
Satu persatu pelanggan yang tadi sarapan mulai meninggalkan warung makan. Suasana sudah mulai lengang, ibu juga hendak sarapan. Kuambil oleh-oleh yang kutaruh di kamar tempat sholat. Masih ada yangko kesukaan ibu dan bakpia patok serta beberapa keripik.
" Buk, ini tadi malam Mas Raka ngasih aku oleh-oleh." Kuulurkan satu dus kecil yangko buat ibu.
" Oya, taruh di meja dulu ibu lagi mau sarapan," ujar ibu yang telah memegang piring serta isinya.
Kuletakkan jajanannya di meja. Syukurlah ibu sudah tidak marah. Apalagi kalau dibawain jajanan pasti ibu akan senang.
Sekalian kubersihkan meja makan di ruangan depan. Bakpia dan keripik kutaruh di meja dapur.
" Mbak Sri, ini ada jajanan kita makan sama-sama ya. Oleh-oleh mas Raka kemarin." Kutawari mbak Sri yang sedang mencuci peralatan menggoreng tadi.
" Ya Mbak makasih," sahutnya sambil menoleh.
Kutaruh piring-piring kotor lalu kubantu mbak Sri mencuci biar lekas selesai. Usai bersih semua tak ada lagi perkakas yang kotor aku lanjut sarapan.
" Aku sarapan dulu ya Mbak, tuh jajanannya dicicipi. dulu. Tapi maaf tinggal sisa, soalnya sebagian sudah kumakan tadi malam sama mas Raka."
" Hmmm, bisa kutebak. Pasti kamu disuapin mas Raka lalu berlanjut asyik-asyikan. Makanya jadi nggak bisa tidur, hayo ngaku ! " seloroh mbak Sri.
Aku tersenyum simpul, tebakannya tepat. " Malah ada lagi yang so sweet banget," celotehku biar dia penasaran lagi.
" Apa tuh, bilangnya nggak ngapa-ngapain tapi kok sampai nggak bisa tidur. Pasti teringat terus saat disayang-sayang sama mas Raka, hihihi." Mbak Sri menggodaku terus.
" Mau diceritain nggak nih, malah ngeledek terus," kataku sembari menyantap sarapanku.
" Iya apa kan sudah nanya tadi," tanya dia.
" Hehe, kemarin mas Raka pergi itu kan hari Jumat. Dia beliin oleh-oleh buatku dan baru tadi malam dia kasih ke aku. Aku diajak ke kamarnya, bahkan keluarganya juga ngga dikasih, itu jajanan cuma buatku.
Begitu aku terima dia langsung membuka dan mencicipi beberapa yang dia suka. Kubilang kalau doyan kenapa dikasih ke aku, tapi tahu-tahu dimakan sendiri. Jawabnya, dia pingin makan tapi kalau sudah dikasih ke aku dulu, karena niatnya memang beliin aku. So sweet kaan ? "
" Hmm , kalau menurutku itu bukan so sweet tapi pelit. Sudah dikasih tapi dimakan sendiri," komentar mbak Sri seraya keluar membawa piring-piring bersih.
" Eeh sembarangan ngatain mas Raka pelit, awas ya aku bilangin ! "
Kulanjutkan sarapanku yang sempat terhenti. Mbak Sri berbincang dengan ibu di depan. Saat hendak mencuci piring seusai makan ternyata mas Raka muncul. Mbak Sri masuk ke dapur setengah berlari mendekatiku.
" Yang tadi cuma bercanda loh, jangan dibilangin ke mas Raka," bisiknya cemas. Aku tersenyum nyengir.
" Makanya jangan sembarangan ngomong, hihi ! " ledekku.
" Sudah sana mbak Aira keluar, aku mau sarapan. Piringnya taruh saja di situ biar kucuci nanti sekalian." Mbak Sri mendorongku keluar. Aku pun menemui mas Raka.
__ADS_1
" Kok pagi-pagi sudah sampai sini Mas, sudah nyuci belum hayo ? Nanti disusul nenek lagi." Kutanyai mas Raka, mana tahu dia belum mengerjakan tugas rumah.
" Sudah tadi pagi, ini baru saja selesai langsung mandi terus ke sini," ujarnya yakin.
" Syukur deh, yang penting kerjaan rumah dulu baru kemari. Aku nggak mau nanti disalahin dikiranya aku yang menyuruhmu ke sini pagi-pagi."
" Haaaissh, ngomong apa sih kamu. Apa-apa dipikir, bikinin kopi susu dong, haus nih habis nyuci," pintanya kemudian.
" Mau makan sekalian nggak, pasti lapar juga kan ?" tawarku sembari masuk ke dapur. Mas Raka mengikutiku.
" Boleh, tapi makan di sini saja, di depan ada pembeli." Dia pun duduk di bangku dapur.
Setelah kubuatkan kopi susu aku keluar hendak mengambilkan makan untuknya.
" Suruh makan sekalian tuh Raka," saran ibu.
" Iya ini baru mau kuambilkan," sahutku.
Mbak Sri sudah selesai makan dan mencuci piringnya sekalian. Ia pun keluar menemani ibu. Sementara aku menemani mas Raka makan.
Seharian mas Raka menemani dan membantuku di warung. Bila tiba waktu sholat ia pergi ke masjid pasar, sekalian mampir ke teman-temannya yang berjualan di sana katanya.
Jam 5 sore kami sudah selesai. Mbak Sri sudah pulang dijemput mas Jarwo.
" Nanti habis ngantar kamu aku langsung pulang ya, kan sudah seharian kutemani," kata mas Raka saat aku hendak membonceng. Ia baru saja mengantar ibu pulang.
Tiba di rumah aku turun lalu mas Raka memutar balik dan langsung melesat pergi.
" Baru pulang Dik Aira," sapa mbak Hartati yang sedang menyiram tanaman. Ernest yang duduk di teras bersama adiknya langsung menoleh ke arahku.
" Iya Mbak, saya masuk dulu ya Mbak," balasku seraya melempar senyum. Mbak Tati dan Ernest juga tersenyum, sedangkan adiknya tetap asyik dengan hapenya.
" Tante Aila ! " seru Arkana yang masih cadel memanggilku begitu aku masuk. Ia tengah bermain di ruang tengah sambil disuapi mbak Nia.
" Hallo Arkana sayang, sudah mandi ya. Coba tante cium," kataku seraya berjongkok mendekatinya. Kupeluk dan kucium pipinya, " Hmm wanginya si ganteng ini," ucapku lagi.
Arkana tertawa meringis memperlihatkan giginya yang kecil. "Tante beyum mandi," ucapnya sambil berlagak menutup hidung.
Aku pun tertawa geli melihat tangannya yang belum tepat menempel ke hidungnya. Ia berlari ke teras lalu Mbak Nia mengikutinya.
Seusai membersihkan diri aku ikut duduk di teras bersama mbak Nia.
" Raka langsung pulang Ra? " tanya mbak Nia.
__ADS_1
" Iya, tadi udah seharian bantu-bantu di warung," jawabku sambil membuka hape.
" Maaf Dik Nia, Dik Aira, boleh aku masuk ? " Tiba-tiba mbak Hartati sudah berdiri di depan pagar rumah kami.
" Oh boleh dong Mbak, silahkan." Mbak Nia langsung menyahut dan berdiri membuka pintu pagar. Mbak Hartati masuk lalu aku pun berdiri.
" Silakan duduk Mbak, mau di dalam atau di sini." Aku menawarkan pilihan.
" Di sini saja, mau bicara sama Dik Aira sebentar," kata mbak Tatik seraya duduk di kursi. Aku pun duduk di sebelahnya.
Kursi di teras hanya ada dua jadi mbak Nia tetap berdiri sembari mengawasi Arkana yang berlarian.
" Begini Dik Aira, tapi sebelumnya maaf ya. Rencananya besok Sabtu Ronald adiknya Ernest mau khitan mumpung lagi liburan. Kami memang sepakat mengkhitankan dia di sini saja, soalnya di rumah kami kan belum begitu mengenal tetangga. Berhubung Dik Aira sudah akrab dengan Ernest aku mau minta tolong supaya Dik Aira membantu kami. Kalau Dik Nia kan punya anak kecil." Mbak Tati berhenti sejenak.
" Nggak ada pesta kok, rencananya hanya syukuran saja. Dik Aira kami minta membantu Ernest menyiapkan makanan dan minuman bila ada tamu. Maklum Ernest juga nggak punya teman akrab di sini. Terima kasih sebelumnya jika Dik Aira berkenan membantu." Ia melanjutkan perkataannya lagi.
" Ooh begitu, InsyaAllah besok saya bantu Mbak. Nanti saya minta ijin sama ibu." Aku menyanggupi permintaannya.
Sepertinya ibu di dalam mendengar obrolan kami. Beliau pun keluar. " Eeh ada Mbak Tatik to, kok nggak duduk di dalam saja." Ibu menyapanya.
" Terima kasih Bu, di sini saja nyantai. Ini tadi ada perlu sama Dik Aira." Mbak Tati membalas sapaan ibu.
Kemudian ia mengutarakan lagi maksudnya pada ibu. Ibu pun menanggapi dengan baik.
" Mbak Tatik jangan khawatir, kalau butuh sesuatu kami siap membantu. Namanya juga tetangga dekat. Nanti biar Aira yang mondar mandir, santai saja." Ibu menawarkan bantuan pada mbak Tatik.
" Terima kasih banyak, maaf sebelumnya Bu Wahyu, saya baru datang tapi sudah mau merepotkan. Maklum Ronald baru sekarang mau dikhitan. Sebenarnya tahun lalu waktu masih tinggal di kota ini sudah saya tawari khitan tapi belum berani anaknya," kata mbak Tatik.
" Halah nggak apa-apa, tiap anak kan beda-beda. Oh iya bapak sama ibu kok nggak kelihatan ? " Ibu menanyakan bu Dirja dan Pak Dirja.
" Ada di dalam sedang berbincang dengan papanya anak-anak," jawab mbak Tatik. " Ya sudah kalau begitu saya permisi ya Bu, Dik Aira, Dik Nia. Terima kasih sekali lagi." Ia berdiri dan berjabat tangan dengan kami, lalu keluar dan memasuki gerbang rumah Bu Dirja.
Azan Magrib berkumandang kami pun masuk dan menutup pintu rumah. Ayah sudah rapi dari tadi dan bersiap ke masjid.
" Pada ngomong apa tadi sama tetangga depan rumah ? " tanya ayah pada ibu.
" Itu si Tatik mau nyunatin anaknya yang bungsu. Mumpung lagi liburan katanya. Sudah SMP baru mau dikhitan, hehehe ! " jawab ibu sambil terkekeh.
" Mungkin dulu belum berani. Biasanya kalau yang takut-takut begitu, akhirnya mau dikhitan pas sudah SMP. Soalnya di sekolah pasti teman-temannya bercerita pengalaman disunat, akhirnya dia malu sendiri." Ayah menuturkan pendapatnya.
" Iya betul. Kalau dulu Bayu kelas 6 sudah minta disunat ya Yah," kenang ibu. Ayah mengangguk dan tersenyum.
" Ayah ke masjid dulu, kalian segera sholat gih! " perintahnya pada kami.
__ADS_1
_______________
Bersambung ya gaes.