
Meskipun sudah kuhapus kontak Arya, ada beberapa chatinganku dengannya yang masih kusimpan. Malam ini sebelum tidur aku iseng membacanya lagi.
Ini chat terakhir sekitar 2 minggu yang lalu. Selalu aku yang mulai dulu menghubunginya.
[ Dear Arya
Aku nggak tahu lagi harus mengatakan apa padamu
Makin hari kamu makin cuek padaku., kamu nggak menganggap aku ada
Kamu tahu aku cinta sama kamu, aku nggak bisa melupakanmu, tapi kamu nggak mau memperlakukanku layaknya seseorang yang istimewa buatmu.
Sebenarnya gimana sih perasaanmu padaku ?
Kalau memang kamu nggak cinta sama aku biarlah aku pergi darimu. Aku nggak akan mengganggunu lagi., nggak akan mencari kamu lagi di kantor atau di rumah. π ]
[ Hanya satu permintaanku., aku minta kenang-kenangan darimu sebagai ganti jika aku kangen kamu π π ]
Dia nggak langsung membalasnya waktu itu. Malam hari baru dia mengirim pesan balasan.
[ dear sayangku yang tersayang
maafkan aku jika tak bisa menjadi seseorang yang kau inginkan.
aku mencintaimu, tapi aku takut mengakuinya.
kamu begitu baik, bahkan terlalu baik. aku nggak pantas memilikimu.
aku bukan laki-laki yang sempurna, aku tak punya apa-apa untuk bisa membahagiakanmu
aku bukan lelaki kaya yang bisa menuruti kebutuhanmu
aku rela melepaskanmu , sekalipun aku sangat mencintaimu ]
[soal kenangan so pasti aku kasih ]
[ βΊπ ]
Semua kalimat dia tulis dengan huruf kecil. Mungkin dia buru-buru hingga tidak sempat mengutak atik tombol huruf, tapi sempat mencet emoji he he. Aku tersenyum sendiri.
" Belum tidur Aira ? kok pintunya nggak ditutup. " ayah menegurku di depan pintu. Ah iya aku lupa menutup pintu tadi.
" Bentar lagi Yah, makasih sudah mengingatkan." aku tersenyum pada ayah. Kututup pintu kamarku dan kembali berbaring. Jam dinding menunjukkan pukul 11.40 , aku belum merasa ngantuk.
Kupahami lagi kalimat yang ditulis Arya. Dia bilang cinta sama aku tapi takut mengakui. Apa yang dia takutkan ? Kalau soal materi aku bukan cewek matre. Kenapa dia nggak pernah membahas ini dan hanya menyimpulkan sendiri.
Atau jangan-jangan ini hanya alasannya saja. Kupejamkan mata dengan bayangan wajah Arya yang menari di mataku. Berkali-kali kutepis namun sulit. Akhirnya aku tertidur.
Keesokan harinya aku bangun agak kesiangan. Mungkin karena tadi malam aku begadang, hanya untuk memikirkan seseorang yang tidak seharusnya kupikir.
Pukul setengah 8 aku baru sampai di warung. Para pelanggan sudah mengantri mau sarapan.
" Eeh Si Cantik baru datang ! " celetuk mas Harun yang tengah menikmati ayam goreng favoritnya.
" Iya Mas," jawabku ringan. Setelah menaruh tas bergegas aku menggantikan mbak Sri melayani pembeli. Mbak Sri masuk ke dapur mengambil piring dan sendok. Selanjutnya meneruskan menggoreng bakwan dan tempe tepung.
Setelah pembeli sudah mulai berkurang aku menyendok nasi serta lauk lalu sarapan. Ibu sudah sarapan lebih dulu sedangkan mbak Sri masih menyelesaikan cucian piring dll.
" Assalamualaikum," seru seorang ibu yang masuk ke warung. Ia menggendong karung besar yang isinya hampir penuh, lalu menaruhnya di lantai.
__ADS_1
" Waalaikum salam, eeh bu Sulastri apa kabar ? sudah lama nggak pernah mampir ke sini." Ibu menyambut ibu tersebut.
" Baik Bu Wahyu, maaf nggak pernah ke sini soalnya kemaren sawah sempat kebanjiran. Jadi beberapa bulan bapak nggak menggarap sawah, hanya mengurus kebun saja."
Ibu itu pun bercerita sambil mengeluarkan barang bawaannya dari karung. Ada beras, pisang, gula aren, nasi jagung ,cabe dan beberapa sayuran.
Rupanya ibu sudah kenal lama dengan bu Sulastri ini. Dia pelanggan ibu sekitar 3-4 th yang lalu. Waktu itu aku masih sekolah sehingga belum pernah bertemu dengannya. Meskipun belum lama tapi bu Sulastri sangat baik dan merasa cocok dengan ibu. Setiap sebulan sekali dia menjual hasil panen ke pasar dan pasti mampir ke sini membawakan hasil panennya untuk ibu juga.
Bu Sulastri menatapku kemudian tersenyum.
" Itu adiknya mbak Nia ya Bu, " tanya dia pada ibu..
" Iya Bu Lastri, sudah lulus SMA hampir 2 th ini., " jawab ibu. " Kemarin sempat bekerja di Taman Kanak-kanak tapi berhenti karena ingin membantu di warung. " Ibu menambahkan.
" Oh begitu, memangnya mbak Nia sekarang di mana? " tanya Bu Sulastri lagi.
" Sudah menikah hampir setahun ,tapi belum punya momongan. Maaf saya nggak mengundang Bu Lastri karena terus terang saya nggak tahu alamat yang pasti. Ibu juga lama nggak mampir kemari. "
" Sudah menikah ternyata. Nggak apa - apa Bu Wahyu saya mengerti , maklum rumah saya jauh di pedesaan he he he ... " Bu Sulastri terkekeh.
" Aira kok diam saja, bikinkan kopi panas dong buat bu Lastri," perintah ibu padaku.
Aku pun menghentikan sarapanku sejenak lalu membuatkan minuman untuk bu Sulastri alias bu Lastri. Perjalanan dari desa jauh jadi enaknya memang minum kopi panas setelahnya.
Ibu mengambilkan nasi dan lauk buat bu Lastri kemudian mereka pun mengobrol. Aku memilih masuk ke dalam meneruskan sarapanku. Kebetulan warung sedang nggak ada pembeli.
Mbak Sri sudah selesai mencuci piring dan mau sarapan. Ia duduk di sebelahku.
" Mbak, kenal nggak sama bu Lastri itu ? " tanyaku berbisik pada mbak Sri.
" Kenal banget sih enggak, sekedar tahu saja. Beliau lebih sering mengobrol sama ibu. Bahkan kadang sampai lama banget, " jawabnya. Ia pun bercerita.
Kulihat berkali-kali bu Sulastri mencuri pandang ke arahku, lalu tersenyum pada ibu. Kelihatannya mereka sedang bicara serius dan tampak bahagia.
" Saya sih terserah Bu Wahyu saja. " Itu yang sempat kudengar dari bu Lastri.
Aku berkata pelan, " Kok dia ngelihatin aku terus sambil senyum-senyum gitu. "
" Mungkin mau menjodohkan putranya sama mbak Aira, toh kalian berdua sama-sama cantik. Nggak dapat kakaknya masih ada adiknya hi hi hi... " mbak Sri malah meledekku.
Kucubit perutnya, ia menjerit tertahan karena takut terdengar dari luar.
" Aku sih ogah dijodoh-jodohin," sahutku.
Menjelang makan siang pelanggan warung mulai berdatangan. Bu Sulastri berdiri kelihatannya mau pamit.
Setelah berbincang sebentar dengan ibu ia pun menoleh ke arahku dan berkata, " Mbak Aira ibu pulang dulu ya, besok ke sini lagi sama Yudha. "
Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Kuulurkan tangan menyalaminya karena ibu memberi isyarat lewat mata. Bu Sulastri keluar diikuti ibu.
" Terima kasih semuanya lho Bu Lastri," kata ibu seraya menyerahkan bungkusan pada bu Sulastri.
Mungkin isinya ayam goreng dan beberapa 'kletikan' sebagai ucapan terimakasih pada bu Sulastri.
Sepulangnya bu Sulastri ibu tidak bicara sesuatu yang penting padaku. Aku pun tenang-tenang saja berarti ledekan mbak Sri tidak terbukti.
_______
Sebulan kemudian bu Sulastri datang lagi bersama putranya yang bernama Yudha. Cowok berparas hitam manis, tapi agak pendiam. Ibu menyambut mereka dengan hangat. Aku menyalami bu Sulastri dan putranya.
__ADS_1
Seperti biasa bu Lastri membawa oleh-oleh hasil kebunnya. Ibu menyuguhkan hidangan untuk mereka.,aku membuat kopi panas untuk bu Lastri dan teh buat Yudha.
" Aira, itu Yudha diajak ngobrol ! masih malu dia." bu Sulastri memintaku menemani Yudha.
Cowok kok malu- malu, yang bener aja ! kata batinku.
Aku yang semula mau masuk ke dalam mengurungkan niat dan kembali duduk.
" Bu Wahyu, maaf saya ada keperluan sebentar. Yudha biar mengobrol sama Aira dulu, " kata bu Lastri kemudian. Ia menyebutku Aira saja, tanpa embel-embel 'Mbak' seperti tempo hari.
" Oh iya silahkan bu Lastri, Aira juga lagi nggak ada yang dikerjakan kok. Sudah ada mbak Sri. " Ibu menyahut ucapan bu Lastri lalu masuk ke dapur.
Tumben ibu bilang kalau aku lagi nggak ada pekerjaan. Biasanya kalau aku istirahat sebentar saja sudah disuruh ini itu.
" Emm... Aira sudah makan belum ?" tanya Yudha membuka percakapan.
" Sudah baru saja, memangnya kalau belum mas Yudha mau nraktir ? " aku mencoba mengajaknya bercanda sembari tertawa kecil.
" Boleh ayo ! Memangnya Aira pingin makan apa ? "
Ia malah menawariku jajan, kesempatan nih. Sudah lama aku ngga makan di restoran.
" Waah kalau ditanya pingin apa bingung dong , aku suka makan apa saja yang penting enak. " aku pun tertawa.
" Yang paling disuka apa, nanti aku belikan deh ! " ucapnya lagi. Ia menatapku menanti jawaban.
" Memangnya mas Yudha tahu tempatnya ? aku paling suka ikan nila bakar,bebek bakar sama udang goreng tepung. Terus bakso iga dan sop buntut juga suka.." aku menjawab sekenanya. Lagian cuma bercanda ini.
" Aduh aku nggak tahu belinya di mana. Aku kan orang desa jarang ke kota. Kalau Aira mau nanti aku kasih uang terus beli sendiri saja, gimana ? "
Astaga ! Ini cowok terlalu lugu atau gimana sih ? Masa mau traktir cewek kok malah ngasih uang suruh beli sendiri. Aturan kan makan bareng gitu di restoran atau cafe.
Lagi pula tadi aku juga iseng aja menjawab pertanyaannya. Siapa juga yang mau makan bareng sama orang yang baru kenal.
" Duh nggak usah, aku tadi cuma bercanda kok.." Tentu saja aku menolak tawarannya. Kalau menuruti keinginan tentu ini kesempatan kapan lagi bisa makan enak gratis. Tapi itu bertentangan dengan kata hatiku. Aku kan bukan cewek matre.
" Nggak apa-apa santai aja, ini buat Aira ! " Yudha mengulurkan 2 lembar uang 100 ribu padaku. Aku bersikukuh untuk tidak menerimanya. Kenal juga baru hari ini. Nanti bisa - bisa dia menganggapku rendah. Mudah terbujuk dengan uang.
Yudha meletakkan uang 200 ribu itu di meja. Ibu yang ada di dapur sepertinya mendengar percakapanku dengan Yudha lalu keluar.
" Ambil aja Aira nggak apa-apa , anggap saja itu tanda perkenalan kalian . Ya kan mas Yudha? " Ibu malah ikut membujukku menerimanya.
" Nggak ah Buk, lagian aku masih ada kalau cuma uang 200 ribu , " celetuk ku langsung. " Ambil saja uangnya mas Yudha, maaf ya." Aku menyorongkan uang itu kembali ke depan Yudha.
" Maaf ya Aira, lain kali mungkin aku bisa mengajak kamu jalan. Kalau sekarang sudah kesiangan " dia pun memasukkan uangnya kembali di dompet.
Pembeli mulai berdatangan karena sudah jam makan siang. Aku dan ibu melayani pembeli, tak sempat lagi mengobrol.
Setelah 1 jam lebih bu Sulastri pun muncul. Mungkin tadi habis menagih uang ke beberapa pedagang di pasar. Ibu mengajak bicara sejenak dengan bu Lastri, tak berapa lama mereka pun pamit.
Aku merasa ada sesuatu antara ibu dan bu Sulastri. Apalagi sikap Yudha tadi juga seperti itu.
Mudah-mudahan saja tebakan mbak Sri salah. Jangan sampai perjodohan yang sempat batal dilanjutkan lagi dan aku sebagai gantinya. Oh no !
______&&&&&_____
Sudah dulu gaes. Besuk sambung lagi.
Mohon maaf bila penulis selalu lambat up date karena baru taraf mencoba.
__ADS_1
please vote like n komen ya !