Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 12 Cowok Tetangga Mepet Aja !


__ADS_3

Hari-hari pun berjalan seiring rutinitas yang aku jalani. Pagi sampai siang hari bekerja di sekolahan.


Siang sampai sore hari membantu orang tua di warung makan depan pasar. Dan masih tetap bergantian sama mbak Nia, meskipun dia sudah selesai kursus. Sekarang Mbak Nia lebih sering bertemu dengan mas Joni pacarnya karena yang kudengar sebentar lagi keluarga Mas Joni akan datang melamar.


Malam hari sebelum berangkat latihan band aku makan malam di ruang keluarga sambil nonton TV.


Lalu kudengar ada yang mengetuk pintu.


Tok tok tok !


Aku segera menghabiskan suapan terahir. Kuletakkan piring di meja makan dan segera melangkah ke ruang tamu.


Pintu kubuka. Ternyata Widi. Tumben dia jemput.


" Hai ! sudah siap belum ?" tanyanya. Aku agak canggung juga.. Biasanya kan kita berangkat sendiri. Nanti kalau mau pulang baru diantar.


" Bentar aku ambil jaket dulu, " jawabku seraya berlari masuk ke kamar. Untung tadi aku sudah memakai jilbab. Setelah kuambil jaket dari atas meja aku pamit pada Ayah yang sedang nonton TV.


Ibu sedang beristirahat di kamar.


" Kok tumben pakai dijemput segala ? biasanya aku dan Eva kan berangkat sendiri. " Aku berbasa basi.


" Emangnya ngga boleh ya ? " Dia malah berbalik bertanya


. " Enggak lah. Berasa kaya orang penting aja, " kataku. Widi malah tertawa.


" Kalau iya kenapa? kamu memang penting kok. "


Ia bicara lagi. Aku tidak meneruskan pembicaraan ini karena sudah di depan rumah Eva. Seperti biasa dia sudah menunggu di teras. Ehem ... Ehem !


Melihatku bersama Widi Eva pun pura-pura batuk. Aku memandangnya. Tuh kan ! Eva menyunggingkan senyum meledekku. Pasti salam paham nih anak.


" Ngapain senyum-senyum gitu ? baru dapat lotre? "


Aku melotot pada Eva. Dia malah tertawa keras.


" Ayo berangkat ! Ketawa terus nanti kesambet. "


Aku terus berjalan tanpa mempedulikan Eva lagi.


Sebel banget. Awas nanti !


" Sudah jangan marah-marah nanti cantiknya hilang lho." Widi malah menggodaku. Aku jadi makin salah tingkah. Kutinggal saja mereka berdua tanpa menoleh lagi. Eva masih saja tertawa.


Tiba di tempat latihan kak Agus menatapku heran.


" Kok sendirian aja, dik Eva mana ? " Dia bertanya.


" Itu masih di belakang ," jawabku. Kak Agus pun memperhatikan ke arah jalan. Tak lama Eva dan Widi muncul. Kak Agus sepertinya masih ingin bertanya. Tapi aku segera masuk dan bergabung dengan yang lain. Eva mendekatiku.


" Ra. Kamu janjian sama Widi ya, kok tadi berduaan sama dia ? " Eva bertanya pelan. Tapi tiba-tiba ia berteriak karena kucubit pinggangnya.

__ADS_1


" Awwh ! Sakit tauuuk ! " Eva meringis sambil mengelus-elus pinggang rampingnya.


" Makanya jangan sembarangan ngomong. Lagian siapa juga yang janjian, orang dia tiba-tiba udah muncul di depan pintu." Aku menjelaskan pada Eva soal Widi.


" Ya maaf deh. Kirain aja kalian janjian. Orang biasanya kita juga ga dijemput. Si Mira sama Dewi juga nggak. Kalau pulang memang harus ditemani karena sudah larut malam." Eva menyampaikan alasannya.


Kak Vicky memintaku untuk mulai menyanyi. Setelah aku nanti giliran Eva kemudian Mira dan Dewi.


~ Maafkanlah aaku acuhkan dirimu


waktu pertama kali tersenyum padaku


maafkanlah aaku jejali dirimu


dengan segala kisah sumpah serapah kuu woo ~


Dua jam berlalu. Kami pun sudah selesai latihan.


Aku bersiap untuk pulang. Kuambil jaket yang tadi kulepas dan kutaruh di atas kursi. Cowok- cowok yang diberi tugas menemani cewek-cewek pulang sudah siap di depan.


"Aira, kamu pulang sama aku ," kata Widi ketika aku sedang mengenakan jaket.


" Oke ngga masalah. Yang penting ada yang menemani kita berdua." Eva tiba-tiba langsung nyeletuk.


Widi pun menjawab , " Baik tuan putri , " sambil membungkuk kemudian tertawa. Ia mengajak Rio untuk ikut menemani kami pulang. Aku dan Eva berjalan di depan. Widi dan Rio di belakang kami.


__________


Aku berniat pergi ke pasar dengan jalan kaki. Karena sekolah libur jadi aku akan berangkat lebih awal


Meskipun banyak kegiatan aku masih tetap harus membantu ibu. Apalagi mbak Nia juga mulai sering keluar bersama mas Joni.


Eva tengah menyapu halaman ketika aku lewat depan rumahnya.


" Tumben pagi-pagi udah rapi aja. Mau kondangan Buk ? " tanyanya meledekku.


" Ini kan hari Minggu jadi aku mau ke pasar pagi-pagi . " Aku menerangkan pada Eva. Ia pun mengangguk karena sebenarnya sudah tahu.


" Tapi nanti siang pulang kan ? Anak-anak masih belum pada hafal gerakan dance nya.Kalau ada kamu kan bisa langsung dibetulkan karena kamu koreografer nya. " Eva mengingatkanku.


" Tentu dong aku ngga lupa," cetusku. Aku pun melangkahkan kaki meninggalkan Eva yang masih melanjutkan kegiatannya.


Sampai di warung makan belum begitu ramai oleh pembeli. Tas selempang kusimpan di dalam kamar sholat. Aku membuat teh manis hangat. Kucomot bakwan jagung kesukaanku dan cabe rawit.


" Tumben jam segini sudah datang mbak Aira. "


Mbak Sri menyapaku ramah.


" Iya Mbak. Ini kan hari Minggu, " jawabku.


Huuuhaaaahh ! Aku kepedesan saat menceplus cabe rawit tadi. Buru-buru kuhabiskan tehku.

__ADS_1


Pembeli mulai berdatangan. Aku pun masuk dan membersihkan dapur yang masih kotor. Setelah itu keluar lagi untuk mengambil piring dan gelas yang kotor. Kemudian langsung kucuci.


" Mbak Nia ke mana Bu ? " tanyaku pada ibu Dari tadi aku belum melihat kakakku itu. Aku mengambil nasi dan sayur serta lauk lalu sarapan.


"Biasa lah sama Joni. Paling juga ke rumah calon mertuanya ,"jawab ibu. "Makanya kamu nanti ngga usah pulang. Bantu Ibu sama mbak Sri."


Ibu melanjutkan kata-katanya.


"Tapi aku kan mau melatih anak-anak Bu." Aku memberikan alasan.


" Sekali-kali ngga usah datang ngga apa-apa kan. Ini hari Minggu biasanya warung ramai. Lagipula masih ada yang lain. Eva atau siapa. "


Ibu tetap ngga mau tahu alasanku.


" Bukan begitu Bu. Yang ngarang gerakan kan aku. Yang lain belum pada hafal" jelasku. "Nanti kalau Eva sudah hafal gerakannya mungkin bisa latihan tanpa aku, " tambahku lagi.


Mudah-mudahan ibu mengerti. Toh ini hanya acara setahun sekali.


Aku pun melanjutkan pekerjaanku. Sengaja semua tugas kulakukan dengan cepat agar saat aku pulang Mbak Sri ngga kerepotan.


" Assalamualaikum. " Aku menoleh ke arah pintu.


Astaga ! Kenapa Widi bisa sampai ke sini ?


"Waalaikum salam, " balas kami bertiga. Ibu juga heran melihat kedatangan Widi.


" Saya mau menjemput Aira Bu. Boleh kan," pintanya pada ibu. "Boleh, silahkan duduk dulu. "


Ibu tersenyum miring. Kelihatannya ibu kurang suka. Ya iyalah kan tadi ibu sudah melarangku pulang. Eh malah ada yang menjemput aku. Hihihi !


Aku tertawa dalam hati .


Tapi agak heran juga sih. Kenapa Widi bela-belain jemput aku ke sini ? Cuma kebetulan lewat atau memang sengaja ? Entah lah.


Tak ingin Widi menunggu lama aku bergegas segera mengambil tas selempangku dan mengaitkannya di pundak. Aku keluar dan mengajak Widi.


"Ayo Wid ! " Widi berdiri dan berpamitan pada ibu.


"Saya permisi dulu Bu. Assalamualaikum."


" Waalaikum salam," jawab ibu dan Mbak Sri.


Widi menyalakan motornya dan aku duduk di jok belakang. Di perjalanan kami mengobrol.


" Kok sepertinya ibumu tidak senang ketika aku datang? " tanya Widi. " Apa kamu nggak boleh jalan sama aku, " sambungnya.


" Ah enggak. Mungkin ibu hanya capek." Aku nggak mau berkata kalau aku tadi ngga boleh pergi sama ibu. Lagi pula kenapa sih ibu kalau sama Mbak Nia selalu mengijinkan dan ujung-ujungnya aku yang harus mengalah. Padahal tempo hari ibu sudah setuju jika aku boleh ikut kegiatan Agustusan. Sekarang gara-gara Mbak Nia yang sok sibuk itu aku harus mengalah.


Untung Widi datang.


___________

__ADS_1


Bersambung aja deh !


__ADS_2