Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 115 Sibuk


__ADS_3

" Mbak Nia ! aku dikasih lauk nih sama mbak Tatik," seruku memanggil kakakku yang masih di kamar. Ia membuka pintu kamar dengan bersungut-sungut.


" Aira ngapain sih teriak-teriak, Arkana masih tidur," ucapnya seraya menutup kembali pintu kamar lalu mendekatiku.


" Ini mau nggak, masakan restauran dikasih mbak Tatik barusan." Kutunjukkan piring yang kubawa ke depan mbak Nia. Ia mencicipi sedikit.


" Lumayan, ngga terlalu mewah juga. Pasti mas Basuki yang beli kan ? " tanya dia.


" Iya waktu mau makan malam, sekalian beli buat sarapan keluarganya. Orang kaya nggak sayang ya beli makanan mahal-mahal," ungkapku.


" Halah, paling ini juga sekali-sekali berhubung lagi ada acara. Aslinya juga pelit kok, suka perhitungan." Mbak Nia menceritakan tentang mbak Tati.


" Tapi kok sering ngasih kita makanan kalau pelit," komentarku.


Aku mengambil nasi putih ditambah lauk dari mbak Tatik lalu sarapan, begitupun mbak Nia.


" Dia ngasih kita makanan karena lagi ada maunya. Kan butuh bantuan kamu. Lihat saja kalau sudah selesai, paling cuma pamer." Mbak Nia melengos.


" Untung nggak tinggal di sini, jadi kita nggak dipamerin, hehe. Tapi kayaknya bener katamu Mbak, mungkin memang mereka keluarga pelit. Buktinya bu Dirja juga nggak pernah ngasih apa-apa ke kita. Biasanya orang kaya kan makanannya enak-enak, apalagi ada cucunya yang tinggal di sini, hihi."


" Iya, kayak mamanya Eva juga sering ngasih sesuatu sama kita," tukas mbak Nia.


" Kalian ini makan tapi sambil ngomongin orang. Pantas dari tadi nggak selesai-selesai." Ayah yang muncul dari belakang menegur kami.


" Hehe, sudah selesai kok Yah. Ayah mau makan sekalian? " Aku beranjak dari kursi hendak ke dapur.


" Ayah mau ngopi dulu, sarapannya habis ini. Kamu bukannya mau membantu mbak Tatik, kok belum siap-siap ? "


" Nanti lah Yah, ini masih jam 7 pagi. Catering nya juga belum datang. Kalau sudah datang baru aku ke sana bantuin menata di meja."


" Iya bener, kamu kan cuma diminta melayani tamu, jadi tidak usah membantu yang lain selain urusan konsumsi. Sepertinya yang menghias meja prasmanan juga saudara-saudaranya." Mbak Nia menimpali.


" Terserah kamu saja, yang penting jangan kecewakan mereka. Namanya tetangga paling dekat. Nia, buatkan ayah kopi ! "


" Baik Yah," sahut mbak Nia lalu beringsut ke dapur sekalian membawa piring kotornya.


Ku lanjutkan lagi pekerjaanku yang sempat terhenti. Setelah kurasa beres baru aku membersihkan diri dan berganti pakaian. Kupilih baju yang agak santai namun masih terlihat sopan. Tak lupa memakai bedak dan make up tipis lalu terahir memakai jilbab.

__ADS_1


Seusai mematut diri di cermin aku keluar karena sepertinya catering sudah datang. Nampak ada mobil box berhenti di depan pagar rumah bu Dirja. Tiga orang keluar dari mobil dan salah satu membuka box belakang. Kemudian dengan cekatan mereka memindahkan semua makanan dari mobil ke ke dalam rumah.


Setelah mobil box pergi aku masuk ke rumah bu Dirja. " Selamat pagi semuanya," ucapku terlebih dulu menyapa seisi rumah.


" Selamat pagi Dik Aira, ayo sini bantuin menata makanan ! " balas mbak Tatik seraya mengajakku ke ruang tengah. Yang lain juga membalas salamku.


" Ronald belum pulang dari dokter Mbak? " tanyaku karena mobil mas Basuki belum ada.


" Belum, ini barusan kirim WA katanya baru selesai dan mau pulang." Mbak Tatik memberitahu.


" Oh gitu, mungkin seperempat jam lagi sampai rumah," ucapku.


Tanpa banyak bicara lagi aku segera menata beberapa menu masakan di meja prasmanan yang diletakkan di ruang tengah dekat pintu yang berhubungan dengan ruang tamu.


Mbak Tatik memilih ruang keluarga karena lebih luas. Sedangkan ruang tamunya hanya untuk menerima tamu saja. Bagian teras dipasangi meja juga untuk tempat minuman dan snack. Aku baru selesai menata snacknya saja, minumannya menyusul biar tidak keburu dingin.


" Dik Aira, sini minum dulu sambil mencicipi makanan kecil. Sekalian ngobrol-ngobrol mumpung belum ada tamu," seru mbak Tatik memanggilku. Aku mengikutinya ke dalam. Saat ini memang baru jam delapan lebih sedikit.


" Kenalkan ini saudara-saudaranya mas Basuki," lanjutnya lagi saat kita sudah ada di ruang keluarga. Aku menyalami satu persatu. Ternyata mereka ramah-ramah. Aku juga menyalami mbak Yuni adiknya mbak Tatik.


Mbak Tatik langsung menyambut Ronald yang dipapah Ernest dan suaminya mbak Yuni.


" Gimana Sayang, nggak sakit kan tadi. Mama bilang juga apa, kan disuntik obat jadi tidak terasa waktu dipotongnya. Gitu aja kok takut, sampai diejek teman-teman baru minta disunat, hehehe ! " Ia menghibur anaknya ketika sudah masuk rumah.


Ronald masih diam saja, ia disuruh tiduran di kamarnya oleh kakek dan neneknya. Mbak Tatik pun sibuk mengurusi keperluannya.


Seusai minum teh dan mencicipi snack yang dipesan dari catering, Ernest mengajakku duduk di teras. Ada dua sepupunya cewek mengikuti kami. Mereka dari tadi membantuku menata dan menyiapkan perlatan makan.


Tengah asyik mengobrol tiba-tiba datang seorang cewek.


" Selamat pagi, aku nggak telat kan ? " sapanya seraya tersenyum pada Ernest. Ooh, mungkin itu teman sekolahnya, atau mungkin juga pacarnya.


" Enggak lah, masih pagi kok. Nih kenalin sodara sepupuku, dan ini mbak Aira tetangga depan rumah." Ernest menyuruhnya bersalaman dengan kami bertiga.


" Ini Trias Mbak, teman sekelasku. Sahabat sejak dari kelas 11 ," kata Ernest mengenalkannya pada kami. Gadis ini pun tersenyum.


" Masuk yuk, mama dan papa di dalam. Sekalian menengok Ronald." Ernest mengajaknya ke dalam.

__ADS_1


Seberapa dekat si Trias ini dengan Ernest, kok diundang di acara keluarganya. Apalagi langsung diajak ke dalam dan dikenalkan dengan orang tuanya. Kedua sepupunya juga berbisik-bisik lalu memandangku, seolah bertanya sesuatu. Aku hanya mengedikkan bahu.


Selang sekitar satu jam sudah mulai ada tamu dari familinya mbak Tatik dan mas Basuki. Aku mengajak Trias dan kedua sepupu Ernest untuk melayani mereka. Sepupu Ernest baru kuliah semester awal, jadi mereka lebih muda dariku. Aku tidak perlu canggung menyuruh mereka bila perlu bantuan.


Di atas jam 12 00 tamu -tamu jauh sudah berkurang. Mbak Tatik menyuruh kami beristirahat.


" Kalian makan dulu nggak pa pa, aku mau pulang sebentar buat sholat."


" Kita juga mau sholat dulu, nanti makan bareng-bareng aja," sahut Inge sepupu Ernest.


" Sholatnya gantian ya, siapa tahu ada tamu datang," saranku. Mereka berdua mengangguk setuju. Sedangkan Trias dari tadi duduk bersama Ernest, dia enggan bergabung dengan kita bertiga. Aku bergegas kembali ke rumah untuk sholat Dhuhur.


" Tamunya banyak ya Ra, tetangga sudah ada yang berkunjung belum? " tanya mbak Nia mulai kepo.


" Belum ada, tamunya baru famili-familinya mbak Tatik sama mas Basuki. Mereka juga menyadari kalau bukan warga sini."


Kulepas jilbab di kamar kemudian melangkah ke kamar mandi. Selesai buang air lalu wudhu dan segera sembahyang.


Sebelum kembali ke tempat mbak Tatik ku rebahkan dulu tubuhku di atas sajadah yang belum kulipat. Namun belum 5 menit mbak Nia memanggilku.


" Aira, tuh ada yang menyusul kemari. Katanya ada tamu tapi snacknya yang di meja habis. Yang lain lagi pada makan siang katanya. Tapi aku bilang kamu belum selesai sholat."


:" Sebentar aku pakai jilbab dulu. Padahal masih mau pakai bedak pula., kan udah luntur kena air wudhu," tukasku.


" Sudah biarin aja, paling sudah ada yang menangani. Apa nggak bisa salah satu mengambil di dalam lalu ditata di meja depan. Kamu kan cuma membantu jangan mau kalau disuruh mengerjakan yang lain. Biar saudara-saudaranya ikutan kerja nggak cuma duduk dan makan." Mbak Nia rada sewot dan mempengaruhiku.


" Iya aku juga santai kok. Malahan tadi Ernest juga ngundang pacarnya ke sini. Tapi bukannya bantuin malah cuma duduk-duduk ngobrol. Ernest yang harusnya bisa ngerjain ini itu malah nggak bisa karena menemani pacarnya." Aku bersungut-sungut menceritakannya.


_____________


Sudah dulu ya gaes.


Author minta maaf karena agak terlambat up. Karena sempat sakit jadi nggak bisa menulis. Tapi sekarang sudah agak mendingan mudah2an bisa lanjut up lagi.


Maaf juga jika ada typo2 sedikit.


Tetap tingguin ya,, thanks..!

__ADS_1


__ADS_2