Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 114 Disunat


__ADS_3

" Kita jalan aja lagi yuk, di sini nggak bebas. Tuh rumah di depan ramai begitu, salah-salah kita diintipin dikira lagi ngapain," ajak mas Raka.


" Mau ke mana sih, tadi sebelum pulang kan kita udah muter di alun-alun dan mampir ke taman kota. Lagian kayak kurang kerjaan aja misal ada yang ngintip, kita juga nggak ngelakuin apa-apa cuma ngobrol biasa."


" Kan risih kalau kita diperhatikan orang, kayak diawasi gitu," lanjutnya.


" Haha, kamu ini bener-bener lebay deh, Mas. Siapa juga yang mau memperhatikan kita, emang kita artis apa. Yang ada juga mereka malu kalau ngelihatin orang pacaran." Kutepis kekhawatiran mas Raka yang berlebihan.


" Tapi aku tetep nggak nyaman, yuk keluar. Atau kita nonton aja, gimana? " Ia terus mendesakku.


" Filmnya apa, ini kan hari Jumat pasti filmnya kurang bagus. Ah nggak ah ! Ooh aku tahu, kamu pasti lagi mikir buat mengajakku ke tempat yang tidak dilihatin orang, lalu kamu mau iu iu. Iya kan, hayo ngaku ! "cecarku.


" Apaan sih iu iu, kamu ngaco ya nuduh tanpa bukti. Itu namanya suudzon, pikiranmu jelek. Padahal kan...... iya, hahaha ! " sahutnya sampai tergelak.


" Tuh bener kan, dasar otak mesum ih.. ih..! " Kucubiti pinggangnya, lengannya, pahanya. Ia tak kuasa menghindar, tapi tak ayal ia menangkap kedua tanganku lalu dipegangnya dengan tangan kirinya. Aku tak bisa menariknya karena tangannya terlalu kuat. Tangan kanannya menggelitiki perutku.


" Hahaha, auw geli haha, mas geli, udah dong ! " seruku. Cukup lama mas Raka menjalankan aksinya hingga keluar airmataku. Nampak ada bapak-bapak di depan rumah yang melihat ke arah kami.


" Udah mas, tuh ada yang melongok ke sini. Kamu tadi bilangnya risih tapi sekarang malah mancing supaya dilihatin, " sungutku.


" Biarin, habisnya kamu nggak mau kuajak keluar. Sekalian aja bikin tontonan weekk! " ucapnya sambil menjulurkan lidah.


" Huuhf jadi gerah nih panas ! " Kukipas-kipaskan kedua tangan ke wajahku. Mas Raka hanya tersenyum lalu mengeluarkan rokok dari saku bajunya.


" Sebentar kuambil kipas dulu di dalam." Aku beranjak masuk ke kamar.


" Aira, mbok Raka diajak makan. Ini masih ada nasi sama lauknya lho, tadi kan ibu sudah makan bakso, nasi kotaknya juga masih utuh baru kamu ambil kuenya tadi." Ibu menegurku waktu aku hendak masuk kamar.


" Lho, memangnya ayah nggak makan ? " tanyaku sambil mendekati meja makan.


" Ayah makan yang dari warung, kan tadi masih ada sisa nasi. Katanya nasi kotaknya buat kamu saja, tuh masih utuh."


Ibu menunjuk dua kardus yang tertutup, berjejer di sudut meja makan.


" Punya mbak Nia belum dimakan juga? " tanyaku lagi. Orangnya lagi di kamar tuh.


" Buat mas Joni nanti, Nia masih kenyang makan bakso tadi."


" Ya udah nanti aku makan habis sholat Isya," kataku lalu menyambar kipas yang kutaruh di meja kamarku.


" Mas, disuruh makan sama ibu. Kamu sholat dulu gih, aku ngadem dulu masih gerah nih," ucapku saat sudah kembali ke ruang tamu.

__ADS_1


" Siap bos ! " sahutnya sambil berdiri dan melangkah ke kamar mandi. Aku mengikuti lalu duduk di sofa ruang tengah sambil kipasan.


Sepuluh menit kemudian mas Raka keluar dari kamarku. Gantian aku wudhu kemudian sholat. Kupakai lagi jilbab instanku lalu keluar mengajak mas Raka ke meja makan.


" Sini Mas, biar kuambilkan piring dulu." Kupanggil dia sementara aku mengambil piring di rak yang ada di sisi meja makan.


Ibu dan mbak Nia ada di kamar, mungkin sengaja supaya mas Raka bisa leluasa makan. Sedangkan ayah sepertinya tengah mengobrol di teras pak Dirja bersama keluarganya.


Usai makan malam mas Raka hendak membawa piring kotor ke dapur tapi aku mencegahnya.


" Biar aku saja Mas." Ia pun mengurungkan niatnya lalu duduk di depan televisi.


Setelah menaruh piring di dapur kudekati mas Raka yang tengah menonton TV. Namun ketika kuhenyakkan tubuhku di sofa ia langsung memelukku. Cup ! Dikecupnya bibirku.


" Mas Raka iih ! Kalau tiba-tiba ibu atau mbak Nia keluar gimana, malu kan," bisikku seraya mendorong tubuhnya agar menjauh.


" Habis gemes dari tadi udah nggak tahan," bisiknya pula sambil senyum-senyum. Aku melotot pingin mencubitnya lagi, tapi urung karena kudengar pintu depan ada yang membuka. Mas Raka langsung menjauh dariku, kita pura-pura nonton TV. Ayah muncul dari pintu penghubung ruang keluarga dan ruang tamu.


" Eh kirain lagi pada keluar, ternyata di sini," tegur ayah.


" Baru selesai makan Yah," sahutku. Mas Raka juga tersenyum pada ayah yang langsung masuk ke kamar tidur.


" Aku pulang ya, lama-lama nggak nyaman juga belum ganti baju dari pagi." Mas Raka mau pamit pulang.


" Mandi tapi masih pakai baju kotor, lama-lama bisa gatal badanku. Aku juga mau istirahat. Boleh ya aku pulang." Ia menangkupkan kedua telapak tangannya seolah memohon padaku.


Aku tersenyum simpul. " Boleh dong mas Raka yang ganteng. Masa aku tega kamu kecapekan dari tadi belum istirahat, " tukasku.


Mas Raka kemudian berdiri dan melangkah ke ruang tamu. Aku berjalan di belakangnya. Sebelum membuka pintu ia berbalik dan langsung menciumku lagi. Untung tadi kordennya telah kututup sehingga tak ada yang melihat dari luar.


Tak seperti tadi di depan televisi, kali ini Mas Raka cukup lama meng***m bibirku. Leherku sampai pegal karena terus mendongak. Setelah merasa puas ia melepasnya, nafas kami terengah-engah.


" Sudah ya, kamu langsung tidur jangan nonton TV lagi. Besok kan mau bantu-bantu di rumah depan," pesan mas Raka sambil membuka pintu.


" Aku nggak keluar ya Mas, nggak enak tuh masih ada yang duduk-duduk di teras depan.


" Oke, bye ! " Mas Raka keluar dan tak lupa menutup pagar kembali. Ia melambaikan tangannya dan berlalu pergi dengan motornya.


Setelah mengunci pintu barulah aku masuk ke kamar. Bibirku masih berasa tebal. Saat kulihat di cermin ternyata tidak ada yang berubah. Senyumku mengembang mengingat yang terjadi beberapa menit yang lalu.


__________

__ADS_1


Pagi Subuh tadi papanya Ernest baru saja tiba dari Surabaya. Aku sempat mendengar suara mobilnya ketika baru selesai sholat.


" Aira, ibu berangkat ya. Baik-baik nanti saat melayani tamunya mbak Tatik," pesan ibu sebelum berangkat ke warung makan. Mas Joni telah menunggu di depan dengan motornya.


" Beres Buk, aku kan sudah sering jadi sinoman di kampung kita. Masa nggak tahu tata caranya."


Ibu keluar dan membonceng mas Joni yang akan mengantarnya ke warung lebih dulu kemudian baru ke tokonya.


Kuambil sapu di dapur lalu membersihkan kamarku serta ruangan lain. Terahir kusapu teras depan.


Kulihat Mbak Tatik keluar bersama suaminya diikuti kedua anaknya. Di belakangnya bu Dirja dan pak Dirja juga ikut keluar. Sepertinya mereka hendak mengantar Ronald ke dokter untuk disunat.


" Jangan lupa nanti berdoa ya Sayang, kalau takut merem aja," pesan mbak Tatik pada Ronald. Anaknya mengangguk tanda menuruti perkataan ibunya.


" Ronald mau dikhitan sekarang ya Mbak ? " tanyaku berbasa basi.


" Iya Dik Aira, ini mau diantar papa sama kakaknya." Mbak Tatik menjawab sambil membukakan pintu mobil buat Ronald.


Ernest melambaikan tangan padaku sebelum masuk mobil. Ia duduk di depan sebelahan dengan papanya. Sedangkan Ronald duduk di belakang ditemani suami mbak Yuni.


Perlahan mobilnya berjalan keluar dari halaman rumah. Setelah berada di luar mereka melambaikan tangan pada Ronald.


" Hati-hati ya," pesan mbak Tatik lagi. Kemudian ia mendekatiku.


" Dik Aira nanti jangan lupa ke sini ya." Ia mengingatkanku untuk membantunya.


" Siap Mbak, sebentar aku beres-beres rumah dulu. Habis ini mandi lalu sarapan," sahutku.


" Sarapan di sini saja, tadi mas Basuki bawa lauk Tadi malam mampir di restaurant sekalian pesan minta dibungkusin. " Mbak Tatik menawariku.


" Makasih Mbak, tapi aku sarapannya nanti kok habis mandi. Aku ke dalam dulu ya," cetusku dan hendak masuk ke dalam karena telah selesai menyapu.


" Tunggu dulu aku ambilkan saja buat Dik Aira," serunya sembari berjingkat masuk rumah.


Tak lama mbak Tatik keluar lagi membawa sepiring sayur dan lauk ala restauran. Disodorkannya padaku.


" Nih buat sarapan," ujarnya.


" Duuh mbak Tatik malah repot-repot ngasih aku lauk. Waah pasti enak nih masakan restauran ! " celetuk ku.


" Aku masuk dulu ya Mbak, terimakasih lauknya," ucapku kemudian masuk rumah. Mbak Tatik juga berbalik dan kembali ke teras rumahnya.

__ADS_1


___&&______&__


Bersambung ya gaes !


__ADS_2