Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 79 Harus Bersabar


__ADS_3

Seperti janjinya tadi siang Raka langsung mampir ke warung makan selepas kerja. " Aira, ambilkan minum buat Raka. Kasihan kan, pulang kerja pasti haus !" ujar ibu. Aku yang baru mau duduk di samping Raka pun berbalik ke dapur membuatkan teh hangat buat Raka.


" Mau makan sekalian nggak ? " Kutawari dia makan saat kutaruh teh di depannya. Raka menggeleng," Nggak usah, kan sudah mau tutup warungnya. Nanti malah kesorean." Ia menolak.


" Nggak kok masih nanti pulangnya. Ini ayamnya juga belum matang, soalnya tadi agak kesorean masaknya." Ibu menimpali. " Ambilkan saja Aira, nggak usah ditawari. Hitung-hitung kamu belajar melayani suami." Ibu menyuruhku mengambilkan nasi untuk Raka.


Aku tersenyum menatap Raka karena kalimat ibu barusan. Raka juga tersenyum.


" Sedikit saja Ra," pintanya ketika aku menyendok nasi. " Kalau sedikit ya nggak kenyang," sahutku tanpa menghiraukan permintaannya. Kuletakkan sepiring nasi ayam goreng plus sambal di hadapannya.


" Terima kasih calon istriku," Raka berbisik menggodaku. Aku jadi tersipu malu. Raka bukan cowok yang romantis jadi sekali dia merayu aku sudah meleleh dibuatnya.


" Eitts, cuci tangan dulu ! " Aku berseru mencegahnya waktu dia mau langsung mengambil ayam. Raka berdiri dan mencuci tangan di wastafel. Tak berapa lama ia pun menikmati makanan yang kusajikan Sesekali ia juga menyuapiku karena aku menungguinya makan. So sweeeet !


Setelah beres semuanya ibu meminta Raka mengantarnya pulang lebih dulu, sementara aku mengunci pintu. Mbak Sri juga sudah pulang dari limabelas menit yang lalu. Sambil menunggu Raka aku memilih duduk di bangku teras warung. Sepuluh menit kemudian dia sudah muncul di depanku.


" Kok masih di sini, biasanya sambil jalan kaki dulu." Raka menanyaiku. " Nggak tahu nih rasanya capek mau jalan kaki," sahutku lalu berdiri dengan agak malas.


" Kalau capek minta digendong atau diapain nih," celetuknya seraya mengedipkan mata meledekku.


" Ya naik motor lah, memangnya aku nenek-nenek minta digendong, weeeekk ! " kujulurkan lidahku membalas ledekannya. Raka menghidupkan motornya dan aku langsung membonceng di jok belakang. Keranjang belanja sudah dibawa ibu tadi jadi aku bisa leluasa tanpa harus ribet memegangi keranjang.


" Mau langsung pulang atau mau ke mana dulu ? " tanya Raka menawariku dengan lembut. Ia memang tak pandai merayu, namun pandai memanjakanku.


" Aku kan capek masa mau mampir-mampir, malah tambah capek dong," ujarku.


" Maksudku biar capek kamu nggak kerasa kita ke mana dulu. Atau gini aja, kita muter alun-alun aja lalu berhenti sejenak di taman kota, nggak usah turun. Yang penting kamu terhibur siapa tahu nanti capekmu hilang sehabis menikmati suasana taman." Raka mendapat ide, aku pun menuruti saja.


" Boleh, tapi nanti beli pempek sama batagor yaa," aku merengek manja. " Iya sayang, apa sih yang enggak buat kamu." Raka memandangku dari kaca spion, ia mengedipkan matanya.


Aku tersipu, namun makin mempererat pelukanku di pinggangnya. Kepalaku kusandarkan di punggungnya yang lebar. Raka, kamu selalu punya cara untuk membuatku senang. Meskipun sederhana.

__ADS_1


" Kamu tunggu di sini, biar aku yang beli batagor sama pempek," pintanya saat kita sudah sampai di taman kota. Belum sempat aku menjawab ia berkata lagi, " Atau mau turun dan duduk di bangku itu." Ia menunjuk satu bangku favorit kami di sudut taman.


" Sayang, aku kan sudah bilang aku lagi malas jalan kaki. Kalau duduk di sana aku mesti jalan berapa meter. Udah ah aku tunggu di sini aja." Aku pura-pura merajuk.


" Kan aku bisa gendong kamu biar nggak capek, aauww sakiiit ! " teriak Raka karena kucubit pinggangnya. " Kok malah nyubit sih, aku salah apa ? " tanya dia berlagak polos.


" Salah kamu karena menganggapku anak kecil. Oh tidak tidak, lebih tepatnya seperti orang yang lagi sakit parah, atau orang jompo. Hiiiihh, kamu jahat deh ! " Aku langsung cemberut. " Masa iya aku mau digendong sampai ke ujung taman lalu nanti diturunkan di bangku panjang. Mau ditaruh di mana mukaku ?" lanjutku lagi seraya kupukul dadanya yang bidang.


" Hehehe, aku salah ya, maaf deh. Habisnya aku kan pingin menghibur kamu. Ya udah sekarang aku ke sana dulu ya, beli jajanan yang kamu pesan tadi." Raka segera berbalik dan berlari kecil mendekati penjual pempek sama batagor. Sepuluh menit kemudian ia sudah kembali.


" Ini makanan pesanan Tuan Putri Aira Khairunisa. Ia menyodorkan 2 kantong plastik kecil padaku. Aku menerimanya sambil melempar senyum yang paling manis.


" Terima kasih Pangeranku Raka Pratama, kamu orang yang paling mengerti aku," kataku seraya menepuk pipinya.


" Jangan ditepuk dong," ucapnya sambil memegang pipinya. " Kenapa, sakit?" tanyaku khawatir, jangan-jangan aku terlalu keras menepukknya.


" Enggak, maksudku jangan ditepuk, tapi dicium. Hahaha....! " Raka tergelak karena berhasil mengerjaiku. Aku langsung memasang wajah cemberut. Ogah main cubit-cubitan lagi. Kadang tanganku terasa panas sendiri karena mencubit perut atau lengannya yang kekar.


Canda guraunya Raka memang berhasil menghilangkan rasa penatku. Tapi aku jadi ingat sesuatu.


" Raka, katanya kamu mau cerita yang tadi pagi itu ?" tanyaku kemudian. Kami masih di perjalanan pulang.


" Nanti saja di rumah, kan tadi kamu buru-buru mengajak pulang." Ia menjawab tanpa menoleh.


" Iya sih, kirain kamu lupa." Aku pun diam tak melanjutkan percakapan. Sampai di rumah Raka kusuruh duduk sementara aku membersihkan tubuhku. Seusai mandi sekalian sholat Magrib karena kebetulan sudah masuk waktunya. Raka sholat di masjid bareng ayah.


Selang beberapa menit ia kembali. Aku baru selesai membikin teh panas untuknya. " Waah pas ini, makan batagor ditemani teh panas."


Aku mengambil 2 piring dan 2 sendok dari dapur. Satu buat wadah pempek satunya lagi buat batagor. Masing-masing dimakan berdua.


" Terus gimana, tadi malam kamu sudah berembug dengan keluarga soal rencana lamaran kan ? " tanyaku di sela makan. Raka menelan makanannya lalu menyeruput teh. Ia nenghela nafas sejenak.

__ADS_1


" Sudah. Semua setuju, tapi bapak yang agak keberatan. Dan seperti biasa akhirnya kami berdebat, ujung-ujungnya aku yang terpaksa mengalah daripada aku melawan. Lalu aku keluar dan tidur di rumah Doyok."


" Paginya aku pulang langsung mandi dan berangkat kerja. Ibu menawari sarapan tapi aku malas bertemu bapak jadi aku bilang saja, nanti sarapan di tempat Aira." Raka menceritakan kejadian semalam dan tadi pagi. Bahkan katanya ayahnya menyinggung soal umurku yang lebih tua dari Raka. Tentu saja aku juga kecewa. Aku menghentikan suapanku.


" Ternyata ayahmu nggak suka sama aku. Jadi dalam bulan ini kamu belum bisa melamarku secara resmi. Atau bahkan batal." Aku menunduk pasrah. Mengapa ayahnya Raka nggak mengijinkan anaknya melamarku ? Padahal jika aku main ke sana beliau bersikap baik. Apa dia hanya pura-pura baik ?


" Ssssttt , sudah tenang saja nggak perlu khawatir.. Rencanaku tetap akan terlaksana, tinggal tunggu waktu saja." Raka menenangkanku.


" Iya tahu tetap terlaksana, tapi masih lama kan. Menunggu restu dari ayahmu." Mataku mulai berkaca-kaca.


" Enggak sayang, kita tetap pada rencana semula. Dalam bulan ini pokoknya aku akan datang ke rumah bersama keluargaku. Oke? " Raka menaik turunkan alisnya menghiburku.


" Lalu bagaimana dengan bapak, aku nggak mau kamu membantahnya. Pokoknya kalau beliau belum setuju kamu nggak boleh memaksakan kehendak. Nanti aku yang nggak enak dikira memaksamu."Aku memperingatkan Raka.


Aku nggak mau dianggap memecah belah hubungan Raka dan ayahnya. Biarlah aku bersabar dulu, mungkin nanti perlahan hati ayahnya akan lumer.


" Aku nggak mungkin membantah orangtua. Aku akan bicara lagi baik-baik. Apalagi ibu dan juga kakek nenek semua setuju, pasti nanti akhirnya bapak setuju juga. Sudah jangan sedih, apapun yang terjadi aku akan mempertahankanmu." Raka pun berjanji padaku.


" Atau jangan-jangan, ayahmu lebih senang kalau kamu menikah dengan Ita," celetukku tiba-tiba.


" Huussh, ngawur kamu. Jaman Android nggak ada jodoh-jodohan." Raka langsung cemberut. Aku tertawa geli melihatnya. Jaman android katanya, hihihi.


" Ya kali aja, bukan dijodohin tapi berharap kamu berjodoh sama Ita. Begicuuu.. eh begitu." Aku menggodanya lagi.


" Sudah.. sudah, jangan ngomongin dia. Kamu ini dapat ide dari mana tiba-tiba kepikiran cewek tengil itu." Raka menampakkan wajah tak suka. Aku pun menghentikan candaanku.


" Iya maaf, aku percaya kalau kamu hanya cinta sama aku. Betul kan, coba sekarang bilang. Aira aku cinta kamu." Kupancing dia supaya mengucapkan kata cinta.


Namun sepertinya memang aku harus memupus harapanku. Raka hanya merangkulku lalu berbisik," Cinta nggak perlu diucapkan tapi dibuktikan. Apa kurang banyak bukti yang selama ini aku lakukan ?" Dia balik bertanya. Aku diam namun kusambut rengkuhannya pada bahuku. Aku pun menyandarkan kepalaku di bahunya.


__________$$$$$$$________

__ADS_1


Masih berlanjut ya gaees.. Tetap vote like dan komennya. Thanks !


__ADS_2