ngambek melulu," timpal yang satunya lagi sambil senyum-senyum.


" Huush,, ngawur kamu. Kalau nggak tahu jangan asal nyeplos." Raka menegur mereka. Dia menghampiriku lalu memegang tanganku.


" Jangan marah ya, temanku memang suka bercanda." Diusapnya pipiku, namun segera kutepis tangannya pelan. " Malu ah ! " Aku tersipu.


Dadaku berdesir saat ia menyentuh pipinku tadi. Sampai hampir lupa kalau aku sedang ngambek sama dia.


" Eits, jangan senang dulu, aku masih marah sama kamu ya ," cetusku sambil mencecarnya dengan cubitan.


" Lho, kok gitu sih. Eh.. eh.. sakit.. " Ia berusaha menepis cubitanku. Teman-teman nya malah asyik mengobrol pura-pura tak melihat kami.


***************************


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2