Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 33 Berubah Pikiran


__ADS_3

Sekitar jam 10 pagi setelah menghabiskan sarapan aku hendak pergi belanja. Kali ini ibu juga menyuruhku membeli bermacam ' kletikan' yang belum digoreng seperti biasanya. Kutulis dulu apa saja yang harus kubeli di kertas kecil. Setelah menerima uang dari ibu bergegas aku keluar menuju kios mbak Sumi di pasar.


" Mbak Sum, ini catatan belanjaan kutinggal dulu. Aku mau beli kletikan sebentar," kataku pada mbak Sumi. Kusodorkan kertas kecil yang kutulis tadi.


" Oke siaap ! " sahutnya. Sudah lama aku nggak main ke tempat Arya jadi kali ini mbak Sumi nggak bertanya apa-apa.


Selanjutnya aku menuju kios kletikan langgananku. " Mbak, aku titip catatan tolong disiapin dulu pesananku, aku ada keperluan sebentar. Empingnya pilihkan yang utuh lho ! " pesanku sama penjualnya.


Bergegas aku ke rumah Arya, mumpung hari Sabtu berarti libur.


Tok tok tok !


Kuketuk pintunya, tak berapa lama Arya muncul di balik pintu dengan wajah bangun tidurnya.


" Aira, tumben kemari. Duduk dulu deh ! " Ia pun masuk lagi dan keluar setelah membasuh mukanya. Ia tidak membuatkan teh atau sekedar mengambil air putih. Sejak aku lupa minum teh yang dibuatkannya dia nggak pernah lagi menyuguhiku minuman. He he !


" Ada apa nih ? kok nggak kirim pesan WA dulu tahu-tahu muncul. Kukira sudah nggak mau ke sini lagi." Arya menanyakan kedatanganku yang tak disangkanya.


" Eh.. anu... kebetulan tadi lewat sini terus mampir deh. Nanti kalau nggak mampir dikira sombong." Aku menjawab asal biar dia nggak ge er.


Nggak mungkin juga kubilang kalau kontaknya sudah kuhapus. Arya menghampiriku dan duduk di sebelahku. Diraihnya tanganku lalu menggenggamnya erat.


" Padahal aku kangen banget sama kamu, kenapa kamu nggak pernah kemari ? Kirim WA juga nggak pernah." Dia berkata seraya menatapku tajam.


Aku nggak kuat menatap matanya, takut meleleh.


" Maaf,akhir-akhir ini warung selalu ramai ," ucapku basa basi.


Ingat Aira ! Dia hanya manis di mulut tapi nggak mau membuktikan. Berkata cinta tapi nggak mau berjuang agar bisa meraih cintanya.


Betul juga. Kalimat yang dia ucapkan tadi seharusnya aku yang mengatakan, bukan malah dia. Mana ada seorang cowok kangen sama cewek tapi dia hanya menunggu kabar dan menanti ceweknya supaya menemuinya.


Seketika aku ingat apa tujuanku kemari. Kulepaskan tanganku dari genggamannya. Ia pun terkejut tapi membiarkan tanganku lepas.


" Sebenarnya ada yang mau aku omongin sih, " kataku kemudian.


" Oh ya, soal apa ? " sahutnya, kembali dengan sikap cueknya.


" Ada pelanggan warung, ibu-ibu dari desa, yang mengenalkan anaknya padaku. Dia ingin menjodohkan aku sama anaknya. " Aku berkata seraya menatap wajah Arya, ingin tahu reaksinya.


Ia nampak tenang, sama sekali nggak menunjukkan ekspresi terkejut.


" Memang anaknya bekerja di mana ? terus, kamu sudah ketemu belum sama dia ,ganteng nggak ? " tanya dia sembari menyalakan rokok. Santai sekali.


" Sudah. Awalnya dia bersama ibunya tapi kemarin dia sendiri. Wajahnya lumayan sih, malah dia sempat minta nomer HP ku juga."


Aku tak mengalihkan tatapanku, kuamati terus wajah Arya. Ia menatap lurus ke depan, sambil menghisap rokoknya. Kemudian menoleh menatapku sebentar lalu menatap ke depan lagi.


" Kamu sendiri gimana, suka nggak sama laki-laki itu ? " ia pun menanyakan perasaanku pada Yudha.


Ini saatnya aku memancing reaksinya.


" Aku nggak mau lah, kan aku cuma cinta sama kamu ! " ucapku manja, berharap ia akan berkata yang sama.


Ia pun tersenyum dan memandangiku lama.


" Kenapa tidak kau terima saja ? bukankah sudah pernah kukatakan, kalau aku baru mau menikah 10 th lagi. Kamu mau menungguku selama itu ? " ungkapnya.


Aku terdiam. Ternyata ideku datang ke sini keliru. Memang selama ini dia telah menyakitiku dengan sikapnya yang tak pernah peduli. Aku pun sudah berusaha melupakannya. Namun dengan aku bercerita tentang Yudha kukira dia jadi takut kehilanganku dan akan memperjuangkanku.


Ternyata tidak ! Dia sama sekali nggak terpengaruh, bahkan seperti merelakanku dengan cowok lain. Aku menghela nafas panjang dan kuhempaskan.


" Ya sudah, aku pamit ya," ucapku lirih seraya berdiri. Arya juga ikut berdiri lalu membukakan pintu untukku. " Hati-hati," pesannya.


Bergegas aku ke pasar mengambil titipan di kios kletikan lalu membayarnya. Kemudian ke kios mbak Sumi mengambil belanjaan sayuran, cabe dan bumbu-bumbu.

__ADS_1


" Kok lama sekali, beli kletikannya di mana? " tanya mbak Sumi sambil mengedipkan mata. Pasti mau meledekku.


" Di Amerika ! " seruku seraya menjulurkan lidah. Setelah membayar belanjaan aku buru-buru kembali ke warung. Semoga ibu nggak curiga.


Ternyata di warung sedang ada pembeli sehingga ibu nggak memperhatikanku. Aku langsung masuk ke dapur dan mengeluarkan belanjaan. Kutuang air putih dan meneguknya, aaah ! lega rasanya.


_________


Dua hari kemudian, aku sedang melipat mukena sehabis sholat dzuhur. Cuit cuit ! Handphone ku berbunyi, ada pesan WA masuk. Ternyata Yudha mengirim pesan lagi. Kubaca dulu pesannya sambil bersandar pada dinding kamar/ bilik tempat sholat.


[ Hai Aira ! sedang apa kamu ? sudah makan belum ? ]


[ Baru selesai sholat, sudah sarapan tadi. kalau makan siang belum ]


Kubalas saja sesuai yang dia tanyakan. Bagaimanapun juga aku harus tetap menghargainya. Walaupun aku tidak suka dengannya bukan berarti aku membencinya. Lagi pula dia belum tahu kalau aku menolaknya.


[ kok belum makan sih ? memangnya Aira pingin makan apa, nanti aku bawakan dari rumah. ]


Ia membalas lagi. Wah ! gawat nih kalau diteruskan. Bisa-bisa dia salah sangka.


[ Nggak kok, terima kasih. Ini juga lagi mau makan siang ]


Langsung kujawab seperti itu supaya dia mengakhiri chatingannya. Bukan apa-apa, aku nggak terbiasa berbalas pesan WA dengan cowok. Jangankan Yudha yang belum akrab, yang sudah akrab saja aku jarang chating kalau nggak ada urusan penting.


[ Oh ya sudah, selamat makan ya 😊 ]


Akhirnya dia menutup chatingannya. Kuletakkan kembali handphone . Aku keluar dari bilik ingin segera makan siang.


Mbak Sri masuk membawa piring-piring kotor lalu ditaruhnya di tempat cucian.


" Kok lama sholatnya Mbak Aira ? Ibu sampai nanyain tadi ." Dia pun bertanya sembari mencuci.


" Itu tadi ada WA dari Yudha. Kalau nggak kubalas nanti dia tersinggung, bisa-bisa cerita sama ibunya. Ujung-ujungnya sampai ke telinga ibu dan aku diomeli." Aku memberi tahu mbak Sri.


" Duuh yang lagi kasmaran, baru dua hari nggak ketemu sudah kangen." Eh dia malah menggodaku. Yang kasmaran siapa, yang kangen siapa.


Aku keluar mengambil nasi dan lauk karena sudah lapar dari tadi. Pengunjung warung sudah pada keluar karena sudah lewat jam makan siang.


Mbak Wiwit tiba-tiba masuk.


" Ra, buatin es teh dong ! " pintanya. " Oh ! kamu lagi makan, ya udah aku minta sama mbak Sri."


Mbak Wiwit memanggil mbak Sri sebelum aku sempat menjawab. Aku hanya mengangguk karena mulutku masih penuh. Mbak Sri keluar membawa es teh yang diminta mbak Wiwit.


Sore hari setelah menyelesaikan pekerjaan aku berniat sholat ashar dulu. Saat mau mengambil mukena HPku menyala, ternyata ada pesan WA masuk. Kulihat pengirimnya, dari Yudha lagi.


Hadeewwh ! mau apa lagi sih ?


[ Aira , Sabtu besok aku mau mengantar ibu beli bibit sayuran dan cabe. Rencananya kita mau mampir ke warung ]


[ Oya, terus kenapa ? Aku kan nggak melarang kamu mampir ]


[ Maksudku mengabari saja, biar kamu nggak pergi jika aku datang 😊 ]


[ Aku nggak pernah ke mana-mana kok, bisa dimarahi ibu nanti kalau sering keluar ]


[ Oke kalau begitu, sampai ketemu hari Sabtu 🙏 ]


Aku nggak membalas lagi. Kututup WhatsApp dan kuletakkan kembali handphone di samping sajadah. Aku pun segera sholat Ashar sebelum keburu batal wudhuku.


Sesudahnya, sembari menunggu ibu selesai memasak ayam buat besok aku rebahan dan melanjutkan membaca novel dari Handphone.Cerita yang sedang kubaca ini judulnya ' Cinta Di Dalam Perjodohan '.


Kisah seorang gadis yang baru lulus SMA tapi sudah dijodohkan dengan anak dari teman ibunya yang masih kuliah. Dia menerimanya dan menikah dengan lelaki yang tidak dia cintai. Tapi lama- lama tumbuh benih cinta di antara mereka. Si gadis juga kuliah di kampus yang sama dengan suaminya.


" Aira, mau pulang nggak? kok malah tidur." Suara ibu mengagetkanku. Aku buru-buru bangkit lalu keluar dari bilik.

__ADS_1


" Nggak tidur kok, cuma rebahan." Aku meralat perkataan ibu.


Mbak Sri sudah pulang lebih dulu. Aku dan ibu selalu pulang belakangan karena masih menunggu ayamnya matang.


_________


Sabtu pagi, aku berangkat ke pasar dengan berjalan kaki. Langkahku terasa ringan karena tadi malam Eva mengirim pesan kalau sore nanti mau pulang. Kuliahnya sudah semester 4 akhir, sebentar lagi mau semester 5. Kami hampir tak pernah bertemu karena kesibukan masing-masing. Sesekali chating kalau ada waktu senggang. Seperti tadi malam.


[ Bestie , besok aku pulang. Kangen banget nih ! ]


[ Aku juga kangen , kirain udah lupa sama aku 😜 ✌ ]


[ Sembarangan ! gini2 aku nggak mungkin lupain bestie aku ]


[ Percayaaa 😀 , Udah ah aku mau tidur. Besok pagi harus berangkat, kalau telat nggak digaji 😀✌ ]


[ Dasar kamu ya ! aku laporin ke ibu loh ☝😁 ]


Tak terasa langkah kakiku sudah sampai di tujuan. Aku mempercepat langkah karena pelanggan yang mau sarapan sudah berdatangan. Hari Sabtu juga kadang ramai karena banyak yang libur juga.


Segera kubantu ibu melayani pembeli. Mbak Sri di dapur menggoreng bakwan dan tempe/tahu tepung. Dalam beberapa menit saja gorengan yang ditaruh di nampan ludes.


" Yaach, kok habis gorengannya Buk ? " seru mas Harun yang baru saja datang.


" Itu mbak Sri masih menggoreng di dalam, nggak usah khawatir, " jawab lbu sambil melayani pembeli lain.


Tak berapa lama mbak Sri keluar membawa gorengan yang baru diangkat.


" Ini Mas, gorengannya masih panas." Aku menawarkannya pada mas Harun yang sedari tadi menanti. Dia belum memulai sarapannya jika belum ada gorengan di depannya. Ada-ada saja.


Satu persatu para pengunjung warung pun pergi. Ketika aku dan mbak Sri tengah berkutat di dapur terdengar ucapan salam. Kutengok keluar, astaga !


Ternyata Yudha dan ibunya. Aku sampai lupa kalau dia mau datang hari ini.


" Hai Aira, apa kabar ! " sapanya tersenyum.


" Baik," jawabku pelan.


Padahal aku baru mau sarapan, tapi mendadak tak berselera karena kedatangan mereka. Sedangkan ibu menyambut dengan wajah sumringah. Aku memilih masuk ke dapur menemani mbak Sri.


" Silahkan masuk, Nak Yudha. Bu Lastri apa kabar, kok lama nggak mampir ke sini ? " Ibu berbasa basi.


" Iya Bu Wahyu, lagi sibuk bantu bapaknya Yudha di ladang." Bu Sulastri memberi alasan.


Beberapa menit kemudian Yudha menghampiriku.


" Aira, nanti malam kita jalan-jalan yuk ! " Dia mengajakku keluar.


" Aduh maaf Mas, aku sudah ada janji sama sahabatku. Nanti dia marah kalau nggak jadi," jawabku mencari alasan.


" Oh gitu, kalau besok gimana? " Ia masih berusaha membujukku.


" Aku belum bisa janji Mas, maaaaaf banget." Aku menjawab tegas.


Mungkin yang kulakukan ini keterlaluan. Awalnya aku seperti memberi harapan pada Yudha tapi sekarang pikiranku berubah. Aku sendiri juga bingung dengan sikapku.


Entah mengapa aku sudah nggak mood lagi untuk dekat dengannya. Aku tidak membencinya, hanya saja aku nggak suka dengan tingkah lakunya. Semakin dia mendekat semakin aku ingin menjauh.


Aku tahu pasti ibu akan murka jika mengetahui aku menolak ajakan Yudha.


Tapi mau bagaimana lagi, aku nggak bisa membohongi hatiku.


__________


Mau tahu nggak kelanjutannya ? Tunggu besok ya.

__ADS_1


Jangan lupa kasih vote dan komen biar author bisa lebih baik lagi.


Hatur nuhun.


__ADS_2