
Hari- hari pun berlalu seperti biasa. Aku sudah ngga mengingat tentang perkataan ibu tempo hari. Setiap hari aku menjalankan tugas seperti hari2 sebelumnya. Berangkat ke pasar pagi hari dan pulang sore hari menjelang magrib. Ibu ngga mau buka sampai malam seperti dulu. .Karena sekarang sudah banyak pedagang kuliner yang berjualan pada malam hari. Apalagi ibu juga mulai sering kecapekan.
Oh iya. Karena sekarang aku sudah ngga sekolah maka aku berangkat ke pasar lebih awal.Tapi tetap melakukan pekerjaan di rumah dulu. Ibu dan Mbak Nia masih tetap berangkat jam 6.00.
Pagi ini selesai sholat subuh aku mulai menyapu lantai kamarku. Berlanjut ke ruang tengah dan ruang tamu. Terahir menyapu teras depan. Biasanya Eva juga melakukan kegiatan yang sama denganku kalau pagi. Tapi sejak ikut seleksi masuk PTN dia sudah mulai sibuk mondar mandir mengurus ini itu. Kami berdua jadi jarang ketemu.
Selesai menyapu aku masuk ke kamar dan duduk menghadap meja. Buku-buku sekolah yang masih ada di meja aku bereskan. Kumasukkan ke dalam kantong kresek besar dan kutaruh di bawah meja. Buku tulis yang masih kosong tetap aku biarkan di meja. Kadangkala aku sering coret2 kalau lagi suntuk pikiran. Seperti pagi ini.
" Belum mandi Aira ? " Ayah yang baru selesai sarapan sudah berdiri di pintu kamarku yang kubiarkan terbuka.
" Bentar, Yah. Masih malas. " Jawabku . Ayah berbalik dan keluar menuju teras. Aku mengambil buku tulis dan pulpen. Secara refleks tanganku menari di atas kertas dan menulis sebait puisi. Entah mengapa jika ada yang kupikirkan tangan ini dengan mudah merangkai kata-kata.
* Pesona apa yang ada pada dirimu,
hingga aku begitu kagum dan tak dapat melupakanmu
Seperti air mengalir, sayangku padamu tak kan pernah berhenti **
Tak sadar aku jadi melamun. Teringat hari2 kemaren ketika masih di sekolah.. Aku pernah menulis puisi ini di dalam kelas. Waktu itu pelajaran kosong dan hanya diberi tugas mencatat. Kebetulan Dika duduk di belakangku bersama Faris. Seperti biasa kalau jam kosong pasti pada ngobrol dan bercanda. Aku iseng mencoret coret meja. Dan tertulis kalimat puisi ini. Faris yang selalu usil melihatku menulisi meja pun mendekat. Tiba2 ia membaca tulisanku dengan keras.
Betapa malunya aku saat itu. Apalagi Dika juga ikut melirik meja ku. Yana yg duduk di sampingku pun tertawa mengejekku.
__ADS_1
Huuuh ! Dasar Faris. Aku jadi senyum2 sendiri mengingat kejadian itu.
Terdengar suara langkah kaki mendekati kamarku. Ternyata Ayah. " Sudah jam setengah tujuh Aira. Cepat mandi dan berangkat ke pasar. Nanti ibumu marah lho . " Ayah mengingatkanku.
Aku beranjak dari kursi dan mengambil handuk.
" Ini baru mau ke kamar mandi, Yah! " Sahutku.
Tak lama aku sudah berada dalam kamar mandi. Ku basahi rambutku agar kepalaku enteng. Pikiranku jernih dan bisa melupakan kesedihanku.
Sedih karena berpisah dengan teman dan sahabat di sekolah. Juga sedih karena tidak dapat melanjutkan sekolah ke jenjang yg lebih tinggi. Meskipun hanya dua tahun saja ngga boleh.
Selesai mandi aku keluar dan masuk ke kamar untuk berganti baju. Tak lama aku pun udah rapi dan melangkah keluar rumah menuju ke pasar ke warung makan.
Ketika menunggu angkot lewatlah Tante Fina ibunya Eva yang baru pulang dari pasar bersama Bude Fara budenya Eva.
" Mau ke pasar ya, Aira? " tanya Tante Fina.
" Oh iya. Tante ikut menyayangkan kamu ngga jadi kuliah bareng sama Eva. " Lanjutnya.
" Tadinya Tante sempat senang karena Eva ada temannya. Tapi kamu malah ngga jadi. "
__ADS_1
Tante Fina berkata dengan wajah sayu. Bude Fara juga menatapku.
" Ngga pa pa Tante. Mungkin tahun depan Aira bisa nyusul Eva " . Jawabku sambil menahan airmata yang sempat menggenang di sudut mata. Aku mengerjap agar airmata ini ngga jatuh di pipiku.
Untung sudah ada angkot datang sehingga aku bisa menghindari mereka. Aku cuma ngga ingin pembicaraan berlanjut dan berujung sedih lagi.
Aku sudah mencoba ikhlas dan menerima. Aku ngga mau menyusahkan orangtuaku.
Sampai di pasar aku melangkah menuju warung makan. Karena masih pagi jadi banyak yang harus aku kerjakan di sini. Soalnya warung ibu memang ramenya kalau pagi. Banyak pedagang asongan atau pedagang sayuran keliling yg sarapan di sini .
Ada juga pedagang bakso atau nasi goreng yg berjualan malam hari. Mereka belanja bahan untuk keperluan jualan nanti malam.
Lama-lama aku pun mulai terbiasa dengan suasana pasar dari pagi sampai sore. Biarlah akan kucoba menjalani apa yang ada di depanku saat ini.
Untuk sementara aku lupakan keinginan untuk kuliah. Akan kucoba berbaur dengan orang2 di sekelilingku . Yang bukan saja seusia ku. tapi dari semua golongan usia. Kebanyakan lebih tua sih.
Hahahaaa ! Inilah duniaku.
_____
Bersambung
__ADS_1