Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 15 Hari - hari Bersamanya


__ADS_3

Sehari setelah pagi itu Widi mengantarku dan permintaannya yang belum aku jawab. Ia ngga muncul lagi ketika aku menunggu angkot. Begitu juga siang hari ia nggak datang tiba-tiba seperti hari sebelumnya. Entah dia marah aku sendiri ngga memikirkannya.


Malam ini sehabis mandi dan sholat aku tiduran di sofa ruang tamu.


"Assalamualaikum ! " Kudengar suara yang kukenal mengucap salam. Aku menoleh ke pintu, ternyata benar dia yang datang. Ia tersenyum mengangguk padaku. "Malam Aira, apa aku mengganggu waktu istirahatmu ?" tanya dia.


"Nggak kok. Yuk masuk,ibu dan ayah ada di dalam," ajakku. Widi pun masuk dan duduk di ruang tamu.


Aku masuk memanggil ayah dan ibu yang tengah menonton TV.


"Ibu, Ayah, itu ada Widi, " kataku. Ibu dan ayah beranjak dari sofa dan keluar menemui Widi.


"Selamat malam Bu, Pak." Widi menganggukkan kepala menyalami mereka berdua. Setelah berbasa-basi ayah dan ibu masuk kembali.


"Aira, malam ini aku membuktikan ucapanku kalau aku serius sama kamu. Aku datang ke sini sesuai permintaanmu, dan tidak menemui kamu di tengah jalan kan ?" ungkap Widi.


"Terima kasih ya, " jawabku. "Kamu apa kabar ?" lanjutku lagi.


" Kok cuma terima kasih dan nanya kabar." Widi protes. " Yang romantis dong, aku senang sekali kamu datang. Aku kangen banget sama kamu, gitu." Ia menambahkan lagi. Malah menyuruhku romantis segala. Dasar cowok gombal !


"Iih apaan sih. Siapa juga yang kangen. Kamu tuh yang ngarep ! " elakku.


"Beneran nih, kamu nggak kangen ? Kok tadi waktu aku datang kamu senyum-senyum senang gitu. Pasti emang lagi nunggu aku kan? " ia tertawa.


"Ge Er kamu. Namanya ada tamu ya kita mesti senyum dong. Masa dipelototin , ngga sopan itu."


Aku pun beralasan. Bisa aja nih cowok bikin aku salah tingkah. Memang sih, kemarin meskipun aku ngga begitu peduli dia muncul atau enggak, tapi aku sempat merasa seperti ada yang kurang.


Aku nggak tahu apakah itu kangen atau hanya perasaan biasa.


"Kita keluar yuk ! " ajaknya.


"Nggak ah, aku takut dimarahi ibu. Kan ibu sudah bilang nggak boleh keluar sama cowok. Apalagi malam-malam, " jawabku. Meskipun sudah lulus SMA tapi aku belum pernah punya pacar.


Berbeda dengan kakakku .


"Kalau keluarnya sama aku ibumu ngga akan marah.


Aku kan udah datang ke sini baik-baik. Jadi kalau mau ajak kamu keluar juga minta ijin baik-baik. "


Widi menjelaskan dan tersenyum.


"Tapi aku malu, aku kan ngga pernah jalan sama cowok, " ungkapku beralasan. Widi malah tertawa.


" Aduh Aira kamu itu polos banget sih ! Ya sudah kalau gitu kita beli gorengan aja di warungnya mbak Yah sambil minum ronde. Mau kan? " pintanya lagi. Aku diam sesaat, tapi kemudian mengangguk.

__ADS_1


"Oke deh. Sebentar aku ambil jaket sekalian pamit sama ibu dan ayah, " Aku pun masuk dan mengambil jaket di kamar. Ayah dan ibu sedang makan malam.


"Buk, Yah, aku mau keluar sama Widi boleh kan ?


Cuma ke warung mbak Yah di depan."


"Ya udah,jangan lama-lama di sana. Malu kalau dilihat tetangga lagi berduaan sama laki-laki," pesan ibu.


"Kenapa malu Buk ? Aira kan sudah besar. Lagipula cuma ke warung depan kok." Ayah menyampaikan pendapatnya. Aku buru-buru keluar, daripada harus mendengarkan beliau berdua berdebat.


Tak lama aku dan Widi sudah berada di warung mbak Yah sambil menikmati 'wedang ronde'.


" Kayanya ada yang baru jadian nih !" Tiba-tiba ada yang nyeletuk. Aku menoleh ke arah suara itu, ternyata Eva lagi nungguin mbak Yah menggoreng mendoan. Ia menjulurkan lidahnya menggodaku.


"Giliran ada yang nemenin terus aku dilupain, oke ngga pa pa aku maklum," lanjutnya lagi sambil ketawa-tawa. Aku mengambil cabe rawit di depanku dan kulemparkan ke arahnya. Eva mengibaskan tangan dan cabe itu jatuh.


" Berisik aja ! tuh tempenya gosong gara-gara kamu tungguin." Aku pura-pura marah.


Di luar dugaan Widi malah menyahut ucapan Eva.


"Iya nih kita baru jadian. Kamu makan aja sesuka kamu nanti aku traktir," katanya.


" Beneran ? oke deh kalau gitu." Eva bersemangat.


"Eeh kok malah pakai jurus Aji Mumpung sih ? Pesan banyak banget " Aku tegur Eva.


Ada-ada aja dia. Pesen makanan banyak buat ART nya kali.


" Biarin. Buat temen nonton drakor nanti," seru Eva. Dasar pecandu drama Korea.


Aku hanya geleng-geleng kepala. Widi juga ter senyum-senyum menyaksikan tingkah laku Eva.


________


Pagi hari ketika aku sedang memakai sepatu di teras. Widi datang dan langsung duduk di sampingku.


" Sudah siap berangkat Tuan putri ? tanyanya menggodaku.


" Pagi-pagi udah ngegombal. " Aku mencibir.


" Yuk berangkat ! Nanti kamu kesiangan karena mengantarku.," ajakku seraya berdiri dan mengambil tas kerjaku di kursi. Tak lupa aku pamit dulu sama ayah.


Widi menyalakan motornya dan melaju menuju tempat kerjaku.


Siang hari ia juga menjemputku dari sekolahan.

__ADS_1


Aku merasa hari-hariku jadi berwarna. Hampir tiap malam Widi juga datang ke rumah. Kadang kita keluar sekedar nonton atau makan bakso.


Hari ini seperti biasa aku menunggunya di teras sebelum berangkat kerja. Tapi sudah 10 menit dia belum nongol juga.


" Belum dijemput Ra ?" Ayah keluar dan bertanya.


" Belum Yah, mungkin sebentar lagi, " jawabku.


Aku mencoba mengirim pesan ke HP nya, tapi belum dibaca juga. Karena takut terlambat aku memutuskan untuk naik angkot. Aku tidak punya pikiran buruk sama Widi.


" Tumben ngga diantar Aira ? " tanya mbak Tutik ketika aku sampai di gapura.


"Nggak Mbak, mungkin Widi buru-buru tadi." Aku memberi alasan yang wajar supaya dia nggak bertanya-tanya lagi. "Dasar kepo! " batinku.


Beruntung segera ada angkot berhenti di depanku. Aku langsung masuk dan angkot berlalu.


Sampai di sekolahan aku tidak sempat mengecek HP karena sudah kesiangan. Aku mulai melakukan tugasku seperti biasa, nggak enak sama yang lain.


" Kok berangkat sendiri Bu Aira, cowoknya mana? "


Bu Riris bertanya tapi menggoda.


" Lagi ada urusan kerjaan Bu Riris, " jawabku asal.


Ketika tiba waktu pulang barulah aku ambil HP ku dan membuka WA. Ternyata pesan dariku belum dibaca oleh Widi. Ada apa sebenarnya ? Nggak biasanya dia seperti ini. Apa dia marah sama aku atau dia ada urusan penting dan nggak sempat pegang HP ?


Sampai di rumah sehabis sholat aku rebahan sebentar. Tiba-tiba HP ku berbunyi. Ada WA masuk dari Kak Vicky.


[Aira, Widi masuk Rumah Sakit tadi malam ]


[Astagfirullah.... sakit apa kak ]


[ Kemaren sore dia ikut futsal sama temen-temen. Terus kepalanya kena bola dan dia pingsan]


[ Kasihan ya Kak ,😥 Oya kalau Kak Vicky mau jenguk Widi di rumah sakit aku ikut ya]


[ Oke siap nanti aku kabari 👍]


[ Oke makasih infonya ya Kak 🙏]


Aku letakkan HP di meja. Tak sadar aku menitikkan airmata.


_____$$$______


Bersambung ya... maaf lama up date karena penulis super sibuk kemaren hehe. tetap vote like dan komentar ya.

__ADS_1


__ADS_2