
Tinggal satu minggu lagi panggung hiburan akan digelar. Semua warga yang ikut andil dalam acara panggung nanti sudah mulai mempersiapkan diri.
Untuk anak-anak yang ikut dance aku sudah menghubungi orang tuanya untuk mempersiapkan kostum. Aku sendiri juga harus menyiapkan baju yang akan kupakai saat pentas nanti.
Siang ini aku tiba di warung makan. Aku mencari Mbak Nia. Untung dia belum pergi.
"Mbak,aku boleh pinjam bajunya dong buat pentas minggu depan. Aku ngga ada baju yang bagus nih, udah pada pudar warnanya, " pintaku pada Mbak Nia yang sedang makan siang.
"Nggak ada Ra. Bajuku juga ngga ada yang baru."
" Masa ngga ada. Sebulan lalu kan Mbak Nia baru beli baju baru." Aku mengingatkannya lagi.
"Tapi itu kan Mas Joni yang belikan. Kalau kamu pakai aku ngga enak sama dia. Aku aja baru pakai sekali." Mbak Nia kembali beralasan.
"Iya Aira. Kamu seharusnya ngerti. Kalau kakakmu sudah bilang ngga ada ya sudah. Jangan maksa ! "
Ibu bukannya ikut membujuk Mbak Nia tapi malah menyalahkanku. Boro-boro mau belikan baju.
" Pinjam sama Eva aja. Dia kan punya banyak baju.
Mana bagus-bagus, " saran mbak Nia.
" Malu dong Mbak. Nanti pasti ada yang mengenali kalau yang kupakai bajunya Eva." Aku menolak saran mbak Nia. Meskipun aku sahabatan sama Eva tapi aku ngga pernah memanfaatkan dia. Ayahku selalu berpesan bahwa kita harus punya harga diri
walaupun kita orang ngga punya.
" Udah ah ! Aku mau pergi." Mbak Nia beranjak dari tempat duduknya.
"Bu, aku mau ke rumah teman. Dia mengajakku merias tetangganya yang mau hajatan." Ia pun berpamitan pada ibu.
" Ya. Hati-hati Nak," pesan ibu padanya.
"Sudah jangan mikirin baju saja. Tuh banyak piring kotor di depan. Kasihan mbak Sri dari tadi sibuk."
Ibu menyuruhku membantu mbak Sri. Aku segera keluar dan masuk lagi membawa piring-piring kotor.
Sambil mencuci aku mencari ide. Oh iya ! Aku kan bisa pinjam baju sama Yana. Sudah lama juga aku nggak menghubunginya.
Segera kuselesaikan cucian dan mengambil HP di dalam tas. Aku WA Yana.
[ Hai bestie ! Gimana kabarmu., kok ngga pernah WA aku sih ]
[ Kamu tuh yang sibuk terus. Lupa sama teman ya mentang-mentang udah dapat teman baru ]
[ Siapa teman baru ? ada juga teman di tempat kerja ]
[ Ya itu, di tempat kerja. Anak-anak TK kan teman kamu sekarang ha.. ha.. ha ]
[ Ngeledek kamu ya, ha ha ha ! Eh btw aku boleh dong pinjam baju kamu. Buat pentas minggu depan. Baju kamu kan bagus-bagus ]
[Ah bisa aja kamu. Ya udah besok kamu ke rumah, soalnya nanti aku mau pergi ]
__ADS_1
[ Oke deh. Besok pulang kerja aku langsung ke rumahmu. Makasih bestie ku muach ]
Aku mengakhiri chatinganku dengan Yana, dan meneruskan pekerjaan lain.
Keesokan harinya sepulang kerja aku ke rumah Yana. Dia lagi nonton TV sambil ngemil keripik tempe kesukaannya. Aku langsung masuk karena Yana lagi sendirian. Kalau ada mamanya aku pasti mengucap salam.
" Enak ya di rumah cuma duduk nonton makan.
Aku malah tiap hari kerja terus." Aku menegurnya.
Yana menoleh. " Ini anak datang-datang langsung mengomel, lapar kamu ?" Ia menggodaku.
"Kamu tuh yang kelaparan. Keripik setoples dimakan sendiri." Aku pun mencomot keripik di depan Yana. Ia tertawa dan beranjak ke dalam.
Tak lama ia keluar membawa 2 gelas es sirup.
"Tau aja kalau Tuan Putri lagi haus," candaku seraya mengambil gelas sirup dan langsung meneguknya. Yana geleng-geleng kepala melihat tingkahku. " Ketahuan siapa yang lagi kelaparan, "
celetuknya.
"Aku ngga lapar cuma haus. Tadi udah makan bakso sama mbak Murni. " Aku menjelaskan.
"Mana bajunya. Aku ngga bisa lama-lama nanti kesorean ke warungnya. Biasa lah Anak Mami pasti pergi lagi. " Aku berkata dengan menyebut mbak Nia si Anak Mami.
"Ya udah. Yuk ke kamarku aja ! Kamu pilih sendiri. "
Kami berdua pun masuk ke kamar Yana.
Hari yang ditunggu pun tiba. Panggung RW sudah berdiri gagah. Kemarin warga bergotong royong mendirikannya sekaligus menata kursi-kursi.
Ibu-ibu dan remaja putri menyiapkan konsumsi.
Dan nanti malam acara Pentas Seni dari RW kami akan dilaksanakan.
Para pendukung acara sudah menyiapkan diri.
Aku dan Eva serta yang lain juga sibuk mengurusi anak-anak yang akan pentas dance.
Semoga semuanya berjalan lancar.
Dan tepat jam 20.00 acara dimulai. Semuanya tampil dengan bagus dan memuaskan. Aku dan Eva berpelukan karena puas dan lega.
Tiba-tiba Widi menghampiriku. "Aira ! Selamat ya, semuanya sukses. Penampilan kamu dan yang lain tadi cukup memukau penonton. Tarian anak-anak juga bagus, dan itu berkat kamu."
" Ah biasa aja kali. Yang melatih anak-anak bukan aku aja tapi yang lain ikut membantu, " sanggahku.
"Tapi kamu kan yang mengarang koreonya. Nggak salah kalau kamu jadi guru TK.." Widi menambahkan
lagi. Ini anak malam-malam capek malah ngelantur ke mana-mana.
"Aira ! Buruan yuk kita pulang. Aku kebelet pipis nih ! " Eva memanggilku sambil memegangi perutnya.
__ADS_1
"Kalau mau pipis di rumahku saja. Itu biar diantar Mira sama Dewi." Widi menawarkan. Memang rumah Widi dekat dengan posisi panggung. Tapi kenapa juga ia menyuruh Eva pipis di rumahnya? Kita kan mau pulang. Selagi aku masih bertanya-tanya Eva sudah menarik tangan Mira dan berlari ke rumah Widi. Dewi pun ikut berlari mengikuti mereka.
"Kok kamu nawarin kamar kecil buat Eva. Kita kan memang mau pulang?" tanyaku pada Widi. Kami duduk di kursi di belakang panggung. Sebagian warga sudah pulang ke rumahnya. Sebagian lagi membereskan kursi-kursi dan membersihkan panggung.
" Karena aku ingin mengobrol dulu sama kamu," jawabnya lirih. Ia menatapku tanpa berkedip. Tatapannya tak seperti biasanya. Duuh ! Kok aku jadi deg-degan gini. Eva mana sih?
"Emm... emm.. emang mau ngobrolin apa?" tanyaku.
Aku ngga berani menatap wajahnya.
" Apa saja. Yang penting bisa berdua sama kamu," katanya agi dan tersenyum. Aku masih menunduk, nggak tahu mesti bicara apa. Beberapa saat kami terdiam.
" Oya. Gimana rasanya menghadapi anak-anak TK tiap hari? " Widi melanjutkan obrolan. Mungkin untuk mencairkan suasana yang mendadak kaku.
"Ya biasa saja. Cuma kadang ada yang lucu juga sih. Ada juga yang tiba-tiba nangis. Ada yang usil.
Macam-macam deh tingkah mereka," terangku.
Aku menengok ke kanan kiri mencari Eva dan yang lain. Ke mana sih mereka kok lama banget.
Seketika kudengar suara cekikikan. Aku menoleh.
Ternyata Eva, Mira dan Dewi sedang tertawa tak jauh dari tempatku dan Widi. Rupanya mereka tadi bersembunyi sambil mengintipku. Dasar !
"Kalian kok lama banget sih? aku sampai kesemutan nungguin kalian ! " teriakku. Mereka pun mendekat.
"Kesemutan apa kesemutan ? " Mira tersenyum menggodaku. Ia mencubit lengan Dewi memberi isyarat. Dewi ikut tersenyum dan mengedipkan mata pada Eva. Apa-apaan sih mereka ?
"Awas ya kalau kalian berpikir macam-macam .Yuk kita pulang ! " ajakku.
Aku mengacungkan tangan pura-pura mengancam.
Widi hanya geleng-geleng kepala menyaksikan kami
berempat. Eva tiba-tiba menyahut, " pikiran kita cuma satu kok. Ada yang lagi jatuh cinta. "
Ia berkata sambil berlari dan tertawa-tawa. Aku mau mengejarnya, tapi Widi memegangi tanganku.
"Sudah nggak usah dikejar. Kayak anak kecil aja.
Malu sama muridnya," selorohnya. Aku nggak jadi
mengejar Eva. Ia masih tertawa-tawa. Di belakang kami Mira dan Dewi pun berjalan hendak pulang.
Widi memanggil Rio untuk menemani mereka berdua.
Aku dan Eva ditemani Widi.
__________&&&______
Bersambung. Tolong like dan komentar ya !
__ADS_1