Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 95 Rapat Panitia


__ADS_3

" Mandi dulu sana Mas, gerah kan sedari pagi bekerja," saranku saat kita tiba di rumah.


" Sebenarnya tadi rencananya gitu, aku sudah bawa baju ganti juga. Tapi malah diminta datang rapat, ya sudah mandi di rumah saja." Mas Raka mengurungkan niat awalnya.


" Nggak bagus loh Mas, mandi malam-malam. Sudah di sini aja nanti begitu pulang bisa langsung ke rumah famili kamu itu." Kubujuk dia supaya segera membasuh tubuh.


" Oke deh, apa sih yang enggak buat kamu, hihi," cetusnya kemudian.


Kubuka almari pakaian, aku mengambil handuk yang masih bersih. Kuberikan pada mas Raka.


" Tunggu sebentar, aku lihat dulu ibu sudah selesai belum," ucapku seraya menengok ke kamar ibu, beliau sudah ada di dalam.


" Sudah Mas, kamar mandi sudah kosong," ucapku.


Mas Raka bergegas ke kamar mandi. Sementara aku juga mengambil handukku dan bersiap mandi. Sepuluh menit mas Raka baru keluar dan bergantian denganku.


Seusai sholat Magrib kubuatkan teh panas buatnya sementara dia masih di masjid. Kubuka aplikasi hijau di handphone sambil menunggunya di ruang tamu.


Aku hanya melihat-lihat story WA teman-temanku. Mereka sudah pada sibuk di kampusnya., begitu pula dengan Yana yang masuk kuliah setahun setelahnya. Awalnya dia masih sering ngechat aku sekedar memberi ucapan ultah atau Idul Fitri. Tapi belakangan sudah tidak lagi.


Aku memang nggak pernah menghubunginya dulu karena takut mengganggu kuliahnya., sama seperti Eva. Bedanya Eva tetangga dekat sehingga ia tetap selalu menghubungiku.


Tak lama mas Raka kembali dari masjid. " Serius banget bacanya, sampai mengkerut begitu keningnya. " Ia menegurku lalu duduk di kursi bersebrangan denganku.


" Masa sih, perasaan biasa saja. Ini lagi lihat story WA teman_teman. Iri rasanya melihat mereka berkegiatan di kampus," ujarku. Kutaruh handphone di meja.


" Makanya nggak usah melihat story daripada kamu malah sedih. Lagian nggak perlu iri, nasib orang itu berbeda-beda. Siapa tahu mereka juga iri melihat story kamu yang selalu berdua denganku. Hehehe ! " Mas Raka menghiburku.


" Aku jarang update status, orang cuma di warung makan tiap hari. Promo ayam goreng juga nggak pernah lagi. Kalau sudah sibuk nggak sempat pegang hape."


" Tapi kalau lagi berdua denganku pasti di update kan, " ucapnya.


" Nggak juga, soalnya kalau udah berduaan sama kamu aku jadi lupa segalanya, hehehe ! " balasku sambil bercanda.


" Terbukti kan, kamu kecanduan sama aku hehe. Up date status itu juga perlu sekali-sekali asal yang positif. Artinya kamu punya sesuatu yang bisa dibanggakan, jadi nggak perlu iri sama statusnya orang lain." Mas Raka menasehatiku.


" Iya sih, ayah pernah bilang seperti itu waktu aku membuka Facebook dan melihat postingan teman-temanku," ungkapku.


" Nah itu tahu. Kalau aku sih memang nggak pernah membuka status WA, kayak kurang kerjaan saja menurutku. Makanya aku nggak pernah tahu kamu update atau enggak." Mas Raka menuturkan.


Obrolan kami terus berlanjut, saat azan Isya mas Raka mengajak sholat bareng di kamarku. Kebetulan kita memang belum batal wudhu.


" Kamu mau pulang jam berapa Mas, katanya mau rapat panitia sinoman ? " tanyaku mengingatkan sembari melipat mukena. Ia sedang menyisir rambutnya. Aku sendiri masih memakai ciput tertutup untuk menutupi rambutku.

__ADS_1


" Nanti saja sekitar jam sembilan. Tanggung sudah sampai dii sini masa cuma sebentar, " tukasnya.


" Tapi apa nggak telat nanti, nggak mungkin lah mereka menunggu kamu datang baru acara dimulai." Aku memberi pendapat.


" Telat nggak masalah. Salah sendiri ngasih kabar kok mendadak. Mentang-mentang dia jomblo lantas yang lain juga sama kaya dia, duduk manis di rumah tiap malam minggu. Hehehe ! " Mas Raka terkekeh membicarakan familinya.


" Terserah kamu deh. Aku sih malah senang kalau kamu di sini terus, " gurauku.


" Maunyaaa, akhirnya ngaku kalau kamu juga bucin sama aku." Mas Raka menggodaku lalu memelukku tiba-tiba.


Cup ! Ia menyambar bibirku dan kami ber**** an lama hingga terengah-engah dan akhirnya sama-sama melepas. Leherku agak pegal karena kelamaan mendongak. Begitu pun mas Raka yang harus menunduk karena dia jauh lebih tinggi dariku.


" Keluar yuk, nggak enak sama keluargaku kalau kita lama-lama di kamar," ajakku sambil menarik tangannya. Kami pun keluar dan kembali mengobrol di ruang tamu.


Ting ! Handphone mas Raka berbunyi, ada telpon masuk. Mas Raka mengangkatnya.


" Hallo , .. ya ya nanti aku menyusul. Ini lagi ada yang lebih penting,......., sialan kamu ! Oke nanti jam sembilan. Bye ! "


Handphone ditutup.


" Dari siapa Mas ? " tanyaku.


" Ardi, nanyain kenapa aku belum datang ke rumahnya. Kubilang saja nanti jam sembilan malam. Enak saja menyuruhku cepat-cepat pulang." Mas Raka menggerutu.


Kami berdua lanjut mengobrol. sambil sesekali mas Raka menggodaku.


" Sudah malam, aku pulang ya. Ini mau langsung ke rumah Ardi, acaranya paling belum selesai." Mas Raka pun pamit saat menengok handphonenya.


" Sebaiknya pulang dulu terus ganti baju Mas. Itu kan sudah dipakai sejak tadi pagi, nanti yang lain kebauan hihihi," saranku padanya.


" Nggak masalah santai saja. Sudah telat ini, kalau pulang dulu keburu selesai nggak enak juga sama pakde dan bude." Ia pun berdiri lalu membuka pintu. Aku mengantar ke teras.


" Ya sudah, hati-hati ya ! " ucapku.


Mas Raka mencium pipiku sekilas kemudian menghidupkan motornya. Ia melambaikan tangan kemudian berlalu.


___________


Minggu pagi mas Raka menjemputku ke rumah. Aku yang baru saja keluar rumah pun terkejut.


" Kok pagi banget Mas, memang mau mengajakku ke mana ? " tanyaku heran karena sepagi ini dia sudah rapi


" Nggak ke mana-mana.. Mau mengantar kamu ke warung." Ia turun dari motor lantas menggandeng tanganku.

__ADS_1


" Tumben pakai dijemput segala, biasanya juga aku berangkat sendiri," ujarku.


" Ini buat menebus yang tadi malam. Kita kan cuma sebentar ketemunya." Mas Raka menjelaskan maksud nya.


" Mulai lagi lebaynya. Tadi malam kamu kan pulang jam sembilan, cukup lama juga loh. Ini paling cuma alasan Mas Raka, hayoo ! " selorohku.


" Sudah ayo cepetan berangkat ! Nanti kujelaskan sambil jalan." Mas Raka menyuruhku naik di jok belakang.


" Tempo hari kan aku pernah bilang, kalau tiap hari Minggu aku akan menemani kamu seharian. Membantu pekerjaan kamu di warung. Pokoknya aku manjain kamu seharian. Ingat nggak ? "


" Ya ampun, Mas Raka. Aku pikir cuma sehari itu saja, soalnya hari Minggu berikutnya kamu kan nggak ke warung." Aku juga mengingatkannya.


" Habis itu kan aku memang ada acara. Makanya sekarang aku mau menebus hari-hari yang kosong itu. Ibu nggak mempermasalahkannya kan, kalau aku di sana seharian." Mas Raka menanyakan tanggapan ibuku tentang apa yang dilakukannya.


" Enggak, justru ibu malah senang jika ada kamu. Pekerjaan jadi cepat selesai katanya." Aku memberitahu.


Sampai di warung kita berdua langsung masuk ke dapur. Ibu sempat terkejut melihatku datang bersama mas Raka. Untung saja pengunjung warung belum banyak. Namun tetap saja mereka agak heran melihatku bersama seorang cowok.


Dan seharian ini aku benar-benar dimanjakan oleh mas Raka. Hampir semua pekerjaanku diambil alih olehnya. Termasuk saat belanja dia juga mengantarku.


" Sayang, sebelumnya aku minta maaf ya. Seminggu ke depan aku mungkin nggak bisa menemani kamu. Sepupunya Ardi menikah minggu depan dan aku diminta membantu persiapannya Bukan hanya aku sih, ada saudara-saudara yang lain juga. Kamu nggak keberatan kan ? " Mas Raka menyampaikan maksudnya dengan agak ragu. Kami baru selesai makan siang dan mencuci piring berdua.


" Enggak dong Mas, kenapa sih kamu selalu berpikiran kalau aku akan marah. Seolah aku yang mengatur hidupmu. Stop berpikiran seperti ini Mas. Kita kan belum menikah, kamu masih bebas. Aku nggak akan egois dengan memintamu harus selalu menemaniku." Aku menuturkan pendapatku.


" Maaf kalau yang kulakukan ini justru membuatmu tidak nyaman. Mungkin karena aku yang nggak bisa sehari saja nggak ketemu kamu. Jadi pikiranku berbalik , takutnya kamu yang nggak bisa jauh dariku. Aku tidak mau sedikit saja membuatmu kecewa atau sedih karena aku." Mas Raka juga mengungkapkan kekhawatirannya.


" Mas Raka, aku percaya kamu benar-benar mencintaiku sekalipun kamu tidak pernah mengucapkannya. Aku nggak mungkin berpaling darimu, aku tidak punya alasan untuk itu. "


" Terima kasih sayang, makin cintaaaaa banget sama kamu. Iiih gemeesshh ! " Mas Raka menyiwel pipiku.


" Ehem, ehem, uhuk ! " Mbak Sri masuk sambil batuk-batuk. Aku yakin dia hanya mau meledek kami.


" Awas keselek, makanya kalau makan itu dikunyah dulu baru ditelan," ejek ku mendahuluinya.


Mbak Sri meringis. Ia baru saja mengambil piring-piring kotor di depan. Tanpa disuruh mas Raka langsung mencucinya.


" Mbak Sri makan siang dulu ini biar saya yang nyuci," katanya saat mbak Sri hendak mencegah. Ibu diam-diam memperhatikan dan tersenyum.


__________


Sekian dulu ya. Maaf terlambat up karena ada urusan penting.


Tetep vote like dan komen ya... thanks !

__ADS_1


__ADS_2