Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 84 Peringatan Buatnya


__ADS_3

" Mbak Sri sholat dulu aja, biar aku selesaikan cuciannya." Aku menyuruh mbak Sri meninggalkan pekerjaannya. Ia pun beranjak siap-siap sholat Dzuhur. Ibu sudah lebih dulu tadi.


" Sini biar aku yang nyuci, kamu duduk saja." Raka mengambil alih tugasku.


" Enggak enggak, kita cuci bersama. Kamu tadi sudah membantuku terus, nanti aku ditegur ibu kalau nggak melakukan apa-apa."


" Oke siaaap Tuan Putri," sahutnya.


Seusai mencuci semua piring dan peralatan lain yang kotor aku hendak ke toilet sekalian berwudhu.


" Aku duduk di luar ya," tukas Raka. Ia pun duduk di bangku teras warung. Paling juga mau merokok.


Aku bergegas wudhu lalu sholat. Ketika aku melipat mukena sesudahnya, kudengar Raka berbicara dengan seseorang. Kedengarannya seperti suara nenek-nenek. Lekas kutaruh mukena dan aku pun keluar. Ibu berdiri di pintu depan mempersilahkan nenek itu masuk.


" Assalamualaikum, aduh maaf ya Bu saya merepotkan," ujar nenek yang ternyata neneknya Raka. Aku menghampiri dan menyalaminya.


" Tumben Nenek kemari panas-panas begini." Aku berbasa basi menyapanya. Kubuatkan teh seduh untuk nenek.


" Nenek mau beli kopi, sekalian mencari Raka pasti dia ke sini. Tadi pagi dia sudah merendam baju-baju kotor kok nggak dicuci malah langsung pergi. Oalaah dasar bocah." Nenek mengutarakan maksudnya datang kemari.


" Raka, kamu gimana sih ! Ini nenek mencari kamu." Aku memanggil Raka yang masih duduk santai.


" Iya aku tahu, tadi kan nenek sudah bilang." Raka melanjutkan menghisap rokoknya.


" Minum dulu Nek," ucapku sembari duduk di hadapannya. Nenek pun menyesap tehnya.


" Raka kebiasaan, kalau mencuci baju nggak langsung diselesaikan. Padahal kalau sudah direndam kan jadi bau kalau dibiarkan berjam-jam. " Nenek masih saja menggerutu. Yang diomeli tetap saja santai. Aku lebih baik diam karena ini urusan antara nenek dan cucunya, hehehe. Aku pun keluar menemani Raka.


Setelah mengobrol dengan ibu beberapa saat kemudian nenek pamit. " Lekas dicuci itu bajunya, nanti bau lho ! " pesannya sama Raka lalu pergi.


" Iya, iya, sebentar lagi," sahut Raka. Ia membuang puntung rokoknya lalu menolehku. " Aku pulang dulu ya," ucapnya lembut. Aku mengangguk.


" Kamu kok nggak bilang tadi kalau di rumah mau nyuci baju. Malah ke sini ujung-ujungnya juga nyuci piring. Aku kan nggak enak sama nenek." Aku ikut-ikutan mengomelinya.


" Lupa tadi, habis pikiranku cuma di kamu. Pingin merasakan kalau aku sudah benar-benar memilikimu. Pingin seharian bersama kamu."


" Iya tapi nggak ninggalin cucian juga kali. Sudah sana pulang nanti keburu sore malah nggak kering. Lagian besok-besok dilaundry saja lah." Aku memberi usulan.


" Sayang duitnya, kan lagi menabung buat menikah hehe ! " Ia mengerling sambil senyum-senyum. Aku menjulurkan lidahku membalas candaannya.


Raka pamit sama ibu lalu menaiki motornya yang terparkir sejak tadi pagi.


" Harusnya tadi bareng sama nenek, kan bisa boncengan." Aku mengingatkan hal ini sama Raka. Kenapa nggak dari tadi kusuruh dia pulang.

__ADS_1


" Kamu nggak dengar tadi, nenek kan mau beli kopi. Habis itu biasanya masih mampir ke teman-teman lamanya yang berjualan di pasar."


" Oh iya juga, hehe aku yang lupa." kutepuk keningku. Raka menyalakan motornya lalu menyuruhku mendekat.


" Cium dong ! " Aku melototinya lalu ia pun langsung pergi sambil tertawa.


Untuk yang satu ini aku harus memberi peringatan buat Raka. Aku nggak mau nanti orang akan berpikir yang bukan-bukan pada kami.


" Raka ada-ada saja, baru sehari tunangan sudah merasa memiliki aku seutuhnya. Kalau nggak disusul neneknya nggak mau pulang tuh. Pinginnya menemaniku terus, lebay parah." Aku masuk ke dapur dan bicara tentang Raka pada ibu dan mbak Sri.


" Saking bucinnya itu Mbak !" celetuk Mbak Sri.


" Bucin itu kalau baru jadian. Hubungan kita sudah lebih dari setahun lho, tapi baru akhir-akhir ini dia lebay kayak gitu," tukasku.


" Mungkin karena sudah tunangan jadi lebih mantap. Jaman dulu pacaran kalau belum dilamar masih dikira main-main. Makanya kalau sudah lamaran orangtua nggak khawatir lagi. Sudah bisa dipertanggungjawabkan. Istilah sekarang ya tunangan." Ibu pun memberi pendapat.


" Iya juga kali, malah kemarin Raka bilang kalau sudah tunangan dia berani masuk ruangan lain di rumah kita. Bahkan juga ke kamarku. Selama ini kan cuma duduk di ruang tamu, hehe ! " Aku tertawa kecil.


" Masa sih ? Nah itu mungkin yang bikin dia jadi bucin sekarang ini. Kemarin nggak berani ngapa-ngapain tapi sekarang merasa sudah mendapat ijin resmi, begitu. Ini perkiraanku sih." Mbak Sri juga menebak-nebak.


" Kalau istilah Jawanya selama setahun itu dia ' ngampet ' , setelah dapat ijin jadi pingin melakukan segalanya, hehe ! " lanjutnya sembari terkekeh.


_____________


Kalau dulu waktu masih bersama mbak Nia kita pulang hampir jam 7 malam. Setelah cuma berdua ayah menyarankan supaya warung tutup lebih awal. Supaya ibu nggak terlalu capek juga.


Pulang dari warung aku duduk sebentar di teras bersama mbak Nia dan Arkana.


" Ante tapek ya, uh uh ! " Aku geli saat Si kecil Arkana memijit pahaku dengan tangan kecilnya.


" Dia tahu kamu capek lalu mau mijitin. Biasanya kalau ayahnya pulang juga begitu," kata mbak Nia menceritakan kebiasaan Arkana.


" Waah Arkana pinter ya, cayang ya cama tante Aira. Sini sini , tante juga cayaaang ama Arkana cup cup ! " kuciumi ponakan pintarku. " Tante mandi dulu ya, bau aceem hihi ! " Aku masuk lalu beranjak ke kamar mandi.


Seusai berganti pakaian sekalgus sholat Magrib aku tiduran di sofa ruang keluarga. Kubuka aplikasi Noveltoon yang sempat beberapa waktu tak kubaca. Ada novel yang belum kuselesaikan. Arkana lagi dipangku sama kakeknya di ruang tamu karena mbak Nia sedang sholat.


" Assalamualaikum ! " Terdengar suara yang tak asing di telingaku.


" Waalaikum salaam ! " jawab ayah. Sesaat kemudian Raka sudah muncul di depanku. Padahal aku baru mau berdiri menemuinya.


" Hai, kok tidur sih jam segini ! " tegurnya. Ia langsung duduk di sofa tempatku berbaring. Aku bangun dan duduk agak menjauh darinya.


" Cuma rebahan sambil baca novel. Masa habis Magrib tidur, " sahutku. " Awas ya jangan menyentuhku dulu, aku belum batal mau sekalian sholat Isya." Aku memperingatkan Raka.

__ADS_1


" Oh gitu ? Berarti kalau habis sholat boleh disentuh ya." Ia mengedipkan matanya sambil menyeringai.


Mulai deh genitnya. Aku melotot seraya menempelkan telunjuk di bibir. Kode supaya diam karena takut kedengaran yang lain.


" Di depan aja yuk," ajakku lalu berjalan ke ruang tamu. Ayah membawa masuk Arkana ke ibunya.


" Bapak kok nggak ke masjid. Biasanya di sana sampai Isyak," tanya Raka padaku.


" Lagi nggak enak badan jadi habis Magrib langsung pulang. Nanti setelah Isya mau dikerokin sama ibu."


Ayah memang agak meriang, faktor cuaca yang gampang berubah sekarang ini. Apalagi kondisi ayah yang dari dulu memang mudah sakit. Tapi untungnya hanya masuk angin atau flu biasa, bukan penyakit yang berat.


" Mau minum apa? " tanyaku menawarinya. Biasanya langsung kubuatkan teh, kali ini biar memilih.


" Boleh nggak minta kopi susu, atau coklat panas." Ia balik bertanya.


" Coklat panas saja ya, biar aku bisa minta nanti. Soalnya kalau kopi susu aku nggak doyan," cetusku..


" Terserah kamu deh, katanya boleh request tapi ditentuin. Sama juga bohong." Raka pun protes. Aku terus masuk ke dapur.


Lima menit kemudian aku kembali. Kutaruh minuman di meja. " Aku sholat Isya dulu ya, keburu batal nanti." Raka mengangguk lalu berdiri.


" Aku juga mau wudhu, sholat di kamarmu saja."


" Ya sudah," ujarku lalu masuk ke kamar. Raka berlalu ke kamar mandi.


Seusai aku sholat gantian Raka yang masuk ke kamarku. Setelahnya kami pun duduk berdua sambil menikmati coklat hangat. Sengaja kubikin pakai cangkir gede biar bisa diminum berdua.


" Nanti kalau berdekatan biar berasa coklat ya," celetuk Raka dengan memberi kode. Ia membentuk jari-jari kedua tangannya seperti mulut lalu menyatukan keduanya. Aku melengos, tahu apa yang dia maksud.


" Aku kasih tahu ya, kamu jangan asal peluk kalau di depan orang. Aku malu disangkanya kita pacarannya bebas. Nanti orang mikirnya gini, di depan orang aja berani kayak gitu apalagi kalau nggak kelihatan pasti udah macam-macam." Raka kuperingatkan supaya jangan berlaku yang mengundang cibiran orang.


" Memang kenapa , nggak usah peduli omongan orang yang penting kita nggak keluar jalur." Raka membela diri.


" Nggak gitu juga, aku juga harus menjaga harga diriku. Apalagi secara penampilan aku ini kan berjilbab, meskipun belum sempurna masih sekedar menutup kepala. Tapi aku nggak mau dipandang buruk sama orang. Aku nggak munafik. Tapi setidaknya di depan umum kita terlihat sopan. Kamu tahu kan maksudku." Kutatap mata Raka mencari jawaban. Kuharap dia mengerti.


" Tahu dong sayang. Habisnya aku gemes sama kamu jadi suka nggak sadar pingin langsung memeluk kamu, hehe ! " ucapnya bercanda.


" Pokoknya kalau sampai kamu macam-macam di depan umum aku nggak mau ketemu kamu lagi." Aku pura-pura mengancamnya. Raka diam, tapi tangannya merengkuh bahuku. Ditariknya tubuhku ke dalam pelukannya. Ia pun mengusap lembut pipiku.


_________&&&&&________


Sekian dulu gaes, besok dilanjut lagi. Jangan lupa like dan komen ya. Thanks !

__ADS_1


__ADS_2