Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 107 Ibu Marah


__ADS_3

Semula kukira, begitu kukatakan kalau aku habis nonton sama Ernest, ibu akan tersenyum senang. Soalnya beberapa hari yang lalu saat aku dan Ernest bercanda di teras ibu juga ikut tertawa. Bahkan bu Dirja juga senang jika cucunya bisa akrab dengan tetangga. Namun ternyata aku keliru, ibu justru memarahiku.


" Sebenarnya aku tak ada rencana nonton. Tadi Ernest mondar mandir di depan rumah. Waktu kutanya dia bilang mau nonton sama teman, tapi temannya membatalkan janji karena ibunya sakit. Dia kecewa karena ini hari terahir. Aku iseng mau menemaninya karena kasihan."


" Halaah alasan saja. Kamu itu sudah punya Raka, dia sudah mau menuruti keinginanmu. Mau melamarmu. Seharusnya kamu bisa menjaga kepercayaannya. Kalau dia nggak datang menemuimu itu karena lagi ada kepentingan, bukan karena senang-senang sendiri. "


" Tapi aku kan cuma menemani Ernest nonton, apa salahnya. Dia itu cucunya bu Dirja, tetangga depan rumah kita. Hubunganku sama dia layaknya kakak adik kan. " Aku berusaha menjelaskan alasanku namun ibu tetap tak menerima.


" Ernest itu sudah SMA, bukan anak kecil lagi. Coba saja kalau sampai Raka tahu kamu nonton sama dia, pasti cemburu. Apalagi anaknya ganteng gitu." Ibu berkata lagi lalu masuk ke kamarnya.


Mbak Nia yang sedari tadi di kamar pun keluar. Mungkin dia juga mendengar saat ibu memarahiku.


" Kamu cari masalah saja sih Ra, ngapain pakai acara nonton sama Ernest segala." ucapnya setengah berbisik, takut kedengaran ibu.


" Aku kan ngga ada niat sebelumnya. Tadi pas kebetulan dia lagi di depan terus cerita sama aku, wajahnya kaya sedih gitu. Aku iseng aja bilang mau menemaninya, ternyata dia langsung senang. Aku kan nggak tega kalau kukatakan aku hanya bercanda. Filmnya memang bagus kok, makanya dia pingin banget nonton. " Aku berbisik pula.


" Iya sih, tapi harusnya kamu tadi jangan ngaku gitu sama ibu. Bilang saja habis dari rumah Eva, pasti ibu percaya dan tidak bakalan marah besar." Mbak Nia memberi masukan.


" Eva kan belum tentu ada di rumah. Kupikir ini wajar dan tidak jadi masalah, makanya aku langsung nyeplos aja. Orang aku juga nggak ngapa-ngapain. Kalau aku niat selingkuh baru sembunyi-sembunyi. Tapi bukan sama Ernest juga, usianya jauh di bawahku." Aku berucap lalu masuk kamar.


Kutaruh tas kecilku di meja lalu kubuka jilbab. Aku beranjak ke kamar mandi. Sedari tadi sudah berasa gerah tapi malah diceramahi sama ibu.


Byuurr ! Dinginnya air yang mengguyur tubuh langsung menyegarkan suasana hatiku. Tanpa berlama-lama kusudahi mandiku dan segera kembali ke kamar.


Seusai berganti baju aku duduk di pinggir ranjang. Kalau aku kasih tahu mas Raka, kira-kira reaksinya bagaimana ya ? Apa dia juga akan marah seperti ibu tadi, atau malah lebih parah. Apa benar aku hanya menganggap Ernest adik ? Dia saja sudah berani memegang tanganku dan meremas jemariku.


Tring tring ! Handphoneku berbunyi, suara panggilan masuk. Kulihat nama yang tertera di layar, dari mas Raka. Kugeser tombol hijau ke atas.


" Hallo Mas Raka, tumben telpon, " sapaku .


" Assalamualaikum Cantik, lagi apa ? " sapanya juga .


" Waalaikum salam. Eeh maaf sampai lupa mengucap salam, hihihi ! " balasku.


" Kamu ini, lagi ngapain sekarang. Sudah makan belum ? " tanyanya lagi. Dia begitu perhatian, di tengah kesibukannya masih sempat memikirkanku.


" Belum sebentar lagi. Mas Raka sendiri udah makan belum, tadi pulang jam berapa ? " tanyaku balik.


" Sudah makan di tempat kondangan dong. Tadi jam 8 sampai rumah. Kamu kok jam segini belum makan sih," ucapnya bernada khawatir.


" Lagi malas aja, kalau lagi haid bawaannya malas makan. Maunya ngemil," jawabku.


Aku kasih tahu nggak ya kalau aku tadi nonton. Tapi mas Raka kan cemburuan. Waktu pertama melihat Ernest saja wajahnya cemberut gitu.

__ADS_1


" Tapi kalau bisa tetep dipaksa makan. Ngemil kalau makanan berat nggak pa pa, jangan cuma keripik sama kue kering. Ingat pesanku kan, kamu harus kelihatan gemuk saat menikah nanti, hahaha ! "


" Iiih apaan sih, kamu kok pingin banget aku gemuk. Mau punya istri gendut? "


" Ya enggak juga. Tapi badan kamu itu kan kecil, jadi harus nambah lagi biar bisa mengimbangi tubuhku yang tinggi. Ini aja udah nambah lho."


" Iya, iya, salahnya sendiri suka sama yang kecil. Huuu ! " sahutku mencebikkan bibir.


" Tuh kan ujung-ujungnya ngambek. Aku yakin pasti kamu lagi monyongin bibir, untung aku nggak di dekatmu."


" Memang kenapa kalau di dekatku ? " tanyaku. Jawabannya pasti ngaco.


" Emm, itu tuh... pasti sudah ku... iiihhh gemesss !" ucapnya.


" Bener kan jawabannya pasti ngaco." Aku pura-pura marah.


" Hahaha, kamu sih suka ngambekan. Udah gitu hobinya monyongin bibir."


" Yeee, sembarangan ngatain bibirku monyong. Tapi monyong cantik kan," ucapku manja.


" Heeeh, mulai deh. Nggak kuat kalau kaya gini. Sudah ah aku mau istirahat, kamu makan malam dulu sebelum tidur lho ya. Aku nggak mau dengar kamu sakit." Mas Raka menasehatiku.


" Iya Pak Dokter, siaap ! " balasku.


" Waalaikum salam." Tuut. Ia mematikan panggilannya. Kuletakkan kembali hape di meja.


Maafkan aku mas, aku terpaksa tidak memberitahu kamu kalau aku habis nonton sama Ernest. Bukan maksudku membohongimu.


Aku tidak punya perasaan apapun pada Ernest, tapi entah mengapa aku tak bisa menolak jika ia menginginkan sesuatu. Termasuk ketika ia memegang tanganku.


______________


Keesokan harinya, Sabtu pagi. Seusai dandan aku bersiap pergi. " Ayah aku berangkat ya," pamitku pada ayah yang sedang duduk menikmati kopi.


" Ya hati-hati. Jangan lupa bilang sama ibu nanti tolong belikan ayah buntil daun pepaya," pesan ayah. Beliau sangat suka buntil khususnya yang dari daun pepaya. Apalagi yang rasanya masih asli pahit, tidak dimasak pakai tanah liat.


" Baik Yah, nanti biar aku belikan. Tapi kalau penjualnya nggak libur lho ya," kataku.


Aku bergegas keluar. Ernest tengah berolah raga, sepertinya hari ini ia libur sekolah.


" Pagi Mbak Aira, kok ceria banget hari ini. Baru jam berapa udah cabut aja ! " sapanya sembari berkomentar.


" Jelas dong, pagi ini aku mau jalan kaki sekalian olah raga biar sehat," ucapku sambil melambaikan tangan padanya.

__ADS_1


" Mbak, besok temani aku ke Car Free Day dong. Sudah beberapa bulan di sini aku belum pernah ke sana."


" Aduh maaf Dek aku nggak bisa. Kan tahu sendiri aku tiap hari ke warung." Aku terpaksa menolak.


" Minta ijin sama ibu dong Mbak, sekali-sekali jalan sama aku," rengeknya dengan wajah seolah memelas.


" Kamu kan bisa pergi sama teman-teman sebaya kamu di sini. Atau sama teman sekolah. Kalau sama aku nanti dikira jalan sama tante-tante." Kuberi dia saran.


Dia tak tahu, tadi malam kita nonton saja aku dimarahi ibu habis-habisan. Apalagi ke CFD Minggu pagi, bisa terjadi Perang Dunia ketiga. Belum lagi reaksi mas Raka nanti.


Heran sama Ernest, tahu aku sudah punya pacar tapi ia tak peduli. Seolah menganggap mas Raka bukan siapa-siapaku.


" Aku lebih senang jalan sama Mbak Aira. Biarin deh mau dikatain jalan sama tante-tante. Yang penting tantenya cantik, hehehe ! "


" Ah ngomong sama kamu tidak ada habisnya. Sudah ah nanti kesiangan malah nggak jadi jalan kaki." Kutinggalkan dia yang masih bengong.


Sampai di gapura aku berhenti sejenak. Kutengok jam di hape, pukul 6.50. Belum terlalu siang, aku bisa jalan kaki. Hitung-hitung irit pengeluaran, soalnya kemarin baru saja potong rambut. Bedak sama lipstik juga hampir habis. Tak mungkin aku minta sama mas Raka kalau bukan dia sendiri yang menawariku.


" Hai Aira, kok langsung jalan nggak menunggu angkot dulu ? " tanya mbak Tutik yang baru muncul dari arah barat gapura.


" Masih pagi mau jalan kaki saja. Mbak Tutik dari mana? " Aku balik bertanya.


" Habis beli gudeg di kampung sebelah," jawabnya seraya memperlihatkan bungkusan yang dibawanya. Aku meneruskan langkah.


Tiba di warung aku disambut dengan wajah masam ibu. Sudah biasa bila sedang marah selalu dibawa ke tempat kerja. Dan seharian nanti aku dan ibu3 bakal diam-diaman sampai sore. Mbak Sri saja sudah hafal dengan perangai ibu yang seperti itu padaku.


" Pagi Mbak Sri," sapaku. Kulepas tas selempang lalu kutaruh di tempat biasa.


" Semalam ada ' drama Korea ' ya Mbak, kok tadi ibu sudah menggerutu ngomongin kamu." Mbak Sri membisikiku.


" Biasalah, tapi salahku juga sih," ucapku mengakui.


" Memangnya ada apa, setahuku sudah lama ibu tidak pernah marah sama kamu lho Mbak. Semenjak ada mas Raka kayaknya." Mbak Sri menanyakan persoalanku dengan ibu.


" Nanti lah aku cerita, tapi untuk saat ini aku belum bisa. Nggak tahu mesti ngomong apa," kataku tak bersemangat. Padahal tadi sebelum berangkat aku amat sangat ceria. Begitu melihat raut wajah ibu jadi serasa tak bertenaga.


Benar kata mbak Sri semenjak aku bersama Raka ibu jarang marah padaku. Kenapa sih aku tidak bisa mengontrol diri. Hanya kesenangan sesaat malah membuat ibu murka. Masih bagus mas Raka tak tahu.


_______________


Bersambung.


Author menunggu masukan dari readers agar ceritanya bisa berkembang sesuai dengan keinginan kalian.

__ADS_1


Tetap tungguin terus serta vote like dan komennya. Makaciiiih !


__ADS_2