Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 8 Dunia Baru


__ADS_3

Inilah duniaku sekarang. Dunianya orang- orang dewasa. Para pejuang rupiah. Yach... Aku yang baru lulus SMA sudah harus berinteraksi dengan orang-orang yang memegang prinsip, Kalau ngga berangkat ya ngga makan. Iya ngga sih ? Iya dong. Mereka bukan pegawai kantoran yang punya gaji bulanan. Yang libur tiap hari Minggu dan hari besar. Tapi gaji tetap utuh.


Para pedagang itu kalau ngga jualan ya ngga dapat duit. Memangnya siapa yang mau ngasih uang cuma-cuma. Aah ! Sudahlah. Aku tak perlu memikirkan itu. Belum saatnya aja. Tugasku hanya berangkat pagi2 membantu ibu di warung makan yang terletak di depan pasar.


Pagi ini seperti biasa warung makan rame oleh pelanggan. Ketika aku datang ada dua orang cowok memakai seragam pegawai yang sedang makan. Kelihatannya mereka pegawai baru. Karena kelihatan masih muda. Seumuran Mas Bayu lebih muda dikit. Saat aku masuk salah satu melirikku.. Dia menyapa.


" Baru datang, Mbak ? " Dia menatapku dan tersenyum. " Iya, Mas. "


" Sudah tau baru datang kok nanya," gumamku sambil masuk ke dapur. Kutaruh mukena yg kubawa dari rumah ke dalam bilik yg biasa untuk sholat. Karena kemarin baru kucuci.


Mbak Nia sedang keluar dengan pacarnya. Sejak aku lulus sekolah dan berangkat pagi dia jadi sering keluar. Mungkin karena ada aku yang menemani ibu di warung. Dengan Mbak Sri tentunya. Aku sih ngga komplain. Biarin aja dia begitu. Toh ibu juga ngga marah. Coba kalau aku. Pasti udah diomeli.


" Putrinya sudah lulus ya buk.? ". Tiba-tiba aku mendengar cowok yg menyapaku tadi bertanya pada ibuku.


" Iya Mas. Baru lulus tahun ini. Belum mau kuliah. malah pingin bantu ibu di warung aja, katanya. " Jawab ibu.


Ibu bilang apa barusan ? Belum mau kuliah karena ingin bantu di warung makan. Alasan apa pula itu. Pintarnya ibu bersandiwara. Mungkin ibu malu kalau anaknya ngga kuliah. Jadi buat alasan yang sekiranya tidak terkesan tidak mampu membiayai kuliah anaknya.


" Mungkin masih pingin santai dulu, Bu. " Cowok yang satunya ikut menimpali.


Mereka berdua lumayan ganteng juga sih. Apalagi yang tadi menyapa. Kulitnya putih senyumnya menawan. Uups ! Apaan sih kok jadi memuji tu cowok.


" Ehem ". Duuuuuhh ! Ngapain juga ni cowok tiba2 masuk ke dapur. Pake berdehem lagi.


Aku menoleh ke arahnya. Dia tersenyum lagi.


" Numpang cuci tangan ya, Mbak. " Ia mendekatiku. yang lagi bikin teh anget kesukaanku. Aku ngga suka minuman dingin. " Oh ya silahkan Mas.. "


Aku mencoba tersenyum juga. Bagaimana pun juga dia pelanggan. Aku ngga boleh ketus. Meskipun dalam hati agak dongkol. Ngga biasa- biasanya ada pembeli yang masuk ke dapur.

__ADS_1


Temannya yang di luar bicara agak keras " mbak jangan mau digombali sama Arya. Dia playboy cap kampak. " Sambil tertawa dia berkata. Sepertinya ditujukan padaku. " Sialan lo ! ".


Cowok yang di dapur pun tertawa sambil mencuci tangannya di wastafel yang ada di samping meja tempat bikin minum. Ooh namanya Arya.


Aku keluar membawa teh hangatku dan duduk di bangku depan. Agak canggung juga berduaan dengan cowok yang baru aja kenal. Baru ketemu juga.


Ibu sedang melayani pembeli. Cowok yang satunya lagi main HP sambil makan rengginang. Cemilan ringan yang biasa ibu goreng sendiri sebagai pelengkap di warung makan ini. Ada juga emping melinjo yang besar. Peyek kacang, kerupuk udang.


Ada juga cemilan lain yang disetori pedagang kecil.


Cowok yang bernama Arya keluar dari dapur dan mendekatiku. Ia duduk di sebelahku.


Duuh mau ngapain sih cowok ini. Ganteng sih. Tapi aku kan harus jual mahal. Apalagi baru sekali ketemu. " Namanya siapa, Mbak? " Ia tanya namaku.


" Aira. " Jawabku Aku pura-pura menunduk. Malu lihat wajahnya. Karena dia menatapku tanpa berkedip. Dekat lagi. Kenapa juga dadaku jadi bergetar gini.


" Nama yang indah. Aira itu kan dari kata air.


" Mas Arya bisa aja. " Aku masih menunduk sambil memainkan taplak meja.


" Panggil Arya aja ngga usah pake Mas. Aku kan ga tua2 amat. He.. he.. he..". Ia berkelakar.


" Iya Mas. Eh.. Arya. " Aku jadi salah tingkah nih.


" Kalau gitu jangan panggil aku Mbak dong. Aku juga kan belum tua. Masih tua an situ. " Kataku.


Arya menghela nafas dan bicara lagi " Oke. Aku akan panggil Dek Aira. "


" Aira aja. Emang aku anak SMP dipanggil Dek. "

__ADS_1


Aku protes sambil meruncingkan bibirku. Tapi buru2 kututup mulutku. Kok jadi lebay gini.


Arya pun tertawa. " Iya deh. Aira ". Lanjutnya .


" Aira. Jangan ngobrol terus. Tuh bantuin Mbak Sri beresin piring-piring kotor. " Ibu menegurku.


Tuh kan gara2 nih cowok . " Ya buk. ' Aku pun berdiri dan menghampiri mbak Sri yang sedang mengumpulkan piring dan gelas kotor. Arya dan temannya keluar setelah membayar makanannya. Ia melambaikan tangan padaku. Aku hanya mengangguk dan tersenyum.


Aku dan mbak Sri membawa piring dan gelas kotor ke dapur.


Mbak Sri mengambil serbet untuk membersihkan meja makan di depan. Aku yang mencuci gelas dan piring. Ibu masuk mengambil minuman . Setelah meneguk minumannya ibu berkata padaku


" Kamu itu perempuan jangan mudah tergoda laki2.


Baru kenal kok sudah langsung akrab. ". Ibu menampakkan wajah tak suka


" Kan kata ibu kita harus ramah sama pembeli. Kalau aku jawab ketus nanti mereka ngga balik lagi ke sini , " Aku membela diri.


" Kan dulu ibu pernah memarahiku ketika ada pelanggan ibu yang meledek aku dan aku balas meledek dia. Ibu dan Mbak Nia memarahiku saat itu. " Lanjutku mengingatkan kejadian waktu itu.


" Itu beda. Dulu ibu marah karena yang kamu ledek itu pelanggan lama ibu. Umurnya juga sebaya dengan kakakmu Rina. ". Waah ibu sampai ngotot.


" Kalau yg barusan kan seusia kamu atau Nia. Sorot matanya juga seperti laki2 ngga bener. "


Ibu bicara panjang lebar. Aku menghela napas..


Yaaah... salah lagi. Aku hanya geleng-geleng kepala.


££££ ----

__ADS_1


Bersambung gaees !


__ADS_2