Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 6 KECEWA


__ADS_3

Setelah menghabiskan bakso dan es campur aku dan Eva pingin keliling alun-alun dulu. Satu putaran mengitari alun-alun kemudian pulang.


Sampai depan rumah Eva aku turun.


" Aku langsung balik ya! " kataku pada Eva.


" Thanks traktirannya". Eva tersenyum. " Halaah ! biasa aja kalee ! " Lanjutnya lagi. " Oke bye ! "


Aku melambaikan tangan dan melangkahkan kaki ke rumah yang hanya berjarak tak lebih dari 10m dari depan rumah Eva. Kubuka pintu pelan-pelan. Sebab aku lihat dari kaca jendela Ayah sedang menonton TV tapi ketiduran. Khawatir kalau Ayah kaget. Tapi ternyata Ayah ngga benar2 tidur. Buktinya ia langsung menanyai ku " Dari mana Ra? kok baru pulang".


" Habis nganterin Eva ke Babah Hong Liem, Yah".jawabku. Ayah bangun dari sofa dan berjalan ke pintu serta menguncinya. Aku pun masuk ke kamar. Sebelum tidur aku WA Yana.


( Hai bestie. Besok jadi nganterin aku ke Kharisma Institut kan? )


( Jadi lah. Apa sih yang enggak buat 'bestie aku.


emoji senyum)


( Oke. Makasih bestie. Sampai jumpa besok. emoji dadah. ketawa.)


Aku menaruh HP di samping bantal lalu merebahkan diri dan memejamkan mata.


_______


Sabtu pagi sekitar jam 9.00 aku sudah berada di teras depan rumah Yana. Mamanya sedang menyapu di ruang tamu. "Assalamualaikum Tante. "

__ADS_1


" Wa'alaikum salam. Eeh Aira. Sini masuk. ". Mama Yana tersenyum dan menyuruhku duduk. " Tunggu sebentar ya. Tante panggil Yana dulu". Aku mengangguk. Tak lama Yana pun keluar . " Gimana. Mau berangkat sekarang? " Ia berdiri di samping aku duduk. Aku pun beranjak dari kursi.


" Sekarang dong. Masa minggu depan ! ". Hahaha...


Yana pun tertawa sambil merangkul ku.


" Maaah! ! Berangkat ya! " Teriaknya.


" Assalamualaikum ! " Mamanya juga berteriak


" Yaaa. ! Waalaikum salaaam . Hati-hati ! ".


Aku geleng-geleng kepala. Ngga ibu ngga anak sama-sama kaya tarzan. Aku tersenyum sendiri.


Hahahaaaaa !! Yana malah tertawa terbahak-bahak.


Tak terasa kita sudah sampai gapura. Kebetulan pas ada angkot yang baru menurunkan penumpang. Aku dan Yana masuk ke angkot. Nanti kami turun di perempatan pasar. Dan naik angkot lagi yang jurusan arah ke kampus Kharisma Institut.


Setelah kurang lebih 1 jam aku dan Yana sampai di tempat tujuan. Kampusnya ngga terlalu besar. Maklum lah karena bukan kampus unggulan.


Tak berapa lama kami pun sudah duduk di dalam kantor administrasi. Salah seorang staf menerangkan panjang lebar tentang jurusan yg ada di kampus ini serta syarat2 pendaftaran dsb.


Selama 30 menit kami berbincang2. Aku dan Yana pun berpamitan.


Keluar dari gedung Kharisma kami berdua jalan kaki menuju pusat perbelanjaan yang dekat di sekitar sini. " Belum ada jam 11.00. Jalan-jalan dulu yuk ! " Ajakku. Yana mengangguk " Let's Go! "

__ADS_1


Kami berjalan melewati taman yang ada di pinggir jalan. Banyak pohon rindang di sepanjang jalan sehingga tidak terasa panas kena sinar matahari.


Pukul 1.00 siang aku tiba di rumah. Yana juga sudah pulang ke rumahnya. Setelah sholat dzuhur aku pamit sama Ayah untuk ke pasar seperti biasa.


Sampai di warung makan mbak Sri tengah membereskan piring kotor di atas meja. Aku membantu mengambil gelas kotor dan mengelap meja. Mbak Nia baru selesai makan siang. Hari Sabtu kursusnya libur. " Kamu jadi ke Kharisma Institut, Ra? ".Tanyanya. " Jadi. Ini baru aja pulang. ".Jawabku seraya mengambil air putih.


Ketika sedang minum tiba-tiba ibu berkata ,


" Ngapain kamu ke Kharisma Institut ? Memangnya siapa yang mau biayain kuliah kamu. " Degh !


Gelas yang kupegang hampir aja jatuh.


" Aira cuma ambil D2 kok Buk. Ga papa kan ". Mbak Nia menimpali perkataan ibu. " Nggak bisa Nia. Ibu kan masih biayai kamu kursus ". Sahut ibu setengah jengkel. Mbak Nia menjawab lagi " Kursus aku kan hanya setahun, Buk. Ini tinggal sebulan lagi selesai. " . Aku hanya terdiam. Untuk apa berdebat sama ibu.


" Iya. Tapi akhir-akhir ini warung makan ibu sudah berkurang pelanggan. Ibu juga masih harus melunasi motor kakakmu Bayu. " Ibu mengungkapkan alasannya. Selama ini hanya Mbak Nia dan Mas Bayu yang berani menyampaikan pendapat sama ibu. Dulu Mbak Rina juga. Beda dengan aku dan Mbak Tika. Kami berdua ngga pernah berani menyanggah perkataan ibu. Seperti kali ini aku hanya menunduk diam. Airmata meleleh di pipiku. Ibu hanya melirik ku seolah tak peduli melihatku menangis.


Mbak Nia yang berusaha membelaku membujuk ibu juga akhirnya diam. Mungkin percuma juga karena dia sendiri juga belum selesai kursus.


Sebenarnya tadi aku sudah lapar banget pingin makan. Tapi mendengar ibu berkata seperti itu seketika nafsu makanku hilang. Aku benar2 kecewa. Mengapa hanya untuk mengejar Diploma saja aku ngga boleh. Kalau hanya karena warung makan sepi aku rasa itu cuma alasan ibu.


Yang pasti karena ibu baru saja membelikan motor untuk mas Bayu. Belinya ngga cash tapi kredit. Katanya ibu ngga tega sama mas Bayu kalau harus ke tempat kerja naik angkot.


Huuh ! Selalu saja Mas Bayu. Ngga habis- habisnya ibu ngeluarin uang buat dia. Sudah dikuliahin. Sudah kerja tapi masih saja minta orang tua. Dia pikir anak bapak sama ibu cuma dia ?


Ya Tuhan ! Mengapa aku yang katanya anak bungsu tapi selalu saja diabaikan. Mengapa hanya kakak2 ku yang dituruti. Kenapa Ya Allah ?

__ADS_1


__ADS_2