
Malam Minggu kemarin Eva benar-benar nggak pulang. Aku tidak menghubunginya karena nggak mau mengganggu studynya. Sebenarnya hari Sabtu ada kumpulan panitia remaja di rumah Mbak Ella yang mau menikah tanggal 1 Januari nanti. Tapi aku sengaja nggak datang.
" Kok nggak ikut rapat panitia kenapa, Ra? " tanya mbak Nia kala itu.
Aku tak beranjak pergi meskipun ayah sudah menyerahkan undangan dari kak Vicky.
" Malas Mbak, ceweknya kebanyakan anak SMA. Aku paling tua, malu lah. Lagian mbak Ella juga dulunya nggak pernah ikut Karang Taruna. Ngumpet aja di rumah nggak pernah bergaul sama tetangga. Jadi nggak respek sama dia," ungkapku.
Mbak Nia nggak bertanya lagi setelah kujelaskan alasanku waktu itu.
" Aira, kok nggak mandi malah langsung tiduran. Bajunya kan kotor, nanti sepreinya bau lagi," tegur ayah saat menengokku di kamar dan aku tengah rebahan sepulang dari warung tadi.
" Nanti dulu Yah, tanggung nih lagi pewe ! " sahutku ringan.
Pewe itu bahas gaul ( PW) singkatan dari Posisi Wenaak. Tapi ayah mana tahu hehe.
Aku masih enggan beranjak mandi karena masih terbayang saat bersama Raka tadi. Ia mulai sering menungguku buat pulang bareng dari pasar. Dan tanpa diminta langsung mengambil alih keranjang belanja yang kubawa. Hal sepele tapi menurutku itu romantis.
" Tapi sebentar lagi Magrib lho, jangan sampai ketiduran ! " pesan ayah. Aku beranjak dan duduk di pinggir ranjang.
" Iya.. iya.. ini udah bangun kok," sahutku lalu menuju kamar mandi.
Seusai membersihkan diri sekaligus sholat Magrib aku duduk di ruang tengah bersama ibu dan mbak Nia.
" Ayah masih di masjid ya, Buk ? " tanyaku.
" Iya sekalian nunggu waktu Isyak, " jawab ibu sembari menikmati teh panas.
" Itu si Raka kok jadi sering barengan sama kamu. Sampai mau membawakan keranjang segala." Ibu menyambung pembicaraan lagi.
" Raka anaknya bu Harti ? Ciyee ada yang lagi happy nih," celetuk mbak Nia.
" Iya bener, padahal katanya dia kuliah tapi kok sering ke pasar," kata ibu lagi.
" Mbak Nia apaan sih, sok tahu ! Tapi waktu itu kan dia bilang lagi liburan semester,Buk." Aku mengingatkan lagi.
" Sudah semester berapa kuliahnya, kayaknya dia seusia kamu ." Mbak Nia bertanya lalu mengingat-ingat.
" Tempo hari dia bilang sudah semester 2. Duluan aku setahun, dia lulus tahun kemarin langsung kuliah." Aku menjelaskan sesuai apa yang kudengar dari Raka.
" Masuk kuliah tahun kemarin kok baru semester 2. Sekarang Desember liburan semester 3 berarti dia sudah mau semester 4 dong." Mbak Nia malah menebak sendiri.
" Tahu aah, iya kali ! " cetusku seraya beranjak ke kamar karena sudah terdengar azan Isya'. Selepas sholat aku makan malam lalu melanjutkan bacaan novelku sembari tiduran di sofa ruang tengah, depan televisi.
" Tuh kan udah rebahan aja. Mau nonton sinetron malah sofanya dipenuhi badan kamu semua." Mbak Nia menggerutu.
" Sirik amat, ini kan masih bisa buat duduk. Sofa gede gini, lagian aku kan nggak gendut kaya kamu. Nggak bakalan penuh juga sofanya." Aku langsung membela diri. Enak saja mengataiku menuhin sofa.
" Tapi Arkana mau kutidurkan di sini, biar nanti kalau bangun langsung menyusu. Kalau di kamar nanti aku kebablasan tidur jadi ketinggalan sinetron lagi." Mulai kambuh tuh demam sinetronnya.
__ADS_1
" Yaelaah ! anaknya dikalahin sama sinetron ," selorohku sambil menggelengkan kepala.
Aku pun beranjak ke kamar setelah lebih dulu kucium pipi baby Arkana yang makin berisi. Sebelum kubuka aplikasi Noveltoon kusempatkan membuka beberapa pesan WA yang masuk hari ini. Aku memang jarang chating. Kebetulan isi pesan hanya sekedar bertanya kabar, kubalas singkat dan kututup lagi.
________
Tadi pagi saat menunggu angkot aku sempat ketemu kak Vicky.
" Aira, nanti bisa datang kan ke rumah Ella. Acaranya hari ini sama besok. Kalau kamu sibuk bisa datang pas resepsi hari Minggu juga nggak apa-apa." Dia memintaku ikut membantu di acara nikahnya mbak Ella.
" Aduh maaf, Kak. Aku sibuk soalnya hari Sabtu Minggu warung selalu ramai. Apalagi ini malam tahun baru." Aku mencari jawaban yang sekiranya tepat kuutarakan.
" Ya sudah kalau gitu, tapi lain kali tetep ikut lho," pesannya kemudian.
" Insya Allah, Kak Vicky," jawabku pula.
Dari sejak pagi suasana terlihat ramai, maklum sekarang tgl 31 Desember berarti malam tahun baru. Orang-orang hilir mudik ke pasar, mungkin mereka belanja keperluan untuk menyambut tahun baru nanti malam.
Menjelang siang Raka muncul. Ia kini nggak malu-malu lagi tiap datang ke warung.
" Kok tumben itu Raka jam segini udah datang. Jangan-jangan mau ngajak jalan Mbak Aira." Mbak Sri mulai mengandai-andai.
" Nggak usah ngarang," celetukku. Raka menoleh ke arahku, aku buru-buru menutup mulutku dan melempar senyum.
Seperti biasa ia pun memesan menu kesukaannya. Kubuatkan teh panas lalu aku masuk membantu mbak Sri di dapur.
" Ya sana kalau Mbak Sri mau menemani." sahutku sambil melengos. Ada saja idenya mbak Sri.
Beberapa menit berlalu tiba-tiba Raka masuk membawa piring bekasnya makan dan juga teh yang masih separo.
" Ini piringnya Mbak," ujarnya seraya menyodorkannya pada mbak Sri. " Kalau tehnya masih mau saya minum, hehe.. " ia menyeringai.
Mbak Sri malah gugup karena tak menyangka Raka akan masuk. Raka meletakkan gelas tehnya di meja lalu duduk di sebelahku. Mbak Sri keluar mau membersihkan meja di depan.
" Malam nanti ada acara apa Mbak ? " tanya Raka. Kok aku deg-degan saat berdekatan seperti ini. Padahal kemarin-kemarin biasa saja.
" Nggak ada, di rumah saja. Sebenarnya ada tugas di hajatan tetangga tapi saya enggan ikut. Sudah merasa tua soalnya, hehe." Aku menjawab lalu tertawa kecil.
Perlahan degup jantungku mulai pudar. Nafasku kembali lega. Tapi mbak Sri kok malah mengobrol sama ibu sih nggak segera ke dapur.
" Belum nikah kok sudah merasa tua," celetuk Raka. Ia mengeluarkan rokok dan menyalakannya.
" Soalnya sekarang yang ikut Karang Taruna ceweknya rata-rata masih SMA. Yang seumuran saya pada kuliah kalau nggak ya kerja di luar kota. Kalau cowoknya sih banyak yang lebih tua dari saya." Aku menjelaskan padanya.
Kami berdua pun mulai asyik menceritakan pengalaman masing-masing. Ia juga bercerita tentang saudara dan orang tuanya. Padahal aku sama sekali nggak menanyakannya.
Hampir 1jam Raka menemaniku di dapur. Mbak Sri keluar masuk membawa cucian piring dan gelas.
" Biar saya yang mencuci ya," ucap Raka lalu ia pun beranjak ke tempat cucian.
__ADS_1
" Eh nggak usah, biar saya saja nanti baju kamu basah." Aku melarangnya.
" Nggak apa-apa ini sudah biasa." Raka malah dengan senang hati mau membantuku.
Akhirnya kami mencucinya bersama. Aku yang menyabun lalu ia yang membilas. Ibu berkali-kali menengok ke dalam melihat apa yang dilakukan Raka. Mbak Sri juga senyum-senyum.
Setelah selesai Raka pamit pulang. Dia tadi bilang hari ini nggak menjaga kios karena sudah ditunggui sendiri sama pamannya.
" Itu tadi kenapa Raka kok masuk ke dapur, malah ikut mencuci piring segala." Ibu menanyakan perihal Raka tadi.
" Nggak tahu, aku juga kaget tadi," sahutku.
" Namanya juga cinta, apapun dilakukan untuk menarik simpati." Mbak Sri menimpali.
Aku nggak bisa komentar apa pun. Mau mengakui tapi takut kecewa, nggak mengakui tapi ada buktinya.
_________
Sore hari sepulang dari warung aku mandi dan rebahan di sofa sembari membaca novel dari HP. Ibu dan mbak Nia sudah bersiap akan pergi kondangan ke tempat mbak Ella. Tak berapa lama mbak Tika datang.
" Sudah siap Buk, yuk berangkat sekarang ! " ajaknya. Rupanya mbak Tika juga mau kondangan.
Beberapa saat setelah mereka pergi , aku mendengar ada yang mengetuk pintu. Saat kubuka betapa terkejutnya aku karena yang datang ternyata Raka.
" Hai, apa saya mengganggu ? " sapanya ringan.
" Eeh, enggak kok. Silakan masuk ! " ajakku. Kok aku jadi gugup sih.
" Siapa Aira ? " tanya ayah yang baru keluar dari kamar. Untung ayah bertanya, rasa gugupku jadi agak berkurang.
" Saya Raka , temannya Aira." Raka langsung menyalami ayah.
Lalu aku menyuruhnya duduk sementara kubuatkan dia minum. Kudengar ayah sedang mengajaknya mengobrol.
Duuh, aku baru ingat. Aku kan sudah berjanji sama Eva kalau mau cerita tentang Raka. Kok bisa barengan gini sih. Sebentar lagi pasti dia kemari.
Aku keluar membawakan teh untuk Raka. " Silakan dilanjut, saya tinggal dulu ya." Ayah keluar dan duduk di teras. Raka mengangguk.
" Beneran nggak ada yang marah kan, kalau saya ke sini ? " tanya dia padaku.
" Nggak ada lah, masa harus saya ulangi." aku tersenyum menjawabnya.
Dalam hati aku masih bertanya-tanya. Apa maksudnya datang kemari ya ? Semoga saja ini awal yang baik, meskipun aku masih ragu.
_____________
Udah dulu ya. Masih bersambung besok.
Kutunggu komentar dari kalian !
__ADS_1