
Pertama aku minta surat pengantar ke pak RT. Untungnya beliau ini bukan pegawai kantoran jadi jam segini masih di rumah. Istrinya sedang belanja kebutuhan warung sembako di rumahnya.
" Assalamualaikum pak RT, maaf saya mengganggu." Kuucapkan salam sambil mengetuk pintu. Tok tok tok.
" Waalaikum salam, oh Mbak Aira. Tumben pagi-pagi kemari," balas beliau sembari membukakan pintu untukku. "Mari masuk, ada perlu apa nih ?" tanya beliau seraya mempersilakanku.
Aku masuk dan duduk di ruang tamunya. Kuutarakan maksud kedatanganku.
" Oh jadi Mbak Aira mau menikah, sebentar saya siapkan kertasnya dulu." Pak RT membuka laci bufet di ruang tamunya dan mengambil selembar kertas hvs.
" Ini saya ketik saja ya, terus minta tanda tangan ke pak RW baru dibawa ke kelurahan," kata pak RT.
Beberapa menit setelah menunggu pak RT mengetik barulah surat pengantarnya jadi. Beliau menanda tangani dan mengecapnya sekalian.
" Nah, selesai sudah. Ini Mbak Aira, mudah-mudahan selesai hari ini. Syarat-syarat yang lain sudah disiapkan?" tanya pak RT
" Sudah Pak, nanti sambil jalan sekalian saya fotocopy. Terima kasih ya Pak, permisi Assalamualaikum ! " jawabku seraya berpamitan.
" Waalaikum salam, " balas pak RT.
Kutaruh kertas tadi di meja kamar bersama beberapa persyaratan yang akan kufotocopy, kumasukkan dalam map. Cuit cuit ! Handphone ku berbunyi, ada pesan dari mas Raka yang langsung kubaca.
[ Aira, tadi aku sudah ke RT RW .Sekarang lagi di kelurahan. Habis ini aku jemput kamu, ini masih ngantri ]
Rupanya dia sedang di kelurahan. Aku sih maklum karena dia suka nggak sabaran. Pasti habis Subuh sudah menemui pak RT, haha ! Kubalas pesannya.
[ Oke Mas, aku juga mau ke RW dulu terus ke kelurahan ya. Sekalian mau fotocopy persyaratannya ]
[ Oya, ini punyaku juga sudah kusiapkan. Sampai ketemu nanti ya ]
[ 👍 ] Terahir hanya kukirim emoji.
Aku minta cap dan tanda tangan ke pak RW yang rumahnya hanya berjarak dua rumah dari sini. Di kampungku RT dan RW selalu bukan orang kantoran sehingga setiap waktu bisa ditemui warganya.
" Waah, pantas dari tadi bau wangi bunga melati. Ternyata ada calon pengantin datang kemari," celetuk bu Wati istrinya pak RW. Aku hanya tersenyum.
__ADS_1
" Pak RW ada kan Bu ? " tanyaku kemudian.
Belum sempat bu Wati menyahut pak RW muncul dari dalam rumah. Nampaknya mereka sudah tahu maksud kedatanganku, mungkin dapat info dari tante Fina. Bu Wati sering ketemu sama mamanya Eva itu.
" Masuk Mbak Aira, pasti mau minta cap dan tanda tangan kan? " tebak pak RW.
" Iya Bu," sahutku tersipu. Kutunjukkan surat pengantar dari RT tadi pada beliau.
Tanpa menunggu lama beliau segera memberikan tanda tangan serta cap yang kuminta. Aku pun pamit dan tak lupa berterima kasih.
" Raka belum datang ya? " tanya ayah saat aku tiba di rumah. Beliau hendak menjemur pakaian yang telah dicuci mbak Nia tadi pagi.
" Belum Yah, aku mau langsung ke kelurahan saja dulu. Nanti biar dia nyusul ke sana," kataku seraya mengambil map di atas meja kamar.
" Dicek lagi persyaratannya sudah dibawa semua belum. Nanti kalau sudah difotocopy dijadikan satu di plastik lalu masukkan tas. Jangan sampai ketinggalan ! " pesan ayah.
" Beres Ayahku, aku pergi dulu Assalamu'alaikum," ucapku berpamitan.
" Waalaikum salaam," balas ayah sembari berjalan ke belakang.
" Haha, ini dia yang mau naik pelaminan. Gimana, sudah mau daftar kah? " tanya dia kepo.
"Iya, ini aku bawa surat pengantar dari RT RW. Persyaratannya sudah benar belum ya? " tanyaku sembari menunjukkan berkas-berkas yang kubawa. Ada KTP, Kartu Keluarga, Akte kelahiran dll.
" Sebentar biar dilihat rekanku yang mengurusi tentang ini," sahut mas Hari lalu ia memanggil rekannya.
" Itu persyaratannya difotocopy Mbak, terus nanti berkas-berkas yang dari calon suami dibawa kemari. Akan saya catat dan nanti dibuatkan surat pengantar yang lebih lengkap." Petugas kelurahan menerangkan prosedur yang harus kuikuti.
" Kalau gitu saya fotocopy dulu ya Pak," ucapku lalu keluar.
Di seberang jalan ada toko kelontong yang melayani fotocopy. Sambil menunggu aku menengok ke jalan mana tahu mas Raka menyusul kemari. Tapi sedari tadi belum muncul juga sampai aku kembali ke kelurahan.
" Mas Raka nya sudah datang belum Dik Aira? " tanya mas Hari.
" Kok belum ya Mas. Kukira cuma aku yang didaftar, kan aku yang warga di sini. Kalau mas Raka sudah mendaftar di kelurahannya sendiri kan." Aku berkomentar.
__ADS_1
" Ya kali bikin aturan sendiri. Pihak laki-laki memang harus mendaftar di kelurahannya, lalu dibuatkan pengantar dari sana untuk dibawa ke kelurahan dari pihak perempuan. Di sini nanti dicatat lalu dibuatkan pengantar untuk mendaftar di KUA. Dengan dilampiri beberapa persyaratan tadi. Setiap pasangan yang menikah harus tercatat di kelurahan dari pihak wanita. Bagaimana sudah jelas Dik Aira? " Mas Hari menjelaskan lagi secara rinci, baru aku paham.
" Oh begitu ya, tapi mas Raka belum datang juga. Sebentar aku cek handphonenya." Kuambil handphone di tas lalu menghubungi mas Raka. Tapi tidak diangkat, mungkin lagi di jalan. Akhirnya kukirim pesan saja supaya nanti dibaca.
" Ya sudah, sambil menunggu kita isi data yang kamu ketahui dulu. Biodata mas Raka tentu tahu kan." Akhirnya mas Hari memberi solusi.
Setelah mengisi data diri dan menunggu beberapa menit mas Raka baru muncul. Dari kejauhan sudah pasang senyum, tapi karena dari tadi menahan kesal aku tak membalas senyumnya. Dia nampak heran, senyumnya langsung pudar.
" Kenapa sih, kok malah cemberut. Aku tadi nungguin kamu di warung, tapi kamu nggak datang-datang. Ternyata sudah sampai sini," tukasnya.
" Kok malah ke warung, sudah tahu kita mau pendaftaran nikah. Bukannya sudah kubilang aku ke kelurahan. Data diri kamu juga diperlukan di sini. Aku tadi telpon juga nggak diangkat, ngapain aja sih tadi ! " seruku karena tambah kesal.
" Aku belum sempat buka WA, tadi habis dari kelurahan langsung ke warung mau jemput kamu. Tapi ibu bilang tadi kamu mau minta surat pengantar ke RT RW, mungkin habis itu langsung ke warung. Ya sudah aku tungguin aja. Malah aku diambilin makan juga sama ibu. Katanya sembari nunggu kamu. Habis makan kamu nggak muncul juga. Baru lah aku buka hape, ternyata kamu di kelurahan. Hehe, maaf ya." Mas Raka memberi alasan panjang kali lebar.
" Percuma bawa hape kalau nggak dibuka. Dari tadi kita nungguin, sampai ada data yang kuisi sendiri karena lama menunggu. Nggak enak sama petugasnya, untung ada mas Hari yang aku kenal." Aku bersungut -sungut.
" Hei , kok malah berantem sih. Sudah sini sama aku saja ijab kabul nya, daripada nanti sampai KUA nya sudah tutup, hehehe ! " celetuk mas Hari berkelakar.
" Tuh dipanggil petugas, yuk masuk !" ajakku. Kami pun masuk ke kantor kelurahan. Sedari tadi memang aku menunggu di teras.
Beberapa menit kemudian semua persyaratan selesai. Petugas kelurahan rekan mas Hari menawari kami.
" Ini bagaimana, mau langsung ke KUA sekarang atau besok saja. Soalnya ini sudah siang juga, sudah saatnya jam istirahat."
" Diteruskan saja Pak, soalnya saya cuma ijin satu hari ini. Silahkan Bapak istirahat sholat makan, kami juga akan sholat dulu, nanti kembali lagi." Mas Raka tetap akan melanjutkan hari ini.
" Baik kalau begitu, nanti tolong ajak ayahnya mbak Aira. Karena wali nikah harus ikut serta."
" Ya Pak, terima kasih sebelumnya. Maaf ya pak kalau tadi kelamaan menunggu," ucap mas Raka.
" Tidak masalah, santai saja," ujar pak petugas yang bernama pak Yusuf, setelah kubaca nama yang tertera di seragamnya.
______________
Sekian dulu, masih bersambung ya.
__ADS_1