
Malam hari menjelang tidur, sekitar jam 21.00 Raka mengirim pesan WA.
[ Aira, aku sudah baca pesanmu. Winda juga sudah mengabari tadi sore. Tentu saja aku lebih memilih bekerja di kota kelahiran, apalagi ada kamu yang menungguku 😊 ]
[ Terus gimana, mau pulang kapan ]
[ Tadi aku sudah minta ijin sama bossku kalau mau pulang kampung. Aku juga sudah bilang sama pakde dan bude kalau dapat panggilan test. Makanya aku mau pulang besok pagi habis Subuh. ]
[ Oh gitu, besok jangan lupa kabarin aku kalau mau berangkat. Sekarang kamu packing dulu barang-barang kamu, jangan sampai ada yang ketinggalan. ]
[ Siaap tuan putri, tunggu aku ya. Kangeeen banget 😍 ]
[ Aku juga kangen, udah sekarang kamu packing dulu terus istirahat. ]
[ Oke boss 😁 ]
Lega. Akhirnya Raka dapat panggilan juga setelah menunggu sekitar satu bulan. Meskipun di Surabaya ia juga sudah dapat pekerjaan tapi aku lebih senang kalau dia bisa bekerja di sini saja.
Tak sabar menunggu esok hari. Kupejamkan mataku perlahan, tak berapa lama aku pun tertidur.
Pagi harinya sehabis sholat Subuh aku masih belum beranjak dari sajadah. Raka belum mengirim WA, padahal ini sudah lewat waktu Subuh. Apa ia nggak jadi pulang pagi ini, atau dia kesiangan terus buru-buru jadi lupa ngabarin aku.
" Mas Raka jadi pulang hari ini Mbak ? " tanya mbak Sri ketika aku tiba di warung.
" Belum tahu nih, dia bilang mau berangkat Subuh tapi kok belum ngabarin sampai sekarang. Mudah-mudahan saja jadi pulang, cuma lupa mau ngasih tahu aku." Aku berharap demikian.
" Mbak Aira sudah mengirim pesan belum ke mas Raka ? " tanya mbak Sri lagi. Ia ikut-ikutan mencemaskan Raka.
" Sudah tapi belum dibaca, mungkin belum sempat. Tahu sendiri kalau naik bus pagi hari pasti penumpangnya penuh. Mungkin juga berdesakan jadi dia nggak bisa membuka handphone." Aku hanya menerka- nerka.
Hingga aku selesai sarapan dan kubuka HP, belum ada pesan WA dari Raka. Tapi pesanku sudah centang biru, berarti sudah dibaca.
" Duh Raka kamu kok bikin penasaran aja sih, semoga saja nggak terjadi apa-apa," Aku berharap Raka baik-baik saja.. Dari pada berpikir yang tidak-tidak aku pun bergegas pergi belanja. Nanti akan ku tanyakan pada bu Harti saja. Setelah selesai belanja aku sengaja lewat depan kiosnya bu Harti.
" Bu maaf, Raka sudah kirim WA sama Winda belum ya. Kok dari tadi Subuh belum ngasih kabar sama saya." Aku menanyakan soal Raka pada ibunya.
__ADS_1
" Tadi malam sih katanya mau berangkat Subuh dari sana, tapi kok belum kirim WA ke Winda. Sampai ibu berangkat ke pasar juga belum ada WA dari Raka. Anak itu senangnya bikin orang panik." Bu Harti menjawabku tapi juga menggerutu.
" Kebiasaan buruk,, sudah jaman modern begini tapi masih saja sering lupa nggak ngasih kabar. Terus handphonenya buat apa coba, pas lagi penting begini nggak dipakai." Bu Harti masih terus menggerutu. Aku hanya diam. Mending aku pamit saja daripada dilihat orang disangka aku yang lagi dimarahi.
" Ya sudah Bu, saya ke warung dulu. Mungkin HP nya Raka lowbat jadi nggak bisa mengirim pesan." Kubujuk dia supaya tenang. Padahal perasaanku sendiri juga nggak karuan. Aku segera kembali ke warung.
Ketika tinggal beberapa langkah mataku menangkap sosok lelaki yang tengah menikmati kopi dan rokok. Aku nggak asing dengan cowok itu, hanya saja dia kelihatan sedikit kurus dan kulitnya agak hitam. Begitu sampai di pintu.
" Ra, Raka ?? " Cowok tadi menengok ke arahku. Ia mengedipkan matanya kemudian tersenyum. Aku segera menghambur memeluknya. Ia berdiri menyambit pelukanku.
" Rakaaaa, kamu kenapa bikin aku khawatir. Kamu nggak ngabarin aku, sama Winda juga. Ibu kamu sewot aja tuh dari tadi pagi." Raka malah tertawa. Kucubit pinggangnya karena gemes, nggak tahu perasaanku campur aduk dia malah tertawa.
" Aduh, aduh, sudah dong sakit. Aku baru pulang malah dicubiti gini." Ia mengajakku duduk. Untung warung sedang nggak ada pembeli.
" Jadi bagaimana ceritanya , kok bisa nggak sempat WA Aira. Terus sekarang tiba-tiba sudah sampai sini." Ibu ikut menginterogasi Raka.
" Jadi gini, semalam sehabis chat sama kamu aku langsung packing. Terus aku keluar sebentar beli rokok di warung. Kebetulan ada tetangga yang lagi ngobrol di situ, dia supir di tempat aku bekerja di pabrik kerajinan ukir. Namanya Kang Sabar. Dia bilang mau mengantar barang pesanan ke Jogja, Sedangkan dia butuh teman selama di perjalanan." Raka menghela nafas sejenak.
" Terus aku menawarkan diri menemani dia, tapi hanya sampai Jogja saja nggak balik lagi ke Surabaya karena aku mau pulang kampung. Dia langsung setuju, yang penting malam ini ada yang menemani. Jadilah aku berangkat tadi malam sekitar jam 23.00. Hitung-hitung irit biaya hehe." Raka menghentikan kalimatnya lalu menyesap rokoknya.
" Oh iya, tadi malam itu Kang Sabar minta tolong supaya aku membantunya mengangkat barang-barang yang mau diantar ke Jogja. Setelah selesai rapi dia langsung mengajak berangkat. Untung ranselku dan bawaan yg lain sudah kusiapkan di ruang tamu. Aku buru-buru pamit sama pakde dan bude yang belum tidur. Mereka kaget tahunya aku akan pulang Subuh."
Raka menatapku sesaat, lalu berkata," Maafin aku ya, sudah membuat kamu khawatir. Soalnya Kang Sabar benar-benar nggak ngasih waktu buat buka HP. Semalam dia mengajakku ngobrol terus, waktu Subuh kita sholat lalu sekalian sarapan. Habis itu langsung cabut lagi. Katanya pelanggannya minta barangnya sampai sebelum jam 9.00 pagi. Habis itu baru aku bisa tidur sampai lupa membuka hp."
Panjang lebar Raka menceritakan perjalanannya. Kasihan juga, maksudnya mau ngirit biaya eh malah nggak bisa istirahat. Ternyata Kang Sabar butuh teman di perjalanan buat diajak ngobrol, karena dia takut jika bertemu hantu. Ada-ada saja Kang Sabar ha ha.
" Ya sudah sekarang kamu makan dulu, habis itu mampir ke kios ibumu lalu pulang," saranku pada Raka. Ia pun mengangguk dan mengikutiku ke dapur. Sesudahnya ia mengeluarkan paper bag kecil dari ransel dan mengambil oleh-oleh dari kantong plastik besar.
" Ini oleh-oleh dari pakde, dan ini khusus buat kamu. Aku beli di Jogja tadi." Ia menyodorkan paper bag nya padaku. Kuambil isinya ada bungkusan kecil lagi.
" Makasih ya, isinya apa sih? " tanyaku seraya meraba-raba bungkusan tersebut.
" Nanti saja dibuka dirumah, biar bisa langsung dicoba," pintanya. Aku jadi penasaran apa isinya.
" Harus nanti ya, nggak boleh sekarang." Aku membujuknya. Raka menggeleng," Nanti saja, kalau di sini nanti malah kotor." Duuh, makin penasaran deh. Tapi tak urung aku tetap menuruti permintaannya. Kumasukkan bungkusan ke dalam paper bag lagi.
__ADS_1
Raka beranjak masuk ke toilet dan membasuh mukanya. Ia mengambil ransel dan kantong besar berisi oleh-oleh dan bersiap pergi.
" Aku pulang dulu ya, mau lanjut tidur ngantuk banget" ucapnya pelan. Aku mengangguk dan mengantarnya ke depan.
" Jangan lupa mampir ke ibu dulu biar nggak khawatir lagi." Aku mengingatkannya. Raka pun mengangguk dan pamit sama ibu dan mbak Sri.
Kuambil paper bag dari Raka. Kutimang-timang, kuraba-raba, kira-kira apa ya isinya?
" Ciyeee yang dibeliin oleh-oleh, kalau penasaran buka aja Mbak ! " seru mbak Sri yang tiba-tiba nyelonong masuk dapur.
" Nanti saja di rumah, kan Raka tadi bilang begitu." Aku senyum-senyum sambil masih menimang bungkusannya. Mbak Sri menggelengkan kepalanya.
" Huh, orang kalau lagi jatuh cinta memang jadi aneh." Ia berkata sambil menyilangkan telunjuknya di kening. Sialan ! Aku dikira stres. Mbak Sri tertawa ngakak.
________________
Keesokan harinya Raka mengabariku saat hendak memenuhi panggilan dari pabrik air mineral.
[ Bismillah, semoga test dan wawancara berjalan lancar. Kamu pasti bisa ] Hanya itu pesanku padanya.
Dan seharian ini dia tak menghubungiku lagi, aku percaya dia tengah berjuang untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Makanya aku juga tidak menghubunginya, khawatir jika mengganggu.
Malam harinya dia baru menghubungiku, katanya dia hanya diwawancara saja. Ternyata dia sudah diterima dan panggilan itu hanya untuk menentukan pekerjaan apa yang harus dia jalankan nanti.
[ Berarti kamu sudah jelas diterima, dan nggak perlu diseleksi lagi ] Aku bertanya lagi karena masih belum percaya.
[ Iya, dan besok aku sudah mulai training. Makasih ya sayang, kamu sudah dukung aku 😘🙏 ]
[ Iya sayang, tapi bukan karena aku juga. Ini berkat kesabaran kamu dan kegigihan kamu. Kuharap kamu betah dengan pekerjaan baru ini ]
[ Iya, biar bisa nabung buat masa depan kita 😁 ] [Ya sudah mending sekarang istirahat biar besok badan segar saat pertama kerja. Selamat bekerja sayang 😘 ]
Kuakhiri chat ku dengan Raka. Ku matikan HP lalu ku taruh di atas bantal. Kubaringkan tubuh untuk beristirahat. Terima kasih Tuhan, Kau kabulkan doa-doaku. Semoga Raka cocok dengan pekerjaan barunya.
***********************
__ADS_1
Bersambung.