
Hari-hari berlalu seperti biasa Mas Raka tidak pernah mampir ke warung ataupun datang ke rumah. Paling dia menghubungiku malam hari tiap menjelang tidur. Mungkin familinya mau mengadakan pesta pernikahan yang mewah sehingga seminggu sebelumnya sudah mulai sibuk.
Ini hari keempat, Kamis malam dia mengajak videocall saat baru saja kurebahkan tubuhku di kasur. Aku segera menyambar jilbab instant sebelum mengangkatnya.
" Assalamualaikum Airaku yang cantik, sudah tidur kah ? "
" Waalaikum salam Mas Raka yang ganteng dan baik hati, ini baru mau tidur. Tumben vidcall, biasanya juga WhatsApp atau telpon ."
" Habis aku kangen banget nih pingin lihat senyum kamu. Sehari saja nggak ketemu udah rindu beraat, ini malah 4 hari Maaf ya aku lagi sibuk terus nih ."
Mas Raka menghisap rokoknya, kemudian berkata lagi.
" Sebenarnya seminggu ini aku kerja shift malam. Tapi siang kan aku bantu-bantu di tempat famili yang mau hajatan. Soalnya saudara-saudara yang lain masih pada kuliah, pulangnya hari Sabtu dan Minggu. Jadinya aku yang paling sibuk , hehe ! "
" Ciyee yang dikangenin jadi melayang nih.. Nggak apa-apa Mas, semangat pokoknya. Ngomong-ngomong yang mau hajatan itu orangnya kaya banget ya, terus pernikahannya mewah gitu ."
" Kalau orangtuanya biasa saja sih. Dulu mereka pernah berjualan juga, kiosnya sebelahan sama kios ibuku. Baru setahun mereka berhenti berjualan lalu buka warung kelontong di rumah. Mungkin mereka kenal sama ibu kamu.
Tapi kalau anaknya yang mau nikah itu sudah jadi ASN, sudah cukup umur juga, jadi mungkin tabungannya juga banyak buat ngadain pesta besar. "
" Namanya siapa, barangkali ibuku masih ingat kalau aku sampaikan. Lalu hubungannya sama ibu kamu famili dekat apa jauh ? "
" Namanya Karno, bisa dibilang sepupu juga sama ibuku, dari pihak ayahnya. Aku aja manggilnya pak Karno, usianya kira-kira sebaya sama mbak Tika. Kalau sama Ardi dia sepupu dari pihak ibunya.. "
" Berarti kamu sama Ardi itu famili jauh ya Mas. Justru mas Karno yang famili dekat. "
" Iya benar, hanya saja Ardi itu sebaya denganku. Teman sejak masih SD jadi kita udah akrab. Oh iya, rencananya besok resepsinya di gedung Graha Wiyata Dharma yang di sebelah kantor Camat itu."
" Mas Karno kerjanya di kantor Camat ya, kok resepsinya jauh dari rumahnya ? "
" Rumah calon istrinya yang dekat kantor Camat. Orangnya sudah berumur juga, sama- sama telat nikah. Kabarnya yang minta pestanya mewah juga keluarga calon istrinya."
" Begitu ya, pantesan jauh-jauh hari sudah sibuk. Resepsinya di gedung dekat rumahnya, paling juga biar dipuji sama tetangga kalau dia dapat suami kaya."
" Huush,, sudah ah jangan gosip. Tidur yuk, besok masih ada tugas nih. Tapi sepertinya ada saudara yang sudah pada cuti kuliah, jadi bisa ikut bantu-bantu. Kalau urusan gedung sudah ada yang menangani sendiri ."
__ADS_1
" Aku juga ngantuk nih , oaahemm. Selamat tidur ya," ucapku.
" Selamat mimpi indah sayang, muaach!" balasnya.
Layar pun mati. Handphone kuletakkan di samping kepalaku. Seusai berdoa kupejamkan mataku.
*************
Jam sarapan sudah lewat. Para pelanggan hanya tinggal satu dua orang. Aku tengah sarapan bersama ibu di ruangan depan. Mbak Sri di dapur mencuci piring dan perabotan yang habis dipakai tadi.
" Kok tumben Raka beberapa hari ini tidak pernah menemui kamu. Sibuk kerja atau ada urusan lain ? " tanya ibu sedikit curiga.
" Lagi sibuk bantu-bantu di tempat famili ibunya yang mau menikah. Katanya sih ibu kenal sama mereka," jawabku memupus kecurigaan ibu.
" Oh ya, siapa sih familinya Raka yang dimaksud ? " tanya ibu lagi.
" Yang mau menikah sepupunya bu Harti, namanya mas Karno. Dulu orangtuanya berjualan di sebelah kiosnya bu Harti." Aku pun menuturkan sesuai yang diceritakan mas Raka.
" Karno sepupunya bu Harti ? Oh iya ibu ingat. Sudah setahun lebih nggak ketemu sama mereka. Tapi Karno itu seumuran sama mbak Tika loh , kok baru menikah sekarang." Ibu nampak heran dan tersenyum simpul.
" Waah, jangan-jangan mau dimanfaatkan. Soalnya Karno itu memang ulet, teliti dan nggak boros. Dulu waktu orangtuanya masih berjualan dia sering sarapan di sini, lalu nanti ibunya yang membayar. Dia juga jarang belanja layaknya anak-anak muda seusianya. Mungkin tabungannya sudah banyak."
" Kalau itu sih pelit Buk. Masa sudah punya penghasilan sendiri kok makan masih minta orangtua. Harusnya dia yang memberi orangtua." Aku berkomentar.
Ternyata mas Karno ini lebih payah dari mas Bayu. Sudah jadi ASN masih minta jatah sama orangtua, hehehe. Pantesan bisa mengadakan resepsi pernikahan di gedung mahal.
" Hallo hallo, Aira buatin teh panas dong !" seru mbak Wiwit yang muncul tiba-tiba.
" Oke Mbak! " sahutku seraya membawa piring bekas makanku sama ibu ke dapur.
Setelah mencuci tangan kubuatkan teh panas untuk mbak Wiwit.
" Tumben bu Wahyu sama Aira makan bareng. Kayak lagi serius ngobrolin sesuatu," lanjutnya sambil mencomot pisang goreng.
" Nggak ada yang serius, tadi Aira bercerita katanya saudaranya Raka mau menikah. Itu lho, Karno anaknya bu Irah yang berjualan di sebelahnya bu Harti. Sekarang berjualan di rumah.." Ibu memberitahu mbak Wiwit.
__ADS_1
" Ooh, Karno yang suka sarapan di sini kalau mau berangkat kerja itu ya. Ya ampun, baru nikah sekarang ? Kirain sudah dari dulu, hehehe ! " komentar mbak Wiwit
" Namanya jodoh, nggak tahu kapan datangnya." Aku menimpali. Kuletakkan teh panas pesanannya di meja.
" Iya juga, padahal sebentar lagi kamu juga mau nikah ya Ra. Tidak disangka, dulu dia sudah SMP kamu baru masuk TK. Sekarang nikahnya hampir bersamaan, heeh ! " Mbak Wiwit terkekeh, lalu ia mengambil beberapa gorengan dan dimasukkannya ke dalam plastik putih kecil. Ia pun keluar sembari membawa teh panasnya.
" Pagi-pagi malah ngegosip nih. Tadinya cuma membahas mas Raka yang tak pernah muncul , eh malah melember ngomongin pamannya dan calon istrinya. Dasar emak-emak, haha ! " kelakarku. Kuambil lap meja makan di dapur untuk membersihkan meja makan. Sekalian kuambil piring kotor yang masih tersisa.
" Termasuk yang barusan ngomong, nggak nyadar ya," celetuk mbak Sri yang sudah selesai mencuci.
" Aku enggak ya, tadi aku kan cuma ngasih tahu karena ditanyai sama ibu. Kalau tidak ya aku nggak cerita dong." Aku membela diri.
" Iih ngeles ! " ucap mbak Sri dengan mencebikkan bibir.
" Sudah sarapan dulu sana, yang ini biar aku nanti yang meneruskan." Kusuruh dia makan dulu sementara aku menaruh cucian piring yang baru kubawa dari luar.
Mbak Sri mengambil sarapannya lalu dibawa ke dapur. Sambil makan ia bertanya padaku," Jadi besok Mbak Aira mau kondangan sama mas Raka? " Aku menggeleng.
" Enggak, mas Raka nggak ngomong apa-apa tuh. Dari awal dia tidak ada niat mau mengajakku. Mungkin nggak enak sama saudara yang lain. Kecuali mereka mengundang ibu, baru aku yang datang mewakili." Aku menuturkan pendapatku.
" Tapi kok bisa ya, mas Raka tidak mengajak calon istrinya. Kan bisa sekalian dikenalkan sama kerabatnya. Kemarin aja kamu mengajaknya di acara aqiqah anaknya Mbak Tika, iya kan ?" Mbak Sri menyambung lagi
" Ya beda dong, mbak Tika kan saudara kandungku., masih satu keluarga. Kalau yang punya hajat ini kan bisa dibilang kakeknya mas Raka tapi bukan kandung. Yang menikah adik sepupu dari ibunya. Ibaratnya cuma famili jauh. Tentunya mas Raka nggak enak mengajakku. " Ku jelaskan pada mbak Sri biar nggak menyalahkan mas Raka.
" Benar juga, sekalipun bu Wahyu kenal tapi nyatanya mereka tidak mengundangnya. Seolah sudah tidak kenal ya," gumamnya.
" Makanya itu, dari situ aja sudah kelihatan kan. Mereka nggak berkenan dengan kehadiran kita. Atau bisa jadi keluarga pria berniat mengundang tapi yang berwenang malah keluarga wanita. Buktinya tempat resepsinya juga keluarga wanitanya yang menentukan."
" Bisa juga Mbak, makanya mas Raka nggak berani mengajak Mbak Aira. Huuh, perawan tua saja belagu ! " gerutu mbak Sri.
" Heeeh, kok kita malah membahas hal yang bukan urusan kita. Sudah ah aku mau belanja ! " cetusku lalu keluar meminta uang belanja pada ibu.
_________________
Tunggu lanjutannya ya say, kasih vote like dan komen tentunya.
__ADS_1
Lope u pull , thanks !