Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 57 Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Sekitar pukul 19.00 atau 7 malam kami turun di depan pasar, kemudian mampir di warung untuk makan. Dan untung tadi bis yang kami tumpangi sempat singgah di masjid dan mempersilahkan penumpangnya untuk sholat Magrib.


" Kita ke rumahku dulu ya, mau naruh barang bawaan sekalian mengambil motor. Aku capek kalau nanti pulang jalan kaki sehabis mengantar kamu." Raka mengajakku ke rumahnya.


Aku menyetujuinya. Mana tahu bisa berkenalan dengan keluarga Raka. Dan benar saja sampai di sana aku disambut dengan baik, terutama bu Harti dan neneknya.


" Silahkan masuk Mbak Aira, akhirnya mau main ke sini. " Bu Harti menyapaku dan mempersilahkan masuk.


" Terima kasih, Bu." Aku masuk dan menyalami beliau berdua. Raka menaruh tas ranselnya lalu membuka oleh-oleh. Diambilnya sebagian dan diberikannya pada bu Harti. Sisanya dibungkus lagi lalu dimasukkan dalam tas plastik.


Setelah berbasa basi sejenak Raka mengajakku pulang. " Saya permisi dulu Bu, Nek.." Aku pamit sama Bu Harti dan neneknya Raka. Tak lupa kubawa tas plastik berisi oleh-oleh tadi.


Sampai di rumah ternyata ibu sudah menunggu.


" Masuk dulu nak Raka, biar Aira bikin minuman." Ibu menyuruhku membuatkan teh panas untuk Raka. Aku langsung masuk ke dapur.


" Terima kasih Bu, tapi saya mau langsung pulang soalnya besok pagi saya harus berangkat lagi ke Jogja." Raka menolak halus permintaan ibu.


" Sebentar saja nggak apa-apa, kan habis perjalanan jauh. Itu Aira juga sudah selesai bikin tehnya." Ibu tetap membujuknya. Aku keluar membawakan minuman. Raka juga sudah duduk di ruang tamu.


" Nih minum dulu, tadi di rumah belum sempat minum kan. Kalau habis perjalanan enaknya minum yang panas biar badan jadi hangat dan segar." Kusodorkan secangkir teh manis yang agak panas pada Raka. Ia menyeruputnya pelan-pelan sambil meniupnya.


" Jangan ditiup, aku bikinnya nggak panas banget kok. Sudah aku kira-kira langsung diminum saja. " Raka menuruti perkataanku.


" Hemmh... ternyata nikmat ya minum teh panas. Capeknya berasa hilang," ucapnya.


" Iya makanya jangan minum es melulu," ujarku. " Kok kalimatmu sama kaya kalimatku tadi siang, cuma dibalik. Balas dendam nih ceritanya." Raka memprotes ucapanku.


" Ya syukur kalau kerasa. Tadi siang kan aku diledek gegara minum teh panas. " Aku mencibir. Raka hanya tertawa kecil.


Setelah menghabiskan tehnya Raka pun pamit. " Aku pulang ya, besok pagi mau berangkat lagi soalnya ada tugas yang harus dikumpulin besok."


Aku mengangguk. " Hati-hati ya," pesanku. Raka menghidupkan motornya dan berlalu dari hadapanku. Aku masuk dan menutup pintu. Kuambil plastik berisi oleh-oleh yang kutaruh di meja tadi lalu kutaruh di meja makan.


" Sudah makan belum Aira ? " tanya ibu yang sedang menonton TV. " Sudah tadi mampir ke warung makan." jawabku seraya masuk kamar. Kuletakkan tas selempang di atas meja lalu beranjak ke kamar mandi.


____________


Beberapa hari berlalu. Hari ini suasana di pasar kelihatan ramai. Imbasnya warung makan ibu juga ikut ramai pengunjung. Padahal ini baru hari Sabtu.


" Ada acara apa sih Mbak, kok tumben banyak orang kelihatan sibuk bolak balik ke pasar. " Aku bertanya sama mbak Wiwit saat dia minta makan siang pada ibu.

__ADS_1


" Tuh di kampung sebelah kan lagi ngadain acara sadranan. Ada panggung hiburannya juga kok. Acaranya dari siang sampai malam." Mbak Wiwit memberi tahuku.


Kampung sebelah pasar berarti kampungnya Arya. Tiap tahun menjelang bulan Ramadhan memang di beberapa desa sering mengadakan acara Sadranan. Tiap desa berbeda tata caranya. Ada yang mengadakan pengajian, yasinan, ada yang meriah dan besar-besaran bahkan sampai mengadakan tontonan.


" Oh iya, bulan depan sudah puasa ya. Tumben kampung sebelah acara Sadranan nya meriah." Aku berkomentar.


" Mungkin lagi banyak donatur kali, hehehe ! " celetuk mbak Wiwit seraya keluar dengan membawa sepiring nasi komplit dan segelas teh manis.


" Mbak Aira nggak pingin nonton tuh ! " cetus mbak Sri.


" Kalau ada yang mengajak ya nonton, kalau sendiri ya ogah. Kalau dulu sih sama mbak Nia dan mas Joni. Tapi sekarang sudah ada Arkana kan kasihan kalau diajak ke tempat ramai." Aku mengingat lagi saat masih sering jalan bareng mbak Nia dan mas Joni.


" Sekarang sama mas Raka lah, sama siapa lagi. Pakai bilang kalau ada yang ngajak. Suka pura-pura tuh Mbak Aira." Mbak Sri berkata lagi lalu mencibir.


" Bukan begitu, tapi aku kan nggak bisa semata-mata ngajakin dia keluar.Aku nggak mau merepotkan dia, kecuali kalau dia yang mengajakku."


" Mbak Aira memang nggak enakan orangnya. Sedikit-sedikit sungkan, malu, nggak mau ngerepotin. Sama pacar sendiri kok masih mikir-mikir." Mbak Sri mengomentari ku.


" Tiap orang beda-beda kali Mbak," cetusku . Aku duduk di kursi dapur sambil makan siang. Mbak Sri masih menyelesaikan cucian piringnya.


Seusai makan kubuka HP ku sejenak sebelum beranjak sholat Dzuhur. Ada pesan WA dari Raka yang belum kubuka. Mungkin tadi aku di depan hingga tak mendengar bunyinya.


[ Hai sayang , katanya ada tontonan di kampung sebelah pasar. Mau nonton nggak ? ]


[ Memangnya nggak ada yang ngajakin ya, kasihaaan 😛 ]


[ Kok malah ngeledekin sih 😌 ]


[ Yach ngambek deh. Habisnya pakai bilang kalau ada yang ngajak. Kan aku udah nawarin tadi ]


[ Biasanya juga kalau malam Minggu keluar, pakai nawarin segala. Kalau aku bilang nggak mau kamu mau nonton sendiri, gitu ? ]


[ Salah lagiii... ya deh maaf. Oke nanti sore aku jemput ya, jangan ngambek lagi. Senyum dong.. nanti cantiknya hilang loh kalau cemberut 😊 ]


[ Siapa yang cemberut, emang kelihatan dari situ ]


[ Tahu dong, aku kan ahli menerawang 😄😄 . Ya sudah sekarang selesaikan dulu pekerjaan kamu nanti aku jemput di warung . Oke see you 😘😍 ]


Aku tersenyum membaca pesannya. Mbak Sri melirik ku. " Hayo kenapa kok senyum-senyum sendiri." Ia mulai kepo.


" Mau tahu aja, ayang beb nih mau ngajak nonton di kampung sebelah," jelasku. Mbak Sri gantian senyum-senyum.

__ADS_1


" Aku senang banget, sejak ada mas Raka mbak Aira selalu ceria, wajahnya berseri-seri. Sepertinya hari-hari selalu berwarna buat mbak Aira." Mbak Sri tiba-tiba jadi mellow.


" Aamiin.. ini semua juga karena doa dan dukungan mbak Sri dan yang lain. Kalian selalu menghiburku saat aku sedih, selalu membantu jika aku disakiti seseorang." Aku membalas perkataannya.


Kita pun menyudahi obrolan karena harus menyelesaikan pekerjaan masing-masing. Selesai tugasku aku sholat dan setelahnya rebahan di tempat sholat.


" Assalamualaikum, Aira mana Buk ? " Terdengar suara Raka yang mencariku.


" Itu di dalam lagi sholat, " jawab ibu. " Masuk saja nak Raka, paling Aira juga sudah selesai sholat. Biasanya dia tiduran." Ibu menyuruh Raka masuk ke dapur.


Aku bangkit dari tidurku lalu duduk. Raka muncul di dapur. " Hai, lagi tidur ya," sapanya lembut.


" Enggak, cuma rebahan aja sambil menunggu ibu selesai memasak ayam," jawabku lalu sedikit menggeser posisi duduk ku supaya Raka bisa ikut duduk di dalam bilik.


" Mau nonton sekarang atau nanti malam ? " Raka memberi pilhan.


" Kalau nanti malam pasti ramai karena ini kan Malam Minggu. " Mbak Sri ikut berkomentar.


" Apa sekarang kita tengok dulu barang sebentar. Nanti kita balik ke sini lagi lalu pulang dulu. Terus habis Isya nonton lagi kalau masih pingin. " Raka menawariku.


Aku mengangguk. Kukalungkan tas selempang lalu kita berdua keluar untuk pamit sama ibu.


" Buk aku keluar dulu ya, Raka mau mengajakku nonton hiburan di kampung sebelah. Nggak apa-apa kan ? " Aku minta ijin pada ibu. Beliau pun mengangguk.


" Sebentar saja kok Buk, cuma nengok dulu. Nanti kita balik lagi ke sini." Aku tetap ngga tega kalau ibu sendirian. Raka pun mengangguk tanda meyakinkan ibu.


Secepatnya aku dan Raka naik motor menuju ke tempat hiburan di kampungnya Arya. Benar saja pengunjungnya belum begitu banyak kalau jam segini.


" Kita nonton di sebelah sana yuk ! " ajak Raka. Ia menggandeng tanganku dan mencari tempat yang agak nyaman.


Tak sengaja aku melihat Arya tengah duduk dengan teman-temannya. Aku sempat kaget tapi segera ku pasang wajah biasa supaya Raka nggak curiga. Arya menoleh ke arahku.


" Hai Aira ! " sapanya. Teman-temannya ikut menoleh dan tersenyum padaku. Ada Saiful juga.


" Hai juga," balasku. Aku melirik ke Raka. Seketika wajahnya berubah seperti tak senang. Tapi ia belum tahu kalau aku pernah dekat dengan Arya.


" Kita balik yuk, pasti ibu sudah selesai masak." Aku mengajak Raka balik ke warung.


Entah mengapa aku jadi nggak nyaman setelah ketemu dengan Arya tadi. Takutnya dia menghampiriku lalu mengoceh tentang hubunganku dengannya. Belum siap saja kalau Raka tahu. Aku akan bercerita padanya suatu saat, tapi bukan sekarang.


**********************

__ADS_1


To be continue


__ADS_2