
Sekitar pukul 10.00 pagi aku terbangun. Ternyata tadi aku ketiduran saking nyamannya rebahan sambil menyalakan kipas angin. Aku langsung ingat jajanan yang belum sempat kuicipi tadi.
" Mbak Niaaa ! kok aku cuma disisain kue leker doang sih ! " teriakku sewot, sampai lupa kalau baby Arkana lagi tidur.
Gimana nggak, tadi aku beli macam-macan jajanan. Ada bubur ayam juga. Eeh sekarang ludes, tinggal kue leker yang kalau dimakan nggak bikin kenyang. Kutengok ke dalam kamarnya.
" Ya ampun, sudah ngehabisin makanan sekarang tidur lagi ," gumamku.
Mbak Nia tidur dengan pulasnya. Mungkin habis menyusui terus kebablasan karena kekenyangan makan jajananku tadi.
Setelah membasuh wajah di kamar mandi kuambil handphone di meja dan beranjak keluar. Aku duduk di teras sambil membuka Noveltoon dari HP.
Kulanjutkan membaca novel yang belum selesai.
" Aira ! ngapain tidur di teras ? " tegur Eva yang baru datang.
" Sembarangan aja bilang tidur. Aku lagi baca novel nih, dari HP. " Kutunjukkan layar handphone ku padanya.
Jika anak ini sudah nongol buyar deh konsentrasiku buat membaca. Ia langsung duduk di kursi sebelahku.
" Lotisan yuk ! kemarin mamaku dikasih buah-buahan sama teman arisan. Nanti sambalnya biar bude Fara yang bikin," ajaknya kemudian.
Di daerahku lotis itu semacam rujak. Buahnya dipotong-potong terus pakai sambal gula aren. Kalau yang buahnya dihancurkan dan sambalnya dicampur itu baru namanya rujak. Di tempat lain namanya rujak bebeg.
" Yuk, daripada gabut juga." Aku pun menerima ajakannya. Kami berdua beranjak dari tempat duduk dan melangkah ke rumah Eva.
" Bude, bikin lotis yuk. Tapi Bude yang bikin sambelnya ya, aku sama Aira yang mengupas buah sekalian memotongnya." Eva minta tolong sama bude Fara yang tengah menonton televisi.
Kita berdua duduk di teras belakang.
" Sambalnya pedes banget apa pedes sedang ? " tanya bude. Beliau bangkit dan menyiapkan bahan membuat sambal lotis.
" Pedes sedang aja, Bude," ucapku. Tapi Eva langsung berseru," Pedes banget, Bude. Biar ada sensasinya."
Tuh kan, kalau urusan sambal kita berdua pasti beda selera.
" Kamu mau bibirku jontor sampai ngeces, terus besoknya bolak balik ke toilet ! " sahutku dengan muka cemberut.
" Ya sudah, bude bikinkan sambel 2 macam. Yang 1 pedes sedeng yang 1 pedes banget. " Bude Fara pun menengahi kami.
Eva mencibir meledekku. Kulemparkan kulit mentimun ke wajahnya. Ia tak sempat mengelak hingga aku tergelak melihatnya. Rasain hahaha !
Buah-buahan sudah selesai kupotong. Ada mentimun, pepaya, bengkoang, nanas dan jambu air. Tak lupa sedia krupuk juga. Enak lho dicocol sambal lotis.
" Huuh haah ! bude katanya pedesnya sedang kok pedes banget sih ! " ujarku seraya mengusap hidung dan mata yang keluar air.
" Halaah segitu aja kepedasan, nih cobain sambal punyaku ! " Eva menyodorkan sambal di tangannya.
" Apaan, kamu juga kepedesan kok. Tuh hidungmu meler gitu, weeekk ! " ejekku.
Meskipun saling meledek kita tetap lanjut menikmati lotisnya. Sudah lama juga aku nggak merasakan momen seperti ini.
Bude Fara nggak berani makan pedas jadi hanya mencicipi beberapa potongan buah saja. Lalu bude beranjak dan membereskan wadah-wadah yang kotor.
__ADS_1
" Biar saya yang membereskan, Bude. Sudah ditinggal saja," ucapku melarang bude Fara.
" Ya sudah, bude masuk dulu ya." Beliau pun masuk ke dalam rumah.
Menjelang Dzuhur aku membereskan wadah-wadah bekas lotisan tadi dan mencucinya. Tak lama terdengar azan dari masjid.
" Sholat di sini aja, Bestie," ajak Eva saat aku tengah membersihkan meja yang kena cipratan sambal.
" Di rumah aja aah, tadi aku kan nggak sempat bilang sama mbak Nia kalau ke sini. Pasti dia nyariin aku, " kataku memberi alasan.
" Okelah kalau begitu. Nanti ke sini lagi ya! " pesannya .
" Insya Allah deh, kalau nggak ada acara lho ya."
Aku masuk ke dalam rumah Eva dari pintu belakang kemudian keluar lewat pintu depan.
Sampai rumah mbak Nia sedang duduk di sofa ruang tengah sambil memangku baby Arkana. Sambil nonton TV juga.
" Dari mana Ra, aku panggil-panggil tadi kok nggak menyahut. Ternyata keluar. " Mbak Nia menanyaiku.
" Dari rumah Eva, tadi dia mengajak lotisan, " jawabku seraya menowel pipi Arkana yang sedang pulas. Ia menggeliat sesaat, mungkin kerasa kalau kusentuh pipinya.
Aku ke kamar mandi untuk wudhu lalu sholat Dzuhur. Setelahnya aku keluar lagi dan membaringkan tubuh di sofa di sebelah mbak Nia. Tak lupa kunyalakan kipas angin juga supaya hawanya semilir, meskipun jendela sudah dibuka.
Ayah dan ibu pulang sekitar jam 9.00 malam diantar mas Toni pakai mobil yang dipinjamnya dari rental. Dia langsung pulang karena sudah kecapekan dan ingin segera istirahat.
" Kok sampai malam sih, Bu ? " tanya mbak Nia saat ayah dan ibu sedang duduk melepas penat, seusai membersihkan diri dan berganti pakaian.
" Aku nggak dibelikan, Buk ? " tanyaku iseng seraya membuka oleh-oleh yang dibawa ibu tadi. Ada bakpia patok, kue moci, aneka dodol dan brem kuning kesukaanku.
" Ibu kan nggak bawa uang lebih, ini oleh-oleh juga mbak Tika yang beli. Katanya tadi ibu nggak usah keluar duit karena dia yang mengajak." Ibu menjelaskan padaku.
" Tapi sepertinya tadi Tika sempat memilih beberapa daster. Coba dilihat ada nggak dia belikan buat kamu, " kata ibu lagi seraya menunjuk bungkusan plastik yang belum kubuka.
Kuambil bungkusannya dan kubuka. Ternyata benar isinya 3 buah daster cantik.
" Iya Buk bener, ada 3 lagi. Duh mbak Tika ngerti juga sama aku. Nanti aku kirim WA deh bilang terima kasih ," ucapku kemudian.
" Itu bukan buat kamu aja kali, buatku sama ibu juga," celetuk mbak Nia yang muncul dari kamar. Ia tadi baru menidurkan Arkana.
" Ya udah buat mbak Nia 1 aja, yang 2 buatku semua ya, Buk." Aku merayu ibu.
" Iya buat kamu saja, ibu kan sudah dibelikan batik," jawab ibu seraya beranjak dari duduknya.
" Sudah bereskan lagi itu oleh-olehnya. Ibu mau tidur istirahat." Ibu menyuruhku kemudian masuk ke kamar. Ayah masih menikmati kopinya di ruang tamu.
___________
Beberapa hari nggak pernah muncul, siang ini Raka mampir ke warung untuk makan siang. Seperti biasa ia selalu duduk di kursi pojok yang dekat dengan dapur. Kusapa dia sebentar lalu aku masuk lagi ke dapur.
" Mbak Aira kok malah masuk, itu mas Raka ditemani kek," ujar mbak Sri.
" Memangnya mau ngapain, dia kan ke sini ingin makan. Apa aku harus menemani setiap pelanggan yang makan di sini ? " sahutku
__ADS_1
" Tapi dia kan putranya bu Harti, sudah kenal baik dengan Aira sama ibu." Mbak Sri mencoba mencari alasan.
" Aah Mbak Sri, nggak usah mengada-ada lah. Semua pelanggan juga kenal baik sama kita. Bilang aja Mbak Sri mau menggodaku." Aku mencibir.
Mbak Sri tertawa kecil, dia pikir bisa mengerjaiku dengan ide konyolnya. Aku mencuci tanganku lalu kucipratkan air ke wajahnya.
" Mbak Aira, awas ya ! " teriak mbak Sri hendak membalas aku, tapi aku keburu lari keluar. Uups ! Aku hampir menubruk Raka yang duduk di pojokan dekat pintu dapur.
" Kalian berdua ngapain sih, kaya anak kecil main kejar-kejaran ? " tanya ibu heran.
Mbak Sri tak jadi mengejarku karena ibu keburu menegurnya.. Ibu hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kami. Raka pun ikut tersenyum.
Aku mengambil makan siang dan kubawa ku dalam.
Saat menikmati makan siang aku merasa ada yang sedang menatapku. Ternyata Raka sudah selesai makan lalu lanjut mengisap rokoknya sambil memandangiku. Aku baru tersadar ketika tak sengaja menoleh ke arahnya.
" Mbak Aira, besok nonton band yuk ! " ajaknya tiba-tiba. Aku nggak salah dengar nih ?
" Apa ? " tanyaku pula. Ingin kudengar sekali lagi ucapannya tadi .
" Nonton band, besok malam ada pentas band remaja di Gedung Serba Guna. Mau nggak kita nonton bareng ? " Dia mengulang ajakannya.
" Duuh maaf ya, saya nggak begitu suka yang bising-bising. Lagian saya nggak boleh keluar malam," jawabku asal saja karena gugup.
Aduh ! Kenapa jawaban itu yang keluar dari mulutku. Bertentangan dengan isi hati. Aku kan suka musik, apalagi aku pernah ikut band remaja di kampungku.
" Ya sudah lain kali saja." Raka nampak kecewa. Ia pun pamit.
Sebenarnya aku juga pingin nonton tapi malu, kita kan baru kenal beberapa hari. Belum nanti di sana pasti aku bakalan canggung.
Sepeninggal Raka mbak Sri menegurku," Kok nggak mau diajak sih, kan Mbak Aira seneng musik-musik? "
" Justru itu, aku tadi terlalu kaget kok tiba-tiba dia mau ngajak aku nonton. Makanya aku jawab asal saja. Lagi pula aku masih canggung soalnya kita kan baru aja kenal." Aku menjelaskan alasanku.
" Mungkin benar perkiraanku kemarin, mas Raka itu jatuh cinta pandangan pertama sama kamu, Mbak Aira. Makanya bela-belain nyusul kemari. Terus sekarang lagi mengeluarkan jurus pedekate." Mbak Sri mulai menerka-nerka.
" Kupikir juga begitu, tapi aku berharap perkiraan kita salah. Semoga saja Raka hanya ingin berteman denganku," ungkapku.
" Memang kenapa, apa Mbak Aira nggak suka sama mas Raka ? " tanya mbak Sri lagi.
" Bukan begitu. Justru aku nggak mau salah menilai. Ya kalau dia beneran suka, kalau nggak malah nantinya aku yang kecewa. Aku sudah berkali-kali disakiti cowok, makanya sekarang aku nggak mau berharap banyak. Nggak mau buru- buru menanggapi jika ada yang ingin kenal."
Mbak Sri hanya mengangguk-angguk mendengarkan perkataanku. Lalu ia merangkul bahuku.
" Mudah-mudahan Mbak Aira menemukan cowok yang beneran sayang lahir batin sama kamu Mbak," hiburnya.
Yach, aku memang nggak mau gegabah lagi dalam menghadapi cowok. Aku nggak mau terluka kesekian kali. Terlalu mudah menerima pada akhirnya dia meninggalkanku.
Jangan biarkan aku terlena, Tuhan. Jika Raka memang beneran suka padaku pasti dia nggak akan menyerah.
***************************
To be continued..
__ADS_1