
Kemarin Mbak Tika mampir ke warung sepulangnya dari bekerja. Si centil Stella turun dari motor sudah berteriak memanggil nenek dan tantenya.
" Neneeek ! Tante Airaa ! " Ia masuk dan langsung menubrukku.
" Aduuh ! tante Aira nanti jatuh dong ketubruk badan kamu yang gendut," ucapku berkelakar.
" Salim dulu dong sama nenek, tante Aira, sama bu Sri juga ! " Mbak Tika mengingatkan putrinya.
Lalu Stella pun menuruti perintah mamanya. Aku dan ibu mencium pipinya yang kaya bakpao.
" Dik Stella sudah besar saja ya, masih TK tapi seperti kelas 1 SD," komentar mbak Sri setelah Stella menyalaminya.
" Aku udah nggak TK lagi, besok aku udah naik kelas 1 SD." Rupanya Stella nggak mau dikatain masih TK.
" Iya besok masuk SD, tapi sekarang masih TK Besar. " Mbak Tika menjelaskan.
Stella nampak cemberut. Aku jadi makin gemes melihatnya, kucubit pipinya biar tambah cemberut.
" Auww ! Mama tante Aira nakal ! " teriaknya sambil mengelus pipinya.
" Hahaha ! makanya jangan cemberut aja, katanya udah mau masuk SD ? " seruku menggodanya. Ia pun langsung memasang muka manisnya.
" Tante buatkan minum dulu yaa, mau teh anget apa susu ? " tanyaku seraya masuk ke dapur.
" Susu dong, yang coklat ya Tante," pintanya sambil mengibas-ibaskan rambutnya yang dikuncir dua. Sama kaya Cyntia tempo hari.
" Oke siaap ! " ucapku. Kubuatkan susu coklat kesukaannya dan teh panas untuk mbak Tika.
" Tumben kemari, Mbak. Ada apa ? " tanyaku pada mbak Tika. Kuletakkan teh panas di meja .
" Jadi begini, kakaknya mas Toni yang di Jogja besok mau menikahkan putrinya. Dia menitipkan undangan buat Ibu ." Mbak Tika mengeluarkan kertas undangan berwarna merah maroon.
Kuraih undangan itu dari tangan mbak Tika, lalu kubaca hari dan tanggalnya.
" Resepsinya hari Minggu, masih 3 hari lagi, Buk," kataku pada ibu.
Mbak Tika mengambil nasi sama ayam goreng. Ia pun makan sambil menyuapi Stella. Kebiasaan mereka kalau makan sepiring buat berdua, tapi porsinya tetap 2 orang. Biar ngirit cuci piring katanya.
Seusai makan mbak Tika pamit karena mas Toni menelponnya.
" Aduh maaf ya Buk, aku nggak bisa lama-lama. Ini mas Toni malah menelepon katanya harus dinas luar kota sore ini. Bossnya menyuruhnya mendadak katanya. "
" Ya sudah hati-hati di jalan," pesan ibu. Mbak Tika menyalami ibu lalu menggandeng Stella. Aku mengantar ke depan untuk membantu Stella membonceng motor.
" Besok ibu sama kamu saja yang kondangan, kalau mbak Nia mungkin nggak bisa soalnya punya bayi, " kata ibu setelah mbak Tika pergi.
" Kok sama aku sih, Bu. Aku nggak mau ikut ah, Ibu sama ayah saja yang berangkat."
" Memangnya kamu nggak mau berkenalan dengan keluarganya mas Toni. Biar tambah saudara." Ibu berkata agak sinis.
" Kalau aku ikut nanti siapa yang manasin sayur ? Mbak Sri kan rumahnya jauh." Aku beralasan supaya ibu nggak memaksaku seperti yang sudah-sudah.
Terus terang aku malas ikut kondangan sama ibu apalagi di luar kota. Nanti di sana pasti kumpulnya sama orang-orang tua. Beda kalau aku sendiri kondangan ke pernikahan teman pasti kumpul sama yang sebaya.
" Ya sudah nanti ibu bilang sama ayah." Akhirnya ibu menurutiku. Yess ! Memang harusnya ibu sama ayah yang pergi.
Kami pun meneruskan pekerjaan karena sudah hampir waktu Ashar. Mbak Sri mulai memotong ayam kampung yang baru saja diantar sama penjualnya. Aku yang membuat bumbu opornya. Ciri khas ayam goreng Ibu Wahyu karena dimasak opor dulu baru digoreng.
__ADS_1
" Selesai sudah pekerjaan hari ini. Saatnya kita pulang !" Seruku. Baru saja aku selesai sholat Ashar.
Mbak Sri pamit lebih dulu takut nggak dapat angkot kalau kesorean. Setelah mengecek kompor dan listrik serta mengunci pintu kami pulang berjalan kaki.
_________
Sabtu sore saat baru pulang dari warung, Eva lagi menyapu halaman rumah sambil mendengarkan musik dari Handphone. Tumben dia pulang.
" Hai bestie, baru pulang nih ! " tegurnya ketika aku sampai di depannya. Ia menganggukkan kepala pada ibu yang berjalan di sebelahku.
Ibu tersenyum dan berlalu. Aku berhenti di depan Eva.
" Tumben ingat rumah ! " celetukku.
" Memangnya aku Bang Toyib ! " serunya melotot. Aku tergelak.
" Besok ke CFD yuk, sudah lama nggak ke sana ! " ajaknya dengan wajah pura-pura memelas. Jurus andalannya jika mau mengajakku.
" Lihat besok deh, boleh apa nggak sama ibu." Aku pura-pura, padahal besok kan warung libur karena ibu mau kondangan.
" Please dong, minta ijin sama ibu kamu. Aku pingin beli jajanan ala-ala Korea itu, sama jajanan yang lain. Di kampus nggak ada yang jualan seperti itu. " Ia mulai merajuk.
" Iya makanya lihat saja besok, kalau aku ke sini pagi-pagi berarti aku diijinkan jalan ke CFD sama ibu. Kalau enggak ya enggak ! " seruku. Dalam hati aku tertawa sudah bisa mengerjainya.
" Jangan besok, nanti dong. Kalau kamu boleh pergi kamu kabari aku. Lagian kita udah lama kan nggak keluar bareng. " Eva membujukku lagi.
" Iya.. iya nanti, udah aku mau pulang dulu." Aku segera berlalu pulang ke rumah.
Malamnya Eva sudah ngga sabar, dia kirim pesan ke handphoneku.
[ Gimana udah bilang sama ibuk belum ]
Setelah kubalas dia nggak melanjutkan chat nya lagi. Padahal sebenarnya aku nggak bilang apapun juga sama ibu. Bukankah besok warung tutup karena ibu mau kondangan.
Pagi harinya sekitar jam 6.00 Eva sudah menantiku di depan rumah. Ia nggak membawa motor karena kami memang ingin jalan santai.
Eva sudah seperti Upin dan Ipin saja, begitu sampai di tempat langsung lari berburu jajanan.
Setelah puas kami langsung pulang karena khawatir keburu panas.
Di jalan secara tak sengaja aku ketemu sama Gugun tetangga RW yang waktu itu.
" Hai Aira, Eva , pulang dari CFD ya ! "
" Iya Gun, kamu sendiri mau kemana ? " tanyaku balik.
" Aku mau mengantar barang ke pasar. Oh iya, kamu dapat salam dari Raka." Gugun menyampaikan salam dari Raka untukku.
" Oh ya terimakasih, tolong sampaikan juga waalaikum salam." Aku mengirim salam balik.
" Oke nanti aku sampaikan kalau ketemu dia. Yuk aku duluan ya ! " Gugun berlalu dari hadapan kami.
" Raka siapa, ada yang mulai menyembunyikan sesuatu rupanya." Eva mencurigaiku.
" Sembunyikan apa, bukan siapa-siapa. Dia itu temannya Gugun yang kebetulan suka makan di warung ibu." Aku menjelaskan pada Eva tentang Raka.
" Teman Gugun kok pakai kirim salam segala." Eva masih nggak percaya.
__ADS_1
" Mana kutahu. Tanya tuh sama Gugun, " jawabku pura-pura kesal. Sudah dijelasin masih curiga saja.
" Naksir kali sama kamu. Awas lho ya kalau nggak cerita." Eva melancarkan aksi ngambeknya.
" Aduh ni anak udah dibilangi nggak ada apa-apa juga. Iya kalau dia naksir, kalau nggak ? "
" Pokoknya kalau ada apa-apa kamu musti cerita sama aku ! " serunya.
" Ashiaaap Bu Komandan ! " Aku menempelkan telapak tangan di kening layaknya orang memberi hormat.
Tak terasa kita sudah sampai depan gapura. Eva seperti mengingat sesuatu.
" Lho kok kamu malah ikut pulang ke rumah, memangnya nggak ke pasar ? " tanya dia heran.
" Enggak, orang kita nggak jualan hari ini," jawabku santai.
" Apa ? jadi hari ini libur. Kok kemarin kamu bilang, lihat besok.. lihat besok. Kamu ngerjain aku ya ! " teriak Eva. Ia pun menghujani pinggangku dengan cubitan.
" Iya sorry, habis aku kesal kamu jarang pulang. Nggak tahu kan aku di rumah gabut tingkat dewa." Aku mengungkapkan kekesalanku.
" Yee kok kesal sama aku. Marahin tuh dosen gue! " teriak Eva juga.
Kami tertawa lepas. Gapura ini luas sehingga kita bisa leluass teriak-teriak tanpa mengganggu tetangga. Paling juga mbak Tutik yang mendengar. Itu pun jika dia di luar rumah.
Sampai rumah aku langsung merebahkan tubuh di sofa. Kunyalakan kipas angin supaya tubuhku nggak kepanasan.
" Beli jajanan apa tadi di CFD ? " tanya mbak Nia. Tiba-tiba saja dia muncul dari kamar.
Aku yang hampir memejamkan mata jadi terbangun.
" Tuh kutaruh di meja, mau tiduran dulu nih, capek." Aku menunjuk ke meja depan TV.
Mbak Nia nampak membuka-buka tas plastik yang kubawa tadi. Biarin aja, kata ibu kalau lagi menyusui bawaannya lapar. Soalnya makanannya disedot sama bayinya lewat ASI.
" Kok yang dibeli jajanan anak-anak semua sih ? Nggak ada bubur ayam atau soto ayam." Mbak Nia bergumam sendiri.
" Justru sekarang orang tua suka jajanan anak-anak. Murah meriah dan rasanya bikin kangen," sahutku.
" Tapi kan nggak bikin kenyang," sahutnya. Tak urung ia mencomot basreng dan mencocolnya ke dalam saus sambal.
" Kalau satu nggak, kalau banyak ya kenyang. Lagian tadi pas mau berangkat nggak nitip, sekarang baru request. Telat buuuk " seruku.
Mbak Nia tak menyahut. Mulutnya tengah mengunyah lekker.
" Jangan dihabisin lho ya, aku aja belum ngicip." Aku mewanti-wanti. Bisa-bisa jajananku dihabiskan mbak Nia efek kelaparan habis menyusui babynya.
" Yaelah takut amat ! " sahut mbak Nia.
Aku malah jadi melamun. Kembali mengingat saat ketemu Gugun tadi. Raka kirim salam buatku. Maksudnya apa ya ? Mungkin karena hampir seminggu ini dia nggak pernah mampir ke warung. Makanya dia menitip salam, mungkin bermaksud minta maaf.
Tapi ngapain juga minta maaf ?
Aah sudahlah. Nggak usah terlalu dimasukkan ke hati.
******"""""*****""""***
Bersambung. Maaf ya jika uo datenya lama.
__ADS_1
Makanya vote like komen biar up date nya rajin.
okeey !