Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 81 Kau Milikku


__ADS_3

Tiga hari sudah. Tiba di hari Sabtu, warung makan libur karena akan persiapan menerima tamu nanti malam. Raka sudah mengabariku berapa orang yang akan datang nanti malam.


Kemarin sore ibu memberitahu mbak Sri. " Mbak Sri, besok warung makan libur sehari. Soalnya malamnya kita akan kedatangan tamu, jadi pagi dan siangnya kita persiapan memasak dan lain-lain untuk menyambut mereka." Ibu diam sejenak, belum memperjelas alasan mengapa warung akan tutup sehari. Aku juga diam saja, sengaja mengerjai mbak Sri.


" Memangnya akan ada tamu siapa dan dari mana Bu, kok persiapannya dari pagi." Mbak Sri langsung menyahut sambil mengerutkan dahinya.


Sesaat kemudian," Ooh saya tahu, pasti mbak Aira mau lamaran kan ? Hayo ngaku saja nggak usah main tebak-tebakan. Waah mbak Aira begitu ya , nggak ngasih tahu lebih dulu." Mbak Sri pura-pura marah. Sedari tadi aku menahan tawa.


" Hahaha, sengaja mau bikin surprise, kasih tahunya mendadak aja. Eh nggak tahunya udah keduluan ibu, tapi belum selesai ibu bicara mbak Sri udah nyahut duluan." Akhirnya kujelaskan padanya biar nggak marah betulan.


" Iya, sebenarnya ibu tadi juga sengaja berhenti dulu biar mbak Sri bertanya-tanya. Tapi ternyata sudah ketebak duluan, hehe ! " Ibu tertawa kecil.


" Besok mbak Sri ke rumah ya, bantuin ibu masak. Soalnya Arkana lagi usil-usilnya jadi Nia nggak bisa membantu di dapur." Ibu meminta mbak Sri datang ke rumah, soalnya kalau cuma aku sama ibu nanti nggak selesai- selesai masaknya. Mbak Nia dan mbak Risma sama-sama punya balita. Mbak Tika sudah cuti kerja, tapi cuti hamil. Sama saja nggak bisa membantu.


" Siaap Bu, untuk mbak Aira saya siap membantu apa saja, sampai hari H. Sampai mbak Aira menikah dan punya anak." Mbak Sri sampai semangat 45 menyuarakan kesediaannya.


" Nggak usah lebay, biasa aja kaleee. Pokoknya aku berharap kalau mbak Sri ikut terlibat di acara spesialku besok atau pun nanti saat menikah. Bukannya kita sudah seperti keluarga, ya nggak Buk ? " kutoleh ibu yang tengah mengaduk kuah opor ayam. Ibu mengangguk mengiyakan pendapatku waktu itu.


Dan pagi ini jam 8.00 lebih sedikit mbak Sri baru saja datang. Ibu menyuruhku membuatkan minum sekalian mengajaknya sarapan. Karena hanya aku saja yang belum sarapan. Aku memang selalu yang terahir kalau urusan makan.


" Mbak Sri, sarapan dulu yuk ! Mumpung belum disuruh ke dapur lho sama ibu." Aku pun mengajaknya menuju meja makan. Pagi tadi ibu sudah menyiapkan menu untuk hari ini sarapan dan makan siang. Namun mbak Sri menolak dengan halus.


" Tadi aku sudah makan di rumah, masih kenyang," ujarnya memberi alasan.


" Yaa, kan tadi pagi. Sekarang sudah lapar lagi kan, perjalanan ke sini berapa menit hayo. Makanya ayo temani aku makan. Biar aku makannya jadi tambah semangat kalau ada yang nemenin. Sini aku ambilin." Aku langsung mengambil piring dan menyendokkan nasi. Dia nggak bisa menolak lagi.


" Nih, lauknya pilih sendiri." Kusodorkan piring di hadapan mbak Sri. Lalu aku juga mengambil nasi buatku sendiri. Kita makan tanpa suara, menikmati masakan ibu yang beda dengan yang biasa dijual di warung makan.


Beberapa menit kemudian kita sudah disibukkan dengan pekerjaan. Mbak Nia hanya membantu beres-beres rumah bersama ayah sambil mengawasi Arkana yang berlarian ke sana kemari.


" Mbak Sri, nanti kalau mau sholat di kamarku aja. Aku ada mukena cadangan juga kok." Aku memberitahu mbak Sri .


" Oke makasih, aku bawa mukena kok tadi." Ternyata dia sudah membawa mukena sendiri, tapi paling tidak aku sudah menawarkan. Masa tuan rumah nggak menyediakan fasilitas buat tamunya.

__ADS_1


Saat tiba waktu Dzuhur kita istirahat makan siang lalu sholat bergantian. Kemudian melanjutkan pekerjaan yang tinggal sedikit lagi. Semua bahan dan bumbu sudah siap, tinggal dieksekusi di atas kompor.


Sekitar pukul 15.00 Mbak Tika datang bersama Stella. Ponakan cewekku ini sudah sekolah SD, agak berkurang cerewetnya nggak seperti waktu masih TK. Tapi masih centil dan tambah pintar.


" Hallo ponakan tante Aira yang paling cantik, sudah makan belum." Langsung kusambut dia dan kutawari makan.


" Sudah tadi pulang sekolah langsung makan. Tapi kalau sekarang disuruh makan lagi aku mau. Asal ada ayamnya," sahutnya cepat dan langsung membuka tudung saji. Tuh kan bener dia makin pintar.


" Huuu bilang saja masih lapar, iiih gemes deh tante Aira." Kucubit pipinya yang masih tembem. " Oh iya, mbak Tika nggak bawa motor terus ke sini naik apa, nggak diantar mas Toni ? " tanyaku seraya melongok ke depan. Nggak ada mas Toni di sana.


" Mas Toni lagi dinas luar kota, aku tadi naik taxi online. Nggak mungkin lah bawa motor dengan perut gede begini, mana ngeboncengin Stella juga." Mbak Tika bicara dengan ngos-ngosan. Mungkin karena habis berjalan kaki dari gapura ke sini.


" Kenapa tadi ngga telpon aku biar aku samperin ke gapura. Minimal aku bisa bantu bawain tas dan menggandeng mbak Tika." Aku kasihan juga sama dia. " Maaf ya Mbak aku udah ngerepotin. Tahu kaya gini tadi nggak usah ke sini juga nggak pa pa." Aku mengelus perut dan pundak kakakku ini.


" Haissh apaan sih kamu, aku nggak pa pa kok. Ini tadi cuma capek jalan kaki dari gapura, habis ini juga baikan. HPL nya masih satu bulan lagi kok, cuma perutnya memang gede banget karena bayinya laki-laki." Mbak Tika akhirnya memberi bocoran tentang jenis kelamin calon bayinya.


" Bener nggak apa-apa, kalau begitu minum dulu biar diambilkan Aira." Ayah menimpali. Aku beranjak mengambil air putih buat mbak Tika. Ibu muncul dari dapur hendak menemuinya juga.


" Mbak Tika, kasihan perutnya udah gede tapi suaminya lagi dinas luar kota. Dia ngos-ngosan tadi jalan kaki dari gapura." Aku menuang air putih ke dalam gelas. " Sebentar ya aku kasih minum dulu buat mbak Tika," lanjutku sambil keluar.


Setelah minum mbak Tika mulai agak baikan. Nafasnya nggak ngos-ngosan lagi.


" Apa memang seperti ini ya kalau lagi hamil. Aku jadi takut nih ! " celetukku spontan.


" Hamil memang repot, tapi hampir semua wanita mengalaminya dan baik-baik saja. Itu sudah kodrat, prosesnya memang seperti itu." Ibu memberi wejangan pada kami, terutama aku yang sebentar lagi mau menikah.


Jam 7 malam mbak Nia mengingatkan, ternyata belum ada tisyu. Perasaan masih punya tapi ternyata sudah habis.


" Ya sudah biar aku yang beli Mbak," tukas mbak Sri. " Tapi belinya di mana aku nggak tahu, hehe ! " ia pun terkekeh.


" Yuk sama aku aja, di depan gapura ada toko kelontong." Aku mengambil uang lalu bergegas keluar bersama mbak Sri.


Saat hendak keluar dari toko, tak sengaja aku melihat 2 mobil beriringan lalu berhenti di sebelah kanan dan kiri gapura. Nampak Raka keluar dari mobil bersama nenek dan temannya yang bernama Doyok. Lalu menyusul yang lain, ada paman dan kakak sepupunya. Ada juga yang aku nggak kenal.

__ADS_1


" Ssst Mbak Sri, tunggu dulu. Lihat itu, mereka sudah datang kita jangan ke sana dulu, malu nanti ketahuan belum siap. Biar mereka masuk gapura dulu." Kutahan mbak Sri yang hendak melangkahkan kakinya.


" Terus gimana, kalau kita di belakang mereka nanti masuk rumahnya keduluan dong." Mbak Sri malah panik. Langsung kutarik tangannya supaya mengikutiku.


" Tenaaang, ada jalan pintas selain lewat gapura. Ayo cepat sebelum mereka sampai ! " Setengah berlari aku ajak dia lewat jalan setapak samping masjid. Tak berapa lama kita sampai rumah, tentunya dengan nafas ngos-ngosan. Kita berdua langsung tertawa. Yang lain pada heran.


" Tamunya sedang menuju ke sini, tadi kita di belakangnya. Untung mereka nggak lihat." Aku memberitahu supaya ibu dan bapak bersiap di depan.


____________


" Makasih ya Raka, kamu sudah menepati janjimu. Sekarang aku yakin kalau kamu serius sama aku."


Aku masih mengobrol dengan Raka seusai acara lamaran. Yang lain sudah pada pamit sekitar jam 22.00 tadi. Raka memilih untuk pulang belakangan.


" Makasih juga cincinnya, juga kado-kadonya tadi. Kamu kok bisa tahu ukurannya sih," ucapku tersipu. Bagaimana tidak, yang kubicarakan itu maharan yang dibawa Raka. Isinya ada kerudung, baju, alat make up dan beberapa pakaian dalam. Yang terahir ini yang aku heran karena ukurannya bisa sesuai denganku.


" Sama-sama, jelas aku tahu ukurannya karena hampir tiap hari aku melihatnya. Eeh maksudku tiap hari kita ketemu." Raka menahan tawanya.


" Tapi maaf aku nggak bisa menikahimu dalam waktu dekat. Aku mau menabung dulu, nanti gajiku biar kumasukkan ke rekeningmu. Kamu saja yang menyimpan uangnya, supaya lebih aman. Kalau di aku nanti aku tergoda mau beli ini itu."


Aku hendak membuka suara tapi Raka menutup mulutku dengan jarinya . "Jangan menolak, aku cuma nitip biar uangnya lekas terkumpul dan kita bisa secepatnya menikah. Katanya sudah nggak sabar pingin tidur sama aku," cetusnya dengan tersenyum menggodaku.


" Apaan sih, kapan aku bilang begitu. Itu sih mau kamu," sahutku seraya kucubit pingangnya. Ia terhenyak kaget. Sejenak ia diam lalu menatapku. Diraihnya tanganku dan menggenggamnya erat.


" Mulai malam ini aku nggak ragu lagi melakukan sesuatu untuk membuatmu bahagia. Biar semua orang tahu, kamu adalah milikku. Aku sudah memintamu secara resmi pada orangtuamu. Aku juga telah menyematkan cincin di jari manismu tanda jika kamu telah terikat denganku. Hubungan kita sudah nggak main-main." Raka mengecup jemariku.


" Mulai besok aku nggak akan sungkan jika masuk ke kamarmu, kamu kan calon istriku." Raka mengerling nakal. Dasar otak mesum, pikirannya ke kamar melulu.


_____________$$_______


Bersambung. Mohon maaf penulis baru bisa up dua hari sekali karena kesibukan.


Ke depannya mungkin bisa up tiap hari. Tetap vote like dan komen ya. Biar ceritanya bisa berkembang lewat saran2 dari kalian. Thanks

__ADS_1


__ADS_2