Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 49 Malam Tahun Baru


__ADS_3

Cuit cuit ! Suara notifikasi dari handphoneku di atas meja. Nada deringnya memang kupasang suara hewan.


" Itu HP nya bunyi, mungkin ada pesan masuk," ujar Raka. Ia juga sedang mengeluarkan handphone dari saku kemejanya.


Aku yang duduk berhadapan dengannya pun mengambil handphoneku dan membukanya. Ada pesan WhatsApp dari Eva.


[ Bestie, sorriiiiii banget. Aku nggak bisa pulang lagi. Tadi sore temen-temen ngajak kumpul dadakan buat malam tahun baru an. Aku nggak sempat kabarin kamu, baru malam ini bisa kirim WA. 🙏 ] [ Mungkin besok pagi aku pulang ]


[ Astaga ! Kukira ada apaan. Kupikir kamu udah di rumah bestie. Ya udah it's okey. Aku juga lagi sibuk, besok aja kita ketemu. ]


[ Karang Taruna ngadain acara juga ya, syukur deh kamu nggak kesepian 😜 ]


[ Nggak ada. Malam tahun barunya di rumah mbak Ella, dia mau nikah. Remaja RW pada tugas di sana, besok resepsinya ]


[ Kok kamu nggak datang, merasa paling tua ya 😄 ]


[ Sudah tahu nanya. Udah ah aku lagi ada tamu. Masa aku malah chating an. ]


[ Ya udah, bye see you 😘 ]


Kutaruh lagi handphone di meja. Raka masih memainkan handphonenya.


" Maaf ya kamu jadi nunggu. Itu tadi Eva tetangga sebelah , sahabatku dari kecil yang kuliah di Jogja." Aku merasa nggak enak juga membiarkannya menunggu.


Ia juga menaruh HP nya lalu menatapku. " Nggak masalah, ini aku juga baru membalas WA dari teman, " jawabnya santai.


" Oh iya, memangnya kamu nggak ada acara kumpul-kumpul bareng teman buat malam tahun baru an. Kok malah ke sini ? " tanyaku kemudian.


" Ada sih, tapi saya malas datang. Bosan, paling acaranya itu-itu aja. Memangnya kamu keberatan kalau saya ke sini ? " Ia malah balik bertanya.


" Ah enggak, kok nanya itu terus sih. Saya masih nggak menyangka aja kamu datang tadi. Padahal ini malam spesial di mana sebagian besar orang pasti merayakannya. Tapi kamu malah menemuiku di sini " Aku memberi alasan agar dia nggak salah paham.


" Acara tahun baru kan sudah sering, kalau main ke sini baru sekali ini kan, hehehe." Dia tertawa kecil. Aku juga ikut tersenyum.


" Oh iya, tadi saya ketemu sama ibu dan 2 kakak kamu. Mereka pada mau ke mana, kok kamu nggak ikut ? " tanya dia lagi.


" Kalau saya ikut nanti kamu nggak ketemu dong, hahaha." Gantian aku yang berkelakar. " Mereka mau kondangan. Yang tadi siang saya cerita itu, harusnya saya juga tugas di sana," lanjutku menjawab pertanyaannya.


" Tapi kok kamu tahu kalau mbak Tika juga kakak saya ? " tanyaku agak heran. " Setahu saya kamu hanya mengenal mbak Nia, mbak Tika kan sudah lama nggak pernah ke warung. "


" Dulu saat masih SD saya sering ketemu waktu mbak Tika masih membantu ibu kamu di warung." Ia mengingat kembali masa dulu.


" Oh gitu, dulu saya masih jarang ikut ke warung, jadi belum pernah ketemu kamu ya. Setelah mbak Tika menikah baru lah saya mesti ikut membantu." Aku juga bercerita saat masih kecil.


Obrolan kami terhenti karena ayah masuk. Tak berapa lama ibu , mbak Tika dan mbak Nia juga telah pulang kondangan. Mereka seperti terkejut ketika masuk dan melihat ada Raka di ruang tamu.

__ADS_1


" Oh ada nak Raka. Tadi ketemu di jalan ternyata mau kemari," sapa ibu. Mbak Tika dan mbak Nia mengikuti di belakangnya.


" Iya, Buk." Raka beranjak dari kursi lalu menyalami ibu dan kedua kakakku.


" Kita masuk dulu ya, silahkan diteruskan ngobrolnya." Mereka pun masuk ke dalam. Mbak Tika dan mbak Nia berbisik-bisik sambil cekikikan.


" Aira, boleh nggak saya minta nomor HP nya," pinta Raka saat ia kembali duduk.


" Boleh, sebentar ya." jawabku lalu kuambil handphone di meja. Kita pun saling bertukar nomor kontak.


" Makasih ya. Sekarang acaranya apa nih, masa malam tahun baru cuma duduk di rumah." ucapnya seusai memasukkan nomor kontakku.


" Maksudnya gimana ya ? " tanyaku tak mengerti.


" Maksud saya mau mengajak keluar kalau Aira bersedia," jelasnya padaku.


Aku tertegun sejenak. Mau apa enggak ya ? Sebenarnya sungkan juga karena antara kita belum begitu akrab. Tapi kupikir daripada cuma duduk di rumah, sementara yang lain pada punya acara.


" Sebentar saya ijin dulu sama ibu, boleh apa enggak," ucapku sembari berdiri dan masuk untuk menemui ibu yang baru selesai berganti pakaian.


" Buk, itu Raka mengajak keluar, " kataku pada ibu. Untung mbak Tika dan mbak Nia lagi di dalam kamar.


" Ya sudah sana, tapi pulangnya jangan malam-malam ," sahut ibu seraya keluar menuju ruang tamu.


" Iya,Buk," sahutku sembari masuk ke kamar untuk ganti baju. Sesudahnya aku keluar, Raka sudah berdiri menungguku.


Raka menghidupkan motornya lalu aku membonceng di belakang. Ia menjalankannya pelan.


" Mau ke mana dulu nih ? " tawarnya. Masa baru pertama jalan bareng aku disuruh memilih tujuan.


" Terserah kamu aja," jawabku lirih.


" Kalau gitu kita nonton aja yuk ! " ajaknya. Ia mengarahkan motornya menuju gedung bioskop.


Selama nonton aku terus mengomentari film yang kami tonton, sampai lupa kalau aku baru kenal beberapa hari dan belum begitu akrab dengan Raka.


" Kamu ternyata periang dan banyak omong ya. Udah gitu kritis lagi, bisa menebak jalan cerita dari film tadi. Beda kalau di warung cuma diam, kirain beneran pemalu hehehe." Raka malah mengomentari tingkahku seusai film berakhir. Seketika aku tersipu malu.


" Tapi saya suka kok, suka banget malah." lanjutnya lagi. Kita pun meninggalkan gedung bioskop lalu ia melajukan motornya ke alun-alun.


Raka mengajakku masuk ke warung ayam goreng yang sudah terkenal di kota ini. Ia memesan 2 piring nasi putih dan menawariku memilih bagian ayam yang kusukai. Aku menurut saja karena memang sudah lapar.


" Minumnya teh panas saja ya," ujarnya. Aku hanya mengangguk.


Kira-kira sepuluh menit kemudian pesanan kami sudah siap, berikut teh panasnya.

__ADS_1


Kita makan sambil dia bercerita, aku hanya mendengarkan.


" Kok diam aja, padahal tadi waktu nonton ceriwis banget, " tegurnya meledekku. Enak saja aku dikatain ceriwis.


" Kan lagi makan, nanti keselek kalau sambil bicara," jawabku sembari mengunyah makananku.


" Maaf kalau gitu, ya udah kita makan dulu. Ngobrolnya nanti lagi." Akhirnya ia diam dan melanjutkan makan.


Seusai menghabiskan makan malam Raka mengajakku ke taman kota di sebelah alun-alun. Tempat yang sering kudatangi waktu masih sekolah.


" Duduk di sini aja yang nggak begitu ramai. Kalau di alun-alun ramai banget." Ia menggandeng tanganku dan mengajakku duduk di bangku taman.


" Maklum lah soalnya malam tahun baru, ada panggung hiburan juga." Aku menimpali perkataannya.


" Masih mau jajan nggak ? " Raka menawariku lagi karena di pinggir taman banyak pedagang jajanan.


" Nanti saja masih kenyang," sahutku. Raka nggak jadi beranjak dari duduknya.


Kami pun mengobrol, saling bertukar cerita. Sesekali aku menengok ke panggung menyaksikan acara band yang sedang berlangsung. Menjelang jam 10.00 aku mengajaknya pulang.


" Nggak mau nunggu acara kembang api ? " tanya dia. Aku menggeleng, soalnya tadi ibu sudah berpesan agar jangan sampai malam.


" Nggak boleh pulang terlalu malam sama ibu tadi," kataku memberikan alasan. Meskipun sebenarnya ingin menyaksikan pesta kembang api yang hanya setahun sekali. Tapi aku nggak mau melanggar larangan ibu.


Raka mengantarku sampai depan rumah. " Saya langsung pulang ya, sampaikan salam buat ayah dan ibu." Ia pun berlalu.


Aku membuka pintu yang ternyata belum dikunci. Ibu keluar dari kamar. Rupanya ibu belum tidur, mungkin masih menungguku.


" Dari mana saja tadi ? " tanya ibu ketika aku mengunci pintu.


" Nonton bioskop terus makan, habis itu nonton band di alun-alun." Aku menjawab seraya menuju kamar mandi. Ibu hanya tersenyum


Seusai membasuh wajah dan kaki aku langsung masuk ke kamar, begitu juga ibu. Kubaringkan tubuh di ranjang. Tapi beberapa menit kemudian handphone ku berbunyi. Raka !


[ Terima kasih ya, sudah mau merayakan malam tahun baru bersama saya 🙏 ]


[ Saya juga terima kasih karena sudah diajak jalan-jalan ]


[ Ya sudah sekarang tidur. Mimpi indah yaa.. 😊 ]


[ Mimpi indah juga 😊 ]


Kutaruh lagi HP di sampingku berbaring. Baru tadi sore kita bertukar nomor kontak sekarang dia sudah mengirim pesan ucapan selamat tidur. So sweet !


Hei , kita bukan lagi pacaran kan ? Dia tadi nggak mengucapkan kalimat yang menjurus ke arah itu. Aku nggak boleh berpikir terlalu jauh. Mungkin dia hanya menganggapku teman dekat.

__ADS_1


____________


Sudah dulu ya gaees, nantikan kelanjutannya di bab berikutnya.


__ADS_2